Aku yang Hilang ‘Aku’

27 Maret, 2012 | Edisi: | Kategori: Liukan Lidah

Oleh Fizma Andrea Nishkra*

(Pengantar Redaksi: Naskah dari Fizma ini sedianya ditulis untuk Lidahibu dalam bahasa Inggris. Karena akan diumumkan pada pirsawan Lidahibu di Indonesia, maka naskah tersebut Redaksi terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Selamat membaca.)

Nama saya Fizma. Saya mau menulis apa yang ada dalam pikiran saya. Sebagian besar tentang pengalaman saya sendiri berurusan dengan gegar budaya, dalam hal ini bahasa, karena saya anggap hal itu menjadi “sarapan” harian saya. Ha-ha.

Tapi benar, kok. Coba pikir, saya lahir di keluarga amburadul – saya anak perempuan satu-satunya. Ayah saya bekerja di agensi intelejen pemerintah dan saya tak pernah bertemu ibu saya secara pribadi sampai sekarang. Karena pekerjaan Ayah (dan saya tak tahu apa yang diurusnya) saya harus berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain selama 20 tahun pertama hidup saya. Seingat saya, saya telah tinggal di 9 negara dengan 6 bahasa berbeda. Saya lahir di Jakarta dan menghabiskan 15 tahun di sana.

Saya cinta betul Indonesia (sampai sekarang) – khususnya dongeng rakyat dan sastranya; saya berterima kasih pada pengasuh saya, yang mengenalkan saya dongeng dan sastra Indonesia. Saya terkesan melihat bagaimana pria bertampang jinak seperti Chairil Anwar mampu menulis puisi ‘berbahaya’ dengan penggunaan diksi yang gahar. Juga, dulu itu saya cakap berbicara dalam bahasa Indonesia. Tapi, selama lima tahun berikutnya, saya dibuat pusing tujuh-keliling. Saya harus kerap berpindah-pindah, ayah yang minta begitu – mungkin karena pekerjaannya, mana saya tahu. Dari Okinawa, New York, Hamburg, Reykjavik, New Delhi, Taipei, Johannesburg, Rotterdam, dan (akhirnya) Surrey. Terang saja saya alami gegar budaya!

Kalian tahu bahwa sadar tak sadar kita mengejar tujuan yang sama dalam hidup ini – memajan matra diskursif dari pengetahuan, kuasa, dan relasi sosial sebagai medan determinasi pada kehidupan emosional. Itulah yang saya bidik selama hidup ‘mengembara’, pindah-pindah dari satu negara ke negara lainnya. Tapi, kehidupan emosional saya diganggu oleh faktor bahasa. Seperti yang dikatakan ‘guru’ saya, Jacques Lacan, harga bagi ‘pengetahuan’ manusia adalah bahwa dorongan-dorongan ini harus tetap tak diketahui. Yang paling mendasar bagi tiap entitas manusia ialah yang paling asing. Itulah yang persis terjadi pada saya! Saya orang asing, secara harfiah. Saya adalah saya atas dasar sesuatu yang hilang dari saya – pemahaman kita terhadap orang lain – yaitu sisi lain dari belahan yang darinya ketaksadaran kita muncul. Karena halangan bahasa, ‘bahasa’ itu sendiri adalah ‘pengetahuan yang hilang’ dalam diri saya. Karena saya mengalami ‘sesuatu yang hilang’ ini sebagai sebuah kekurangan, saya berhasrat untuk menutupnya, mengisinya, menggantinya dengan sesuatu. Lacan menyebut kekurangan ini sebagai hasrat. Hasrat adalah hal yang tak bisa dipuaskan meski keinginan terpenuhi. Semua kebutuhan saya seketika tergubah menjadi hasrat yang tak bisa terpenuhi secara memuaskan.

Itu mengapa seksualitas (dan, menurut saya, tentu saja termasuk bahasa) tak bisa dianggap sebagai hasil dari sebuah kebutuhan. Ia adalah penyebab sebuah kebutuhan! Bawah-sadar mengejawantahkan diri dengan mentikonya (mentiko muradif dengan keras kepala – red.) mengisi ‘celah’ yang telah ditinggalkan oleh hal yang dirasa kurang pada saya: bawah-sadar itu sendiri! Busyet! Bisa kalian bayangkan saya harus mengganti Anak Semua Bangsa-nya Pramoedya Ananta Toer dengan Faust-nya Goethe? Mengganti Minke dengan Faust? Dan (di sisi logis saya) ngapain Minke memohon pada Iblis untuk memperoleh pengetahuan seperti yang dilakukan Faust? Sial! Saya tak bisa menemukan korelasinya dan saya bingung! Itu dua dunia berbeda dan saya dipaksa untuk mencampur-adukkannya dengan semerta, oleh yang orang-orang yang disebut sebagai ‘guru-guru’ saya itu. Mereka bilang, “Ini cara kau belajar – melupakan ‘pengetahuan yang hilang’ dan mulai sesuatu yang baru”. Tapi, gila aja, saya tak bisa begitu mudahnya mengganti Wayang Kulit dengan sandiwara Noh begitu. Itu kan… beda.

Masalah bedebah saya yang lain adalah perihal penggantian tertanda-penanda, seperti dalilnya Saussure itu. Seperti kita tahu, makna dihasilkan tidak hanya oleh hubungan antara penanda dan tertanda tapi juga, secara krusial, oleh posisi penanda dalam hubungannya dengan penanda lain (dalam sebuah konteks terberi). Saat teori Saussure diletakkan bersama dengan teori psikoanalisis (dalam hal ini, teorinya Freud) tak sukar melihat bahwa pergerakan penanda, yang membangkitkan makna, secara mendasar mesti tetap tak-sadar. Makna hanya dapat bertempat di apa yang disebut Lacan ‘rantai tandaan’. Maka penanda lebih utama dibanding tertanda, yang artinya bahwa makna dihasilkan bukan oleh makna normal dari sebuah kata tapi oleh tempat yang diduduki kata tersebut dalam rantai tandaan.

Saya pikir saya tak lagi punya rantai tandaan ini. Bayangkan saja, saya harus mengganti aku ke watashi, lalu ke I, lalu ke Ich, lalu ke meg, lalu ke wo, lalu ke mij, dalam lima tahun! Keadaan ini meremukkan penanda aku saya. Rantai tandaan saya tercerai-berai. Rasanya seperti imajinasimu terhadap sesuatu yang ditandakan luluh-lantak oleh bahasa yang benar-benar baru yang harus dipelajari dalam sekejap mata.

Konsep metafora dan metonimi saya pun lumat. Dua sumbu bahasa ini – penggantian dan pemindahan – bertaut-padan dengan kerja bawah-sadar. Metonimi, yang mengiringi bahasa di sepanjang sumbu sintagmatiknya, bertaut-padan dengan pemindahan hasrat yang mencirikan kerja mimpi. Sementara itu, metafora bertaut-padan dengan sumbu paradigmatik, sumbu penggantian dan, karenanya, bertaut-padan dengan aspek pengikhtisaran dimana bentuk-bentuk berbeda dapat diganti atau diikhtisarkan ke dalam satu bentuk saja lewat sebuah titik simpul yang kelewat-kukuh. Seterusnya di bawah-sadar, perang bahasa baru-lawan-lama di kepala saya ini dapat digambarkan sebagai Penanda di atas tertanda.

Bawah-sadar dibangun dengan cara yang sama seperti kemampuan intrinsik kita untuk bicara. Hasrat saya selalu tak terpuaskan dan dipindah dari penanda yang satu ke yang lain atau diganti – ke penanda yang lain – dan seluruh proses ini menciptakan sebuah ‘rantai penanda’ yang tetap tak-sadar tapi yang, seperti bawah-sadar itu sendiri, meninggalkan jejak dirinya, jejak yang bisa dibaca.

Metonimi saya mengikuti garis mendatar penanda-penanda, yang tak pernah melewati palang (represi) yang menuju pada tertanda dan pada arti. Persis seperti hasrat yang selalu ditunda dari satu objek ke objek berikutnya, begitulah penanda menghalau arti selagi mengikuti rantai mendatar. Setiap penanda yang gagal melewati palang bermakna sama. Ia menandakan kekurangan (hasrat).

Di titik lain, metafora saya ditempatkan dalam sebuah relasi tegak-lurus. Satu penanda dapat berganti menjadi tertanda bagi penanda lain. ‘Melewati palang’ itu betul-betul tindakan satu penanda menjadi tertanda dengan mengambil tempat yang tadinya diperuntukkan bagi tertanda itu sendiri. Astaga, seandainya saya punya konektor VGA di kepala saya, saya akan sambungkan dengan proyektor dan membuat kalian dapat melihat kebingungan yang saya alami dalam kepala saya.

Alhasil, sekarang saya hanya bicara satu bahasa (Inggris) – karena saya tinggal di Britania Raya. Bahasa Indonesia saya juga jadi kacau. Saat saya bermimpi, kadangkala saya mimpi dalam 6 bahasa, tapi tak satupun yang bisa saya lafalkan. Kini saya tengah menjalani perawatan psikiatris karena saya diduga mengalami sindroma Asperger – kadang butuh 15-30 menit dulu baru kata pertama dapat terucap dari mulut saya ketika saya bicara dengan orang yang tak saya kenal dan/atau orang asing. Saya terka, ini karena ‘rantai tandaan’ saya telah putus. Penyebabnya: 6 bahasa laknat yang menyerbu otak saya dalam 5 tahun.
Jadi, jangan terlalu multilingual. Kalian bisa bernasib sama dengan saya nanti. 😉

*Dulunya penutur bahasa Indonesia. Kini bekerja sebagai kurator di National Gallery, Peckham (London). Tinggal di Surrey.

(+1 jempol)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar