Disebabkan Berita ANTV*

8 Maret, 2013 | Edisi: | Kategori: Liukan Lidah

Oleh Wahyu Adi Putra Ginting dan Wahmuji

Filsuf John Austin pernah merumuskan bahwa wicara sesungguhnya menyiratkan tindakan yang dilakukan oleh penutur. Dalam arti: wicara pun merupakan tindakan.[1] Saat seseorang, misalnya, menuturkan ungkapan seperti, “Udara panas di ruangan ini,” menurut rumusan Austin, ada tiga tindakan yang telah dilakukan orang tersebut. Yang pertama, orang itu melakukan tindakan ‘mengatakan kalimat Udara panas di ruangan ini’.[2] Yang kedua, orang itu melakukan tindakan ‘menginformasikan pada lawan bicaranya tentang kondisi udara di ruangan tempat ia (mereka) berada’.[3] Sementara itu, tindakan yang ketiga sangat ditentukan oleh konteks matrawi yang melingkupi tuturan tersebut. Bila, contohnya, di ruangan itu terdapat satu jendela yang tertutup, atau kipas angin yang tidak menyala, maka boleh jadi dengan ungkapan “Udara panas di ruangan ini” si penutur itu sebenarnya sedang melakukan tindakan ‘meminta lawan bicaranya untuk membuka jendela, atau menyalakan kipas angin’.[4]

Dengan konsep di atas, kita dapat paham bahwa komunikasi dengan alat bahasa, baik itu dalam bentuk percakapan, pidato, khotbah, tulisan di suratkabar, dll., semuanya mengandung tiga tingkat tindakan, seperti yang dirumuskan oleh Austin. Tingkat tindakan yang ketiga, tindakan perlokusi, adalah bentuk fenomena komunikasi yang sangat menarik. Mengapa? Karena saat lawan-bicara memahami dan mengafirmasi tindak-wicara perlokusi, saat itulah maksud/makna sesungguhnya dari sebuah ungkapan terwujud, termaterialkan. Proses yang mendahului pemahaman, pengafirmasian, atau penolakan, terhadap tindakan perlokusi inilah yang sangat menarik untuk dideskripsikan secara analitis.

Menariknya lagi, tindakan perlokusi, terutama saat berada di tataran pemahaman lawan-bicara, bisa menjadi sebuah tindakan yang dilakukan si penutur di luar kesadarannya; dengan kata lain, di luar kewaspadaannya dan di luar prediksinya. Kasus khusus semacam ini dapat kita lihat terjadi saat program berita-gosip Silet, pada 7 November 2010, menayangkan siaran dengan topik letusan Gunung Merapi. Narasi yang ditayangkan dalam siaran itulah yang menjadi pasal utama. Selain karena menyebut “Jogja adalah kota malapetaka”, narasi ramalan tentang ‘letusan dahsyat’ yang akan terjadi pada esoknya, 8 November 2010, telah memproduksi sebuah tindakan perlokusi yang tak terperkirakan oleh redaksi Silet. Boleh jadi, tindakan perlokusi yang semula dimaksudkan redaksi Silet dengan ramalan itu hanyalah sampai pada tataran tindakan ‘memperingatkan agar warga Jogja waspada’ saja. Tapi, saat konteks kalimat ‘Jogja adalah kota malapetaka’, konteks situasi psikologis penonton saat itu (galau, resah, takut, panik), dan konteks pendukung lain (seperti, teknik penyajian berita dan musik latar yang melantunkan nada tegang dan seram) disandingkan dengan isi ramalan yang disiarkan itu, maka adalah wajar jika tindakan perlokusi yang dipahami masyarakat penonton adalah ‘segera tinggalkan Jogja’. Maka, kekacauanlah yang terjadi. Lalu-lintas Yogyakarta pun kocar-kacir. Dan tak pelak kritik tajam dan hujatan dialamatkan pada redaksi Silet, yang berujung pada dihentikannya program acara itu.

***

Artikel ini kami buat untuk membahas satu perkara lain. Latar besar dari perkara ini masih sama dengan kasus Silet; yaitu, letusan Gunung Merapi. Bentuk komunikasinya pun sama: penyiaran berita lewat media televisi. Kami harap investigasi linguistik yang kami lakukan terhadap perkara ini dapat menunjukkan betapa wicara dapat bergerak liar setelah dilafalkan; betapa mulut bisa jadi harimau. Begini ceritanya:

Selasa, 23 November 2010, jajaran Polda D.I. Yogyakarta menangkap delapan warga Dusun Singlar, Desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, atas tuduhan penjarahan toko milik warga korban letusan Merapi. Dasar dari penangkapan itu bukanlah pengaduan dari korban, melainkan dari sebuah berita yang disiarkan stasiun televisi ANTV pada Minggu pagi, 21 November, 2010, di program berita Topik Pagi. Orang-orang yang ditangkap adalah mereka yang gambarnya terekam dan ditayangkan dalam sebuah berita, berdurasi satu menit tiga puluh tiga detik, bertajuk “Aksi Penjarahan Bikin Cemas Pengungsi Merapi”.[5] Apa isi berita singkat itu sehingga polisi menjadikannya dasar penangkapan? Untuk menjawabnya, kami sajikan dahulu gambaran singkat video dari berita itu.

Berita langsung dibuka dengan sebuah bingkai gambar beberapa orang yang berusaha membuka-paksa sebuah pintu gulir (rolling door) dengan benda panjang. Selanjutnya, bingkai kedua adalah lelaki ber-helm yang berjalan menjauhi latar-tempat gambar pertama. Bingkai ketiga, aktivitas warga di samping pintu toko yang dibuka-paksa. Bingkai keempat adalah momen saat pintu berhasil dibuka dan orang-orang mulai masuk ke dalam ruangan (toko). Bingkai kelima, orang-orang mengambil barang dari toko. Bingkai gambar proses pengambilan barang-barang (terutama minuman) dari toko, seperti bingkai kelima, dijadikan gambar utama: durasinya paling lama. Lamanya durasi gambar serupa itu juga dikarenakan beberapa gambar pengambilan barang-barang isi toko diulang-ulang.[6]

Bingkai-bingkai gambar-bergerak di atas tidak hadir bisu sendirian. Seperti galibnya sebuah berita yang disiarkan lewat media televisi, gambar-bergerak selalu ditemani oleh narasi berita yang menjelaskan peristiwa yang direkam. Gambar untuk berita di Topik Pagi ANTV, tertanggal 21 November 2010 itu, dinarasikan dengan teks berikut ini[7]:

[1] Aksi penjarahan yang dilakukan oleh komplotan pemuda ini berlangsung di sebuah toko milik warga Dusun Singlar, Desa Glagaharjo, Sleman, Yogyakarta.

[2] Dengan menggunakan kayu dan besi, pintu yang tertutup rapat akhirnya dapat dibuka paksa.

[3] Tak ayal, para pemuda yang tidak diketahui asal-usulnya ini pun mengambil barang-barang yang ada di toko.

[4] Para pelaku yang sebagian besar memakai helm dan penutup wajah ini sempat marah dan mengancam saat ketahuan diambil gambarnya.

[5] Beberapa di antaranya ada yang langsung pergi menghindar, namun beberapa di antaranya tak peduli dan hanya merapatkan penutup wajahnya sambil mengemasi makanan dan barang-barang berharga.

[6] Saat penjarahan terjadi, pemilik rumah dan toko tidak ada di rumah.

[7] Mereka mengungsi dan membiarkan rumahnya dalam keadaan kosong.

[8] Aksi penjarahan rumah dan toko-toko ini terjadi di sejumlah lokasi bencana di Klaten dan Sleman, Yogyakarta.

[9] Warga cukup resah dengan aksi para penjarah yang memanfaatkan situasi bencana untuk mengeruk keuntungan ini.

[10] Sejumlah petugas saat dimintai konfirmasi terkait maraknya penjarahan enggan berkomentar.

[11] Namun sejak banyaknya laporan warga soal penjarahan lokasi bencana saat ini dilakukan penjagaan ketat dan berlapis aparat.

[12] Sebagai antisipasi, warga pun menutup akses jalan kampung dengan kayu untuk menghindari orang asing masuk tempat tinggal mereka.

[13] Demikian laporan Effendi Rois dari Klaten, Jawa Tengah, dan Yogyakarta.

***

Berita Pemicu Kontroversi

Untuk saat ini, kami tidak akan menyandingkan secara rinci gambar dan narasi berita di atas. Yang penting yang ingin kami buktikan dahulu adalah bahwa narasi berita yang direkayasa (baca: tidak murni; melalui proses redaksional) oleh redaksi Topik Pagi ANTV itu memang secara sepintas mengesankan kalau orang-orang yang ada di gambar merupakan ‘penjarah’ dan ‘patut ditangkap’. Penciptaan kesan-pesan ini bisa dilihat dari unsur pragmatik narasi berita dan pemilihan kata.

Unsur pragmatik dalam narasi yang menyatakan bahwa orang-orang dalam gambar video merupakan penjarah adalah penggunaan kata tunjuk (deiksis) ‘ini’. Mari kita lihat lagi kalimat pertama dari narasi itu: “Aksi penjarahan yang dilakukan oleh komplotan pemuda ini berlangsung di sebuah toko milik warga Dusun Singlar, Desa Glagaharjo, Sleman, Yogyakarta.” Kata tunjuk ini dalam narasi itu mengindikasikan bahwa gambar tersebut memang merupakan gambar aktivitas penjarahan dan orang-orang di dalam gambar itu adalah pelakunya.

Pemilihan kata dan frasa merupakan pencipta kedua pesan/kesan dalam berita itu. Coba perhatikan kata dan frasa bernada negatif yang dipilih oleh pembuat berita: aksi penjarahan, komplotan pemuda, para pemuda yang tidak diketahui asal-usulnya, helm dan penutup wajah, marah, mengancam, pergi menghindar, merapatkan penutup wajah, barang-barang berharga, resah, mengeruk keuntungan, penjagaan ketat dan berlapis aparat, dan orang asing. Semuanya dipasang sebagai dekorasi yang akhirnya menguatkan, bahkan mencipta, atmosfer keadaan darurat, keadaan buruk. Akibatnya, orang yang menonton video akan tergugah untuk tidak menyetujui, bahkan mengutuk, ‘aksi penjarahan’ itu.

Begitu juga dengan kepolisian yang dalam narasi berita dinyatakan telah dimintai konfirmasi terkait kasus-kasus penjarahan di wilayah letusan Merapi, dalam arti bukan cuma kasus penjarahan spesifik dalam video itu, namun ‘enggan berkomentar’. Nada negatif bagi pihak kepolisian, yang dikuatkan dengan pemberitaan-pemberitaan sebelumnya di banyak media yang menyebutkan maraknya penjarahan di desa-desa warga Merapi yang ditinggal mengungsi, memberi tekanan tersendiri bagi polisi untuk bertindak.

Maka, adalah wajar kalau, seperti dikatakan di awal, polisi menangkap orang-orang di dalam gambar berita yang ditayangkan ANTV itu. Namun, penangkapan itu ternyata tidak membuat polisi terlihat heroik, melainkan mendapat protes warga Singlar yang merasa bahwa aktivitas dalam gambar liputan berita ANTV bukanlah penjarahan. Kontroversi pun muncul ke permukaan, dan diliput oleh berbagai mediamassa seperti Tribunnews, Tempointeraktif, dan KRJogja. Berikut adalah kontroversi yang terjadi, yang kami rangkum dari tiga media tersebut:

Dari pengakuan warga Singlar, Cangkringan, yang diwawancarai Tribunnews.com, adegan pencongkelan pintu toko dan pengambilan minuman dan makanan yang dilakukan warga dilatarbelakangi oleh aktivitas kerja-bakti bersama anggota TNI, Brimob, dan Tagana. Warga Singlar kehausan dan butuh minum. Maka, mereka berusaha mendapatkannya dari toko salah satu warga. Adegan pencongkelan dalam gambar video itu sendiri, menurut dua tersangka penjarahan yang diwawancarai Tribunnews, Nyoto dan Sutrisno, merupakan adegan pengulangan.[8] Pintu sudah dicongkel dan tidak ada pengambilan gambar. Kemudian, wartawan ANTV yang kebetulan ada di lokasi kejadian meminta warga untuk mengulangi pencongkelan dengan alasan bahwa gambar yang diambil akan dijadikan adegan penyelamatan barang milik warga korban letusan Merapi. Merasa dimintai tolong dan merasa tidak ada salahnya menolong, warga menuruti permintaan wartawan ANTV itu.

Pemilik toko, Maridi, pun angkat bicara setelah diberitahu pihak kepolisian bahwa barang-barang di tokonya diambili warga. Ia merasa bahwa apa yang dilakukan warga itu bukanlah kejahatan, tetapi kewajaran. Ia mengikhaskan barang-barang miliknya. Ia tidak mengajukan pengaduan kepada pihak kepolisian perihal hilangnya barang-barang di tokonya dan tidak mau membuat laporan bahwa ia telah kehilangan barang. Ia hanya bersedia memberi keterangan kepada petugas di Polda DIY. Menurut perhitungan Maridi, barang-barang yang hilang di tokonya hanya bernilai sekitar Rp. 30.000. Barang-barang yang diambil warga itu seluruhnya adalah sebagai berikut: 1 botol Fanta, 1 botol Sprite, 2 saset Extra Joss, 2 gelas plastik Ale-ale, 5 bungkus wafer, 3 bungkus Taro, dan 1 bungkus slondok (makanan dari tapioka).

Keterangan senada diberikan oleh pihak kepolisian. Seperti sudah dikatakan di awal, kepolisian mendasarkan penangkapan warga pada berita yang ditayangkan oleh ANTV. Perihal tidak adanya pengaduan pemilik toko, polisi berkilah bahwa mereka tidak memerlukan pengaduan untuk menangkap orang. “Memang tidak ada pengaduan. Namun dasar kami melakukan penangkapan yakni adanya tindak kejahatan yang mereka lakukan,” ujar Kabid Humas Polda DIY, AKBP Anny Pujiastuti, seperti dikutip Tribunnews.[9]

Keterangan lain dari pihak kepolisian dinyatakan oleh Wakapolda DIY pada hari Selasa (23/11) kepada Tempo. Keterangan ini justru membenarkan apa yang sudah dinyatakan oleh warga, yakni bahwa “warga setempat yang diajak oleh relawan dari Klaten untuk kerja-bakti, karena kehausan mereka membuka toko milik salah satu warga tanpa ijin, tetapi datang wartawan TV yang menyuruh untuk melakukan lagi. Jadi disetting. Tapi di berita jadi penjarahan.”[10] Wakapolda DIY juga mengatakan bahwa polisi punya bukti bahwa berita penjarahan itu sama sekali tidak benar. Lanjutnya, wawancara dari warga dipotong dan tidak ditayangkan. Meskipun begitu, polisi tetap memproses warga yang mengambil minuman tanpa izin dengan pasal 363 atau pencurian dengan pemberatan dan akan meminta keterangan dari wartawan ANTV yang melakukan penyetingan.

Menurut berita terakhir yang kami dapat, semua tahanan sudah dilepaskan pada tanggal 6 Desember 2010 tetapi status mereka masih tersangka.[11]

Sementara itu, keterangan berbeda diberikan oleh pihak ANTV. Pemimpin Redaksi stasiun televisi ANTV, Uni Lubis, menampik bahwa wartawannya ‘menyutradarai’ reportase perihal kegiatan warga itu. Ia mengatakan bahwa gambar itu tidak sengaja terekam. Perihal kata-kata penyelamatan barang, Uni mengatakan bahwa itu dilakukan wartawan ANTV sebagai sapaan agar ia tidak dicurigai dan dikeroyok warga. Lebih rincinya, menurut keterangan Uni, adalah seperti ini:

Effendi Rois awalnya hanya merekam suasana kampung Balerante. Kemudian, karena ada sekelompok orang yang berpolah, perhatian Rois tertuju pada kelompok itu. Agar tidak mengundang kecurigaan, Rois menyapa orang-orang itu dengan mengatakan, “Lagi menyelamatkan barang ya, Mas?”

Uni menegaskan bahwa sapaan tersebut sengaja untuk membuka percakapan dan menjaga diri saja. Bukan untuk mengulangi penjarahan. Perihal jumlah dan durasi gambar, Uni mengatakan bahwa semua gambar dari Effendi Rois sudah diterima redaksi. Dari seluruh gambar itu terlihat jelas kronologi kejadian. Namun, karena waktu, tidak semua gambar bisa ditampilkan.

Menanggapi pemberitaan ini, KPI Yogyakarta ikut turun tangan. Dari berita terakhir yang kami dapat, KPI akan memanggil ANTV pada jumat (10/12) dan meminta keterangan.[12] Namun, sampai artikel ini kami buat, tidak ada berita lanjut dari media massa perihal kasus ini.

Membedah Narasi, Menguak Makna

Kami mulai analisis terhadap isi narasi pemberitaan bertajuk “Aksi Penjarahan Bikin Cemas Pengungsi Merapi” yang disiarkan dalam acara Topik Pagi oleh stasiun televisi ANTV pada tanggal 21 November 2010 ini. Lewat analisis yang akan kami lakukan, kami akan membuktikan betapa tidak-memadainya narasi berita tersebut sebagai sebuah produk jurnalistik. Dengan membuat sebuah investigasi linguistik, kami juga akan berusaha mendeskripsikan proses pembentukan, atau penciptaan, citra/makna ‘penjarahan’ dan ‘penjarah’ yang diproduksi lewat narasi berita. Lewat kedua topik analisis itu kesimpulan terhadap mutu dan benar-tidaknya isi narasi berita tersebut dapat dibuat. Terkait dengan teori yang dirumuskan Austin, kami juga akan membahas perihal di titik-narasi mana tindakan perlokusi narasi berita tersebut berhasil menggerakkan penontonnya, dalam hal ini Polda D.I. Yogyakarta. Sekarang mari kita bedah naskah narasi berita tersebut.

Kita tahu bahwa ada dua sumber pembangun/pembangkit makna yang lazim digunakan dalam penyajian tayangan berita televisi. Dua sumber tersebut adalah bahasa (kata-kata yang dilafalkan oleh narator berita) dan gambar (potongan-potongan gambar-bergerak hasil rekaman pewarta). Bahasa dan gambar disajikan secara sekaligus, secara simultan. Kedua-duanya saling-sokong dalam (merangsang penonton untuk) membentuk makna. Atas dasar inilah kami menyajikan analisis bahasa dan gambar secara sekaligus pula dalam artikel ini.

Mari sekali lagi kita perhatikan jalinan kata-kata yang membangun kalimat pertama dalam narasi pemberitaan tersebut: “Aksi penjarahan yang dilakukan komplotan pemuda ini berlangsung di sebuah toko milik warga Dusun Singlar, Desa Glagaharjo, Sleman Yogyakarta.” Perhatikan dua frasa yang kami garis-bawahi. Kedua frasa itu berada dalam satu domain semantik, yaitu: ‘kejahatan’. Amati, misalnya, frasa aksi penjarahan. Kata aksi dalam frasa itu sangat ikonik, dan terhubung ke beberapa bentuk frasa lainnya lewat jejaring makna yang sama. Frasa aksi penjarahan akan dengan cepat merangsang kita untuk mengingat hal-hal bernada serupa, seperti: aksi demonstrasi, aksi penculikan, aksi anarkis, dsb. Semua frasa tersebut, terutama dalam jagad penyiaran berita-berita ‘kriminal’ di Indonesia, selalu berhubungan dengan domain semantik ‘kejahatan’. Sementara itu, frasa komplotan pemuda punya motif diksi yang mudah diduga. Kata komplotan dipilih agar senada dengan suasana makna yang sudah terlebih dahulu diproduksi lewat frasa aksi penjarahan. Makna leksikal dari kata komplotan memang ‘gerombolan penjahat’.[13]

Lebih lanjut, bisa kita mempertanyakan kelengkapan informasi yang dicakup oleh kalimat pembuka narasi berita tersebut. Jika penunjuk tempat terjadinya peristiwa itu diwartakan dengan cukup rinci (terlihat dari susunan logis tingkat wilayah: dusun, desa, kabupaten, sampai provinsi), mengapa informasi dasar lain, semisal penunjuk waktu dan orang, tidak diikutsertakan? Kapan peristiwa itu terjadi? Siapa pemilik toko yang katanya ‘dijarah’ itu? Siapa orang-orang yang disebut sebagai ‘komplotan pemuda’ itu? Sama sekali tidak berjawab.

Kekosongan informasi ini, yang seharusnya tidak terjadi dalam penyajian produk jurnalistik, menciptakan satu atmosfer yang kental terasa dalam pemberitaan itu. Berita tersebut terkesan ‘samar’, tampak ‘kabur’. Kesan ‘samar’ dan ‘kabur’ yang sudah terendus dari cara penyajian bahasa berita ini semakin diperkuat lagi oleh cara penyajian gambar. Teknik sensor-kabur diterapkan untuk mendegradasi mutu kejernihan gambar wajah orang-orang yang direkam dalam peristiwa itu; sebuah teknik yang sangat lumrah dilakukan, bahkan mungkin sudah jadi etika, dalam pangsa berita kriminal.

Kalimat ketiga dari narasi berita itu juga merupakan penguatan dari kesan ‘samar’ dan ‘kabur’ yang ada di kalimat pertama. Perhatikan frasa para pemuda yang tidak diketahui asal-usulnya ini. Unsur pembentuk makna yang paling penting dari frasa tersebut adalah klausa-penerangnya, yaitu yang tidak diketahui asal-usulnya. Klausa-penerang ini berperan nantinya untuk menciptakan citra atas frasa para pemuda. Makna yang paling mungkin diproduksi dari frasa tersebut adalah ‘bahwa para pemuda yang gambarnya terekam itu adalah orang-orang asing, yang datang dari daerah lain ke daerah tertentu untuk menjarah’. Pertanyaan yang bisa kita lontarkan adalah ini: (1) Benarkah para pemuda yang terekam gambarnya oleh pewarta ANTV itu adalah orang-orang yang tidak diketahui asal-usulnya?; (2) Siapa sebenarnya yang tidak tahu asal-usul para pemuda itu?; (3) Pewarta ANTV, kah?; (4) Mengapa pewarta itu tidak tahu?; dan (5) Mengapa pula ia tidak mencari tahu?

Bagian yang menurut kami paling menarik dari cara redaksi Topik Pagi ANTV mencitrakan orang-orang dalam gambar beritanya itu adalah kalimat keempat. Coba amati frasa memakai helm dan penutup wajah. Kedua frasa ini adalah, lagi-lagi, penerang yang punya peran utama dalam pembangunan makna terhadap orang-orang yang disebut dengan istilah komplotan pemuda, para pemuda, dan para pelaku dalam berita tersebut. Di balik peran informatif yang dimiliki kalimat keempat tersebut, yaitu untuk menerangkan ciri-ciri orang-orang yang terekam gambarnya, frasa memakai helm dan penutup wajah bertendensi untuk membangun kesan bahwa orang-orang tersebut adalah ‘orang-orang yang sengaja mengenakan helm dan penutup wajah agar tidak dikenali karena sedang melakukan sebuah tindak kejahatan’.

Frasa yang paling kuat mengesankan hal tersebut adalah frasa penutup wajah. Bila kita perhatian potongan gambar-bergerak yang menyandingi kalimat keempat ini, memang benar terlihat gambar setidaknya tiga orang yang memakai helm. Lalu, tampak pula gambar sebagian besar dari orang-orang tersebut menggunakan penutup wajah, berupa masker. Pertanyaannya, mengapa frasa penutup wajah dipilih oleh pembuat berita? Mengapa tidak secara spesifik digunakan kata masker saja? Kata masker memang, pada konteks tertentu, berada di bawah domain-induk semantik ‘penutup wajah’. Tapi mengapa penutup wajah alih-alih masker?

Tentu kita sama-sama paham bahwa kata masker, bila ditempatkan pada konteks peristiwa letusan Merapi, sudah punya makna pragmatiknya sendiri, yaitu ‘alat pelindung saluran pernafasan’, bukan ‘alat untuk membuat wajah sukar dikenali’. Sementara itu, frasa penutup wajah bisa dipakai untuk membangun makna kedua sebab sifat semantiknya yang lebih umum dan bisa mengelak dari batasan konteks ‘bencana letusan Merapi’. Inilah, menurut kami, alasan pembuat narasi berita memilih frasa penutup wajah alih-alih masker. Pembuat narasi berita sudah terlebih dahulu memasang patok penjarahan atas beritanya, sehingga lebih memilih untuk menggunakan ungkapan-ungkapan yang menguatkan citra penjarah pada orang-orang yang gambarnya terekam itu.

Juga dalam kalimat keempat, ada satu hal menarik lagi, yaitu perihal para pelaku yang “sempat marah dan mengancam saat ketahuan diambil gambarnya”. Pertama-tama, peristiwa ‘pelaku yang marah dan mengancam’ seharusnya menjadi salah satu adegan penting dalam perekaman peristiwa itu. Bila kita coba perhatikan pernyataan Pemimpin Redaksi ANTV Uni Lubis, yang berkata bahwa seluruh gambar yang diterima redaksi ANTV dari pewarta mereka, Effendi Rois, telah memperlihatkan dengan jelas kronologi kejadian, maka kita bisa menduga bahwa redaksi ANTV pasti punya gambar yang menampilkan adegan ‘para pelaku’ yang sedang ‘marah’ dan ‘mengancam’ pewarta ANTV karena adegan itu merupakan salah satu matarantai kronologi kejadian itu. Tetapi, kenyataannya, dalam penayangan berita, tidak ada satu gambar pun yang menunjukkan adegan ‘para pelaku’ yang sedang ‘marah’ dan ‘mengancam’. Mengapa bisa? “Waktunya tidak cukup,” kilah Uni Lubis. Baiklah, benar begitu. Tapi, dalam waktu yang sempit itu mengapa sampai terjadi pengulangan gambar, misalnya gambar adegan orang-orang yang masuk ke toko saat pertama sekali pintu berhasil dibuka atau adegan saat dua pria berhelm menaruh beberapa gelas minuman kemasan di pelataran sempit di depan toko? Kenapa gambar-gambar tersebut berhak mendapat porsi tayang yang besar sementara satu adegan penting lain, adegan orang-orang ‘marah’ dan ‘mengancam’, kalaupun ada, tidak mendapat jatah tayang?

Dusta

Lanjut lagi, kalimat kelima adalah sebuah dusta besar yang dilakukan redaksi ANTV lewat pemberitaannya itu. Coba tengok frasa sambil mengemasi makanan dan barang-barang berharga. Beri perhatian khusus pada frasa barang-barang berharga. Bila kita tempatkan pada konteks yang coba dibangun oleh narasi pemberitaan ANTV, perihal penjarahan, maka frasa barang-barang berharga sudah memanggul sebuah arti pragmatik yang sangat khusus; referennya pun spesifik. Dalam konteks ‘penjarahan’ atau ‘tindak kejahatan pencurian dan perampokan’, kita tidak mungkin memaknai barang-barang berharga sebagai ‘makanan ringan’ atau ‘minuman berkarbonasi’. Yang muncul di benak kita saat mendengar frasa tersebut pastilah materi-materi serupa ‘perhiasan’, ‘dokumen penting’, ‘barang mewah’, dll.

Nah, dalam gambar yang menyandingi kalimat kelima ini, tidak terlihat satu pun bukti bahwa orang-orang dalam rekaman gambar itu mengambil barang-barang berharga milik warga yang mereka bongkar tokonya. Bahkan, dari pengakuan para tersangka dan pemilik toko, kita pun tahu bahwa barang-barang yang diambil itu tidak lebih dari sekedar minuman dan makanan, yang bila dirupiahkan hanya berharga sekitar Rp. 30.000. Lalu, mengapa redaksi ANTV membiarkan frasa genting serupa barang-barang berharga menyelinap masuk ke dalam narasi berita bila gambar rekaman yang mereka punya tak satu pun dapat membuktikannya?

Tema Besar

Bila kita perhatikan dengan teliti, sebetulnya ada satu tema besar yang ingin diangkat lewat narasi berita ANTV itu: tindak penjarahan dan pencurian yang terjadi di wilayah letusan Merapi di daerah Klaten, Jawa Tengah, dan Sleman, Yogyakarta. Pencurian memang terjadi! Setidaknya ada satu bukti yang bisa kami temukan. Coba Anda tilik sendiri foto bernomor ‘28’ dari situs ini: http://www.boston.com/bigpicture/2010/11/mount_merapis_eruptions.html. Foto dengan kode ‘ARYA BIMA/AFP/Getty Images’ itu dengan jelas menunjukkan gambar seorang pemuda yang sudah babak-belur dihajar massa karena dicurigai melakukan pencurian disebuah desa yang ditinggal penghuninya di Sleman, Yogyakarta. Kesan bahwa foto itu merepresentasikan tindakan pencurian diperkuat lagi dengan terlihatnya beberapa aparat kepolisian yang ikut terekam dalam gambar itu.

Sekarang mari kita periksa jejak tema besar ini dalam narasi berita ANTV yang sedang kita bahas ini. Kalimat kedelapan dari narasi berita itu secara terang-jelas adalah sebuah teknik perluasan topik pemberitaan—teknik narasi deduktif. Setelah berkutat dengan tujuh kalimat pertama yang menjabarkan peristiwa khusus yang terjadi di Dusun Singlar, narasi berita kemudian ditarik ke wilayah yang lebih luas. Penandanya adalah kata deiktik ini dalam frasa aksi penjarahan rumah dan toko-toko ini, di kalimat kedelapan. Referen yang diacu oleh kata tunjuk ini dalam frasa tersebut bukan lagi sekedar satu kasus khusus seperti yang terjadi di Singlar, Sleman, Yogyakarta; namun, sudah mengacu pada frasa terusannya: “sejumlah lokasi bencana di Klaten dan Sleman, Yogyakarta”. Inilah topik atasan (superordinat) yang ingin diangkat oleh ANTV: tindak pencurian yang terjadi di sejumlah lokasi bencana di Klaten, Jawa Tengah, dan Sleman, Yogyakarta. Topik tentang kasus yang terjadi di Singlar, Sleman, Yogyakarta itu kemudian menjadi topik bawahannya (subordinatnya). Topik bawahan inilah yang menjadi pasal! Narasi tentangnya dikaitkan secara lengket-erat dengan sebuah narasi yang cakupannya lebih luas, dan yang sudah punya wilayah maknanya sendiri. Maka, makna yang sudah ada dalam narasi yang lebih luas itu (narasi tentang pencurian dan penjarahan di wilayah letusan Merapi) menular ke narasi peristiwa di Singlar. Ini karena topik peristiwa Singlar dimaknai mutlak tanpa penyaringan makna-kontekstual lewat topik atasannya. Padahal, topik bawahan itu sebetulnya masih punya peluang untuk mengelak dari makna topik atasannya. Makna-kontekstual adalah peluang itu.

Makna Kontekstual yang (di)Hilang(kan)

Jika peristiwa yang terjadi di Singlar, Sleman, Yogyakarta itu dimaknai secara kontekstual, maka cap ‘penjarahan’ boleh-jadi tidak layak disematkan pada peristiwa itu. Sebelum kami diskusikan lebih lanjut pernyataan kami barusan, kami ingin mengingatkan Anda pada hal ini: kata penjarahan punya makna yang sangat khusus dalam ingatan masyarakat Indonesia. Kata penjarahan, bersama kata lain seperti demonstrasi, unjuk-rasa, dan kerusuhan, pernah sangat populer digunakan di masa Reformasi 1998. Citra-citra kerusuhan dan penjarahan massal yang terjadi berbagai kota besar di Indonesia, gambar-gambar yang menunjukkan segerombolan massa, di tengah-tengah kekacauan, dengan amuk, brutal, dan histeris menyemut ke wilayah pertokoan, melempari, merusak, dan membakar toko-toko sambil dengan buas mengambil sedapat-bisa apa saja isi toko, dengan sangat gencar ditayangkan di televisi kala itu. Massa yang terekam gambarnya dalam berita-berita yang ditayangkan itu memang tidak pernah pula diketahui, atau diselidiki, asal-usulnya – setidaknya, oleh mediamassa yang menayangkan gambar itu. Perlu kita ingat, citra-citra khusus itulah yang punya potensi menjadi referensi kita saat memaknai kata penjarahan. Unsur-unsur yang kami tampilkan tadi, seperti ‘kekacauan’ dan ‘massa tak dikenal’, dll., turut membentuk fitur makna bagi kata penjarahan. Dalam arti, kata penjarahan dapat digunakan untuk menyebut sebuah peristiwa yang memenuhi unsur-unsur tersebut.

Di paragraf sebelumnya, kami membuat pernyataan bahwa makna-kontekstual peristiwa Dusun Singlar bisa meruntuhkan cap ‘penjarahan’ yang disematkan berita ANTV bagi kejadian itu. Konteks apa yang sedang kami maksud di sini? Ini salah satu contoh konteksnya: “‘Bersama sejumlah anggota TNI, Brimob, dan Tagana, kami membakar bangkai ternak yang sudah membusuk. Karena kehausan dan tidak ada minuman, kami membuka toko milik Pak Maridi. Saya ambil satu minuman ringan dalam gelas plastik merek Ale-ale,’ ujar Hengky Gunanto (17), seorang tersangka.”[14]

Inilah konteks yang melatari tindakan pencongkelan pintu toko tersebut. Ada sebuah kerja-bakti yang dilakukan warga bersama beberapa aparat di wilayah itu. Kerja-bakti itu dilakukan untuk membersihkan bangkai ternak. Dengan latar ini, kita bisa paham bahwa tidak ada unsur ‘kekacauan’ yang terjadi di sana pada saat peristiwa itu terjadi. Warga melakukan kegiatan bersih-bersih dibantu oleh aparat keamanan: ini bukan ‘kekacauan’ namanya; malah, ‘membereskan kekacauan’.

Pun, sangatlah wajar jika, dalam gambar yang ditayangkan oleh berita ANTV, terlihat banyak orang yang menggunakan masker, yang tentunya menjadi salah satu pelindung yang wajib dikenakan saat berkegiatan di wilayah letusan Merapi. Di titik-latar ini, motif pemilihan frasa penutup wajah menjadi jelas. Frasa tersebut memang sengaja dipaksakan untuk dipilih agar citra yang tercipta betul-betul menguatkan tema dan atmosfir ‘penjarahan’ yang ingin ditonjolkan oleh ANTV dalam berita tersebut. Seperti yang sudah kami uraikan tadi, unsur ‘massa tak dikenal’ menjadi satu fitur-makna penting dalam kata penjarahan, dan frasa penutup wajah adalah sebuah pilihan jitu untuk memenuhi fitur-makna ‘massa tak dikenal’, dalam usaha membangun citra ‘penjarahan’ dalam narasi berita itu. Padahal, orang-orang yang terlibat dalam peristiwa yang diberitakan ANTV itu sesungguhnya adalah warga Singlar, Sleman, Yogyakarta juga. Bahkan, Hengky sendiri adalah keponakan dari Maridi, pemilik toko yang dibongkar itu.[15] Ini yang tidak diceritakan oleh narasi berita ANTV. Maka, klaim bahwa komplotan pemuda itu tidak jelas asal-usulnya sama sekali keliru dan kurang-periksa.

Nah, sudah dua fitur-makna penting kata penjarahan gagal dipenuhi oleh narasi berita ANTV. Dengan ini, kami berani bilang bahwa secara semantik sekali pun, peristiwa Singlar tidak pantas dicap sebagai sebuah ‘penjarahan’. Penyematan cap ‘penjarahan’ pada peristiwa itu adalah sebuah tindakan keliru dan memelencengkan jalan pikir khalayak konsumen berita. Bila kita harus memberi definisi pada peristiwa Singlar itu, inilah definisi yang pantas: peristiwa Singlar adalah “sebuah tindakan beberapa warga Singlar yang mengambil barang-barang berupa makanan dan minuman (senilai kurang lebih Rp 30.000,-) dari warung salah seorang warga Singlar lain, yaitu Maridi, tanpa izin terlebih dahulu (sebab Maridi tidak berada di lokasi itu, melainkan di lokasi pengungsian) dengan jalan membuka-paksa pintu warung, sebab beberapa warga Singlar tersebut, setelah melakukan kerja-bakti bersama anggota TNI, Brimob, dan Tagana, untuk membersihkan bangkai ternak di dusun mereka, kehausan (dan belakangan diketahui bahwa Maridi sama sekali tidak keberatan dengan tindakan warga sedusunnya itu)”. Kalau saja seluruh informasi itu diperoleh dan digunakan ANTV dalam narasi pemberitaannya tentang peristiwa Singlar, dan kalau saja ANTV tidak mencoba mengait-ngaitkannya dengan penjarahan dan pencurian yang terjadi di lokasi letusan Merapi, hampir bisa dipastikan tidak akan ada penangkapan yang terjadi.

Wicara yang Menggerakkan

Mengapa bisa dua hari setelah pemberitaan itu Polda DIY bergerak menangkapi orang-orang yang gambarnya terekam dalam berita ANTV tersebut? Menurut pembacaan kami, narasi berita ANTV itu juga punya peran penting dalam penangkapan itu. Kalimat kesepuluh, yang berbunyi “[s]ejumlah petugas saat dimintai konfirmasi terkait maraknya penjarahan enggan berkomentar” adalah teks kunci yang, menurut kami, berhasil menggerakkan jajaran kepolisian Yogyakarta untuk melakukan penangkapan. Frasa-frasa penting nan genting dalam kalimat itu adalah petugas dan enggan berkomentar. Kedua frasa ini pula yang menjadi inti-makna dari kalimat itu: ‘petugas enggan berkomentar’. Sekilas, bisa saja kita anggap ungkapan ini sekedar bernada informatif – hanya berupa tindakan illokusi: memberitahukan pada penonton-berita bahwa petugas (aparat keamanan) enggan memberi komentar (tanggapan) terhadap kasus penjarahan di wilayah letusan Merapi. Tapi, sebab wicara itu tidak sekedar wicara, melainkan juga laku, maka pada tataran yang lebih mendalam, dengan kalimat kesepuluh itu, ANTV juga melakukan tindakan perlokusinya, menyatakan desakannya pada aparat keamanan: agar mereka mengerjakan bagian mereka; segera mengambil tindakan untuk menangkap orang-orang yang melakukan penjarahan tersebut. Penjarahan yang mana? Tentunya polisi tidak bisa menangkap para pelaku penjarahan jika mereka tidak punya bukti atau bahkan tidak tahu bahwa penjarahan terjadi. Sebab ANTV menggunakan peristiwa Singlar sebagai simbol terjadinya penjarahan di wilayah bencana letusan Merapi, maka, penjarahan yang Polda DIY tindak adalah ‘penjarahan’ yang ditayangkan oleh ANTV lewat berita tersebut.

Pertanyaan lebih lanjut: mengapa polisi setuju dengan klaim ANTV, bahwa peristiwa Singlar tersebut adalah sebuah ‘penjarahan’ dan bahwa orang-orang yang gambarnya terekam dalam peristiwa tersebut adalah ‘penjarah’? Mudah saja menjawab pertanyaan ini. Kami, bahkan mungkin siapa pun (kecuali orang-orang yang gambarnya direkam dalam peristiwa tersebut), bila melihat berita tersebut secara sekilas saja, pasti akan cenderung setuju bahwa peristiwa itu merupakan sebuah ‘penjarahan’. Ini karena kita tidak mengetahui dengan pasti konteks yang melatari peristiwa itu. Dan, untuk diingat, konteks-latar inilah yang tidak digubris dalam berita ANTV itu. Walhasil, kita (termasuk Polda DIY) dengan anggukan setuju mengiyakan pencitraan yang telah dibangun oleh narasi berita ANTV itu, yang proses konstruksinya telah kami jabarkan di atas. Tentu, Polda DIY punya reaksi yang berbeda dari kita, yang sipil. Sebagai aparat keamanan yang berwenang, apalagi setelah digelitik dengan ungkapan ‘petugas enggan berkomentar’ tadi, adalah wajar jika Polda DIY mengambil tindakan penangkapan. Pada titik ini, maka narasi berita ANTV telah mencapai tindak-wicara dan makna pragmatisnya yang paling puncak: aparat keamanan bergerak untuk menindak ‘para penjarah’. Akan tetapi, yang luput dari perhatian mendalam Polda DIY adalah justru hal yang mereka pegang sebagai ‘bukti kejahatan’ tadi: rekaman berita Topik Pagi ANTV. Bolehlah kita sangka bahwa Polda DIY telah melakukan analisis terhadap rekaman tersebut. Namun, menurut kami, tindakan penangkapan bukanlah tindakan awal yang tepat dalam menanggapi pemberitaan itu. Seharusnya, Polda DIY mencoba melakukan penyelidikan terlebih dahulu, mencari keterangan di lapangan dari orang-orang yang gambarnya terekam dalam berita itu – dan orang-orang ini seharusnya diperlakukan sebagai saksi, bukan tersangka. Bila penyelidikan dilakukan, maka akan terungkaplah konteks yang melatari peristiwa Singlar tersebut. Dan bila sebuah penyelidikan linguistik-forensik dilakukan terhadap isi berita Topik Pagi ANTV, seperti yang kami lakukan dengan sederhana dalam artikel ini, justru ANTV beserta wartawannyalah yang selayaknya diperiksa dengan tuduhan menyebarkan berita bohong dan menyesatkan.

***

Kasus peristiwa Singlar kini telah memasuki tahap persidangan. Dari berita yang berhasil kami himpun, para tersangka kasus ‘penjarahan’ itu telah mendapat bantuan hukum secara gratis dari Tim SAR Klaten lewat penasehat hukum Dina Nurmalawati S.H. dan Joko Yunanto S.H.[16] Tindakan yang dibidik polisi sebagai dasar mereka lanjut memproses kasus ini, sesuai dengan pengakuan Wakapolda DIY, adalah tindakan ‘mengambil minuman tanpa izin’. Pasal yang dikenakan pada para tersangka itu adalah pasal 363, tentang pencurian. Mudah-mudahan polisi tidak lupa untuk mempermasalahkan dusta yang telah dibuat ANTV dalam beritanya itu.

Penutup

Anda pasti pernah menonton berita tentang aksi demonstrasi. Tapi, pernahkah Anda mencoba untuk menilik pola dan gaya mediamassa televisi dalam meliput aksi demostrasi, khususnya dalam segmen berita kilas mereka? Yang paling kerap kita temui dalam berita kilas aksi demonstrasi bukanlah pemaparan mendalam dari sudut pandang demonstran tentang dasar yang melatari aksi mereka: adicita, atau ideologi, aksi mereka. Adegan-adegan seperti ‘aksi saling-dorong’ atau ‘aksi saling-lempar’ antara polisi dan demonstran dan ‘aksi merusak pagar pembatas’ adalah adegan yang paling laris-manis dibicarakan, disorot, dan dikomentari dalam berita. Satu frasa sakti pun telah ditemukan untuk menyebut aksi itu: aksi anarkis. Pencitraan yang dituju pun jelas: kekerasan. Akibatnya, lewat berita kilas aksi demonstrasi macam itu, kita jadi tak pernah tahu apa sesungguhnya yang diteriakkan para demonstran, apa kegelisahan mereka – singkatnya: konteks-latar aksi mereka.

Lalu bandingkanlah pola pemberitaan dan pencitraan aksi demonstrasi itu dengan pola pemberitaan peristiwa Singlar. Kami kira Anda tidak akan terlalu kesusahan untuk mencari persamaannya.


[1] Austin menyebut konsep rekaannya ini sebagai tindak-wicara (Ing. speech act).

[2] Disebut juga tindakan lokusi.

[3] Disebut juga tindakan illokusi.

[4] Disebut juga tindakan perlokusi.

[5] http://www.tribunnews.com/2010/12/05/korban-merapi-bingung-dituduh-menjarah

[6] Agar Anda dapat dengan lebih mudah memahami analisis teks berita yang kami lakukan, silahkan tonton rekaman tanyangan itu selengkapnya di http://www.tribunnews.com/2010/12/05/wartawan-itu-menyuruh-kami…-video

[7] Transkripsi isi narasi berita ini dibuat berdasarkan rekaman tayangan berita yang kami unduh dari http://www.tribunnews.com/2010/12/05/wartawan-itu-menyuruh-kami…-video

[8] http://www.tribunnews.com/2010/12/23/nyoto-bersikukuh-diminta-mengulang-adegan

[9] http://www.tribunnews.com/2010/12/05/polisi-kami-tak-perlu-pengaduan

[10] http://www.tempointeraktif.com/hg/jogja/2010/11/23/brk,20101123-293849,id.html

[11] http://www.tribunnews.com/2010/12/07/status-pengungsi-merapi-tetap-tersangka-meski-dilepaskan

[12] http://www.tribunnews.com/2010/12/06/kpi-jumat-ini-kita-akan-panggil-antv

[13] Periksa: KBBI Pusat Bahasa edisi IV, 2008: 720.

[14] http://www.tribunnews.com/2010/12/05/korban-merapi-bingung-dituduh-menjarah

[15] http://www.tribunnews.com/2010/12/05/aku-tak-tega-saksikan-reka-ulang

[16] http://www.tribunnews.com/2010/12/05/korban-merapi-bingung-dituduh-menjarah

*Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Basis Nomor 03-04 tahun 2011 dengan judul “Disebabkan oleh Berita”. Naskah yang dimuat di situsweb Lidahibu.com ini adalah naskah asli yang belum mendapat sensor dari Redaksi Basis. Pada naskah yang dimuat Majalah Basis, nama ANTV dan nama wartawan ANTV sengaja tidak disebutkan.

(+4 jempol)
Loading ... Loading ...

6 komentar
Berikan komentar »

  1. Benar-benar ini kajian mendalam. Sebagai pembaca, yg juga sempat menjadi wartawan. Saya merasa penting melihat fenomena ini sebagai kasus serius. Wajah media kita sekarang ini memang begitu. Akibatnya, opini dan gaya dan rasa masyarakat untuk membaca/menonton serta mendengrakan berita, selalu didorong dengan penasaran atas judul/topik berita yang disiarkan AN TV tadi. Sekalipun belakangan, itu belum tentu benar. Beberapa kali juga saya menemukan peristiwa demo atau kerusuhan, yg justeri wartawan yang menghasut/memanas manasi agar masa bisa bentrok lagi. Dan mereka mendapatka gambar eksklusif (menurut mereka). Dan kalau sudah begitu, maka berita mereka sudah pasti tayang/terbit. Tak lupa pihak redaksi mereka memberikan tanda jempol.

    Ini miris, menyedihkan. Saya justeru tertarik dengan usulan kawan saya untuk menonton berita tanpa suara saja. Biar penonton (kita) bebas menginterpretasi gambar sesuai naluri masing-masing.

    Terima kasih sudah membuat artikel ini. Ini berharga untuk kemajuan dunia media kita.

  2. Terima kasih, kawan Mohamad Sahril, karena sudah menyempatkan diri membaca artikel ini.

    Usul kawan Anda itu boleh juga. Yang jelas, tidak ada yang netral dalam pemberitaan. Bahkan gambar sekali membawa serta maksud dan kepentingan produsen berita — biarpun dia tanpa suara narasi.

    Bagi bahasawan, suara narasi mutlak dibutuhkan karena itulah bahan telitian utama.

    Penggambar Komik di Majalah Lidahibu pernah mengajukan usul yang mirip dengan usul kawan Anda itu. Tapi beda ruang saja. “Coba tonton sinetron tanpa suara,” katanya dulu. Hm… mungkin itu lebih berfaedah dan menghibur. 😉

  3. Tulisan dan analisis yang dalam dan bermakna. Seharusnya tabloid2 macam cek dan ricek jg memuat. Mohon ijin untuk mengutip sebagai materi perkuliahan di kelas saya. And, thanks for sharing…

  4. Santi,

    Silakan. Terima kasih untuk komentar Anda. Dan mohon bantuannya untuk menyebarkan artikel ini juga. 🙂

    Seandainya ada artikel linguistik, atau bahasa secara umum, dari kelas Anda, boleh lho kirim ke Redaksi untuk dimuat di sini.

    Mari berbagi. 🙂

  5. artikel bagus… media indonesial tak akan memasang artikel kayak gini….. para pengajar bahasa dan analisa wacana/discourse bisa bekerjasama mengembangkan analisa sejenis untuk pembekalan jurnalis, membangun kesadaran mengahadapi “hasut media” dan sejenisnya….

    selain “basis”, masih hidupkah jurnal jurnal lain seperti prisma, jurnalnya csis (lupa namanya), kalam, dan horison?

  6. Saya sepakat dengan Yu Senik: para wartawan memang patut diberi pembekalan (semacam lokakarya/pendidikan) agar kesadarannya mengenai ‘teknik penghasutan’ semacam ini terbangun.

    Horison sepertinya belum almarhum. Prisma saya tak tahu.

Berikan Komentar