William Labov

15 Maret, 2012 | Edisi: | Kategori: Tokoh Bahasa

Oleh Nikodemus Wuri Kurniawan

Linguistik adalah ilmu yang memiliki banyak varian. Salah satu variannya adalah Sosiolinguistik, sebuah cabang Linguistik yang berkonsentrasi pada efek yang ditimbulkan dari berbagai aspek sosial seperti etnis, gender, dan kelas sosial pada penggunaan bahasa oleh penutur. Ahli bahasa yang kemudian dikenal sebagai bapak Sosiolinguistik adalah seorang ahli bahasa dari Amerika Serikat: William Labov.

Pria kelahiran Rutherford, New Jersey, pada 4 Desember tahun 1927, ini pada awalnya tidak menaruh minat pada Linguistik. Pada tahun 1948 dia mengambil kuliah di Universitas Harvard dan kemudian bekerja sebagai ahli kimia industri dari tahun 1949 sampai tahun 1961. Minatnya pada Linguistik mulai terlihat saat dia mengambil gelar masternya pada tahun 1963. Saat itu ia membuat sebuah tesis yang meneliti tentang perubahan dialek yang terjadi di Martha’s Vineyard, sebuah daerah kecil di Massachusetts. Belum cukup dengan gelar master ia kemudian mendapatkan gelar PhD-nya di bawah bimbingan Uriel Weinreich di Universitas Columbia pada tahun 1964.

Setelah mendapatkan gelar PhD, Labov mengajar di universitas sampai dengan tahun 1970. Labov mendapatkan gelar Profesor Linguistik di Universitas Pennsylvania pada tahun 1971, dan di universitas yang sama 6 tahun kemudian dia menjadi Direktur dari Laboratorium Lingusitik.

Fokus kajian Labov ada pada bahasa lisan yang menurutnya merupakan sesuatu yang cair dan berubah-ubah secara terus-menerus. Ia percaya bahwa untuk memahami perkembangan bahasa seseorang harus memperhatikan kehidupan sosial dari komunitas penutur. Semua penelitian yang dilakukan oleh Labov berpegang pada kepercayaannya ini.

Salah satu penelitiannya yang terkenal dan berpengaruh adalah penelitiannya tentang varian bahasa Inggris di New York pada tahun 1966, yang diterbitkan menjadi sebuah buku dengan judul The Social Stratification of English in New York City. Dalam penelitiannya itu, dia mencoba mengkaji pengucapan konsonan /r/ di kalangan para penutur. Hal ini dilakukannya dengan cara mengamati 3 buah swalayan yang masing-masingnya mewakili kelas bawah, menengah, dan atas. Di setiap swalayan dia menanyakan letak suatu departemen yang sebelumnya sudah dia tahu berada di lantai empat (‘fourth floor’) pada penjaga swalayan. Hasilnya: semakin rendah kelas sosial penutur, semakin kecil pula kecenderungannya untuk mengucapkan konsonan /r/ pada suatu kata.

Bagi Labov, Sosiolinguistik bukanlah sebuah pendekatan yang hanya digunakan untuk menunjukkan adanya korelasi antara faktor-faktor sosial dengan penggunaan bahasa, melainkan untuk menunjukkan bagaimana perubahan bahasa menyebar di dalam masyarakat. Dengan menyandingkan kelas sosial penutur dengan variabel Linguistik yang mereka gunakan, Labov menemukan bahwa perubahan Linguistik cenderung dimulai oleh kelompok sosial tertentu. Kelompok pekerja atas cenderung menjadi agen perubahan Linguistik secara tidak sadar dan biasa melakukannya di percakapan santai. Sementara itu, kelas menengah bawah cenderung melakukan perubahan dalam bentuk standar yang lebih terbuka.

Hingga kini Labov telah menulis berbagai macam buku, di antaranya adalah: The Social Stratification of English in New York City (1966), Sociolinguistic Patterns (1972), What is a Lingusitic Fact (1975), Principles of Linguistic change I, II, III (1996, 2001, 2001), Atlas of North American English (2006). Selain itu dia juga menulis berbagai artikel seperti: “Phonological correlates of social stratification” (1964), “On the mechanism of linguistic change” (1965), “The study of language in its social context” (1970), “Finding out about children’s language” (1971), “The social origins of sound change” (1980), “Regular sound change in English dialect geography” (1992).

Sumber: http://wikipedia.com; An Introduction to Sociolinguistics (Ronald Wardhaugh); Ukessays.com; llas.ac.uk; dan ling.upenn.edu

(+1 jempol)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar