Edisi #22

Pakai Logat Apa?

26 Juni, 2011 | Komik | Edisi: | 2 komentar

Oleh Armando Soriano



Lidah untuk Menggigit

26 Juni, 2011 | Serba-Serbi | Edisi: | 1 Komentar »

Oleh Dian Anggraini* Duduk berlama-lama di depan televisi sebenarnya bukanlah kegemaran saya. Akan tetapi, belakangan ini, nyanggong di depan layar kaca terpaksa saya lakukan. Bukan karena kepincut sinetron atau gosip selebritas, melainkan saya terusik iklan salah satu produk pasta gigi. Seorang ibu muda dengan lugas bercerita tentang gigi sensitifnya. Kegemarannya makan es krim terganggu sehingga […]



Bahasa Jiwa Bangsa

26 Juni, 2011 | Serba-Serbi | Edisi: | Tulis Komentar »

Oleh Ahmad Sahidah* UNGKAPAN di atas menunjukkan bahwa bahasa suatu bangsa mencerminkan jiwa pemakainya. Boleh dikatakan, sepanjang sejarah, pembentukan bahasa Indonesia telah melalui tiga fase penting, yaitu pengaruh India, Arab, dan terakhir Inggris. Kalau kita mencermati bahasa Melayu lama, serapan kosakata Sanskerta begitu kuat, bahkan kata sarung yang berasal dari Negeri Gangga itu telah identik […]



Subjek Anonim dan Diplomasi

26 Juni, 2011 | Serba-Serbi | Edisi: | Tulis Komentar »

Oleh Febrie Hastiyanto* BERITA dengan isu-isu diplomatik sering menggunakan nama kota, kawasan, atau ibu kota negara sebagai kata ganti subjek. Kita banyak mendapati kalimat-kalimat seperti: “Jakarta menyatakan belum mengambil sikap terkait sengketa perbatasan dengan Malaysia”. Penggunaan idiom Jakarta berpotensi bias dan sumir, terutama bila pertanyaanya menjadi: otoritas apa di Jakarta yang merilis informasi? Representasi Pemerintah […]



Ramping = Penggembosan

26 Juni, 2011 | Serba-Serbi | Edisi: | Tulis Komentar »

Oleh Putu Wijaya* Dalam peringatan 40 tahun Tempo di hotel Four Seasons, 9 Maret lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan pidato singkat. Antara lain beliau mengatakan bahwa banyak orang telah memberikan saran atau kritik lewat telepon atau pesan pendek SMS tapi masih dalam bingkai pikiran bahwa kekuasaan presiden/pemerintah masih seperti yang lama. Padahal, “kekuasaan presiden/pemerintah […]



Wisma, Hotel, atau Pondok

26 Juni, 2011 | Serba-Serbi | Edisi: | Tulis Komentar »

Oleh Rainy MP Hutabarat* Apakah kriteria penggolongan akomodasi dengan sebutan wisma, pesanggrahan, pondok, motel, dan hotel? Apakah penggolongan ini sekadar penyebutan saja? Bila kita pergi ke daerah wisata di pegunungan, pantai, atau kota kecil lain di Indonesia, banyak sebutan untuk akomodasi dan umumnya sulit dibeda-bedakan. Ada wisma yang menyediakan penginapan sekaligus ruang seminar, pelatihan, rapat bahkan […]



Bahasa dan Mentalitas

26 Juni, 2011 | Serba-Serbi | Edisi: | Tulis Komentar »

Oleh Bagus Takwin* Bahasa mencerminkan pikiran. Banyak ahli menegaskan ini. Tapi bahasa juga mencerminkan mentalitas: kecenderungan pribadi, kekayaan pengalaman, dan kepekaan sosial. Pilihan dan susunan kata, juga waktu dan tempat penyampaian, bisa jadi indikator dari pengalaman seseorang berinteraksi dengan banyak kalangan, juga seberapa jauh ia terlibat dengan banyak ihwal. Kita bisa menakar, misalnya, pengalaman dan […]



Cukup dan Sangat

26 Juni, 2011 | Serba-Serbi | Edisi: | Tulis Komentar »

Oleh Lie Charlie* Kata cukup sebetulnya tidak boleh dipakai untuk menerangkan kualitas kata yang berkonotasi kurang baik atau kurang positif. Kita tidak dapat menggunakan cukup bau, cukup jelek, atau cukup jahat, kecuali untuk melawak. Kombinasi cukup menjengkelkan, cukup menyedihkan, atau cukup menyusahkan pun kurang afdal, tetapi telanjur tenar terumbar oleh penutur bahasa Indonesia. Seyogianya korban […]



Menimbang Penerjemahan Teks Filsafat

26 Juni, 2011 | Serba-Serbi | Edisi: | Tulis Komentar »

Oleh Husein Ja’far al-Hadar* DALAM pengantarnya untuk buku Our Philosophy (terjemahan dari Falsafatuna) karya Baqir Shadr yang terbit pada 1987, Seyyed Hussein Nashr menyatakan sesuatu yang penting tentang bahasa. Ia menulis bahwa jika kita melihat kelemahan-kelemahan dalam menginterpretasi dan memahami sumber-sumber dari Barat, hal itu karena lemah dan tak sempurnanya terjemahan-terjemahan teks filsafat Barat ke […]



Demi

26 Juni, 2011 | Serba-Serbi | Edisi: | Tulis Komentar »

Oleh Kurnia JR* Mengobrol dengan warga beberapa kampung di Jawa Barat dan Banten terasa menggelitik. Tidak sedikit dari mereka yang memiliki kebiasaan membubuhi kalimat yang diucapkan dengan kata demi buat menegaskan ”kejujuran”. Umpamanya, ”Saya mah, demi, kalau masak sayur enggak pernah pakai mecin.” Atau, ”Demi, ini mah demi, nih! Mendingan enggak makan saya mah daripada nipu atawa nyolong. Allah […]