Vandal

7 April, 2012 | Edisi: | Kategori: Asal-Usul Kata

Oleh Wahyu Adi Putra Ginting

Sebagai kata, umur vandalisme sudah 217 tahun. Kata ini dirintis oleh Henri Grégoire, seorang pendeta Katolik Roma berkebangsaan Prancis, pada tahun 1794. Waktu itu, Henri menggunakannya untuk mengungkapkan pengerusakan babi-buta atas karya-karya seni di masa Revolusi Prancis. Apa dasar Henri menggunakan kata tersebut untuk mengacu pada tindakan semacam itu? Dari mana ia memperolehnya?

Kata vandalisme secara morfologis dibangun dari vandal dan -isme. Tentu Henri tidak menggunakan kata vandal untuk mengekspresikan pengerusakan babi-buta karena kata itu punya kemiripan bunyi dengan kata berandal. Walau ternyata, seperti kita tahu, kedua kata itu memiliki persentuhan makna. Sebelum melacak asal-usul kata vandal(isme), mari kita tilik sebentar cara Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan kata ini.

van·dal n 1 perusak hasil karya seni dan barang berharga lainnya (lukisan, patung, dsb); 2 orang yg suka merusak dan menghancurkan secara kasar dan ganas;

va·ndal·is·me n 1 perbuatan merusak dan menghancurkan hasil karya seni dan barang berharga lainnya (keindahan alam dsb); 2 perusakan dan penghancuran secara kasar dan ganas;

van·da·lis·tis a 1 bersifat merusak dan menghancurkan hasil karya seni dan barang-barang berharga lainnya (lukisan, patung, dsb); bersifat vandal; 2 bersifat merusak dan menghancurkan secara kasar dan ganas.

Sementara itu, kamus etimologis Loan Words in Indonesian and Malay mencatat kata vandal ini bersama tiga turunannya: vandalis, vandalisme, dan vandalistis. Kata vandal diserap bahasa Indonesia dari bahasa Belanda vandaal yang berasal dari sebuah nama dalam rumpun bahasa Jermanik Wandal. Kata vandalis, vandalisme, dan vandalistis diketahui juga berasal dari bahasa Belanda vandalist, vandalisme, dan vandalistisch. Namun, vandalist dan vandalisme itu sendiri akarnya dari bahasa Prancis. Keterangan yang terakhir ini setakat dengan maklumat yang saya sajikan di paragraf awal: bahwa orang Prancis-lah yang pertama sekali merintis vandal sebagai kata.

***

Jadi, ternyata kata vandal itu berasal dari sebuah nama, Wandal. Nama (si)apa? Nama sebuah suku Jermanik Timur.

Ada delapan suku-bangsa petualang di daratan Jerman yang berkeliaran di benua Eropa dari tahun 100-500 SM: Angle, Saxon, Jute, Frank, Goth, Visigoth, Ostrogoth, Hun, dan Vandal. Dari kedelapan suku-bangsa ini, ada tiga yang sempat mengaduk-aduk peradaban Romawi, di tanah Roma sendiri, yaitu Visigoth, Ostrogoth, dan Vandal. Suku Vandal merupakan satu-satunya dari delapan suku itu yang berhasil menyeberang keluar dari benua Eropa.

Di bawah kepemimpinan Raja Genseric, suku Vandal meretas jalan mereka ke Afrika Utara pada tahun 429. Genseric membangun kekaisaran yang kuat di sana, cukup kuat untuk menjadi ancaman terhadap kekaisaran Roma yang ‘berbudaya’. Pada tahun 440, Genseric dan Kaisar Roma, Valentinian III, sepakat menciptakan perdamaian dengan menjodohkan kedua anak mereka, Huneric dan Eudocia. Sialnya, belum lagi keduanya sempat dinikahkan, gelegar politik terjadi di kekaisaran semenanjung sepatu hak-tinggi itu pada tahun 455. Kaisar Valentinian tewas dibunuh. Topan politik berdarah ini membuat perjanjian perjodohan Huneric dan Eudocia batal karena kaisar baru Roma, Petronius Maximus, memutuskan untuk menikahkan putranya Palladius dengan Eudocia.

Maka murkalah Raja Genseric. Di tahun yang sama, Genseric dan pasukan Vandal-nya berlayar menyeberangi laut Mediterania untuk menyerang kota Roma. Roma tak berdaya, kaisarnya malah kabur, tak berani menghadapi pasukan tempur Vandal. Kota yang dipenuhi dengan hasil kebudayaan kekaisaran Romawi Barat itu pun jadi sasaran empuk. Begitu kayanya kota Roma akan harta benda, sampai-sampai Genseric dan pasukannya butuh empat belas hari untuk menjarah dan membelang-bontengkan kota tersebut. Banyak sekali buah-karya seni rusak dan musnah dalam kejadian ini. Dan inilah yang menjadi dasar historis Henri Grégoire untuk menggunakan kata vandal dan menambahkan akhiran -isme padanya untuk mengacu pada kegiatan pengerusakan tunarasa babi-buta, terutama terhadap karya-karya seni budaya.

***

Di Eropa, di zaman Pencerahan, ‘Roma’ adalah idola-khayali bagi kebanyakan orang. Kota tersebut dianggap sebagai mercu suar peradaban, dan suku Vandal dianggap bersalah atas kehancuran kota yang seharusnya menjadi ‘museum peradaban Eropa’ tersebut. Perhatikan saja fitur makna yang dibubuhkan bagi makna kata vandalisme: ‘pengerusakan tunarasa’, ‘penghancuran babi-buta’, ‘brutal’, bahkan ‘biadab’ dan ‘barbar’. Ini menunjukkan rasa frustrasi mendalam, seperti rindu-dendam, hasrat yang tak kesampaian untuk memiliki monumen peradaban yang dapat dibanggakan secara nyata dan tidak sekedar khayali saja.

Kini, biasanya kita banyak mengaitkan vandalisme dengan tindakan-tindakan perusakan properti umum. Yang paling kerap dicap sebagai tindakan vandalisme adalah coret-mencoret dinding, pohon, batu, atau patung. Tapi ternyata ada juga vandalisme yang bukan sekedar aksi rusak-rusakan saja. Banyak aksi vandal yang sarat dengan alasan ideologis. Contohnya seperti yang dilakukan oleh Gustav Courbet, seorang pelukis yang menjustifikasi penghancuran monumen-monumen yang melambangkan perang dan penaklukan.Usahanya merubuhkan Tugu Vendome, lambang kekaisaran Napoleon III yang otoriter, adalah tindakan vandalisme yang raya. Contoh lain lagi: lukisan Banksy di tembok-kokoh di Jalur Gaza – lukisan yang sarat dengan ironi kemanusiaan.

Jadi seperti itu: vandalisme ternyata juga digunakan orang sebagai metode untuk ‘merusak dengan tanpa ampun’ keangkuhan, ketamakan, kebiadaban sejati yang menipu mata kita karena diberhalakan lewat benda-benda indah nan artistik yang dipuja sebagai mercu suar peradaban. Dan, sekarang kita tahu bahwa metode ini pun punya asal-usul sejarawi yang tidak asal-asalan.

Sebetulnya akan lebih adil jika hal yang sama diberlakukan untuk Roma. Bukankah kekaisaran Roma ini adalah penjajah tulen yang menginvasi, menindas, dan merampas? Bedanya hanya di penampilan anggunnya saja: seragam tentara yang megah, istana dan bangunan dengan konsep widyawatu yang indah dan rumit, padahal di baliknya ya haus-darah. Hiburannya saja pertarungan gladiator – kurang ‘barbar’ apa coba itu! Maka “seharusnya” dunia juga mengenal kata roma atau romaisme yang mengacu pada ‘kerakusan akan kuasa dan tanah jajahan’. Tapi itu tidak terjadi. Ada yang mau memulai?

(+2 jempol)
Loading ... Loading ...

7 komentar
Berikan komentar »

  1. […] tetapi di sisi lain prinsip ini memang membuat Wikipedia rentan terhadap perusakan atau vandalisme oleh tangan-tangan usil. Yang saya rasa tidak banyak diketahui orang adalah kami memiliki […]

  2. sorry ya sbelumnya.. dalam pengkajian vandalku benar tidak begitu hatam, tapi aku pernah baca sebuah karya (buku) yg judulnya Pergolakan Afrika> sudah lupa juga siapa penulisnya. penafsiranku sendiri setelah membacanya.. dalam buku itu malah menjelaskan tentang pemberontakan vandal terhadap kerajaan romawi. makanya yang menjatuhkan sendiri vandal itu adalah romawi baratkah atau timur yg pastinya (Bizantium). dengan alasan bahwa bangsa vandal pada saat itu merupakan kumpulan bar-bar yang merusak kiri kanan. padahal perusakan bangsa vandal sendiri tidak serta merta kecuali punya kepentingan.

  3. Chac, perbedaan referensi memang kerap berujung pada perbedaan data rinci. Ini lazim. Seandainya saja Anda bisa memberikan kutipan atau referensi yang lebih jelas, Redaksi Lidahibu tentu tidak berkeberatan untuk mengubah-ulang naskah “Vandal” ini.

    Tabik!

  4. Apa katamu, Bung Wahyu Ginting?

  5. Berikut referensi yang saya gunakan untuk menulis artikel “Vandal” ini:
    -http://en.wikipedia.org/wiki/Vandal
    -http://en.wikipedia.org/wiki/Sack_of_Rome_%28455%29

    Jika Chac bisa menjabarkan dengan lebih rinci dan disertai dengan kutipan dan keterangan referensial yang kuat mengenai Vandal versi yang ia ketahui, saya tidak akan ragu untuk mengubah beberapa rincian dalam artikel tersebut. Sumber yang saya gunakan saya rasa cukup kekuatan referensialnya. Silakan kunjungi tautan tersebut untuk memeriksa lebih lanjut.

    Salam,

    Wahyu Ginting

  6. maling teriak maling. hanya itu senjata para negara penjajah paling ampuh sampai saat ini.
    untuk contoh sederhana kurang lebih seperti ini, bangsa qt dulu dijajah oleh berbagai negara eropa tapi jika qt ingin merebut kembali tanah kita maka mereka memanggil qt dgn sebutan PEMBERONTAK atau mungkin untuk sekarang ini sering disebut TERORIS.

    (maaf sedikit OOT tapi itulah faktanya)

  7. Mari kita pakai kata “romaisme”, sebagai tambahan untuk ‘imperialisme’ dan ‘kolonialisme’, untuk mengacu pada ‘kerakusan akan kuasa dan tanah jajahan’ yang dimiliki negara atau lembaga penjajah.

    Tabik! 🙂

Berikan Komentar