Edisi #26

Kenapa di Kaos?

20 Maret, 2012 | Komik | Edisi: | 2 komentar

Oleh Armando Soriano



Mana Di mana Linguis(tik) Forensik Kita?

19 Maret, 2012 | Berita Gejala | Edisi: | 7 komentar

Oleh Wahyu Adi Putra Ginting 04 April 2011 lalu Veven Sp. Wardhana menulis sebuah artikel bahasa dengan tajuk “Bahasa Hukum, Bahasa Tak Pasti” di Majalah Tempo. Topik yang diangkat oleh Veven, bagi saya, terbilang segar, meski tak baru. Segar karena topik semacam ini jarang saya temukan di rubrik atau kolom bahasa di mediamassa Indonesia, yang […]



Salary

16 Maret, 2012 | Asal-Usul Kata | Edisi: | Tulis Komentar »

Oleh Aditya Surya Putra Jumpa lagi! Berhubung kamera sedang dalam perbaikan, Mat Kodak ditugaskan untuk menulis artikel di rubrik Asal-Usul Kata. Setelah merenung sekian lama memutuskan kata apa yang etimologinya layak dikupas dalam rubrik ini, akhirnya pilihan jatuh pada kata bahasa Inggris yang akhir-akhir ini acapkali digunakan oleh pegawai yang menuntut kenaikan gaji: salary. Kenapa? […]



William Labov

15 Maret, 2012 | Tokoh Bahasa | Edisi: | Tulis Komentar »

Oleh Nikodemus Wuri Kurniawan Linguistik adalah ilmu yang memiliki banyak varian. Salah satu variannya adalah Sosiolinguistik, sebuah cabang Linguistik yang berkonsentrasi pada efek yang ditimbulkan dari berbagai aspek sosial seperti etnis, gender, dan kelas sosial pada penggunaan bahasa oleh penutur. Ahli bahasa yang kemudian dikenal sebagai bapak Sosiolinguistik adalah seorang ahli bahasa dari Amerika Serikat: […]



Cuitan Menu

14 Maret, 2012 | Khazanah Kata Bahasa Indonesia | Edisi: | Tulis Komentar »

Oleh Gideon Widyatmoko Mustafa kini merasa hidupnya terasa hampa, habis dia dikoyak-koyak cinta. Sepeninggal Magda, dia melakukan segala sesuatunya sendirian: makan, nongkrong, nonton bioskop, sampai-sampai dia hanya bertukar pantun dengan tembok. Dia merasa tidak ada yang bisa dilakukannya jika terus seperti ini. Sulit memang mencari kekasih seperti Magda, tetapi dia tetap harus berjuang menerpa ombak […]



Hancurkan Omong Kosong

13 Maret, 2012 | Redaksi Menyapa | Edisi: | Tulis Komentar »

Frasa omong kosong adalah bukti perhatian manusia penutur terhadap pentingnya makna. Frasa ini adalah metafora, yang mengandaikan tuturan, atau omongan, sebagai suatu wadah yang diisi. Isiannya adalah makna. Setiap omongan, kita tahu, pasti punya makna. Omongan yang menggunakan kata-kata yang ‘tak-ada’ pun sebetulnya punya makna atau, setidaknya, maksud. Ini artinya, setiap omongan adalah wadah yang […]