Teori Transformasi

8 April, 2012 | Edisi: | Kategori: Kultukal

Oleh Nikodemus Wuri Kurniawan

Kelahiran Teori Transformasi ditandai dengan terbitnya buku Syntactic Structures pada tahun 1957 yang ditulis oleh Noam Chomsky, seorang pakar linguistik di Massachusetts Institute of Technology (MIT). Dengan terbitnya buku ini, Chomsky memulai fase linguistik baru yang belum pernah terjadi dalam sejarah ilmu bahasa. Sejak saat itu, para ahli bahasa, khususnya di Amerika Serikat, memusatkan perhatiannya pada apa yang disebut tata bahasa transformasi-generatif (yang sering disebut juga tata bahasa transformasi atau tata bahasa generatif). Teori ini tentu saja tidak kebal kritikan. Belum berumur sewindu, Chomsky telah menerima banyak kritikan. Salah satunya dibukukan dengan judul An Integrated Theory of Linguistic Description oleh Jerrold J. Katz dan Paul M. Postal pada tahun 1964. Hasil penelitian itu mengusulkan integrasi teori sintaksis transformasi-generatif Chomsky dengan teori semantik Jerrold J. Katz dan Jerry A. Fodor.

Dengan usul-usul yang didasarkan atas penelitian, Chomsky mulai mengadakan perbaikan dan perubahan pada teorinya yang pertama. Hasilnya kemudian diterbitkan pada tahun 1965 dalam bentuk buku yang berjudul Aspects of the Theory of Syntax. Sayangnya, hasil penelitian yang terkumpul pada awal tahun 1968 menunjukkan bahwa Aspects of the Theory of Syntax kurang memuaskan sehingga penelitian yang lebih mendalam terus dilakukan. Dengan demikian, jangka waktu 1964-1967 bisa dikatakan terdiri atas tiga tahap penyempurnaan: 1964-1965 merupakan tahap model, 1965-1966 merupakan tahap peluasan, dan 1966-1967 merupakan pengubahan Aspects of the Theory of Syntax.

Pada tahun 1968, kaum transformasi terpecah menjadi dua kelompok. Kelompok yang pertama dipimpin oleh Chomsky dan menyebut dirinya kaum leksikalis. Kelompok ini tetap mempertahankan gagasan tata bahasa seperti yang dirumuskan oleh Aspects of the Theory of Syntax dan perbaikannya. Sementara itu, kelompok kedua, yang meskipun tanpa pemimpin, terdiri atas para linguis garda depan yang terus-menerus berusaha memperbaiki teori transformasi, dan disebut kelompok transformasionalis. Kelompok kedua yang mencakup orang seperti James D. McCawley, George Lakoff, John Robert Ross, dan lain-lain berhasil menjadi penganjur teori baru yang disebut semantik generatif. Sejak tahun 1968 sampai sekarang berkembanglah teori ini, yang mungkin merupakan titik akhir perkembangan teori transformasi.

Lalu, apa yang secara umum dibicarakan oleh teori transformasi ini? Untuk mengetahuinya, kita pelajari uraian berikut.

  1. Kelahiran teori transformasi bisa dikatakan disebabkan oleh ketidakpuasan para linguis muda pada teori struktural, yang sering tidak dapat menyelesaikan persoalan linguistik.
  2. Menurut Chomsky, cara memecahkan masalah kebahasaan dengan mengadakan klasifikasi unsur bahasa dan memberikan label (baru) bagi kelas itu menandakan bahwa teori itu masih sampai pada fase taksonomi; lingustik yang lebih lanjut harusnya mengadakan asumsi dan hipotesis tentang bahasa pada umumnya yang dapat diuji oleh bahasa yang ada di dunia ini, bahwa asumsi dan hipotesis itu berlaku bagi bahasa-bahasa itu, dan seandainya ada hal yang menyimpang, formulasi yang baru akan diperlukan sehingga akhirnya asumsi dan hipotesis itu berlaku bagi sebagian besar bahasa di dunia ini.
  3. Konsep kesemestaan bahasa lalu menjadi pedoman penciptaan teori baru bagi Chomsky dan para pengikutnya.
  4. Teori transformasi mengenal apa yang disebut kreativitas bahasa, yaitu formulasi dari kenyataan bahwa pemakai bahasa dapat menghasilkan kalimat baru, yang dipahami oleh para pemakai yang lain, biarpun kalimat itu sama barunya bagi mereka.
  5. Teori linguistik yang dikemukakan dalam Syntactic Structures menyatakan bahwa tata bahasa terdiri atas komponen struktur frasa, transformasi, dan morfofonemik; dalam Aspects of the Theory of Syntax, tata bahasa terdiri atas komponen sintaksis, komponen semantik, dan komponen fonologi (Chomsky juga mengajukan gagasan baru, yaitu struktur dalam, yang merupakan bagian struktur bahasa yang melalui kaidahnya menghasilkan pengertian bahasa itu dan struktur permukaan, yang merupakan bagian bahasa yang dengan berbagai kaidahnya menghasilkan ajaran bahasa); sedangkan menurut kelompok transformasionalis, tata bahasa terdiri atas struktur dalam, yang berisi struktur semantik, dan struktur permukaan, yang merupakan perwujudan ujaran, dan kedua bagian tersebut dihubungkan dengan suatu proses yang disebut transformasi.
  6. Berbeda dengan teori struktural yang mendasarkan uraian kebahasaan hanya pada bahannya (yaitu, bahasa atau disebut ‘korpus’), teori transformasi mendasarkan studi bahasa tidak hanya pada bahasa yang menjadi bahan studinya, melainkan juga pada kemampuan intuitif pemakai bahasa itu (muncullah istilah ‘kemampuan’ [competence], yaitu pengetahuan seseorang tentang bahasanya, termasuk kemampuan untuk menguasai kaidah-kaidah yang berlaku bagi bahasanya, dan ‘pelaksanaan’ [performance], yaitu keterampilan seseorang menggunakan bahasa).
  7. Kaum transformasi menentang (menertawakan) anggapan kaum struktural bahwa bahasa merupakan faktor kebiasaan dan dengan yakin menyatakan bahwa bahasa merupakan faktor bawaan (untuk mendukung pendapatnya, kaum struktural mengajukan cerita tentang anak yang dibesarkan oleh sekawanan serigala dan sama sekali tidak bisa berbahasa karena tidak mengenal dan mendengar orang berbahasa, yang ia kenal hanyalah lolongan serigala saja sehingga ia pun hanya bisa melolong seperti serigala; sedangkan kaum transformasi, dalam hal ini Chomsky, menunjukkan bahwa struktur otak manusia dan simpanse persis sama, kecuali bahwa sebuah simpul syaraf bicara yang ada di struktur otak manusia tidak ada di struktur otak simpanse sehingga simpanse tidak mungkin dapat berbicara, walaupun dilatih dengan sekuat tenaga).

Sumber:

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1983. “Pedoman Penulisan Tata Bahasa Indonesia”. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Soeparno. 2003. Dasar-dasar Linguistik. Yogyakarta: Mitra Gama Widya.

(+1 jempol)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar