Redaksi Menyapa

Hancurkan Omong Kosong

13 Maret, 2012 | Redaksi Menyapa | Edisi: | Tulis Komentar »

Frasa omong kosong adalah bukti perhatian manusia penutur terhadap pentingnya makna. Frasa ini adalah metafora, yang mengandaikan tuturan, atau omongan, sebagai suatu wadah yang diisi. Isiannya adalah makna. Setiap omongan, kita tahu, pasti punya makna. Omongan yang menggunakan kata-kata yang ‘tak-ada’ pun sebetulnya punya makna atau, setidaknya, maksud. Ini artinya, setiap omongan adalah wadah yang […]



Gambar

25 Agustus, 2011 | Redaksi Menyapa | Edisi: | 2 komentar

LIDAHIBU edisi #24 adalah ‘Edisi Khusus Gambar’. Gagasan untuk menggarap edisi khusus gambar ini sudah hinggap dalam benak Redaksi LIDAHIBU sejak Januari tempo hari. Seperti direncanakan, pelaksanaannya mewujud baru kini. Ilustrator (Norie Paramitha), penggambar komik (Armando Soriano), penata-letak (Gideon Widyatmoko), Mat Kodak (Aditya Surya Putra), adalah pengkarya utama dalam edisi ini. Mereka bekerja untuk menggarap […]



Saya Presiden, Saya Hanya Bisa Prihatin Saja

26 Juni, 2011 | Redaksi Menyapa | Edisi: | Tulis Komentar »

Ada nuansa semantik antara simpati dan empati. Meski hanya ‘beda-tipis’, tapi justru hal itulah yang membuat manusia-penutur bisa membedakan arti kedua kata tersebut. Adalah baik menyatakan simpati. Simpati mengacu pada kondisi saat seseorang juga merasakan sesuatu yang sama dengan yang dialami orang lain. Saat teman kita sedih, misalnya. Kita boleh menyatakan simpati kita atas kesedihannya. […]



Retorika

26 Juni, 2011 | Redaksi Menyapa | Edisi: | Tulis Komentar »

Pembaca yang adiwira, Saat manusia-penutur menemukan bahwa kata-kata yang ia rangkai sedemikan rupa ternyata mampu mencipta pengaruh, dan kemudian ia dengan sadar menjadikan rangkaian itu sebuah pola bahasawi bercorak khusus dan memberdayakannya secara instrumental, saat itu pulalah ia beretorika. Retorika adalah seni menyusun argumen. Ia adalah sebuah strategi sambung-wicara yang digubah untuk mencapai tujuan-tujuan komunikatif: […]



Referendum

7 Mei, 2011 | Redaksi Menyapa | Edisi: | Tulis Komentar »

Kalau mencontek dari situs jejaring sosial Twitter, yang sedang menjadi topik tren pada Desember lalu di Yogyakarta adalah Referendum. Saking saktinya kata ini, hampir seluruh sudut kota Yogyakarta dipenuhi oleh spanduk-spanduk yang berisi dukungan atas penetapan keistimewaan Yogyakarta. Dari kalangan musisi indie pun tidak kalah menghebohkan, karena ‘Kongsi Jahat Syndycate’ meluncurkan album Jogja Istimewa 2010 […]



“Teruslah Bekerja. Jangan Berharap pada Negara.”

1 Februari, 2011 | Redaksi Menyapa | Edisi: | Tulis Komentar »

Walau satu lukisan mural tentunya bukanlah sebuah representasi menyeluruh atas ungkapan hati sebuah masyarakat, itu juga bukan berarti ungkapan hati yang satu itu tak punya taji. Bukan berarti ungkapan hati yang satu itu hanya lanturan tanpa dasar.



Tidak Satu Bahasa Kita

21 November, 2010 | Redaksi Menyapa | Edisi: | Tulis Komentar »

Oktober tiba. Tiba pula lah hari itu. 28 Oktober: hari yang diagungkan sebagai hari Sumpah Pemuda. Tak pelak, melayang pula ingatan saya pada tiga isi sumpah tersebut. Tiga yang paling kerap terlafal dari mulut lewat nyanyian gubahan L. Manik: Satu Nusa Satu Bangsa. Entah mengapa lirik lagu ini dianggap oleh banyak sekali orang Indonesia sebagai […]



Awas LIDAHIBU!

21 November, 2010 | Redaksi Menyapa | Edisi: | Tulis Komentar »

Sampul-depan edisi 18 – September, 2010, ini adalah hasil jepretan Siti Kodak pada sebuah lukisan-pamflet di sebuah dinding di salah satu sudut kota Yoygakarta. Teks yang terpampang di situ memang cukup lantam: “Awas Iklan”. Saya secara pribadi tertarik dengan foto ini dengan pertimbangan pertanyaan berikut: Mengapa ungkapan semacam ini muncul di tengah masyarakat penghuni kota […]



Merdeka?

21 November, 2010 | Redaksi Menyapa | Edisi: | Tulis Komentar »

Saat bermotor menyusuri jalan di tepi Selokan Mataram Yogyakarta awal Agustus ini, mata saya tertumbuk pada satu papan-beton sederhana dengan cat-belang merah-putih yang ditulisi dengan huruf-huruf persis tulisan tangan, terbaca: MERDEKA. Saya kirim kabar pada SitiKodak Dita, dan dia pun menjepretnya. Betapa kerapnya kita membaca, mendengar, terpaksa membaca, dan terpaksa mendengar kata sakti ini di […]



Pemertahanan Bahasa Ibu Non-Bahasa-Nasional, Apa Perlu?

24 Februari, 2010 | Redaksi Menyapa | Edisi: | Tulis Komentar »

Februari telah menjejak, Hari Bahasa Ibu Internasional yang jatuh pada tanggal 21 sudah di depan mata. Saat untuk memperingatinya telah tiba. Penetapan tanggal 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional tentu tak dapat dilepaskan dari rentetan panjang yang melatarinya, mulai dari peristiwa berdarah dalam penuntutan bahasa Bengali menjadi bahasa nasional, ketika Bangladesh masih menjadi salah […]