Suzette Haden Elgin

20 Mei, 2012 | Edisi: | Kategori: Tokoh Bahasa

Oleh Aditya Suryaputra

Masih ingatkah Anda dengan Si Ratu Alay, Ophi A. Bubu, yang sekitar dua tahun lalu sempat menjadi bahan tertawaan banyak dari penghuni jagad maya? Ya, gadis asal Banyuwangi ini mendadak terkenal karena tulisan ala “4L@y” di laman “Catatan” profil Facebook-nya disebarluaskan di forum-forum dan blog-blog—bahkan The Jakarta Post pernah mengulas fenomena ini dengan menerbitkan artikel berjudul “Messing with Letters” pada 28 Oktober 2009. Sebagian orang kemudian menyerang Ophi dengan bahasa-bahasa ofensif, baik di blog masing-masing, blog orang lain, forum maya, bahkan sampai mengirim komentar secara langsung kepada Ophi via “pesan pribadi” di Facebook. Mungkin sebagian “penyerang” tersebut tidak sadar bahwa apa yang mereka lakukan sudah termasuk sebagai cyber-bullying. Terjadinya banyak kasus bullycides (bunuh diri karena depresi yang ditimbulkan oleh intimidasi) di Amerika disebabkan oleh cyber-bullying seperti yang dialami oleh Ophi A. Bubu ini. Lalu, bagaimana cara mengatasinya?

Jauh sebelum munculnya fenomena cyber-bullying, Suzette Haden Elgin, seorang pengarang novel fiksi ilmiah Amerika, mengajukan suatu gagasan brilian dalam ranah linguistik pragmatis mengenai hal ini dengan mengarang buku berjudul The Gentle Art of Self Defense—memberi solusi untuk membela diri dari kekerasan verbal, termasuk rasisme atau bahasa seksis, dan menjelaskan cara menggunakan peranti cetak maupun noncetak untuk menangani isu-isu sensitif. Ide utama Elgin adalah memadukan ranah pragmatis dengan faktor psikologis si pembicara. Walaupun dalam kancah pragmatik namanya tidak setenar J.L. Austin atau Paul Grice, melalui buku tersebut Elgin diakui sebagai perintis dalam hal “beladiri verbal”, disandingkan dengan George Thompson (pengarang buku Verbal Judo) dan Daniel Scott. Juga, berkat gagasan Elgin inilah banyak institusi di Amerika, mulai dari penjara hingga korporasi, mengadakan pelatihan berbicara untuk membina individu-individu agar “melek konteks” saat berbicara. Contoh konkret dari aplikasi ide Elgin adalah jika ada orang yang menggunakan banyak pengeras (intensifier) seperti sangat atau benar-benar berarti orang tersebut suka melebih-lebihkan atau emosional.

Pencapaian linguistik Elgin tidak hanya dalam ranah praksis. Bersama John Grinder lewat buku A Guide to Transformational Grammar, ia menyempurnakan tata bahasa tranformasional yang digagas oleh Noam Chomsky. Buku-buku lain yang ditulisnya, antara lain, adalah What is Linguistics?, Pouring Down Words, A Primer of Transformational Grammar for Rank Beginners, The Great Grammar Myth, The Grandmother Principles, The Language Imperative, dan masih banyak lagi.

Pada awalnya wanita kelahiran 1936 ini dikenal sebagai penulis novel fiksi ilmiah—dan menggunakan uang hasil penjualan karyanya demi kesinambungan studinya di Jurusan Linguistik University of California, San Diego. Pada tahun 1978 Elgin mendirikan Science Fiction Poetry Association untuk memfasilitasi distribusi karya fiksi ilmiah pengarang wanita yang pada saat itu masih diremehkan. Ia adalah orang pertama di UCSD yang menulis disertasi menggunakan dua bahasa (Inggris dan Navajo), yang kemudian membawanya ke jenjang karir sebagai profesor di San Diego State University. Elgin pensiun pada tahun 1980 dan sekarang hidup di Ozarks, Arkansas.

Semasa menjadi penulis, Elgin menelurkan lebih dari sepuluh novel. Yang terkenal adalah seri Coyote Jones, The Ozark Trilogy, dan seri Native Tongue. Dalam Native Tongue Elgin membuat bahasa buatan sendiri khusus untuk novelnya (seperti yang dilakukan oleh J.R.R. Tolkien dengan bahasa Tengwar di seri The Lord of the Rings). Bahasa tersebut bernama Ladaan, dan Elgin sendiri pernah membuat kamus untuk bahasa tersebut pada tahun 1988 berjudul A First Dictionary and Grammar of Laadan.

(Belum ada jempol)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar