Bahasa “Indianesia”

15 Mei, 2012 | Edisi: | Kategori: Tulisan Musiman

Oleh Wahmuji dan Wahyu Adi Putra Ginting

Pengantar Redaksi: Artikel berjudul Bahasa “Indianesia” ini ditulis oleh Wahmuji dan Wahyu Adi Putra Ginting sebagai tulisan pendukung dari Lidahibu untuk Ace House Collective dalam peran-sertanya dalam acara Biennale Jogja XI 2011. Tema umum yang diangkat dalam acara itu adalah “Perjumpaan Indonesia & India”; sedangkan tema yang diusung oleh Ace House Collective sendiri adalah “Tak Ada Rotan Akar Punjabi”. Selamat membaca. Salam Jilat!

Kalau Anda tidak gemar membaca artikel-artikel tentang bahasa – misalnya rubrik bahasa di Kompas, Tempo, Intisari, Pikiran Rakyat, atau Lampung Post – atau membaca kajian-kajian sosiolinguistik, mungkin frasa nasionalistik ‘pemurnian bahasa Indonesia’ tidak pernah Anda dengar. Tapi, percayalah: frasa itu ada. Dan kata pemurnian di situ maknanya memang mirip dengan kata pemurnian saat dipakai dalam, misalnya, ‘pemurnian agama’ atau ‘pemurnian budaya’. ‘Pemurnian bahasa’ berada dalam konteks pembicaraan mengenai bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, yang dipakai dalam bahasa Indonesia – kadang dipakai langsung (contohnya: Saya boring, nih [maksudnya: Saya bosan, nih. Cuma, karena penuturnya tidak tahu beda bored dan boring, jadinya dia salah pakai]) atau melalui serapan yang agak keterlaluan (misalnya: Funding untuk komunitas seni merupakan problem yang harus dianalisis secara komprehensif). Untuk melawan gejala nginggris-ria itulah istilah ‘pemurnian bahasa’ dipakai.

Maksudnya: kita kan sudah punya persediaan kosakata untuk banyak istilah serapan dari bahasa Inggris, terus kenapa kita tidak memakainya dan memilih kata-kata serapan dari bahasa Inggris? Apakah kita inferior? Kami menganggapnya benar, meski tidak sepenuhnya. Ataukah bahasa Indonesia miskin anggitan (konsep) sehingga kita harus mengimpornya dari khasanah bahasa Inggris? Tidak juga. Terus, apakah kita malas mencari padanan dalam bahasa Indonesia? Tampaknya benar, meski ada alasan lain.

Namun, bukanlah motif-motif itu yang ingin kami bahas secara mendalam. Yang menarik dari frasa ‘pemurnian bahasa’ adalah asumsi bahwa khasanah kosakata bahasa Indonesia sebelum serbuan kosakata bahasa Inggris itu murni milik bahasa Indonesia, tidak dicomot dari manapun, dan lahir dari kebudayaan nasional Indonesia. Asumsi itu patah seketika saat kita disodori fakta bahwa banyak kata dalam bahasa Indonesia dicomot dari bahasa-bahasa lain, misalnya saja: Persia, Arab, Jerman, Prancis dan “India”.

Khusus mengenai bahasa “India” ini, bahkan muncul istilah ‘Indianisasi’, yang pengertiannya tidak hanya terbatas pada bahasa, tapi juga agama dan kebudayaan secara umum. Istilah lain yang melekat pada proses penyerapan besar-besaran kosakata asing ke dalam bahasa Indonesia/Melayu adalah ‘Arabisasi’ atau ‘Islamisasi’ dan ‘Amerikanisasi’.

Istilah ‘Indianisasi’ muncul bukan tanpa fakta dan argumen, meski istilah itu akan dipermasalahkan nanti. ‘Indianisasi’ dalam bahasa sebenarnya mengacu pada sebuah pengertian umum: bahwa ada pengaruh yang besar dari bahasa “India” terhadap bahasa Indonesia. Buktinya, ada banyak kata dalam bahasa Indonesia yang berakar “India”, khususnya Sanskerta, misalnya pancasila, indera, bahasa, dll. Para pemurni bahasa pun, kami kira, takkan menyangkal fakta pengaruh itu.

Lalu, kenapa istilah ‘Indianisasi’ perlu dipermasalahkan? Ada dua asumsi yang dibawa istilah itu. Pertama, bahwa Indonesia atau Nusantara bersifat pasif terhadap masuknya filsafat, kebudayaan, dan bahasa “India”. Dengan kata lain, “India” dipindahkan ke Nusantara; dan kebudayaan Nusantara sama dengan penggandaan atau kloning dari kebudayaan “India”. Kedua, ada yang namanya “bahasa India”, seperti kita menyebut bahasa Inggris, bahasa Perancis atau bahasa Indonesia. Asumsi pertama tidak cukup ditelusuri lewat kajian bahasa, meski kajian bahasa mutlak diperlukan; sedangkan asumsi kedua lebih mudah dibantah.

Yang dimaksud dengan “bahasa India” adalah bahasa-bahasa yang dipakai di dataran India – sebuah wilayah yang sekarang dihuni beberapa negara, yakni India, Pakistan, Nepal, dan Bangladesh. Dalam pengertian saat ini, istilah ‘India’ secara langsung mengacu pada negara di Asia Selatan yang memiliki jumlah penduduk terbesar kedua di dunia dan dianggap sebagai negara demokrasi terbesar di dunia, atau singkatnya, pada Republik India. Pun demikian, pemakaian nama India tetap tidak begitu bermasalah karena sebagian besar bahasa yang dipakai di negara Pakistan, Nepal, dan Bangladesh juga hidup di India. Di antara ratusan bahasa yang hidup di dataran itu, setidaknya ada tiga bahasa yang bisa disebut sebagai pendonor besar bahasa Indonesia. Ketiganya adalah Sanskerta, Tamil, dan Hindi. Peminjaman kosakata dari ketiga bahasa itulah yang akan diulas dalam artikel ini.

***

Salah satu pekerjaan penting dalam ranah karya linguistik adalah pembuatan kamus etimologis. Kamus model ini merekam cerita ringkas tentang asal-usul kata, tumbuh-kembangnya, warna-warni perubahan, pengikisan, serta penambahan makna dalam jalan hidupnya. Ciri-ciri ini yang membuat kamus etimologis dapat kita anggap sebagai kitab biografi kosakata.

(Bahasa) Indonesia tidak banyak memiliki kamus etimologis. Kamus Besar Bahasa Indonesia sekalipun tidak mengandung informasi tentang asal-usul setiap lema yang dicatatnya. Dari himpunan yang jumlahnya menyedihkan itu, ada satu yang cukup pantas dijadikan acuan pencarian data untuk keperluan tulisan ini: Loan-Words in Indonesian and Malay (editor Russel Jones, 2008). Kamus ini, seperti judulnya, berisi kata-kata pinjaman yang terdapat dalam bahasa Indonesia. (Istilah pinjaman di sini sebetulnya metafora. Tidak pernah ada kata pinjaman yang dikembalikan ke bahasa pemilik asli kata tersebut. Ketika sebuah bahasa meminjam kata dari bahasa lain, artinya bahasa tersebut mengambil-alihnya, entah itu untuk sekedar memperkaya kosakata atau untuk melengkapi perbendaharaan sebab kata beserta konsep maknawi yang diwakili oleh kata itu tidak ada dalam dirinya.) Di dalam kamus Loan-Words in Indonesian and Malay inilah kami menemukan 3 (tiga) bahasa dari daratan India yang pernah menjadi donor kosakata bagi bahasa Indonesia: Sanskerta, Hindi, dan Tamil.

Karena mata cepat lelah jika harus menelusuri satu per satu entri kamus, mengingat jumlah lemanya mencapai angka dua puluh ribu lebih, kami menggunakan versi daring (padanan: online) dari kamus tersebut[1] untuk dengan cepat mendapatkan daftar kata yang dipinjam bahasa Indonesia dari bahasa Sanskerta, Hindi, dan Tamil. Menurut data yang kami temukan di situsweb itu, dari tiga bahasa donor, bahasa Sanskerta merupakan penyumbang terbanyak (830 kata), diikuti Tamil (147 kata) dan Hindi (123 kata).[2] Peringkat yang didapat dari data statistik ini wajar mengingat pengaruh yang paling kentara dari persinggungan budaya antara daratan India dan Nusantara (termasuk semenanjung Melayu) berkisar di ranah agama Hindu dan Buddha, yang mendayakan bahasa Sanskerta sebagai bahasa pengantar agamawinya.

Kita bisa melacak jejak pengaruh ketiga bahasa tersebut terhadap ruang hidup budayawi masyarakat penutur di Nusantara ini dengan melakukan pengelompokan. Pengelompokan yang akan kami buat bukan pengelompokan atas dasar tatabahasa, melainkan makna; sebab dari makna ini kita dapat memeriksa pada ranah apa saja ketiga bahasa dari negeri pencipta Ramayana dan Mahabarata itu mencetak jejak pengaruhnya. Kategori-kategori yang kami rangkai ini kami anggap belum lengkap. Ada banyak kategori lain yang bisa ditambahkan. Namun, delapan belas kategori yang telah kami temukan dengan proses pengamatan yang sepintas ini kami kira cukup untuk memberikan gambaran umum tentang kadar pengaruh bahasa Sanskerta, Tamil, dan Hindi terhadap bahasa Indonesia.

Berikut daftar kategori ranah beserta beberapa contoh kata dan asalnya yang dapat kami sajikan:

  1. Ranah perniagaan: sewa, laba, harga (Sanskerta), modal (Tamil)
  2. Ranah agama: weda (Tamil),
  3. Ranah kekerabatan: saudara, keluarga (Sanskerta), mama, mami, (Tamil) ayah (Hindi)
  4. Ranah transportasi: kapal (Tamil)
  5. Ranah seni: sastra (Sanskerta), gurindam (Tamil)
  6. Ranah organisasi sosial hierarkis: senopati, siswa, raja, perwira, menteri, desa (Sanskerta)
  7. Ranah ruang: trimatra, angkasa, dirgantara (Sanskerta)
  8. Ranah waktu: tadi, senja, sementara, masa, hari (Sanskerta)
  9. Ranah jender: pria, wanita, -wan, -wati, putera, puteri (Sanskerta)
  10. Ranah keinderaan: lihat (Hindi)
  11. Ranah pemikiran: ahimsa, sila, (Sanskerta)
  12. Ranah boga: apam, onde-onde, putu, sambal, sate (Tamil) roti (Hindi)
  13. Ranah peralatan mekanis: kunci, gergaji (Sanskerta) gari (Hindi)
  14. Ranah penyakit: salesma, kusta (Sanskerta) cacar (Hindi)
  15. Ranah flora-fauna: singa, seroja, satwa, rajawali, pala, cabai (Sanskerta), kedelai (Tamil)
  16. Ranah sikap dan tindak-laku: senggama, sengaja, sembrono, selenggara (Sanskerta), curi, gusar, (Hindi)
  17. Ranah gejala alam: purnama, prahara, gerhana, gempa (Sanskerta), badai (Tamil)
  18. Ranah zat: logam, tembaga (Tamil)

Dari beberapa kategori di atas, kita bisa lihat betapa luasnya cakupan pengaruh bahasa Sanskerta, Tamil, dan Hindi dalam bahasa Indonesia. Hal ini terbukti dari ragam bidang hidup yang mengisi serentang rantai ranah kosakata: dari hal yang bersifat rumit dan abstrak seperti sila dan ahimsa sampai hal yang bersifat sangat dekat dengan kehidupan interior manusia seperti senggama, saudara, dan cabai.

Ada dua tahap yang terjadi dalam proses peminjaman kata dari bahasa lain ke dalam suatu bahasa: pemungutan dan pengambil-alihan. Pemungutan adalah tahap awal; kata-kata dari bahasa asing kita adopsi untuk dijadikan anak sendiri dalam bahasa kita. Tahap pengambil-alihan merupakan tahap yang lebih kompleks. Di dalamnya ada proses penyesuaian dan proses pengakuan. Penyesuaian bunyi biasanya jadi tangga yang harus dilalui sebuah kata pinjaman dalam prosesnya menjadi anggota baru dalam keluarga kosakata sebuah bahasa. Bunyi asing disetel ulang, diselaraskan dengan bunyi yang lebih akrab di telinga penutur. Ada bunyi yang diganti, ada yang dihilangkan. Contohnya kata selenggara. Kata ini berasal dari kata Sanskerta sālaṃkāra. Jika kita berpikir dengan logika fonetik bahasa Indonesia yang kita kenal sekarang, ada dua bunyi asing yang terdapat dalam kata sālaṃkāra, yaitu: [ā] dan [ṃ]. Asumsi analisis yang dapat kami berikan demikian: bunyi [ā] pada suku kata pertama diganti menjadi [e]; kemudian bunyi [ṃ] yang mungkin kental terasa sengau diganti sekalian menjadi [ng]; dan bunyi [ng] yang dalam pelafalannya melibatkan vibra inilah yang memberi pengaruh pada berubahnya [k] yang tak bervibra menjadi [g] yang bervibra.

Sementara itu, proses pengakuan memperlihatkan bagaimana penutur, setelah melakukan penyesuaian seperlunya, berhak memegang kendali atas penggubahan-penggubahan semantik (makna) dan morfologis (pembentukan kata). Contohnya kata ayah yang berasal dari bahasa Hindi āyā. Makna asli dari kata ini adalah ‘perawat berdarah India’. Namun, dalam bahasa Indonesia, sekarang kita mengenal kata ayah dengan makna ‘orangtua laki-laki’. Memang masih samar terasa jejak makna dari kata āyā dalam ayah. Tentunya kita dapat mengasosiasikan ‘perawat’ dengan ‘orangtua’. Walau begitu, ubah-gubah makna yang terjadi cukup signifikan. Untuk contoh penggubahan morfologis, kita dapat mengamatinya terjadi pada kata siswa, yang berakar pada kata Sanskerta ṡiṣya, bermakna ‘murid’ atau ‘yang diajar’. Bahasa Indonesia menyerap tatacara pemisahan jenis kelamin laki-laki/wanita dalam kata lewat bahasa Sanskerta. Itu mengapa kita punya putra sebagai pasangan putri. Demikian pula, bahasa Indonesia mengenal kata siswi sebagai pasangan siswa. Padahal, siswi tidak punya akar dalam bahasa Sanskerta. Kata siswi semata-mata adalah hasil gubahan morfologi kreatif dari penutur dengan bermodalkan akhiran pembeda jender -a­ dan -i yang didapat dari bahasa Sanskerta.

Penggubahan morfologis juga terjadi saat penutur bahasa Indonesia menambahkan imbuhan ke dalam kata dasar yang diserap dari bahasa Sanskerta, Tamil, dan Hindi. Misalnya, kata bahana, yang berakar pada kata benda Hindi bhanak, bermakna ‘suara berisik’, digubah menjadi kata kerja dengan penambahan imbuhan me-, menjadi membahana. Gejala ini wajar terjadi dalam proses pelipat-gandaan kosakata dasar demi memenuhi kebutuhan penutur akan bentuk gramatikal lain yang berkaitan dengan kata dasar pinjaman tersebut.

Di sisi berikutnya, gejala lain yang muncul dari proses pengakuan sebuah kata pinjaman adalah fakta bahwa kebanyakan penutur sudah, secara sadar atau tidak sadar, menganggap kata pinjaman tersebut sebagai milik sendiri yang berasal dari bahasa sendiri. Jujur saja, kami sendiri sama sekali tidak menduga kalau kunci dan gergaji itu berasal dari bahasa Sanskerta, apalagi apem dan onde-onde yang ternyata berasal dari bahasa Tamil.

***

Sanskerta, Tamil, dan Hindi hanyalah tiga dari sekitar selusin lagi bahasa yang pernah mencetak jejak pengaruh dalam jagad kosakata bahasa Indonesia modern. Betapa luas ternyata pergaulan masyarakat Nusantara itu, dan betapa percakapan-percakapan antara manusia penutur dapat melesatkan laju tumbuh-kembang sebuah bahasa. Dan ini harus diakui dan dihargai. Bayangkan saja apa yang terjadi jika kita memurnikan bahasa Indonesia, memecat puluhan ribu anggota keluarga kosakata bahasa Indonesia. Bisa repot kita memberi nama baru untuk sambal.


[1] Diakses di alamat www.sealang.net.

[2] Jumlah ini bukan jumlah pasti. Setiap penyusun kamus etimologis selalu memiliki keterbatasan dalam pengumpulan lema, entah itu disebabkan oleh durasi penelitian, ketersediaan bahan, dlsb. Jadi, tiap kamus etimologis dapat mencatat jumlah entri yang berbeda-beda.

(+2 jempol)
Loading ... Loading ...

3 komentar
Berikan komentar »

  1. Sekitar tahun 2010 saya pernah mencoba menghitung sebaran sumber serapan dari sealang.net dengan menggunakan program komputer kecil. Ini hasil hitungan program itu:

    1. Belanda: 7301
    2. Inggris: 2435
    3. Arab: 2022
    4. Sanskerta: 1021
    5. Cina: 330
    6. Parsi: 208
    7. Portugis: 194
    8. Latin: 143
    9. Tamil: 129
    10. Hindi: 79

  2. Tulisan yg menarik. 🙂
    Pengaruh bahasa Sanskerta terhadap bahasa Melayu memang tidak perlu diragukan. Apalagi bukti-bukti sejarah menunjukkan demikian. Berawal dari inskripsi-inskripsi kuno yang ditemukan dapatlah dilihat penggunaan bahasa Sanskerta. Misalnya prasasti Kedudukan Bukit yang diperkirakan dari abad ke-7 M. Prasasti tsb beraksara Pallawa dan berbahasa Sanskerta dengan campuran bahasa Melayu, yang diduga merupakan periodisasi Melayu Kuno. Sebagian besar tulisan dari prasasti tsb memang berbahasa Sanskerta (misal: sukhacitta, tāmvan), namun didapati pula penggunaan ‘di’, ‘dari’ yang asli dari bahasa Melayu. Selain itu, prasasti tsb juga memberikan evidensi yg menarik mengenai sistem numeralia yg ternyata sudah dipergunakan (setidaknya) sejak aba ke7 (misal: duaratus, sarivu). Hal ini membuktikan bahwa dari dahulu kala pun bahasa Sanskerta sudah “hidup” berdampingan dg bahasa Melayu.

  3. Mas Ivan, Loan-Words in Indonesian and Malay (cetak) mendaku diri memuat sekitar 20.000 lema. Jumlah terhitung di sealang.net kenapa jauh di bawah angka itu, ya? Hanya 13.862 masukan. Hmm…

Berikan Komentar