Fotolinguagrafi

Pro – Kontra RUU Keistimewaan: Masyarakat Yogyakarta Anti-Demokrasi?

8 Mei, 2011 | Fotolinguagrafi | Edisi: | Tulis Komentar »

Oleh Aditya Surya Putra Rancangan Undang-Undang Keistimewaan Yogyakarta telah mengundang pro dan kontra. Ada yang mendukung—seperti (seolah-olah) kebanyakan masyarakat Yogyakarta mendukung penetapan dengan memasang berbagai spanduk maupun coretan bernada ‘pro penetapan’ serta demo besar-besaran menuntut ditetapkannya RUUK di sepanjang Jalan Malioboro yang diikuti oleh berbagai macam elemen masyarakat pada tanggal 13-14 Desember lalu. Namun, ada […]



Sekaten: Syiar Agama, Pelokalan Bunyi, dan Telur Merah

26 Maret, 2010 | Fotolinguagrafi | Edisi: | Tulis Komentar »

Pada tanggal 2 Februari 2010 kemarin, tim DwiKodak bersekutu dengan UKM Fotografi ‘Lens Club’ Universitas Sanata Dharma membonceng ‘pasukan celeng’ (sebutan untuk fotografer-fotografer UKM tersebut), ‘menyerbu’ Alun-alun Utara Yogyakarta. Ada apakah gerangan? Oh! Ternyata ada acara tahunan yang diadakan oleh Keraton Kasultanan Yogyakarta dan Pemerintah Kota setempat. Acara tersebut adalah Sekaten. Tapi sebenarnya apa sih Sekaten itu? Pasar malam? Ternyata, bukan sekedar pasar malam. Lha wong ada panggungnya, kok. Konser musik terbuka macam Glastonburry Festival atau Lollapalooza? Bukan juga? Terus, apa dong?



Poster dan Spanduk untuk SBY

24 Februari, 2010 | Fotolinguagrafi | Edisi: | Tulis Komentar »

Tanggal 28 Januari 2010 menjadi penanda akhir program 100 hari pertama pemerintahan SBY – Boediono. Banyak janji telah ditebarkan sebelumnya, namun realisasinya kurang bisa dipertanggungjawabkan. Menurut beberapa media cetak, pencapaian program 100 hari tersebut tidak lebih dari 10%, itupun belum mencakup sektor-sektor yang dianggap vital (sektor pendidikan, misalnya). Bahkan menurut survei para pengeblog di Indonesia, selama program 100 hari tersebut Presiden SBY malah terkesan sibuk “mencari muka” di depan para petinggi dunia, yaitu dengan selalu hadir pada pertemuan-pertemuan internasional ataupun dengan rencana pembelian pesawat RI-1 senilai US$85,4 juta, yang konon hanya untuk membuat Presiden AS Barrack Obama terkesan. Banyak reaksi kemudian bermunculan dari berbagai elemen masyarakat untuk mempertanyakan janji program. Puncaknya, aksi unjuk rasa secara besar-besaran yang juga dilakukan di berbagai daerah di Indonesia terjadi pada tanggal tersebut.



Seni Jalanan Yogyakarta: Harajuku dalam Kanvas, Aspal, Tembok dan Seng

28 Januari, 2010 | Fotolinguagrafi | Edisi: | Tulis Komentar »

Perkembangan seni jalanan Kota Yogyakarta dalam 10 tahun terakhir ini bisa dibilang maju pesat. Selain Pemkot Yogyakarta yang “membebaskan” beberapa ruang publiknya untuk dihiasi (baik dalam bentuk gambar, mural, seni stensil, poster, pamflet, dan lain-lain), antusiasme masyarakat Yogyakarta dalam mengapresiasi seni juga terbilang tinggi. Tak heran kalau pada akhirnya kota ini mendapat julukan sebagai Kota Seniman, selain sebutan lain seperti Kota Pelajar, Kota Gudeg, Kota Budaya, Kota Sepeda, mengingat banyaknya seniman-seniman tersohor Indonesia berasal dari kota ini, sebut saja Affandi, Herliani, Nasirun, Kartika, Bunga Jeruk, dan (tentu saja) Mas Greg Sindana yang ‘gagah perkasa’. Komunitas-komunitas seni juga menjamur: Komunitas Taring Padi, Mes-56, JogjaCrowter, Komikaze, dan lain-lain.