Ciyus? Cungguh? Miapah?

11 Oktober, 2012 | Edisi: | Kategori: Berita Gejala

Oleh Wahyu Adi Putra Ginting

Suatu siang di tahun 2006 lalu, saat bercengkrama dengan beberapa teman di halte kampus, kawan saya mengutarakan sebuah ungkapan yang membuat saya tak kuasa mengulum senyum: “Apa tamu?! Apa tamu?!” (baca: Apa kamu?! Apa kamu?!). Ia mengungkapkannya disertai dengan bahasa tubuh: mengacungkan tangan terkepal, tapi lemas, dan dengan raut wajah merengut manja; persis seperti balita baru belajar bicara yang sedang mengungkapkan kekesalannya. Saya sudah lupa dialog yang menyebabkan kawan saya bereaksi seperti itu. Yang jelas, percakapan yang kami lakukan berupa sebuah debat cukup serius; dan perbantahan mengarah pada diri kawan saya itu. Dalam keadaan agak tersudut, dengan sedikit merengek, terdengarlah ungkapan imut yang, menariknya, langsung mencairkan suasana. Sama-sama kami tertawa sesudahnya; dan udara keruh silat-lidah jadi jernih sedikit.

Adegan itu yang langsung melintas di benak saya ketika berhadapan dengan ungkapan serupa yang baru-baru ini sedang gaul di beberapa kalangan di dunia maya: Ciyus? Cungguh? Miapah? Ada yang melabeli ungkapan ini, yang kabarnya dipopulerkan oleh akun Twitter @amrazing, dengan cap alay; ada yang menanggapinya dengan nada agak frustrasi (mungkin karena gemas dengan bau ke-sok-imut-an-remaja-sekarang yang mereka endus dari ungkapan itu); ada pula yang menganggapnya angin lalu. Tapi ada yang meresponnya dengan membuat situsweb berbentuk kamus yang isiannya boleh dikembangkan oleh para pengunjung. Coba Anda tengok http://miapah.com dan siap-siaplah nalar Anda bergumul di sebuah taman bermain bahasa Indonesia bercorak imut-imut manja.

Celoteh Bayi

Dalam ilmu bahasa, gejala sosiolinguistik yang ditandai dengan modifikasi fonetis yang mencolok seperti ciyus, cungguh, dan miapah ini juga menjadi bahasan yang meminta perhatian para bahasawan. Istilah bahasa Inggris yang umum digunakan untuk menyebut gejala ini adalah baby talk, yang dapat saja diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia celoteh bayi. Sebelum membahasnya lebih lanjut, saya ingin meninjau istilah baby talk ini dulu. Pertanyaan yang muncul pertama sekali dalam benak saya adalah ini: mengapa talk? Mengapa para bahasawan tidak menggunakan speech, istilah yang lebih lazim mereka gunakan? Mungkin sekali para bahasawan menganggap bahwa talk memiliki fitur makna yang tidak dimiliki speech untuk menjelaskan baby. Mungkin akan baik-baik saja ketika kita menggunakan talk untuk orang dewasa, tapi kita akan merasa ada yang tidak beres ketika menyandingkan speech dengan baby.

Sebenarnya bahasa Inggris memiliki beberapa istilah lain yang bersifat lebih teknis dan formal untuk mengacu pada frasa baby talk ini, yaitu: caretaker speech, infant-directed speech, dan child-directed speech. Ada pula istilah yang lebih bersifat informal: mommy talk dan daddy talk. Jadi, bisa kita lihat bahwa ada dua fitur makna pembeda yang terungkap dalam penggunaan speech dan talk dalam konteks ini: [(plus)dewasa; (plus)formal] untuk speech dan [(minus)dewasa; (minus)formal] untuk talk. Hal inilah yang menjadi dasar saya ketika menerjemahkan baby talk menjadi celoteh bayi dan bukan obrolan bayi. Kata obrol menyiratkan bahwa pelakunya telah menguasai bahasa yang digunakan dalam bentuknya yang sudah jadi; sementara celoteh menyiratkan bahwa segi-segi fonetis (dan juga grammatikal) dari bahasa yang digunakan belum utuh, dan kerap belum jernih.

Walaupun disebut celoteh bayi, pihak yang umumnya diacu sebagai pengguna model bicara ini justru orang dewasa (itu mengapa ia disebut juga caretaker speech, mommy talk, dan daddy talk). Orang dewasa, dalam hal ini kedua orangtua atau pengasuh bayi, lah yang mencoba menirukan lagak bicara, atau celotehan, si bayi. Seperti apa ciri-ciri celoteh si bayi ini? Biar saya gambarkan sedikit; dan kemudian kita akan lanjut pada pokok bahasan utama dari artikel ini: ciyus, cungguh, dan miapah yang digunakan oleh penutur bahasa Indonesia dewasa untuk berbicara dengan sesama penutur dewasa pula; dan apakah gejala ini dapat berfaedah dalam membentuk wicara bahasa Indonesia kita?

Bayi manusia biasanya akan mulai menampakkan gejala pemerolehan bahasa pada usia 5-7 bulan. Ini ditandai dengan peniruan bunyi-bunyi sekitar yang tertangkap oleh indera rungu si bayi. Secara naluriah, bayi kemudian bermain-main dengan organ wicaranya, memproduksi suara-suara yang, entah kenapa, bisa membuat orang dewasa pada umumnya, dan orangtua si bayi pada khususnya, girang-gemas setengah mati dan jadi semakin sayang pada si bayi tadi. Karena bayi belum mampu betul menguasai organ wicaranya, suara yang berhasil ia produksi biasanya berbentuk suara-suara hasil interaksi sederhana dari tiap-tiap organ wicara. Bunyi /l/ adalah salah satu contoh interaksi sederhana itu; bila kita membandingkannya dengan bentuk interaksi yang lebih rumit: /r/. Bunyi-bunyi desis juga masih belum dikuasai bayi: perhatikan bahwa bayi lebih suka menggunakan /c/ alih-alih /s/ atau /p/ alih-alih /f/, apalagi /v/.

Rahang adalah salah satu organ mulut pertama yang bayi mainkan saat memproduksi bunyi. Itu mengapa bunyi-bunyi vokal pada umumnya lebih mudah ditemukan cara produksinya oleh bayi (ingat bahwa sejak keluar dari rahim ibunya si bayi sudah bisa memproduksi bunyi vokal /a/ lewat tangisan pertama yang pasti ia lakukan dengan mulut menganga lebar). Organ wicara seperti bibir dan lidah juga menjadi mainan yang disukai bayi dalam mencipta bunyi. Itu mengapa bunyi /m/, /b/, /p/, /n/, /d/, dan /t/ kerap kita dengar terucap dari mulut bayi.

Saat memadukan bunyi konsonan dan vokal yang sudah lamat-lamat dikuasainya, maka bayi mulai ‘bicara’ dan melafalkan ‘kata-kata pertamanya’: bisa berbunyi ma-ma-ma atau pa-pa-pa (dan para orangtua akan melonjak girang ketika mendengarnya), atau juga, yang agak rumit, mnya-mnya atau nyam-nyam. Orang dewasa kemudian mengambil ciri-ciri fonetis ini dan menggubah kata-kata agar mirip dengan lagak bicara si bayi. Maka ketika mengajak (sekaligus melatih) bicara si bayi, kita mengubah makan jadi maem atau mam; kita memanggilnya dengan cayang dan bukan sayang, dengan cini-cini-cini dan bukan (ke) sini; kita berusaha meredakan tangisnya dengan cep-cep-cep; kita mengajaknya tidur dengan bobok duyu ya, cayang dan bukan tidur dulu ya, sayang.

Satu lagi ciri celoteh bayi ini adalah kecenderungan untuk ber-ekasukukata, dan bayi atau balita akan memaksa untuk memotong kata-kata bersukukata banyak dan hanya melafalkan sukukata terakhir dari kata itu saja, bila perlu. Kerap kita mendengar anak kecil yang baru belajar bicara berkata, “Ma, num,” saat ia haus dan minta minum pada ibunya.

Langkah-langkah pertama yang diambil bayi atau balita dalam perjalanan linguistiknya inilah yang dijadikan orang dewasa sebagai bahan untuk menunjukkan, utamanya, kasih sayang mereka secara verbal kepada anak-anak, sekaligus sebagai cara-bahasawi untuk mempererat ikatan dengan si anak tersebut. Dampak positif terhadap perkembangan kebahasaan si bayi? Bayi jadi bersemangat untuk berinteraksi dengan orang-orang sekitarnya, karena menyadari bahwa orang-orang tersebut ‘mengapresiasinya’ dengan mencoba berlagak sama dengannya.

Berceloteh

Para bahasawan menangkap fakta bahwa celoteh bayi digunakan orang dewasa bukan sekedar untuk berinteraksi dengan bayi atau balita saja, tapi juga dengan sesama orang dewasa. Ada dua tujuan penggunaan celoteh bayi ketika dipraktikkan dalam konteks percakapan sesama orang dewasa: (1) untuk mengejek atau mengolok-olok dan (2) untuk bergenit-ria dengan pasangan.

Keduanya saling bertolak belakang memang. Yang pertama itu adalah bentuk perendahan derajat lawan bicara dengan kata-kata. Ini sering dijumpai ketika seseorang sedang membuli seseorang lain. Celoteh bayi digunakan ketika bicara dengan korban pembulian untuk mengolok, menindas, dan menciptakan kesan bahwa daya pikir si korban itu jongkok. “Oo, jadi tamu dak cuka ya kupukul. Cini-cini-cini, balas kalo belani.” Atau, “Iih, dianya bisa bicara! Kucuk-kucuk-kucuk, kupikir dianya bisu. Cakit ya? Cakit, ya? Marah, ya? Uuh, atut,” ujar si pembuli sambil menginjak kepala si korban yang protes karena dianiaya.

Sementara itu, tujuan yang kedua kerap dilakukan saat sepasang sejoli sedang memadu kasih dan dimabuk asmara (bahasa teknisnya: melakukan perangsangan seksual – walau ini mungkin tidak berlaku secara universal untuk semua budaya). Salah seorang dari pasangan itu berlaku kekanak-kanakan, dan pasangannya memainkan peran ‘orangtua’. Pada saat-saat seperti itulah terdengar kata-kata, “Cini-cini, cayang, aku eyus-eyus.”

Imut

Bila diminta untuk menyebutkan satu kata sifat yang menggambarkan celoteh bayi ini, saya yakin satu kata ini pasti melintas di pikiran kita: imut. Bayi itu ya imut (biarpun saya tidak tahu entah dari mana datangnya kesan ini). Maka, celotehannya pun imut.

Ciri imut dari celoteh bayi ini yang sering disasar orang dewasa ketika memang dengan sengaja membangun kesan keimutan bagi dirinya. Supaya imut seperti bayi, maka bicaranyapun seperti bayi juga. Contoh mudahnya, perhatikan saja ketika ada aktor dewasa yang kebagian peran sebagai anak kecil. Selain tampak dari bahasa tubuhnya, lagak bicaranya pasti menggunakan ciri-ciri yang terdapat dalam celotehan bayi. Tampaknya lagak-imut telah lekat menempel pada objek anak-anak dalam kognisi orang dewasa.

Dan, belakangan ini sepertinya demam-imut banyak melanda penutur bahasa Indonesia, khususnya dari kalangan remaja. . Demam-imut ini berhembus begitu kencang utamanya dari dunia hiburan pop. Dunia pop telah berhasil membuat pemikiran bahwa menjadi imut dan menggemaskan tampak begitu penting artinya. Lihatlah betapa chibi-chibi-chibi (yang dipopulerkan oleh salah satu kelompok vokal pop Indonesia) telah jadi salah satu ungkapan yang lazim dituturkan penutur bahasa Indonesia, disertai dengan cemungudh (semangat) atau beud (banget). Dan saya pun kerap terlibat dalam percakapan lewat piranti pertukaran pesan yang bertabur celoteh bayi: “Maacih untuk ucapannya, ya.” “Sama-sama,” jawab saya. “Egh, bukan gitu. Jawabnya ‘macama’,” kata lawan bicara saya.

Saya pikir keimutan ini adalah salah satu anasir utama maraknya celoteh bayi kita dengar terucap dari mulut penutur bahasa Indonesia. Ciyus, cungguh, miapah hanyalah produk mutakhir dari gejala yang saya yakin sebenarnya telah berumur ini.

Karena manusia penutur bahasa pada dasarnya adalah manusia yang suka bermain-main, seperti bayi yang suka bermain-main dengan organ wicaranya, maka tak heran bahwa gejala keimutan ini mendapat tanggapan yang cukup terasa. Setelah gaya eja alay, kini celoteh bayi telah menjadi satu lagi lahan bermain bergembira bersama para penutur bahasa. Di dunia maya, situsweb miapah.com adalah contoh nyatanya. Pencapaian linguistik para penceloteh bayi ini, menurut saya, sangat menyenangkan untuk diikuti. Pencapaian itu menunjukkan salah satu segi kecerdasan bahasawi yang dimiliki penutur dewasa yang berceloteh bayi.

Celoteh-celoteh bayi yang bisa kita jumpai pada miapah.com sangat beragam. Dari yang biasa seperti enelan (beneran) dan atu tanen tamu (aku kangen kamu), yang agak rumit seperti atitutomat (I miss you so much), yang lumayan taksa seperti coli anget (sori banget atau coli [meracap] hangat), sampai yang ketaksaannya bikin geli setengah mati seperti eh coli ngacengaja (eh sori nggak sengaja atau eh coli ngaceng aja).

Khusus untuk ciyus, cungguh, dan miapah, tanggapan penutur yang baru berkenalan dengan celoteh ini pun bisa dibilang cukup kreatif. Satu yang menarik perhatian saya adalah cara menjawab celoteh-celoteh itu (karena celoteh ciyus, cungguh, miapah sebenarnya bersifat tanya). Ada yang menjawab Ciyus? Cungguh? Miapah? dengan Miayam, atau Miolloh, atau Miinstan.

Celoteh Bayi untuk Kepentingan Membuli

Jangan salah sangka dulu. Saya tidak sedang menyemangati Anda untuk melakukan pembulian seperti dalam konteks tujuan celoteh bayi kedua yang saya paparkan di atas. Menurut saya, terlepas dari kejengahan beberapa penutur atas berbagai ragam bahasa seperti alay, celoteh bayi, bahasa bences, atau bahasa gaul, kita sebetulnya dapat pintar-pintar menggunakan ciri-ciri dari ragam bahasa itu sebagai bagian dari lagak retorika kita.

Bila suasana, ruang, waktu, dan tujuannya klop, celoteh bayi sekalipun dapat menjadi alat pengungkap cita dan rasa yang jitu. Nah, di sini, tujuan “membuli” dari celoteh bayi ketika digunakan dalam lingkup percakapan orang dewasa sebetulnya dapat dipakai untuk alasan-alasan yang cukup berguna: sebagai cara mengkritik atau mengolok kebohongan atau janji-manis-di-bibir-belaka.

Jadi, nanti ketika ada koruptor yang sedang disidang menjawab pertanyaan jaksa dengan kalimat, “Saya lupa,” atau “Saya tidak tahu,” atau “Saya tidak ingat”; atau seorang pejabat politik dengan repetitif cuma janji-janji gombal saat kampanye, “Saya akan begini, saya akan begitu. Saya membawa perubahan. Saya mengabdi untuk rakyat,” kita tanggapi saja, walau dalam hati, dengan: “Ciyus? Cungguh? Miatamu!”

(+12 jempol)
Loading ... Loading ...

2 komentar
Berikan komentar »

  1. […] pustaka yang dicantumkan pada bagian akhir buku ini menunjukkan bahwa penulis cukup ciyus serius dalam melakukan risetnya. Meskipun beberapa nama tempat yang dicantumkan di dalam buku ini sudah […]

  2. […] bahasa akhir-akhir ini (misal opini tentang bahasa Alay: Aq 4L4Y — QM Maw Ap4h?! dan artikel Ciyus? Cungguh? Miapah?). Untuk memudahkan pencarian makna kata-kata, situs asuhan Wahyu Adi Putra Ginting ini menautkan […]

Berikan Komentar