Hancurkan Omong Kosong

13 Maret, 2012 | Edisi: | Kategori: Redaksi Menyapa

Dok.LI/Adit

Frasa omong kosong adalah bukti perhatian manusia penutur terhadap pentingnya makna. Frasa ini adalah metafora, yang mengandaikan tuturan, atau omongan, sebagai suatu wadah yang diisi. Isiannya adalah makna.

Setiap omongan, kita tahu, pasti punya makna. Omongan yang menggunakan kata-kata yang ‘tak-ada’ pun sebetulnya punya makna atau, setidaknya, maksud. Ini artinya, setiap omongan adalah wadah yang punya isi. Lalu, mengapa bisa manusia penutur Indonesia menciptakan frasa omong kosong? Apakah bisa kata-kata tak punya makna, bila makna adalah satu syarat mutlak untuk mengenali kata?

Di sinilah letak keunikan frasa ini. Ia tidak bisa kita pahami secara logika harfiah. Itu mengapa ia saya sebut metafora. Kosongnya sebuah omongan dari makna adalah pengandaian yang menunjukkan bahwa makna harfiah kata-kata, dalam sambung-wicara manusia, kerap kali tidak menjadi pemain utama. Omongan kerap dianggap kosong bila berkelat-kelit, alias ngeles, dari kewajibannya: penyampaian maksud dengan jernih. Omongan juga acapkali diperlakukan sebagai janji, yang punya syarat ‘harus-ditepati’ agar pantas dianggap berisi. Omong kosong adalah tuturan melantur yang kerap bertele-tele, mengelak-ngelak, kesana-kemari, tak tentu arah. Tiga ciri yang terakhir ini cocok dengan satu ungkapan dalam bahasa Melayu yang muradif (semakna) dengan frasa omong kosong, yaitu cakap angin.

***

Ungkapan “Hancurkan Omong Kosong!” menunjukkan kesadaran pembuat ungkapan itu akan bentuk frasa omong kosong yang metaforis. Kata imperatif hancurkan mengacu pada perumpamaan omongan sebagai wadah: wadah yang sarat dengan isian tak perlu, membingungkan, tak-setia-arti, sehingga KOSONG tak bermakna.

Wadah semacam itu, orang Medan bilang, tidak menyimak, melainkan ‘menyomak’ (dari kata semak yang dilafalkan dengan logat Melayu-Medan) dalam ruang percakapan. Maka, lebih baik memang dihancurkan saja.

Wahyu Adi Putra Ginting

Pemimpin Redaksi

(Belum ada jempol)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar