Teori Struktural

7 Maret, 2012 | Edisi: | Kategori: Kultukal

Oleh Nikodemus Wuri Kurniawan

Salam!

Jika suatu saat nanti ada yang bertanya kepada kawan-kawan encik dosen tamu, siapa yang bertanggung jawab atas munculnya teori struktural, jawab saja, “Bukan saya, tapi Ferdinand de Saussure (1857-1913)!”

Ya, pandit Swiss ini, yang terkadang disebut Bapak Linguistik Modern, memberi pengaruh besar pada perubahan penekanan dalam analisis bahasa. Karena pengaruhnya, analisis bahasa pada abad ke-20 lebih menekankan deskripsi bahasa daripada perubahan bahasa, yang dianut pada abad sebelumnya. Para linguis mulai berfokus untuk mendeskripsikan sebuah bahasa pada masa tertentu. Ajaibnya, si Bapak ini meninggal tanpa pernah menulis karya besar tentang linguistik umum. Untungnya, tepat setelah kematiannya, para mahasiswanya mengumpulkan catatan-catatan kuliahnya dan diterbitkan dengan judul Course in General Linguistics, yang melesakkan pengaruh besar dalam pengajaran linguistik, khususnya di Eropa. Lalu, bagaimana gambaran teori struktural ini? Mari kita pelajari!

1. Teori struktural memandang bahwa setiap bahasa memiliki strukturnya sendiri (berbeda dengan teori tradisional yang menganggap bahwa semua bahasa mesti berciri seperti bahasa Latin dan Yunani kuno).

2. Teori ini pusat perhatiannya adalah bunyi; maka definisi bahasa, ditinjau dari kacamata teori struktural, adalah ujaran, sedangkan bentuk-bentuk lain selain ujaran, termasuk tulisan, bukanlah bahasa.

3. Sebab itu, teori ini punya jasa besar dalam kajian sistem bunyi bahasa; selain itu, morfologi juga mendapat porsi riset yang besar – sintaksis belum dipelajari secara mendalam oleh strukturalisme, meskipun sudah ada hasilnya bagi bahasa, dalam bahasa Inggris misalnya.

4. Teori ini memandang bahwa bahasa merupakan suatu kebiasaan – tanpa dilatih atau dibiasakan, seseorang mustahil bisa berbahasa.

5. Kaum strukturalis (Amerika) membagi kata bahasa ke dalam dua golongan besar, yaitu kata kelas (kategori yang bersifat terbuka, bisa menerima tambahan anggota baru atau mungkin kehilangan anggota yang lama) dan kata tugas (kategori yang bersifat tertutup sehingga sangat sulit menerima anggota baru dan jumlahnya pun sangat terbatas).

6. Dalam hal ini, kaum strukturalis Amerika tidak menggunakan istilah nomina, verba, ajektiva, dan adverbia; namun, sebagai gantinya, menggunakan istilah kelas (Kelas I, Kelas II, Kelas III, dan Kelas IV) –  sedangkan untuk kata tugas, mereka akan menggunakan huruf, misalnya (kata tugas A, B, C, dst.).

7. Ahli bahasa yang beraliran struktural, antara lain, adalah Ferdinand de Saussure, Leonard Bloomfield, E. Nida, Ch. F. Hockett. Edward Sapir, N.S. Trubetzkoy, W.F. Mackey, Roman Jakobson, dll.

Sumber:

Aitchison, Jean. 1978. Linguistics. New York. Hodder and Soughton.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1983. “Pedoman Penulisan Tata Bahasa Indonesia”. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

(+3 jempol)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar