Tentang Lidahibu

Nama LIDAHIBU

LIDAHIBU dapat dengan singkat dan mudah di lintastekskan dengan sebuah lema bahasa Inggris mother tongue, yang bermakna ‘bahasa ibu’. Sekilas pandang, LIDAHIBU adalah sebuah penerjemahan kata-per-kata dari lema tersebut. Lema ini terdengar agak janggal untuk konteks pemakaian istilah di Indonesia karena mungkin nalar-makna lema ‘LIDAHIBU’ bukanlah nalar-makna asli, mengingat dalam nalar bahasa Indonesia asosiasi kata lidah tidaklah langsung menuju ke kata bahasa (berbeda dengan bahasa Inggris tongue, atau bahkan yang lebih pas, bahasa Latin lingua). Bahasa Indonesia memang mengenal frase khusus yang salah satu kata pembentuknya adalah ibu, seperti: ibu pertiwi, ibukota, dll. Tapi, untuk kasus ‘LIDAHIBU’, sekiranya nalar urutan kata yang terpakai berbeda dengan dua contoh di atas.

Atas segala kerumitan dan kejanggalan inilah majalah bahasa LIDAHIBU mencoba untuk memaknai frasa ini secara lain. Kami sepakat menjadikan LIDAHIBU sebagai kependekan dari ‘linguistik berfaedah dan hiburan’. Kami menganggap frase itu mewakili apa yang ingin kami kemukakan: sebagai sebuah suratkabar yang mencoba menyajikan pemikiran-pemikiran dan pembacaan-pembacaan dalam lingkup bahasa (linguistik) dengan sebuah tabiat tutur yang menghibur (baca: sajian bahasa yang renyah, mudah dicerna, dan membuat tertawa, atau setidaknya tersenyum-senyum kecil). (Namun, untuk penjelasan ini kami tidak yakin pembaca akan tertawa. Maaf.)

Aksara dalam Logo LIDAHIBU

Jenis huruf yang dipakai adalah huruf latin dengan modifikasi bentuk yang arabiah. Nama rupa huruf itu adalah arab dances. Ini juga sebenarnya bukan tak bermakna. Bahasa Indonesia berakar dari bahasa Melayu. Bahasa Melayu tulisan, sebelum masuk dan dipakainya aksara Latin, menggunakan aksara Arab Melayu, atau yang juga dikenal dengan istilah Arab Gundul. Aksara Arab Melayu saat itu dipanggil dengan nama jawi, sedangkan aksara Latin disebut dengan nama rumi. Dengan kenyataan sejarah inilah kemudian LIDAHIBU memutuskan untuk mencoba memadukan kedua huruf tersebut. Namun, karena hampir semua orang Indonesia hanya mengerti membaca aksara Latin, termasuk para awak-pekerja di redaksi LIDAHIBU sendiri, dipilihlah aksara Latin dengan suasana ngarab. Kebetulan, ada! Arab dances adalah jawabannya. (Meskipun sebenarnya ditemukan dengan tidak sengaja, dan pemaknaan seperti terpapar ini adalah usaha penjelasan yang purna.)

Jadi, LIDAHIBU sama sekali tidak memaksudkan sebuah usaha propaganda bernafaskan Islam lewat pilihan aksaranya. (Perlu pembaca ketahui, ada orang yang sempat cenderung berpikiran seperti itu). Memang aksara Arab adalah aksara wajib dalam agama Islam, tapi, terlebih dengan alasan yang diperkuat oleh bukti sejarah Bahasa Indonesia seperti tertera di atas, bukan berarti aksara Arab, atau yang ngarab, harus selalu dihubung-hubungkan dengan agama Islam, bukan?

Adicita (Ideologi) LIDAHIBU

LIDAHIBU adalah sebuah majalah bahasa. Bagaimanapun juga, sebagai sebuah mediamassa, LIDAHIBU pastinya memiliki sebuah ideologi dalam penyajian tulisan-tulisan yang dimuatnya.

Perlu kami tekankan: LIDAHIBU bukanlah ‘polisi bahasa’. LIDAHIBU, lewat rubrik ‘Berita Gejala’, ‘Komik’, dan ‘Sok-Sok Ingglis‘ menghadirkan pengetahuan tentang gejala berbahasa. LIDAHIBU; lewat rubrik ‘Pustaka Gokil’, ‘Tokoh Bahasa’, ‘Tulisan Musiman’, ‘Khazanah Kata Bahasa Indonesia’, ‘Liputan Khusus’, ‘Kultukal’, dan ‘Asal-Usul Kata’, menghadirkan pengetahuan tentang serba-serbi bahasa, baik dari segi tokoh, buku-buku, teori, peristiwa, tawaran kosakata, penilikan makna kata dari segi etimologi, dll.

Kesemuanya dihadirkan lewat satu rangkuman pamahaman: bahwa bahasa adalah keduanya normatif dan lentur-tak-tetap (liar). Kami tidak mengusung haluan normatif dengan pameonya: “Bahasa Indonesia yang baik dan benar” dan “Bahasa Indonesia yang Baku”. Sebaliknya, kami juga tidak sepaham dengan kesemena-menaan penggunaan bahasa Indonesia karena ketidakpahaman dan kemalasan untuk mempelajarinya.  Keduanya adalah kapal-kapal yang sudah lepas jangkar di dua dermaga yang berjauhan letaknya.

LIDAHIBU menjunjung tinggi Bahasa Indonesia, namun tidak sependapat dengan kekakuan berbahasa. Juga, kebakuan yang dianggap ‘baik’ dan ‘benar’ sering salah kaprah memaknai asal usul bahasa Indonesia, perkembangan lema dan ideologinya, serta kekayaan budaya bahasa Nusantara dan Dunia.

LIDAHIBU menyadari kelenturan berbahasa dan pengaruh bahasa asing yang masuk ke dalam bahasa Indonesia. Namun, bagaimanapun, bahasa Indonesia harus memiliki keutuhan tersendiri sebagai pembawa identitas budaya dan politik negara-bangsa Indonesia.

Di antara kedua kutub itulah LIDAHIBU berpijak.

lidahibu.com

LIDAHIBU cetak pertama kali diterbitkan pada tanggal 23 September 2008 dengan konsep Edisi Percobaan #1. Edisi Percobaan LIDAHIBU berlangsung hingga #11, yaitu pada minggu kedua bulan Maret 2009. LIDAHIBU awalnya dipublikasikan di sekitar kampus Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Namun, setelah beberapa kali cetak, penyebaran LIDAHIBU diperluas ke beberapa lembaga bahasa.

Untuk lebih mempermudah penyebaran tulisan tentang gejala berbahasa, maka diniatkanlah pembuatan situs-jejaring lidahibu.com.

lidahibu.com adalah versi daring dari LIDAHIBU cetak. Situs-jejaring ini memasang tulisan-tulisan yang juga terbit di edisi cetak LIDAHIBU. Perbedaan antara LIDAHIBU dan lidahibu.com terletak pada penandaan penerbitan. Jikalau di LIDAHIBU cetak penerbitannya ditandai dengan edisi, lidahibu.com  diterbitkan hanya melalui pembagian rubrik. Namun demikian, keterangan tentang edisi tempat tulisan tertentu dipasang di LIDAHIBU cetak akan tetap dihadirkan sebagai bentuk dokumentasi agar lebih jelas tempat-tempat penulisannya.