S, T, U, ‘F’, W, X, Y, Z*

6 April, 2012 | Edisi: | Kategori: Liukan Lidah

Oleh Wahyu Adi Putra Ginting

Tidak ada bunyi /v/ dalam bahasa Indonesia. Itulah tesis tulisan saya ini. Mungkin akan ada gurat kerutan di dahi Anda karena tesis saya itu. Saya pun demikian. Dahi saya berkerut saat saya menghadapi dugaan ini. Saya bertanya pada diri saya sendiri, bagaimana mungkin selama ini saya tidak menyadarinya?

Saya ingat-ingat kembali masa-masa awal saya belajar abjad bahasa Indonesia. Saya ingat guru TK saya dengan sabar mengajak murid-muridnya menghafal 26 abjad, dari A sampai Z, lewat sebuah dendang yang nadanya sangat mudah diingat itu. Saya mencoba menyanyikannya lagi. Tapi, kini perjalanan A menuju Z tidak lagi saya lewati dengan mulus. Saya selalu tertumbuk halangan saat melafalkan huruf ‘v’; karena, saya tahu, ‘v’ yang saya lafalkan sebenarnya tidak berbunyi /ve/, tetapi /fe/.

Dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, yang diterbitkan oleh Pusat Bahasa dan dapat diunduh gratis di laman depan situs-jejaring resmi lembaga itu[1], kita dapat menemukan daftar ‘Huruf Abjad’ di bab I (‘Pemakaian Huruf’). Di situ, tertera sebuah tabel yang berisi deretan dua puluh enam huruf yang dipakai di bahasa Indonesia. Huruf ‘v’ maktub sebagai abjad ke-22, sesudah ‘u’ dan sebelum ‘w’. Kita juga akan menemukan bahwa pedoman umum Ejaan yang Disempurnakan (EYD) itu me‘nama’i huruf ‘v’ sebagai /ve/. Saya kira, yang dimaksud dengan istilah ‘nama’ di situ adalah cara membunyikan huruf ‘v’ saat huruf tersebut sedang berdiri sendiri, tidak digabung dengan rangkaian huruf lain. Istilah ‘nama’ kemudian saya maknai sebagai ‘cara lafal’. Baiklah, saya terima dulu hal ini sebagai salah satu kaidah baku bahasa Indonesia, sebagai sebuah resep berbahasa Indonesia dalam hal per-huruf-an dan cara lafal huruf. Pertanyaannya, benarkah kita pernah membunyikan huruf ‘v’ dengan lafal /v/ saat kita berbicara dalam bahasa Indonesia? Seperti apa sesungguhnya bunyi lafal /v/ itu?

Untuk pertanyaan kedua, saya menemukan jawabannya dalam ilmu Fonetik, ilmu yang menyuguhkan gambaran lengkap proses produksi bunyi dalam bahasa manusia. Bunyi /v/, secara fonetis, masuk dalam kategori bunyi konsonan. Dilihat dari segi ‘dasarucapan’[2], bunyi /v/ ikut dalam kategori bunyi ‘bibirgigi’ (Inggris: labiodental). Sementara itu, dilihat dari segi ‘sikapucapan’[3], bunyi /v/ termasuk bunyi konsonan ‘getar’ (Inggris: voiced). Ciri ‘getar’ ini adalah satu-satunya ciri yang membedakan /v/ dengan /f/; bunyi /f/ terlafal ‘takgetar’ (Inggris: voiceless). ‘Getaran’ dalam bunyi /v/ ini dihasilkan oleh gesekan udara dengan selaput-suara di tenggorokan kita. ‘Getaran’ ini juga hadir dalam bunyi konsonan lainnya, seperti: /b/, /g/, dan /z/. Saya terpaksa menggunakan contoh bahasa Inggris untuk membuktikan pada Anda kehadiran ‘getaran’ dalam bunyi /v/; sekali lagi, karena saya anggap bahasa Indonesia tak punya satu kosakata pun dengan bunyi /v/. Cobalah dengarkan seorang penutur bahasa Inggris asli saat dia melafalkan kata very dan ferry. Dengan telinga yang jeli, kita akan dapat merasakan perbedaan bunyi /v/ dan /f/ di sana; dan perbedaannya adalah bahwa /v/ ber‘getar’ dan /f/ tidak. /v/ berbunyi lebih ‘berat’ dari /f/, seperti ada alat musik bersuara bariton sedang bermain di tenggorokan Anda.

Setelah melihat gambaran bunyi /v/ secara fonetis, maka saya dapat menjawab pertanyaan pertama saya. Dalam kenyataannya, penutur bahasa Indonesia tidak pernah melafalkan /v/, seperti penutur bahasa Inggris atau penutur bahasa lain yang memang mengenal bunyi tersebut. Coba Anda lafalkan kata virus atau variasi, pasti yang terdengar adalah /firus/ dan /fariasi/; atau, dengan lidah Sunda atau Jawa, yang terdengar malah /pirus/ dan /pariasi/. Kalau kita bandingkan fakta ini dengan resep yang cenderung aksiomatik tentang ejaan bahasa Indonesia – bahwa ejaan bahasa Indonesia adalah ejaan yang fonemis, kata dieja seperti ia dilafalkan – maka runtuh dan tak berlakulah resep itu. Sebelum saya membahasnya lebih lanjut, kita periksa dulu keberadaan huruf ‘v’ dalam ejaan-ejaan resmi bahasa Indonesia sebelum EYD: Ejaan Ophuijsen dan Ejaan Republik.

***

Dengan mengacu pada buku Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia Jilid I karangan Sutan Takdir Alisyahbana (STA), saya menemukan bahwa tidak ada huruf ‘v’ dalam Ejaan Ophuijsen[4]. Fakta ini menarik karena Ophuijsen sendiri bernama lengkap Charles Adriaan van Ophuijsen. Saya pikir, Ophuijsen cukup jeli untuk melihat bahwa bahasa Melayu memang tidak mengenal bunyi /v/ seperti bahasa Belanda. Bahasa Melayu memang mengenal bunyi /f/, hasil sumbangan dari bahasa Arab. Maka, bahasa Melayu mengenal kata fitrah, fitri, atau, mungkin yang paling tenar saat itu, fulus. Ophuijsen memang mendasarkan ejaan garapannya pada ejaan Belanda. Tapi, menurut saya, keputusannya untuk tidak mengikut-sertakan huruf ‘v’ dalam ejaannya merupakan keputusan yang tepat karena bunyi itu memang absen dalam bahasa Melayu, yang kita tahu merupakan akar dari bahasa Indonesia.

Bagaimana dengan Ejaan Republik? Masih dalam pustaka yang sama, STA menjabarkan bahwa Ejaan Republik tidak jauh berbeda dengan Ejaan Ophuijsen. STA mencatat hanya terdapat enam perbedaan saja.[5] Dan, keberadaan huruf ‘v’ sama sekali tidak disinggung.[6] Maka, dapatlah kita katakan bahwa huruf ‘v’, dalam ejaan resmi bahasa Indonesia, hadir pertama sekali dalam EYD. Pertanyaan besarnya: MENGAPA BISA?

Kitab Loan-Words in Indonesian and Malay mencatat bahwa huruf ‘v’, dilafalkan /vé/, diserap ke bahasa Indonesia dari bahasa Belanda.[7] Hal ini masuk akal, menurut saya. Kalaupun, bukan dari bahasa Belanda, paling tidak dari bahasa Eropa lainnya. Di kitab daftar kata pinjaman yang dikerjakan dengan bernas itu, rata-rata kosakata serapan yang berhuruf awal ‘v’ dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Belanda, Perancis, dan Inggris; begitu juga dengan kosakata dimana huruf ‘v’ hadir di tengah rangkaian huruf. Kata objektif, misalnya. Bahasa Indonesia menyerapnya dari kata bahasa Belanda objectief. Menariknya, kita mengeja kata turunannya, objectivisme, tidak dengan objektifisme, melainkan objektivisme. Begitu juga untuk kata aktif (Bld. actief) dan aktivitas (Bld. activiteit). Dan, saya yakin, bunyi /v/ dalam objectivisme dan activiteit tidak pernah terlafalkan oleh lidah Indonesia kita saat mengucapkan objektivisme dan aktivitas.

Dilihat dari fakta yang barusan saya paparkan, bisa jadi huruf ‘v’ diadopsi oleh EYD untuk mewadahi cara eja kosakata serapan dari bahasa-bahasa Eropa tersebut. Namun, alasan ini akan melemah saat kita membandingkannya pada kenyataan bahwa sebetulnya bukanlah bahasa Eropa yang pertama sekali memperkenalkan bunyi /v/ ke telinga manusia Nusantara; melainkan, bahasa Sanskerta. Bahasa Sanskerta mengenalkan bunyi /v/ pada kita lewat kosakata seperti sattva dan vīra, yang, mungkin karena sulit menirukannya, kita lafalkan menjadi satwa dan wira. Perubahan /v/ ke /w/ ini juga kita lakukan saat mengindonesiakan nama negara Czechoslovakia menjadi Cekoslowakia. Seperti kita lihat, cara lafal Indonesia kita pada kata sattva dan Czechoslovakia kemudian mempengaruhi cara kita mengeja dua kata tersebut. Pertanyaannya: mengapa kita tidak melakukan hal yang sama saat mengeja activieit atau variatie? Kalaupun, katakanlah, kita tidak mengubah ‘v’ menjadi ‘w’, mengapa tidak mengubahnya menjadi ‘f’ saja, seperti cara kita melafalkannya? Kan, konon, sistem ejaan bahasa Indonesia itu fonemis? Mungkin muncul pertanyaan lain juga, kalau kita tidak punya huruf ‘v’, bagaimana kita mengeja nama perumus Ejaan Ophuijsen itu; kan nama dia ada van-nya? Bukankah akan janggal kalau kita mengejanya sebagai Charles Adriaan fan Ophuijsen? Bagi saya, memang janggal dan sebetulnya tidak perlu diubah. Tulis saja Charles Adriaan van Ophuijsen. Bukankah hal yang sama juga kita lakukan saat mengeja nama Jérôme Samuel. Ejaan kita tidak mengenal huruf ‘é’ dan ‘ô’; tapi, itu tidak berarti kita tidak bisa mengejanya. Kita tinggal mengejanya sesuai aturan ejaan dalam bahasa asal pemilik nama tersebut. Rata-rata bahasa melakukan hal yang sama.

***

Anda mungkin bertanya-tanya, buat apa saya mengajukan hal ini? Apakah saya ingin mengubah susunan abjad dalam EYD yang sudah kita gunakan selama hampir empat dasawarsa itu? Apakah saya menuntut agar huruf ‘v’ dihapus saja dari susunan abjad bahasa Indonesia? Tentu saja tidak. Itu adalah tuntutan yang bodoh sekali.

Yang saya lakukan di sini adalah sebuah deskripsi empiris dari salah satu anasir bunyi dalam bahasa Indonesia, lewat tesis yang saya suarakan di kalimat pertama tulisan saya ini. Usaha penggambaran semacam ini, saya rasa, sangat penting bagi bahasa Indonesia, apalagi jika kita menginginkan sebuah deskripsi yang jernih tentang anasir ragawi dari bahasa nasional kita itu. Menuntut penutur bahasa Indonesia untuk melafalkan huruf ‘v’ dengan bunyi /v/ juga agaknya berlebihan karena bunyi itu memang janggal di lidah orang Indonesia saat berbicara dengan bahasa Indonesia. Yang bisa kita lakukan adalah memperlunak hukum/kaidah ejaan bahasa Indonesia, yang dikatakan bersifat fonemis, atau dieja-sesuai-lafal itu. Jangan lagi kita jadikan kaidah itu sebagai dasar aksiomatik ejaan bahasa Indonesia karena, kenyataannya, ejaan kita memang tidak sepenuhnya fonemis.

Artikel ini pernah dimuat di Majalah Basis Edisi Maret-April 2010.


[1] http://pusatbahasa.depdiknas.go.id

[2] Sutan Takdir Alisyahbana menggunakan istilah ‘dasarucapan’ untuk mengacu pada segi place of articulation dalam Fonetik. Lihat Alisyahbana, Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia Jilid I, 1958, hal. 15.

[3] (Inggris: manner of articulation)

[4] ibid., hal. 28.

[5] ibid., hal. 32-33.

[6] Sebenarnya, ada yang ‘aneh’ dalam buku karangan STA ini. Di Bab 2, yang berjudul ‘BUNJIBAHASA INDONESIA’, STA memasukkan /v/ dan /f/ dalam kategori ‘konsonan berdasarkan dasarucapan’. Akan tetapi, dalam kategori ‘konsonan bersuara’ (konsonan getar, dalam istilah saya) /v/ tidak diikutkan. Lebih aneh lagi, dalam kategori ‘konsonan tidak bersuara’ (konsonan takgetar, dalam istilah saya), bunyi /f/ juga tidak disertakan. Sepertinya, tidak berlebihan kalau saya bilang bahwa ini adalah kesalahan yang fatal.

[7] Jones, Russell. 2008, hal. 335.

(+2 jempol)
Loading ... Loading ...

3 komentar
Berikan komentar »

  1. *mencerahkan*

  2. Apa memang demikian, orang Indonesia TIDAK MENGENAL atau TIDAK BISA MEMBEDAKAN pelafalan antara huruf “v” dan huruf “f”?

    Sejarah kita mengenal sikap diskriminasi yang dilakukan oleh pemerintah Belanda saat menduduki wilayah Nusantara. Hanya kalangan terbatas yang berhak memperoleh pendidikan. Di antara mereka ada yang berhasil hingga mencapai pendidikan tingkat tinggi. Sisanya, bekerja sebagai buruh, atau bila mereka mendapat kesempatan, bersekolah hanya sampai kelas dua, “kelas loro”, yang sama dengan kelas dua sekolah dasar.
    Mereka yang beruntung bisa bersekolah, menikmati pendidikan dengan bahasa pengantar bahasa Belanda. Tak bisa disangkal, mereka belajar membedakan pelafalan antara huruf “v” dan huruf “f” dan menjadi penutur bahasa Belanda yang fasih.

    Berdasarkan hal di atas, saya cenderung berpendapat bahwa APABILA semua orang Indonesia pada waktu itu mendapat kesempatan yang sama, bisa mengikuti pendidikan dengan bahasa pengantar bahasa Belanda, mereka pasti juga belajar membedakan pelafalan kedua huruf itu. Maka masalah ini bisa dianggap tidak ada. Mereka yang masih mendapat kesulitan melafalkannya kiranya akan mendapat pelatihan khusus, seperti yang sekarang diberikan oleh terapis wicara, ahli logopedia.

  3. Evie, saya penutur bahasa Indonesia dan saya mampu melafalkan bunyi /v/; saya pun yakin ada banyak sekali orang di Indonesia ini yang mampu melafalkannya, karena bunyi /v/ tidak memiliki ciri fonetik artikulatoris yang terlalu rumit. Satu atau dua menit cukup bagi seorang penutur dewasa untuk mengenal dan menguasai pelafalan /v/. Tapi kemampuan penutur bahasa tertentu untuk melafalkan bunyi tertentu tidak semerta berarti bunyi itu ada dalam suatu bahasa tertentu pula.

    Contohnya, bahasa Indonesia tidak mengenal bunyi /th/, baik yg getar seperti dalam kata bahasa Inggris ‘though’ maupun yg takgetar seperti dalam kata ‘thin’. Yang tidak mengenal bunyi itu adalah bahasa, bukan penutur. Saya kira di titik ini kesalahpahaman Anda dalam menanggapi masalah yg saya ajukan dalam artikel ini. Dan saya pun sudah menegaskan: tidak perlu kita paksa penutur bahasa Indonesia untuk melafalkan bunyi /v/ karena bunyi itu memang TIDAK ADA dalam bahasa Indonesia. Kita mengira bunyi itu ada karena sesuatu yg konon merupakan ciri aksiomatik dalam sistem ejaan kita: ejaan satu-simbol-satu-bunyi. Lalu, karena ada kata yg mengandung huruf ‘v’ dalam ejaannya, dan semua kata itu adalah serapan, apa berarti bunyi itu harus ada dalam bahasa Indonesia? Semisal ‘though’ diserap ke dalam bahasa Indonesia, apa /th/ harus masuk dalam daftar bunyi bahasa Indonesia? Lalu apa gunanya kaidah penyesuaian lafal?

    Kalau Anda amati dgn teliti dalam tulisan saya itu, Anda bisa lihat bahwa bahkan seorang C. van Ophuijsen sekalipun tidak memasukkan huruf ‘v’, yang dia pahami cara-lafalnya dalam bahasa Belanda, karena ia tahu bunyi itu tidak ada dia temukan pada lidah penutur di Nusantara.

    Di akhir artikel saya, saya sudah terang-jelaskan apa yang harus kita akui: ejaan kita bukan ejaan satu-simbol-satu-bunyi, atau setidaknya, tidak mutlak seperti itu.

Berikan Komentar