Bahasa Daerah: Kekayaan Budaya Yang Harus Tetap Lestari*

21 Februari, 2013 | Edisi: | Kategori: Berita Gejala

Oleh Yohanes Manhitu*

PADA era globalisasi dan modernisasi ini, berbicara tentang bahasa daerah—yang umumnya merupakan bahasa ibu di Nusantara tercinta—boleh jadi bukan sesuatu yang menarik dan menantang. Pembaca tak perlu terkejut akan hal ini karena kenyataan menunjukkan bahwa pamor bahasa daerah sudah kalah (jauh) dibandingkan dengan bahasa nasional kita, apalagi dengan bahasa Inggris—yang dijuluki bahasa internasional—walaupun sebenarnya belum separo penduduk dunia menggunakannya sebagai alat komunikasi antarbangsa. Tetapi barangkali ada orang yang tergelitik untuk bertanya: Jika demikian, mengapa masih ada sejumlah orang yang terus mengurusi bahasa daerah walaupun usaha mereka itu boleh dikatakan ibarat mengutak-atik gerbong tua yang diharapkan kembali berjalan di atas rel yang baru? Orang boleh saja mencibir bahasa daerah yang dianggap tidak mendatangkan aliran tunai ke kantong atau rekeningnya. Namun dari sudut pandang budaya, orang yang (masih) mencintai budaya bangsanya akan menangis dalam hati memikirkan nasib bahasa-bahasa daerah yang pada umumnya tak kunjung mengalami perbaikan dan kemajuan, malah makin tersudut dalam percaturan kebahasaan di dusun global ini. Disadari atau tidak, hegemoni bahasa sedang terjadi di dalam masyarakat dan lingkungan hidup kita. Dan tentu saja bahasa-bahasa “besar” yang dianggap “lebih bermanfaat” itulah yang memiliki hegemoni.

Karena asas manfaat itu pula, maka setiap orang yang hendak mempelajari sebuah bahasa baru biasanya memperhatikan terlebih dahulu manfaat (ekonomi) dari bahasa itu. Apakah bahasa yang baru dipelajari itu akan mendatangkan keuntungan material bagi dirinya? Bahasa-bahasa “besar” pun kadang-kadang menjadi objek pertimbangan untung-rugi. Misalnya ketika hendak belajar bahasa Spanyol atau Mandarin, orang akan bertanya mana di antara kedua bahasa tersebut yang lebih menguntungkan, misalnya dalam pasar kerja internasional. Tidak ada salahnya, karena mempelajari bahasa baru juga merupakan investasi. Tetapi tentu prinsip untung-rugi ini akan berdampak sangat negatif jika diterapkan juga pada bahasa daerah.

Apabila setiap pribadi mengedepankan aspek di atas dalam menyikapi bahasa daerah, maka sudah nyaris pasti bahwa bahasa-bahasa daerah, karena dianggap tidak berguna secara ekonomi, akan ditinggalkan. Tidak mengherankan jika orang berkata: “Untuk apa capai-capai dan buang waktu belajar bahasa yang tidak laku di pasar?” Para orang tua yang berpikir bahwa bahasa daerah tidak ada faedahnya bagi kehidupan masa depan tidak akan bersedia mewariskan bahasa ibunya kepada anak-anaknya.

Lain halnya dengan UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization). Menyadari betul betapa pentingnya bahasa ibu bagi kehidupan umat manusia, maka pada tanggal 21 Februari 1991 di Paris, lembaga PBB ini mencanangkan Hari Bahasa Ibu Sedunia, yang diharapkan dapat berlangsung setiap tahun guna memajukan keanekaragaman budaya dan bahasa dunia. Diharapkan dengan peringatan hari bahasa ini setiap individu, lembaga, dan pemerintah dapat melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi pelestarian dan kelestarian bahasa ibu di setiap negara, khususnya melalui pendidikan, dengan mengenalkan bahasa ibu/daerah sejak dini kepada anak-anak agar bahasa ini tidak punah, karena mereka adalah generasi penerus bangsa.

Latar belakang Hari Bahasa Ibu Sedunia

Tanggal 21 Februari dipilih menjadi hari untuk mempromosikan keanekaragaman budaya dan bahasa dunia, mengingat peristiwa berdarah yang terjadi di Pakistan Timur pada tanggal 21 Februari 1952, di mana empat orang mahasiswa Universitas Dhaka tewas diterjang peluru polisi setempat demi memperjuangkan diakuinya bahasa Bengali sebagai bahasa nasional. Perlu diketahui bahwa pada tahun 1948 pemerintah Pakistan menetapkan bahasa Urdu sebagai satu-satunya bahasa nasional padahal bahasa Bengali—bahasa pujangga tersohor Rabindranath Tagore ini—memiliki jumlah penutur mayoritas.

Makna Hari Bahasa Ibu Sedunia bagi kita

Terdapat sangat banyak bahasa daerah di Indonesia. Situs www.ethnologue.com, sebagaimana dilaporkan di situs Fakultas Sastra Universitas Leiden, Belanda (http://www.let.leidenuniv.nl), mencatat bahwa ada 7.000 bahasa di seantero planet ini, 700 bahasa terdapat di Indonesia, dan sekitar 60-70 bahasa di NTT. Jadi 10% dari seluruh bahasa di dunia terdapat di Indonesia, dan 1% ada di NTT.

Dalam kaitan dengan hal ini, dengan adanya otonomi daerah di Negara Kesatuan Rupublik Indonesia dewasa ini dan diberlakukannya muatan lokal pada pendidikan dasar, pemerintah daerah (pemda)—dalam hal ini dinas pendidikan di tingkat provinsi dan kabupaten—beserta para guru muatan lokal, perlu bergandengan tangan dalam upaya mengejawantahkan undang-undang tersebut di atas. Agar pengajaran bahasa daerah berhasil, perlu dirancang materi dan digunakan metode pengajaran yang tepat.
Demi pelestarian dan kelestarian bahasa daerah, maka pada Hari Bahasa Ibu Sedunia tahun ini, saya ingin mengajak pembaca, khususnya di NTT tercinta ini, untuk melihat secara sepintas beberapa fungsi dan peranan bahasa daerah sebagai berikut:

a. Alat ungkap kebudayaan

Bahasa daerah adalah alat yang paling tepat untuk mengungkapkan kekayaan budaya suatu suku bangsa. Perlu disadari bahwa tidak setiap aspek budaya suatu suku bangsa dapat diungkapkan secara tepat dalam bahasa lain dengan tetap mempertahankan daya, bobot, dan keindahannya. Dapat dibayangkan betapa sulitnya menyusun suatu tutur indah bagi pembangunan suatu rumah adat dalam bahasa Indonesia atau Inggris yang sama bobotnya dengan tutur yang lazim disampaikan dalam bahasa daerah. Dan setiap bagian rumah adat memiliki nama-nama yang belum tentu memiliki padanan dalam bahasa lain. Hal ini disadari betul oleh para penerjemah yang menjembatani informasi antarbudaya.

b. Identitas suku bangsa

Para perantau sadar betul bahwa pada waktu dan tempat tertentu hal yang masih bisa mengikat kuat dirinya dengan tempat asalnya adalah bahasa daerah. Di perantauan, biasanya identitas budaya lain seperti makanan dan pakaian dari daerah asal akan ditinggalkan dan digantikan dengan yang baru, apalagi jika si perantau telah tinggal lama di tanah orang dan menyesuaikan diri dengan kebudayaan setempat. Orang Kupang, misalnya, tidak mungkin selalu bisa makan jagung bose dan bunga pepaya dengan daging se’i di perantauan, karena belum tentu ada. Sama pula halnya ia tidak mungkin berpakaian agak tipis di daerah yang beriklim sangat dingin. Jadi satu-satunya identitas yang masih bisa melekat dan tetap terpelihara adalah bahasa daerah. Tidak jarang kita mendengar orang menggunakan bahasa daerahnya untuk menelepon sanak keluarga atau hadai taulannya dari perantauan. Boleh jadi ada orang tertentu yang menganggap hal ini lucu dan kurang bergengsi, juga terkesan kampungan. Tetapi demi pelestarian dan kelestarian bahasa daerah, hal itu sudah merupakan langkah terpuji. Memang kita tidak boleh melupakan budaya sendiri walaupun tinggal di tempat lain. Tentang hal ini, Julius Kambarage Nyerere (1922-1999), presiden pertama Tanzania dan penerjemah Julius Kaisari (versi Swahili dari Julius Caesar karya William Shakespeare), pernah berkata: “…belajar dari kebudayaan lain tidak berarti harus melupakan milik kita sendiri.”

c. Bagian dari mosaik kebudayaan Indonesia dan dunia

Sebagai identitas suku bangsa, bahasa daerah merupakan bagian dari mosaik kebudayaan Indonesia. Dengan sendirinya bahasa daerah merupakan kekayaan budaya bangsa yang dilindungi undang-undang dan patut dilestarikan. Jika kita sedang gencar mengusahakan hak paten bagi lagu, tarian, dan makanan daerah yang terancam diklaim bangsa asing, mengapa kita tidak lebih giat mengusahakan pelestarian bahasa daerah di Indonesia?

Sebagai identitas berbagai suku bangsa di NKRI, bahasa daerah telah menjadi sasaran penelitian para ahli bahasa mancanegara. Di satu pihak, hal ini membanggakan karena kekayaan budaya kita telah menarik minat bangsa lain untuk meneliti dan mempelajarinya sehingga ia pun diakui sebagai bagian dari mosaik kebudayaan dunia. Tetapi di lain pihak, sangat mungkin kita—pemilik aset budaya ini—menjadi manja dan sangat mengharapkan uluran tangan dan kerja keras para peminat dari luar negeri.

d. Jembatan antargenerasi

Tidak berlebihan jika bahasa daerah dikatakan sebagai jembatan antargenerasi. Mengapa? Karena berbicara bahasa daerah berarti kita menggunakan bahasa orang tua dan leluhur kita, tanpa melepaskan diri dari tuntutan kebahasaan masa kini. Tak dapat dipungkiri bahwa kita akan lebih mudah mengenal kehidupan generasi-generasi sebelumnya dalam suatu suku bangsa jika kita dapat berbicara bahasa daerah—bahasa warisan mereka. Artinya bahasa daerah adalah kunci untuk memahami masa lalu kita, yang mengantar kita ke masa sekarang. Tetapi apakah kita—generasi masa kini—sanggup mengantar bahasa daerah ke masa depan? Itu adalah tugas dan tanggung jawab kita masing-masing sebagai penutur (asli). Sebagai penerus dan pewaris, masihkah kita berbicara bahasa daerah?

e. Bahasa pengantar di sekolah

Perlu ditekankan di sini bahwa bahasa daerah tidak dimaksudkan untuk secara total menggantikan posisi bahasa Indonesia di dalam kelas, kecuali untuk mata pelajaran bahasa daerah sebagai muatan lokal. Pemanfaatan positif dan kreatif yang demikian akan meningkatkan martabat bahasa daerah dan sekaligus mendewasakannya di ranah pendidikan formal. Melalui penggunaan bahasa daerah dalam kegiatan belajar-mengajar, sekurang-kurangnya di tingkat dasar, para peserta didik, yang adalah tunas muda harapan daerah dan nasional, sejak dini telah dituntun untuk mengenal, memahami, dan menghargai kekayaan budaya lokal mereka sendiri. Jika kesadaran akan hakikat bahasa daerah telah berakar kuat di dalam sanubari mereka, maka dengan sendirinya akan tumbuh rasa bangga untuk menggunakan bahasa daerah mereka dalam kehidupan sehari-hari. Demi kemajuan pelestarian dan kelestarian bahasa daerah di Provinsi NTT, kiranya dipandang bijak bila kita mencontoh kebiasaan menggunakan bahasa Jawa secara luas di kalangan para murid SD di Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, tanpa mengabaikan pentingnya bahasa Indonesia dan bahasa asing.

Sebagai penutup, dapat disimpulkan bahwa—terlepas dari sikap dan persepsi yang berbeda tentang eksistensinya—bahasa daerah tetap memiliki posisi penting dan relevansi dalam kehidupan masyarakat kita pada masa kini dan masa yang akan datang, dan penetapan Hari Bahasa Ibu Sedunia adalah sebuah langkah penting UNESCO yang patut didukung dalam melestarikan bahasa ibu/daerah dan menjamin keanekaragaman budaya dan bahasa di planet kita. Dan hari peringatan semacam ini akan banyak arti dan manfaatnya jika pribadi, masyarakat (khususnya keluarga), lembaga pendidikan (sekurang-kurangnya SD), dan pemerintah (khususnya pemda yang kini memiliki kewenangan untuk mengatur rumah tangganya sendiri, termasuk pengembangan bahasa daerah) sebagai pemegang mandat konstitusional bahu-membahu dalam mengusahakan pelestarian dan kelestarian bahasa daerah di NKRI tercinta. Dirgahayu bahasa daerah!

Noemuti, Timor Barat (NTT), Februari 2011


* Redaksi memuat tulisan ini atas izin penulis. Sumber artikel dapat diperiksa di tautan: http://ymanhitu.blogspot.com/2011/03/bahasa-daerah-kekayaan-budaya-yang.html

** Pemilik blog bahasa Dawan http://uabmeto.blogspot.com dan penggagas buletin dwiwulanan siber berbahasa Dawan “Tbait Tenab teik Uab Metô” (http://tenab-uabmeto.blogspot.com), penulis antologi puisi Dawan “Nenomatne Nbolen” (2009) dan “Kamus Indonesia-Tetun, Tetun-Indonesia” (2007), tinggal di Yogyakarta

Catatan penulis: Tulisan ini pernah dikirim ke Harian Pos Kupang untuk diterbitkan pada tanggal 21 Februari 2011 tetapi tidak diterbitkan.

(0 jempol)
Loading ... Loading ...

12 komentar
Berikan komentar »

  1. bukannya kita pernah melakukan sumpah pemuda?

    “berbahasa satu, bahasa Indonesia”

    kalo bahasa daerah masih ada namanya berbahasa banyak, bukan berbahasa satu.

    dan rasanya tidak fair bagi pendatang seperti saya. ketika datang ke jawa barat, saya tidak pernah mencicipi ranking 1 (selalu yang ranking 2). kenapa? karena saya tidak bisa bahasa sunda. sehingga mereka yang lahir di jawa barat saja yang bisa mendapat nilai bagus bahasa sunda.

    Adanya pelajaran bahasa daerah di sekolah hanya tempat orang2 lokal mendominasi daerahnya sendiri (setidaknya bagi saya).

    Bahasa daerah itu hanya akan menghambat penyatuan indonesia saja? tidak percaya? misal dua orang adik dan kakak dari daerah Batak (misalnya). mereka selalu berbahasa batak, kemudian mereka datang ke Bandung. ketika ada orang sunda diantara mereka, dan kedua kakak beradik tersebut berbicara batak. Bagaimana perasaan orang sunda tersebut? curiga bukan? apakah mereka membicarakan si orang sunda itu??

    OK, konkretnya gini. Coba datang ke Bandung, dan naik angkot 05 di leuwi panjang jam 2 pagi… diantara para supir mereka bicara bahasa batak, padahal mayoritas penumpang orang-orang sunda (dan tdk mengerti bahasa batak). Ketika para supir berbicara. Apa yang penumpang pikirkan? “Apakah mereka merencanakan sesuatu yang jahat terhadap saya?”, “Apakah mereka akan menculik saya?”… nah yang timbul justru ada rasa curiga diantara kita semua.

    PS: Saya bukan org budaya, dan tidak begitu peduli dengan adat istiadat, bagi saya tujuan manusia hidup itu bukan untuk mempertahankan kebiasaan nenek moyang, tapi saya org yg berfikir logis, tujuan hidup manusia itu untuk mencari ridha-Nya.

  2. Satu comment lagi ya…

    “Artinya bahasa daerah adalah kunci untuk memahami masa lalu kita, yang mengantar kita ke masa sekarang.”

    OK, ini benar.

    Tapi masa lalu itu seperti spion dalam kendaraan. terlalu banyak melihat spion malah bisa nabrak orang di depan :p

    berkendara itu kira-kira 97% melihat ke depan 3% lihat ke belakang. Jangan dibalik :)

    yaah,,, yang memahami masa lalu kita cukup beberapa orang ahli saja lah .. gak perlu semua orang belajar bahasa daerah, kemudian para ahli itu menerjemahkan ke dlm bahasa Indonesia atau inggris. tugas selesai.
    ——-
    Bagi saya, bahasa/budaya/identitas tidak menjadi masalah (yang peting agama kita apa?). Mungkin nanti anak saya pun tidak akan mengerti bahasa Indonesia, sbb saya tidak mengajarinya. Saya lebih mengajari bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari, karena yang penting bagi saya adalah masa depan, dan anak saya hidup di masa depan.

    Ada tiga bahasa yang penting di kuasai sebenarnya, bahasa Arab, Inggris dan Cina. Kenapa 3 bahasa itu? ya memang realitasnya seperti itu. Arab untuk modal anak saya mengerti kitab-Nya. Inggris dan cina untuk modal pergaulan internasional. Kalau ditambah lagi bahasa Indonesia dan daerah. Jadi total 5 bahasa yang harus dikuasai… wow… ini cuman jadi beban untuk anak saya kelak. bukannya jadi ahli matematika dan sain seperti yang kami harapkan, malah jadi ahli bahasa :p

    kapan Matematika, sain dan teknologi Indonesia bisa maju kalau waktu anak-anak kita dihabiskan untuk mempelajari sekian banyak bahasa?? ANAK KITA HARUS SEJENIUS APA? beban pelajaran anak-anak kita sudah terlalu banyak.

  3. Hwahahaha… Komentarnya ngelawak! KKK!

  4. Eh, “berbahasa satu, bahasa Indonesia” itu bunyi Sumpah Pemuda negara mana, ya? Hahahahaha… Belajar sejarah dulu sana! Jangan “matematika dan sains” melulu, biar gak bikin malu.

  5. Oh, iya. Kalok bahasa Arab untuk “mengerti Kitab-Nya” (bahasa Arab yang mana dulu nih? situ pikir bahasa Arab Al-Quran sama dengan bahasa Arab modern?), terus bahasa Cina dan Inggris untuk “pergaulan internasional” anakmu nanti, terus untuk pergaulan nasionalnya gimana? Hahahahaha… Atau pergaulan tingkat RT/RW-nya gimana? Hahahahaha… Ngelawak aja nih orang.

    Lu kalok gak ngerti budaya, nggak usah asal njeplak buat klaim sesukak perut lu. Hasilnya jadi kayak gitu, tuh. Komentar lu udah sok logis, sok profetik, sok relijius, RASIS lagi!

  6. Kalau gw pribadi sih, jujur suka dan menikmati ketika membaca ttg sejarah dan budaya, atau juga karya sastra. Walau gak terlalu “mengharuskan” menerapkan “sebuah” budaya dlm kehidupan. Khususnya bahasa, gw secara pribadi lebih mementingkan bagaimana sebuah komunikasi tersampaikan tanpa harus terjadi salah paham.

    Dan untuk mas @eko, buat saya gak penting juga matematika atau sains, apakah mulianya manusia dinilai dari itu?

    Manusia hidup butuh keberanian, bukan matematika, sains, gelar, jabatan atau semacamnya.

    Saya juga tidak peduli dgn predikat negara maju, berkembang dsb. Saya lebih peduli dan selalu ingin belajar dari manusia yang memiliki akhlak yang mulia.

  7. @wahyu ginting: berbahasa satu, bahasa Indonesia — ok, yang ini saya salah :) –> “Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.”
    Tapi ini tetap tidak menyelesaikan kegalauan saya **di angkutan kota subuh2 itu** kan??

    maaf kalo agak menyinggung, saya tidak bermaksud rasis. Bukan salah saya mengatakan demikian, sebab ya kenyataannya demikian. Orang batak berbicara bahasa batak di bandung yang mayoritas tidak mengerti bahasa batak. (Kalau orang jawa ya saya sebut orang jawa berbahasa jawa, orang papua ya saya sebut orang papua berbahasa papua). Saya mengatakan ini dengan netral, tidak bermaksud mediskreditkan salah satu suku manapun. Dan kemarin di jakarta, saya datang ke sebuah toko orang tionghoa, ketika saya tanya harga, si koko nya tanya lagi ke si nci nya pake bahasa mandarin…. *arrrgh … apa yang mereka katakan??*
    kenapa tidak bahasa Indonesia/Inggris saja? agar semua orang mengerti dan tidak timbul kecurigaan.??

    >> “pergaulan internasional” anakmu nanti, terus untuk pergaulan nasionalnya gimana?
    sekali-kali,,,, coba anda jalan2 ke SD binus international school, saya pikir mereka akan membentuk komunitasnya sendiri.

    jika anda menyebut saya so-religius. Saya pernah memikirkan ini, apakah saya harus mempertahankan budaya leluhur dan nenek moyang atau cukup Islam saja yang menjadi cara hidup saya? nenek moyang saya masih menganut Islam kejawen (Islam, tapi masih percaya roh nenek moyang, kekuatan gaib gunung, pohon dsb), mungkin pake kemben juga. apakah saya akan tetap seperti itu juga? saya katakan dalam hati saya “tidak”, Islam saya adalah Islam yang diajarkan oleh rasul SAW. jika anda dapati saya tidak sesuai, itu karena lemahnya iman saya.

    anda mengatkakan saya so logis? saya pikir semua sumber ilmu pungetahuan yang ada saat ini didasarkan pada logika. Saat ini anda bisa melihat layar komputer anda, karena matematik (aljabar bool/logika matematika) dan sain(fisika) yang diaplikasikan kedalam teknologi. Jadi saya coba berbicara dengan kaidah ilmiah, yaitu logika. Jika anda memiliki logika lain yang dapat mematahkan argumen saya, saya akan terima dengan senang hati dan saya tidak sungkan ataupun malu mengaku salah sesuai dengan kaidah ilmiah. **seperti berbahasa satu tadi**.

    Saya pikir tulisan Yohanes Manhitu adalah tulisan ilmiah. Saya hanya berbeda pendapat dengan beliau. jadi jika anda tidak dapat berbicara dengan kaidah ilmiah/logika (hanya menghujat), maka anda tidak memiliki kapasitas berbicara dengan saya ( dan forum ini ).

    adalah hak anda tidak setuju dengan saya. Tetapi,, mau tidak mau … dengan globalisasi, budaya akan semakin konvergen. Lebih tepatnya mengkutub. yaitu budaya Islam vs budaya Ad-Dajal. (bagi orang nasrani menyebutnya dengan kristus vs anti kristus).

    @anak tampan: saya setuju dg anda ^_^. manusia tidak dinilai dari matematika dan sains. tapi “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”

    Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.

  8. Nih, gua layanin lu sekali ini.

    Lu bilang gini: “OK, konkretnya gini. Coba datang ke Bandung, dan naik angkot 05 di leuwi panjang jam 2 pagi… diantara para supir mereka bicara bahasa batak, padahal mayoritas penumpang orang-orang sunda (dan tdk mengerti bahasa batak). Ketika para supir berbicara. Apa yang penumpang pikirkan? “Apakah mereka merencanakan sesuatu yang jahat terhadap saya?”, “Apakah mereka akan menculik saya?”… nah yang timbul justru ada rasa curiga diantara kita semua.”

    Aje gile! Ngaku nggak rasis tapi kok yang muncul di pikiran lu dalam contoh ini adalah stereotip tentang orang yang akan mencelakakan orang lain? Dari mana lu tau kalok dua orang Batak itu akan “menculik saya”? Lu kan nggak ngerti bahasanya?! Siapa tau mereka itu sebenarnya sedang ngegosipin tetangga. Atau bicara tentang bensin yang harganya kagak turun-turun. Atau bahwa istri di kampung minta kiriman uang buat sekolah anaknya. Narasi lu NGGAK ADIL! Nyadar nggak lu?! Kalau lu adil (dan nggak RASIS) maka lu tidak akan cumak mengobral stereotip-stereotip murahan macam itu aja!

    Lu bilang ini: “Bagi saya, bahasa/budaya/identitas tidak menjadi masalah (yang peting agama kita apa?).”

    Heh, lu pikir agama itu bukan identitas? Sebelum bicara itu mikir dulu, dong!

    Terus lu bilang gini lagi: “Dan kemarin di jakarta, saya datang ke sebuah toko orang tionghoa, ketika saya tanya harga, si koko nya tanya lagi ke si nci nya pake bahasa mandarin…. *arrrgh … apa yang mereka katakan??* kenapa tidak bahasa Indonesia/Inggris saja? agar semua orang mengerti dan tidak timbul kecurigaan.??”

    Bwahahahaha… Eh, bukannya elu yang bilang kalok bahasa Cina itu penting dipelajari? Iya kan? Udah lupa ya? Lu bilang Arab, Inggris, Cina saja yang perlu. Penting dipelajari karena “realitasnya seperti itu”. Lha kenapa lu mencak-mencak gara-gara ada koko sama enci bercakap-cakap pake bahasa Mandarin? Pikiran lu aja yang skizofrenik makanya apa-apa lu curiga.

    Lu bilang ini lagi: “kenapa tidak bahasa Indonesia/Inggris saja? agar semua orang mengerti dan tidak timbul kecurigaan.??”

    Heh? Semua orang mengerti? Hahahahaha… Logika lu peyot! Emang berapa orang yang paham bahasa Inggris di negara Indonesia raya ini, heh? Kok lu bilang ‘semua’? Ngarti kagak lu arti kata ‘semua’? Belajar makna kosakata bahasa Indonesia dulu sana, gih!

    Ni lagi: ““pergaulan internasional” anakmu nanti, terus untuk pergaulan nasionalnya gimana?
    sekali-kali,,,, coba anda jalan2 ke SD binus international school, saya pikir mereka akan membentuk komunitasnya sendiri.”

    Jiahahahaha… Ironinya itu lho! Gua tanya tentang pergaulan NASIONAL anak lu, bahkan pergaulan RT/RW-nya, eh lu malah ngasi referensi sekolah dasar INTERNASIONAL. Gyahahahaha… Eh, terus memangnya kenapa kalok “mereka akan membentuk komunitasnya sendiri”? Lu mau anak lu bergaul di komunitas macam itu aja? Serah lu dah. Yang jelas, udah banyak kalee anak-anak yang diajarkan di sekolah bilingual itu yang bisa menghargai dua bahasa yang diajarkan: Indonesia dan Inggris. Dan mereka itu tau masing-masing manfaatnya. Bukan mendewakan yang satu dan mempariakan yang lain. Lu belajar aja sama anak-anak sekolah itu, biar mental bahasa lu bener.

    Ni lagi: “saya pikir semua sumber ilmu pungetahuan yang ada saat ini didasarkan pada logika. Saat ini anda bisa melihat layar komputer anda, karena matematik (aljabar bool/logika matematika) dan sain(fisika) yang diaplikasikan kedalam teknologi.”

    Oo… Gitu ya? Nah, cobaklah lu pamerkan logika lu TANPA bahasa, itu pun kalo lu punya logika. Coba lu suruh orang buat komputer atau program komputer TANPA bahasa, itu pun kalo dia bisa.

    Gua bilang lu itu ‘sok logis’ justru karena lu kagak logis sama sekali tapi lu masih aja SOK LOGIS! Paham?

    Lu bilang ini lagi: “Saya pikir tulisan Yohanes Manhitu adalah tulisan ilmiah. Saya hanya berbeda pendapat dengan beliau. jadi jika anda tidak dapat berbicara dengan kaidah ilmiah/logika (hanya menghujat), maka anda tidak memiliki kapasitas berbicara dengan saya ( dan forum ini ).”

    Eh, lu kagak usah bicara tentang ilmiah-ilmiahan dah sama gua. Lu perbaiki dulu cara berpikir lu. Atau lu tandingin tuh tulisannya Yohanes Manhitu, lu buat tulisan lagi biar seimbang. Jangan cumak komentar, trus ngaku-ngaku ilmiah. Tau kagak lu arti ilmiah? Lu pikir cukup dengan logika aja supaya sesuatu itu ilmiah?

    Gua kagak mau ngeladenin macam-macam cerewetan lu tentang agama, nabi, atau tuhan, dah. Males. Yang tentang artikelnya Manhitu ini aja. Itu pun kalo lu bener-bener paham apa yang diutarakannya itu.

    Dan untuk membantu lu memahami inti tulisan Manhitu, nih gua kasih contoh yang dekat dengan lu. Baca baik-baik, ya: Lu bisa bayangin kagak kalo dulu itu bahasa Arab nggak ada yang melestarikan? Padahal kitab suci agama yang taat lu anut itu ditulis dalam bahasa Arab. Padahal bangsa Arab menuliskan segala pengetahuan mereka tentang aljabar, ilmu angkasa, ilmu pengobatan, sastra, seni, tatabahasa, dan lain sebagainya itu dalam bahasa Arab. Terus apa jadinya kalok bahasa Arab punah? Heh? Apa jadinya? Gitu jugak dengan bahasa daerah. Lu pikir nggak banyak pengetahuan yang pernah direkam dengan bahasa-bahasa daerah?! Dan memang bahasa daerah itulah yang memungkinkan generasi baru menautkan diri dengan generasi pendahulu mereka. Bahasa daerah yang bakal jadi jembatan mereka menjenguk dan mengambil sebagai bekal pengetahuan-pengetahuan yang diproduksi di masa lalu oleh generasi pendahulu.

    Dan, astaga, kenapa sih yang lu ingat dari nenek moyang lu itu cumak KEMBEN?! Kasian banget lu. Oh, iya, ya. Lu kan kagak peduli adat-istiadat dan bukan orang budaya.

    Udah, ah. Capek gua. Daag!

  9. Saya kira orang ini tidak berniat menghina anda atau penulis artikel, tapi benar-benar menyuarakan kekhawatiran dalam dirinya, kekhawatiran yang bisa jadi dirasakan banyak orang karena mereka kurang memahami satu sama lain. Untuk menghapus kekhawatiran ini saya rasa lebih berguna, baginya dan bagi pembaca lainnya, jika kita bicara dengan kepala dingin.

    Benar sumpah pemuda Indonesia bukanlah berbahasa satu, tapi menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Belum tentu “mereka yang lahir di jawa barat saja yang bisa mendapat nilai bagus bahasa sunda”, sebab saya pun SMP di Jawa Barat, meskipun lahir di Jakarta, dan ada juga teman-teman dari Jawa Barat yang tidak bisa bahasa Sunda. Ada teman dari Sumatra justru jago bahasa Sunda karena belajar dari pembantunya di rumah.

    Saya kira pelajaran bahasa daerah bisa berguna untuk melestarikan bahasa daerah masing-masing yang menyimpan logika, aspirasi, ungkapan jiwa sekelompok manusia yang unik dan tak kalah mulianya, tak kalah pentingnya dengan sekelompok manusia yang lain di mana saja. Semua bagian daripada kekayaan budaya kita sebagai manusia.

    Yang menghambat persatuan Indonesia bukanlah bahasa daerah, melainkan prasangka buruk dan rasa saling curiga. Ketika saya menulis ini saya dengar tetangga saya bicara bahasa Polandia. Tetangga lain ada yang bicara bahasa Urdu, Arab, Rusia, Somali. Apakah saya kesal karena saya tidak mengerti? Apakah saya pikir mereka akan menculik saya? Inilah yang saya maksud dengan prasangka buruk dan rasa saling curiga. Jika kita bisa mengalahkan rasa saling curiga dan takut karena tak mengerti, kita bisa mulai berpikir bahwa mereka barangkali tidak merencanakan menculik atau menjelek-jelekkan kita, tapi membicarakan urusannya masing-masing: anaknya di sekolah, menu makan malam, berita dari kampung halamannya.

    Jadi yang harus dibasmi adalah rasa kecurigaan, bukan bahasa daerah masing-masing. Suatu ketika anda akan menemukan diri anda di tempat di mana anda adalah minoritas – bahasa anda, budaya anda. Apa lalu anda harus dibasmi? Harus dilarang menggunakan bahasa anda? Bayangkan anda tamasya ke Prancis, lalu anda bicara bahasa Indonesia dengan anak anda, “Heh, jangan buang sampah sembarangan, Nak.” Lalu orang-orang setempat menangkap anda karena takut anda merencanakan akan mengebom rumah mereka. Tentu anda marah luar biasa, bukan? “Tidak adil! Rasis!” teriak anda. Nah, sama saja dengan orang-orang Batak di Bandung itu.

    Banyak hal yang membentuk “siapa” kita: dari mana kita berasal, keputusan-keputusan yang kita buat saat ini, dan ke mana kita ingin menuju. “Asal” bisa jadi tapi belum tentu daerah asal kita, bisa jadi tapi belum tentu masa kecil kita, orang tua kita, bagaimana kita dibesarkan. Ia juga bisa jadi warisan budaya kita. Saya menganggap warisan budaya saya bukan saja berasal dari Indonesia, tapi juga dari seluruh dunia, teater Yunani kuno, novel Eropa, dsb. Saya menjadikannya warisan budaya saya dengan mempelajarinya. Orang Barat pun bisa menjadikan sastra Indonesia sebagai warisan budayanya dengan mempelajarinya. Orang Kalimantan bisa menjadikan budaya Sulawesi sebagai warisan budayanya dengan mempelajarinya. Saya banyak mengenal orang keturunan Indonesia di Amerika yang tidak diajarkan bahasa Indonesia oleh orangtuanya justru kembali ke Indonesia dan belajar bahasa itu ketika dewasa.

    Soal masa depan, saya percaya kita bisa melihat ke depan dengan lebih jelas, memilih dengan lebih bijak tujuan hidup kita, jika kita memiliki rasa “siapa kita” yang lebih kuat. Jika kita hanya mengikuti tren, seperti saat ini belajar bahasa Inggris dan Cina, lalu tren berubah, bagaimana nasib kita?

    Saya percaya budaya, seni, termasuk bahasa, jauh lebih dekat dengan spiritualitas dan ridha yang ditawarkan agama daripada teknologi dan materi.

    Salah satu hal pertama yang saya sadari dengan belajar menulis adalah: berbahasa yang baik menunjukkan kepandaian seseorang. Berbahasa yang baik berarti memiliki logika yang baik, memiliki disiplin berpikir dan menuangkan pikiran itu dengan jelas sehingga bisa dipahami orang lain. Keterampilan berbahasa juga melatih keterampilan berpikir logis dalam matematika, ilmu alam, dan ilmu sosial. Perhatikan: bukan menguasai banyak bahasa, tapi menguasai keterampilan berbahasa. Jadi jangan memandang remeh bahasa.

    Memang globalisasi sepertinya membuat budaya dunia semakin homogen, namun semakin banyak pula orang yang berjuang untuk melestarikan keberagaman budaya, sebab manusia memang beragam, tidak ada satu manusia yang benar-benar sama dengan manusia lain, karena itulah saya percaya budaya manusia akan selalu mencerminkan keberagaman. Menurut saya globalisasi justru memunculkan keberagaman ini, kita jadi semakin bisa belajar dari satu sama lain. Sastra terjemahan membuat kita bisa membaca karya dari berbagai bahasa, menemukan estetika baru, dan menjawabnya dengan menciptakan estetika baru lagi.

    Saya mengerti jika anda merasa kelompok tertentu memiliki lebih banyak keuntungan untuk bisa sukses (baca: kaya) dalam dunia modern ini, tapi sekali lagi: saya percaya budaya, seni, bahasa lebih dekat dengan spiritualitas dan kedamaian yang ditawarkan agama daripada teknologi dan upaya mengejar materi.

  10. Ah, lengkap sudah. Ada yang santai, ada yang gedar-gedor, ada yang anggun walau muatannya berarus deras. Ckckck… ini salah satu rantai komentar kesukaan Bung Admin di situsweb ini.

    Terima kasih untuk kalian semua.

    Tabik!

  11. sumpah pemuda yang ketiga itu menjunjung bahasa persatuan bahasa indonesia.. cermati perkataannnya coyy “menjunjung” artinya kita selalu memperjuangkan untuk di hormati akan tetapi juga tidak meninggalkan bahasa daerah. tahu gak ayat al quran ada yang menyebutkan “kami ciptakan kalian berbangsa-bangsa agar kalian saling mengenal”. itu menyuruh kita memahami budaya lain, kita harusnya menjunjung dan menghormati budaya lain termasuk bahasa daerah untuk kemaslahatan bangsa. dan seorang warga indonesia dengan berjuat nilai filosofisnya tak pantas kiranya berfikiran seperti halnya yang komentar pertama diatas. “karena kita orang indonesia sepatutnya peduli”

  12. tidak banyak saya memberikan suatu komentar yang akan tidak ada bedahnya dengan yang sebelum-sebelumnya sudah dipaparkan bahwa : banyak pertimbangan untuk menjaga dan melestarikan suatu budaya, cuma satu hal yang saya ingin menyampaikan kepada setiap pembaca yaitu ketika kita belajar dari masa lalu kerap akan menjadi kacamtata untuk meilhat masa depan, budayah merupakan suatu sejarah yang mesti dijaga dan dilestarikan agar tidak perna terkikis oleh suatu perkembangan generasi yang akan datang. dengan demikian saya sangat teropsesi dengan perkataan seorang pahlawa revolusi kita yaitu Bung Karno yang juga merupakan pendiri bangsa Indonesia, beliau berkata bahwa ” jangan sekali-kali melupakan sejarah” (JASMERAH),. dari situ maka kita dapat mengetahui bahwa jangan kita melupkan budaya yang telah membesarkan kita dimanapun kita berada.

Berikan Komentar