Bahasa Indonesia yang Munir dan Rendra (Sebuah Pengantar)

7 Maret, 2012 | Edisi: | Kategori: Tulisan Musiman

BAHASA INDONESIA YANG MUNIR DAN RENDRA[1]

Oleh Wahmuji dan Wahyu Adi Putra Ginting

1. Bahasa Indonesia itu bernama ‘Baik dan Benar’

Sungguh, kita dan generasi-generasi jang akan datang berterima kasih kepada pemimpin-pemimpin dan generasi-generasi terdahulu jang telah melahirkan Sumpah Pemuda pada tahun 1928:

mengaku berbangsa satu, Bangsa Indonesia;

mengaku bertanah air satu, Tanah Air Indonesia;

mengaku berbahasa satu, Bahasa Indonesia.

Nukilan barusan dikutip dari Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia Djendral Soeharto, yang dibacakan “didepan (sic!) Sidang Dewan Perwakilan Rakjat 16 Agustus 1972”[2]. Mungkin ini adalah usaha pertama yang dilakukan untuk memelesetkan isi Sumpah Pemuda 1928, khususnya butir ke-3, butir pendakuan pemoeda atas bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu nusantara Indonesia. Butir ke-3 seharusnya berbunyi: “Kami, putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.” Mengapa pembelokan ini terjadi? Apa maksudnya? Udang-politik apa yang berada di balik batu-pidato itu? Sebelum pertanyaan-pertanyaan tersebut kami jawab, mari kita perhatikan kelanjutan dari pidato sakti tersebut.

Pidato tersebut tidak lebih lanjut membahas perihal ‘Bangsa Indonesia’ atau ‘Tanah Air Indonesia’, melainkan tentang ‘Bahasa Indonesia’, kecintaan terhadapnya, dan pembinaannya.

Memiliki bahasa nasional mengharuskan adanja ketjintaan kepada bahasa nasional itu; dan ketjintaan kepada bahasa nasional mengharuskan adanja pembinaan jang teratur. Bahasa itu hidup dan berkembang. Tanpa pembinaan, hidupnja tanpa arah. Melalaikan pembinaan sama buruknja dengan membiarkan bahasa jang kita tjintai ini rusak.

Perhatikan logika diskursif dari pidato itu. Setelah membelokkan butir ke-3 Sumpah Pemuda dengan mengatakan “berbahasa satu, bahasa Indonesia”, narasi lanjutan yang dihadirkan adalah “pembinaan bahasa Indonesia”. Kata dasar dari pembinaan adalah bina (kata kerja), yang bermakna ‘bangun sesuatu (negara, orang, dsb) supaya lebih baik’. Pembinaan dianggap teramat penting karena “melalaikan pembinaan sama buruknja dengan membiarkan bahasa jang kita tjintai ini rusak”. Seperti apa rupanya cara pembinaan bahasa Indonesia ini? Menurut wacana di pidato kenegaraan itu, inilah metodenya:

Langkah-langkah jang penting adalah pembakuan bahasa kita; jang meliputi pembakuan tata bahasa, pembakuan: peristilahan dan pembakuan edjaan. Pembakuan edjaan kita dahulukan, karena pembakuan edjaan ini merupakan landasan bagi pembakuan tata bahasa dan pembakuan peristilahan.

Itulah jalur pembinaan bahasa yang ditempuh: pembakuan – baik di ranah tata bahasa, peristilahan, dan ejaan. Barisan pun dirapatkan. Aba-aba sudah berkumandang. Derap langkah maju-jalan dimulai. Langkah pertama adalah pembakuan ejaan. Di pidato kenegaraan itu, alasan mengapa pembakuan ejaan dipilih sebagai langkah awal terlihat mengada-ada dan hanya berlagak linguistik saja. Sukar sekali untuk membayangkan bahwa, dalam perkara bahasa Indonesia, tata-eja dapat mempengaruhi (atau, menjadi “landasan” bagi) pembakuan tata bahasa dan peristilahan. Benarkah pembakuan eja [oe] menjadi [u], yang mengubah ejaan boekoe menjadi buku menjadi landasan bagi tata bahasa baku kalimat bahasa Indonesia yang kini kita kenal berpola Subjek-Predikat-Objek? Kami menolak untuk percaya dengan alasan itu. Yang jelas, pembakuan ejaan tidak berhasil menjadi landasan bagi presiden ke-2 RI itu untuk berniat mengubah ejaan namanya dari Soeharto menjadi Suharto. Perkara pembakuan alias penyesuaian alias penyempurnaan alias pengubahan ejaan ini akan kami bahas nanti. Sekarang, kita pusatkan perhatian pada satu kata kunci yang telah muncul: “pembakuan”. Dari mana datangnya binatang bernama “pembakuan” ini? Mari, duduk tenang, jangan panik, kencangkan sabuk pengaman Anda, bersama kita naiki pesawat-waktu untuk berkunjung ke nusantara di akhir abad 16.

***

Selamat datang di Aceh tahun 1599. Di hadapan Anda kini duduk seorang lelaki Belanda yang meringkuk dalam penjara. Dialah Frederick de Houtman, saudara laki-laki Cornelis de Houtman (pelaut-penj[el]ajah Belanda yang pertama sekali berlayar menuju Hindia Timur empat tahun sebelumnya). Mungkin untuk menyibukkan diri sambil menunggu keluar dari penjara[3], Frederick mengisi dua tahun masa tahanannya dengan mengumpulkan kosakata Melayu-Belanda, serta mendaftar beragam percakapan bahasa Melayu dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Belanda. Catatan-catatan yang dirangkum Frederick ini kemudian diterbitkan di tanah-asalnya pada tahun 1603. Inilah penerbitan pertama[4] informasi tentang bahasa Melayu yang bisa didapatkan di Eropa[5].

Terbitnya catatan-catatan Frederick segera disusul oleh berbagai penerbitan lain tentang bahasa Melayu, yang kebanyakan dilakukan oleh orang-orang Belanda di Maluku. Salah satu yang penting adalah buku tata bahasa Melayu yang digarap Joannes Roman, seorang misionaris Protestan, pada tahun 1674. Konon, inilah buku tata bahasa Melayu pertama (yang dikerjakan oleh cendikiawan Barat)[6]. Usaha-usaha perumusan ala Barat ini merupakan jalan yang menuju proses pembakuan bahasa Melayu.

Kita lompati sisa abad 17 dan abad 18[7]. Sekarang kita kunjungi pertengahan abad 19, masa ketika kebutuhan akan pembakuan bahasa Melayu mencapai puncaknya. Di masa ini, otoritas Belanda membuat perencanaan pembakuan bahasa Melayu dengan lebih sistematis dan sengaja. Salah satu tokoh penting yang dikirim untuk meneliti bahasa ini, yang telah lama menjadi basantara[8] bagi sambung-wicara masyarakat nusantara, adalah H.C. Klinkert. Dia didaulat oleh pemerintah kolonial Belanda untuk menjelajahi jantung pulau Sumatera. Misinya: mencari tipe-asli bahasa Melayu – dalam arti, bahasa Melayu yang paling murni – untuk direkayasa menjadi bahasa baku yang dapat dipakai sebagai bahasa birokrasi, administrasi, dan penyebarluasan pemikiran/logika Barat[9]. Klinkert menemukannya! Ialah bahasa Melayu Riau-Johor, yang telah lama diduga sebagai bentuk paling asli paling murni dari bahasa Melayu – lalu disebut Melayu Tinggi[10]. Ragam inilah yang dijadikan landasan untuk merancang bahasa Melayu baku.

Contoh usaha pembakuan lain terendus dari rencana pembuatan kamus bahasa Melayu.  Untuk persiapan penyusunan kamus baru itu, seorang linguis bernama H. von de Wall berkelana ke Riau dan Semanjung Malaka di tahun 1850-an untuk mengumpulkan bahan-bahan bahasa Melayu yang “murni dan benar (!)”[11]. Karena percaya bahwa bahasa Melayu Riau itu “murni”, von de Wall tak melibatkan sumber-sumber tulisan susastra. Hal ini malah membuatnya tak berhasil menyusun kamus seperti yang didambakan oleh Belanda. Hadirlah H.N. van der Tuuk, yang mengkritik metode van de Wall. van der Tuuk malah memilih sumber tulisan alih-alih lisan. Hal yang sama juga dilakukan oleh Klinkert, yang kecewa dengan bahasa Melayu Riau lisan dan berpaling ke tulisan sebagai sumur tempatnya menimba bahan[12].

Orang yang pengaruhnya tidak bisa lupakan dalam usaha pembakuan bahasa Melayu adalah C.A. van Ophuiysen. Pada tahun 1896, van Ophuiysen ditugaskan oleh pemerintah Belanda untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan bagi perumusan ejaan baku bahasa Melayu dalam abjad Latin, agar dapat digunakan sebagai bahan pengajaran di sekolah-sekolah. Dia menjelajahi daerah-daerah seperti Johor dan tempat-tempat lain di Semenanjung Melayu dalam rangka mencari pelafalan yang “termurni”. Hasilnya adalah Kitab Logat Melayu: Woordenlijst voor de spelling der Malaisch taal met Latijnsch karakter (Ind. Kitab Logat Melayu: Daftar-kata untuk ejaan bahasa Melayu dengan abjad Latin). Dalam kitab yang diterbitkan di tahun 1901 ini termaktub 10.130 kosakata Melayu dengan ejaan baru, yang dilandaskan pada tata eja bahasa Belanda; maka /cantik/ ditulis tjantik dan /nyonya/ ditulis njonja. Setahun kemudian, 1902, buah dari pekerjaan tangan van Ophuiysen mulai diterapkan lewat Direktorat Pendidikan, khususnya untuk pendidikan bumiputera – dengan catatan, semua khalayak yang terlibat dalam pelaksanaan pendidikan tersebut harus menggunakan tata ejaan dan 10.130 kata yang maktub dalam kitab yang direkayasa van Ophuiysen. Ini berarti bahwa kosakata Melayu yang tak terekam di kitab itu dianggap tak-terterima dalam bahasa Melayu yang diajarkan di sekolah. Cengkraman pengaruh van Ophuiysen dalam pembakuan bahasa Melayu semakin dalam saat di tahun 1910 dia meluncurkan karya berikutnya: tata bahasa Melayu[13].

Tata eja, kosakata, dan tata bahasa hasil rekayasa van Ophuiysen dilesapkan ke dalam lumbung bahasa para siswa yang terlingkupi sistem pendidikan Belanda. Agungnya pengaruh van Ophuiysen dalam dunia sekolah di awal abad 20, dalam hal hasil kerja linguistiknya pada bahasa Melayu, telah melicinkan jalan bahasa Melayu Klasik sebagai landasan bahasa Melayu Sekolahan – bahasa Melayu yang diajarkan sekaligus digunakan sebagai wahana sambung-wicara dalam pendidikan formal. Bahasa Melayu Sekolahan ini dengan segera menjadi panduan penggunaan bahasa yang “benar”; dan sebagai ragam bahasa yang paling kerap digunakan dalam karya-tulis. Apa yang dituai dari sawah yang subur karena pupuk kimia ini? Tentu saja, bahasa Melayu baku hasil rekayasa van Ophuiysen menjadi pondasi pembakuan bahasa Indonesia baku-formal[14].

***

Pembaca, berpeganganlah! Segera kita akan melakukan beberapa lompatan kuantum dengan pesawat-waktu kita. Dengan cepat kita akan melihat beberapa lintasan peristiwa penting yang merupakan adegan-adengan lanjutan pasca-Ophuiysen. Kita mulai dari 1908.

Di tahun itu, pemerintah Belanda mendirikan Commissie voor de Volkslectuur (Komisi Sastra Populer), yang kemudian berfungsi untuk menerbitkan karya-karya sastra, atau disebut “bacaan-bacaan ringan”[15], bagi bumiputera. Bahasa yang digunakan dalam pustaka-pustaka yang diterbitkan oleh lembaga ini adalah bahasa Melayu Sekolahan. Lembaga ini kemudian berubah nama menjadi Balai Pustaka pada tahun 1917. Karena menerbitkan begitu banyak bahan-bahan pendidikan yang modern dan informatif, dengan cepat Balai Pustaka menjelma sebagai kekuatan dahsyat penyebar bahasa Melayu. Perlu dicatat bahwa Balai Pustaka hanya menerbitkan buku-buku yang ditulis dengan bahasa Melayu Tinggi (sama saja dengan Melayu Baku atau Melayu Sekolahan). Karya-karya sastra yang ditulis dengan bahasa Melayu Rendah (sama saja dengan Melayu Pasar), umumnya karya yang disebut dengan sastra Cina-Peranakan, tak akan pernah mencicipi tinta cetak lewat penerbitan Balai Pustaka.

Di dasawarsa awal abad 20, penggunaan bahasa Melayu dalam mediamassa cetak semakin menggalak. Tercatat ada 40 suratkabar pada tahun 1918; dan jumlah ini membengkak menjadi 250 suratkabar pada tahun 1925 – dan kebanyakan dari suratkabar tersebut menggunakan campuran bahasa Melayu Tinggi dan Melayu Rendah, walau lebih sering mengacu pada ragam bahasa lisan daripada tulisan. Hal ini dilakukan agar suratkabar tersebut “dapat dibaca” oleh masyarakat bumiputera, yang saat itu lebih akrab dengan Melayu Pasar, dan bukan Melayu Tinggi (Melayu Sekolahan).

Semakin meluasnya penggunaan bahasa Melayu di nusantara, dipadu dengan gejala percampuran bahasa Melayu Tinggi dan Melayu Rendah, membuat bahasa Melayu semakin berkembang. Pengaruh pers dalam bahasa Melayu, bahasa Melayu Tinggi racikan van Ophuiysen, serta masukan banyak kosakata dari bahasa Belanda (ingat: banyak pengguna bahasa Melayu Sekolahan adalah orang-orang yang mengecap pendidikan Belanda), saling merasuk sehingga membentuk satu ragam bahasa Melayu lagi: Melayu Halus Umum[16]. Ragam ini mendapatkan bentuk stabilnya, khususnya dalam ragam bahasa tulis, pada tahun 1930 dan digunakan dalam ruang wicara yang lebih beragam lagi. Ciri linguistik dari bahasa Melayu Halus Umum ini adalah pranata sintaksisnya yang semakin rumit dan pranata morfologisnya yang semakin teratur.

Empat tahun sebelumnya, 1926, diselenggarakanlah Kongres Pemuda I di Batavia. Di masa ini, telah menyebar gejala pemakaian bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan. Di masa itu juga, nama “Indonesia” sudah kerap dipakai, khususnya dalam nama-nama partai politik nasionalis. Di kongres itu, penyair Muhammad Yamin menggambarkan kemungkinan untuk menetapkan bahasa nasional. Dari dua bahasa yang paling mungkin menjadi bahasa nasional (Jawa dan Melayu), bahasa Melayu lebih dipilih karena keluasan wilayah penggunaannya. Seorang penyelenggara kongres lain, Mohamad Tabarani, mengusulkan bahwa nama bahasa nasional tersebut harus sesuai dengan nama negara dan bangsa yang akan diperjuangkan: Indonesia[17]. Hal ini disetujui, tapi peresmiannya ditunda.

Sampailah kita di Batavia, Oktober 1928, tempat dan waktu penyelenggaraan Kongres Pemuda II. Di kongres inilah tercetus sebuah sumpah bersama, Sumpah Pemuda. Dan isi dari butir ketiga sumpah tersebut merupakan pernyataan politik pemuda Indonesia atas bahasa persatuan mereka: Kami, putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Nama bahasa Indonesia tidak serta-merta mendapat tempat di hati para penggunanya. Baru pada tahun 1933 pers menggunakan nama tersebut. Banyak pula guru sekolah bernalar konservatif yang menolak rumusan bahasa Indonesia itu. Setahun sebelumnya, muncullah satu sosok yang nantinya berperan besar dalam usaha pembakuan bahasa Indonesia. Namanya Sutan Takdir Alisyahbana (STA). STA menghantam wajah bahasa Belanda dengan mengatakan bahwa keberadaan bahasa Belanda di Indonesia semakin tertekan oleh bahasa Melayu. STA adalah pendukung dahsyat penggunaan bahasa Melayu. Untuk usaha pengembangan bahasa Melayu, di tahun 1933, STA membangun sebuah majalah bertajuk Pujangga Baru. Lewat majalah inilah STA dan para karibnya, seperti Amir Hamzah dan Armijn Pane, berjuang memodernkan bahasa Indonesia. STA adalah penentang penggunaan bahasa Melayu Sekolahan (yang berlandaskan bahasa Melayu Klasik) karena menganggap bahasa tersebut sudah usang dan perlu diganti dengan sebuah konsep bahasa baru yang lebih modern dan berorientasi pada ilmu pengetahuan, teknologi, dan ekonomi modern, dan, baginya, orientasi ini tak pelak pasti punya konsekuensi terhadap tata bahasa[18].

STA belum berhenti di situ. Karena merasa jijik dengan Kongres Bahasa Jawa (Yogyakarta, 1936) yang dilihatnya tak hendak membicarakan hal-hal politik dan hanya berkutat pada permasalahan bahasa saja, pada tahun 1938, dia bersama kelompok Pujangga Baru menggagas penyelenggaraan Kongres Bahasa Nasional Indonesia I, yang mengambil tempat di Surakarta, Jawa Tengah. Di kongres inilah tercapai kesepakatan untuk menggunakan tata eja garapan Ophuiysen sebagai tata eja bahasa Indonesia; kesepakatan lain, yang berdasar pada kritik pedas STA terhadap tata bahasa Melayu Klasik, ialah penggubahan tata bahasa Melayu Klasik ke dalam bentuk yang lebih modern[19]. Dimulailah masa awal pembakuan bahasa Indonesia.

***

Pembaca, mari kembali ke masa kini. Tentu saja, lompatan-lompatan kuantum yang kita lakukan dengan pesawat-waktu kita tidak dimaksudkan untuk mengabaikan peristiwa-peristiwa penting lain yang berhubungan dengan pengembangan bahasa Indonesia. Tentu saja kita tidak boleh melupakan tahun 1942, saat Jepang mempraktikkan strategi penaklukan lompat-kodok, menguasai Pasifik dan Asia Tenggara. Di tahun inilah lahir sebuah lembaga pembakuan bahasa Indonesia lain, Komisi Bahasa. Tentu saja kita tidak boleh melupakan tahun 1945, tahun kemerdekaan Indonesia, saat bahasa Indonesia diresmikan sebagai bahasa negara lewat UUD 1945. Tentu saja kita tidak boleh melupakan tahun 1947, saat tata eja Ophuisyen digubah menjadi Ejaan Soewandi (yang bernama formal Ejaan Republik). Tentu saja kita tidak boleh melupakan tahun 1949, saat pertama kalinya terbit buku Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia karangan STA. Tapi, mari kita kembali ke pembahasan awal kita soal kata kunci “pembakuan”.

Di awal kunjungan kita ke masa lalu bahasa Indonesia tadi, beberapa kali kita temui pemeo “benar”, “termurni“, dan “murni dan benar”. Inilah salah satu motif penting dari pembakuan bahasa. Dalam kepala para ahli-bahasa dari Belanda itu, baik van de Wall, van der Tuuk, H.C. Klinkert, dan van Ophuiysen, pembakuan bahasa ditujukan untuk memperoleh bentuk ideal sebuah bahasa. Karena obsesi pada sesuatu yang ideal inilah maka mereka bersusah-payah mencari bahasa Melayu paling murni untuk dipakai sebagai landasan pembakuan bahasa Melayu yang mereka dambakan. Lihat betapa angkuhnya van Ophuiysen (dan pemerintah kolonial Belanda yang ada di belakangnya) ketika menetapkan bahwa hanya 10.130 kosakata Melayu yang termaktub di Kitab Logat Melayu-lah yang dianggap sebagai kosakata baku. Hanya kosakata yang tertera di kitab itulah yang benar, lainnya salah. Betapa kurus-keringnya bahasa Melayu ciptaan van Ophuiysen ini. Betapa ia sesungguhnya tak mampu mewakili ekspresi pikiran para penutur bahasa Melayu. Dan lihatlah juga bahwa cukup seorang van Ophuiysen saja untuk secara linguistik merumuskan bahasa Melayu yang diajarkan sekaligus digunakan dalam dunia sekolahan. Inilah inti dari pembakuan bahasa – tidak perlu persetujuan penutur untuk merumuskannya; cukup cari sekelompok kecil ahli-bahasa saja, gunakan beberapa penutur yang dianggap paling baik bahasanya sebagai sumber bahan, lalu rumuskan di balik meja, ajukan pada si empunya kuasa untuk disetujui dan diresmikan, dan jadilah dia. Itu sudah!

Kita tidak perlu heran mengapa paradigma bahasa Indonesia yang diajukan dalam pidato kenegaraan presiden RI ke-2 Suharto tetap mengusung pemeo “baik dan benar”. Ini tak lepas dari metode yang dilakukan untuk pembinaan bahasa Indonesia: pembakuan yang nalarnya diwarisi dari cara berpikir Barat (Belanda). Seperti yang sudah kita bicarakan tadi, hasil kerja linguistik van Ophuiysen punya sumbangan besar sekali terhadap pembentukan bahasa Indonesia baku-formal. Dan nalar “baik dan benar” termasuk dalam sumbangan itu. STA, terlepas dari sikap kritisnya terhadap bahasa Melayu Klasik (Melayu Sekolahan), yang dianggapnya usang dan tak bisa mewakili tata-pikir budaya Indonesia modern, sebenarnya juga tak lepas jiwa pembakuan. Obsesinya terhadap kedinamisan budaya Barat, niatnya untuk merumuskan tata bahasa Indonesia yang berkiblat pada ilmu pengetahuan, teknologi, dan ekonomi modern (semuanya dari Barat), diperparah oleh tiadanya kesadaran bahwa bangsa yang bahasanya sedang dia bicarakan itu adalah bangsa terjajah, membuat STA menjadi tatabahasawan yang tak membumi. Nanti kita bicarakan peran STA dalam pembinaan bahasa Indonesia ini.

***

Paradigma bahasa Indonesia yang baik dan benar jelas-jelas merupakan paradigma warisan penjajah. Entah sadar atau tidak, rezim Orde Baru melakukan hal yang sama terhadap pembakuan bahasa Indonesia. Mungkin karena mazhab pembakuan ini sesuai dengan mazhab pembangunan yang diusung oleh rezim yang dipimpin Suharto tersebut. Masalah pelik ini nanti akan kita bahas dengan lebih mendalam lagi. Yang jelas, di sini kami ingin menyatakan bahwa paradigma bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah paradigma usang, yang diruyaki karat-karat neokolonialisme, dan karena itu perlu ditantang, dikritik, dan digubah. Inilah alasan mengapa kami menawarkan sebuah paradigma baru: Bahasa Indonesia yang Munir dan Rendra.

2. Duhai Munir, Duhai Rendra

Seorang figur yang dikenal cukup luas dengan esai-esai politiknya, Eep Syaifullah Fatah, tiba-tiba saja menulis sebuah tawaran yang menarik di kolom bahasa Majalah Tempo, yaitu pembentukan dua kata baru yang berasal dari nama Munir Thalib bin Said, tokoh pejuang HAM yang tewas diracun hampir enam tahun yang lalu, dan Willibordus Surendra Bawana Rendra, penyair kawakan yang baru saja meninggal Agustus 2009 silam[20]. Ia mengajukan kata munir dan rendra sebagai kata sifat. Kata sifat rendra diberinya makna “seseorang atau sekelompok orang yang punya keyakinan teguh akan kebenaran yang ia atau mereka perjuangkan serta pandai menjaganya lantaran menolak menjadi pecundang”; sedangkan munir adalah “seseorang atau sekelompok orang yang tak punya rasa takut karena yakin berada di jalan yang benar”. Nah, Anda yang jeli membedakan jabatan kata dalam kalimat pasti akan mudah mengendus kesalahan yang dilakukan Eep: memberi pola-makna kata benda pada kata sifat. Kita akan membahasnya nanti. Yang menarik dari apa yang dilakukan oleh Eep Syaifullah Fatah adalah gagasannya untuk menciptakan dua kata baru, sesuatu yang justru jarang dilakukan oleh munsyi maupun linguis di rubrik-rubrik bahasa di berbagai media, dan dua nama itu sendiri, Munir dan Rendra.

Ketika mendengar nama Munir, yang muncul di benak sebagian besar masyarakat Indonesia saat ini mungkin adalah kata berani. Itu karena kiprahnya selama belasan tahun di wilayah hukum membela kaum buruh sejak akhir masa kuliahnya dan setelah masuk LBH. Munir dengan gigih menyelidiki dan mengungkap kasus-kasus orang hilang akibat tindakan ABRI pada peristiwa 1998 dengan mendirikan KontraS. Ketenarannya semakin kokoh saat ia dibunuh dengan arsenik dalam perjalanannya ke Belanda untuk melanjutkan pendidikannya.

Munir memang benar seorang pemberani. Sejak kecil, setidaknya semenjak masih di SMP, ia tak bisa membiarkan penindasan terjadi di depan matanya. Ia sering berkelahi dan dikeroyok karena membela orang yang temannya, bahkan orang yang bukan temannya, yang ditindas orang lain. “Itu terjadi secara intuitif karena saya lahir dalam situasi keras. Pas SMP saya udah cari uang sendiri, jadi pedagang kaki lima, jual sepatu, pulang sekolah sampe jam sepuluh malem,” katanya dalam sebuah wawancara[21].

Ada sebuah peristiwa penting dalam hidup Munir yang tidak bisa dilupakannya. Setiap hari ia disuruh ibunya mengantar makanan pada seorang tua yang dianggap tidak waras yang tinggal di kamar mungil di belakang sebuah rumah di Batu, Malang. Bangunan kecil itu tidak boleh dibongkar oleh pembeli rumah itu sebelum penghuninya meninggal. Begitulah bunyi perjanjian jual-beli atas rumah itu. Suatu hari, saat mengantarkan makanan, Munir bersama adiknya melihat orang tua itu meninggal dengan obeng tertancap di lehernya. Mereka lari dan memberitahu orang-orang. Orang-orang berdatangan dan orang tua itu segera dimakamkan. Karena dianggap tidak waras, tidak ada keluarganya yang datang. Usai pemakaman, Munir menceritakan kejadian itu kepada kakaknya. Mendengar cerita Munir, kakaknya marah dan bilang, “Kenapa kau nggak lapor polisi? Kau biarkan pembunuhan itu terjadi?” Meski takut, bersama adiknya Munir melaporkan kejadian itu kepada polisi. Itulah kali pertama Munir merasa berhubungan langsung dengan hukum. Saat itu, Munir masih kelas satu SMP[22].

Kejadian itu adalah salah satu latar belakang yang membentuk keberanian Munir.  Keberanian bukan hanya untuk memikirkan sebuah tindakan yang melanggar hukum, tetapi juga, yang lebih penting, keberanian untuk melakukan tindakan pembelaan atas orang yang dilanggar hak asasinya. Dalam perjalanan hidupnya, Munir berhasil mengolah kejadian-kejadian yang mengancam dirinya menjadi tindakan yang justru lebih menantang. Tidak ada yang bisa mencegah dirinya melakukan keinginannya itu, termasuk orang-orang terdekatnya.

Rendra juga merupakan tokoh besar dalam sejarah Indonesia, khususnya di bidang kebudayaan. Nama Rendra sudah mencuat saat ia mempertunjukkan sebuah fragmen “mini kata” berjudul Bip-Bop di TVRI pada 24 April 1968. Namun, ketenaran Rendra yang sesungguhnya bukan karena eksperimen estetika teaternya di awal-awal proses kesenimanannya, tetapi karena sajak-sajaknya yang lugas dan penampilan panggungnya yang heroik. Kegarangannya membacakan puisi terekam dengan baik saat ia berorasi membaca puisi berjudul “Sajak Sebatang Lisong” di ITB pada 17 Agustus 1977 dan “Puisi Pertemuan Mahasiswa” di Universitas Indonesia pada tanggal 1 Desember 1977. Kedua adegan pembacaan puisi itu menjadi bagian dari film “Yang Muda Yang Bercinta” garapan Sumandjaya yang peredarannya dilarang oleh Orde Baru. Setelahnya, Rendra ditahan tanpa pengadilan.

Dalam kedua puisi itulah pokok-pokok pemikiran Rendra dikenal luas. Ia mendambakan seni yang tidak terpisah dari persoalan nyata masyarakat (kemiskinan, pendidikan, dll.). Ia lantang menyuarakan pertanyaan-pertanyaan kritisnya terhadap kebijakan pemerintah Orde Baru. Kata-katanya yang lugas dan tajam mudah dipahami khalayak. Lugas dalam pengertian tidak berbelit-belit, dan tajam dalam pengertian kelihatan galak dan sangat nyata dan jelas. Ia bahkan mampu dengan jitu menyuarakan uneg-uneg protes yang ada di kepala sebagian besar penonton pentas-pentasnya dan pendengar pembacaan-pembacaan sajak-sajaknya[23].

Seiring perjalanan waktu, pemikiran Rendra meluas, tetapi ia tidak meninggalkan gagasan utama dari kedua puisi yang fenomenal itu. Keterhubungan gagasan itu dapat dilihat misalnya pada puisi “Maskumambang” yang dibacakannya pada pentas Sawung Jabo pada Maret 2009. Senada dengan esai-esainya yang terkumpul dalam buku Penyair dan Kritik Sosial, pada puisi itu Rendra membicarakan tentang pentingnya sejarah, pentingnya menghormati hukum alam, hukum masyarakat, dan hukum akal sehat, dan juga pentingnya menjaga daya hidup pribadi dan masyarakat[24].

Atas kontribusi keduanya yang besar pada bangsa Indonesia itulah nama mereka sangat layak dijadikan kata dalam bahasa Indonesia. Dari telaah yang kami lakukan atas perjalanan hidup dan pemikiran Munir dan Rendra, kami memutuskan untuk memberi makna pada kedua kata itu sebagai berikut: munir bermakna berani berpikir dan bertindak tanpa henti melawan penindasan; rendra bermakna lugas dan tajam dalam mengungkapkan kenyataan hidup masyarakat. Makna dari kedua kata itu kami anggap sebagai pengembangan dari makna yang sudah diberikan oleh Eep Syaifullah Fatah yang menurut kami kurang tepat, selain karena dia membubuhkan pola makna kata benda ke dalam kata sifat (perhatikan bahwa Eep memulai definisinya dengan kata “seorang atau sekelompok orang”), juga karena makna yang diberikannya terlalu umum dan membingungkan.

Tahap penciptaan kata dan makna baru telah dilakukan. Tapi kami tidak berhenti di sini. Kami akan menggunakan fitur makna dari kedua kata baru itu sebagai sifat dari paradigma baru bahasa Indonesia, sebagai wacana-tanding atas paradigma tidak-membumi “Bahasa Indonesia yang baik dan benar” dan mitos “pemurnian bahasa” yang masih kerap terdengar. Ambillah sebuah artikel berjudul Memurnikan Bahasa Kebangsaan yang ditulis oleh Ahmad Sahidah, seorang peneliti di Universitas Sains Malaysia[25], sebagai contoh terkini. Artikel itu berisi sinisme terhadap para penutur bahasa Indonesia yang sering mencampur-adukkan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris dan yang sering lebih memilih kata-kata serapan bahasa Inggris daripada kata-kata padanannya dalam bahasa Indonesia. Di beberapa hal, kenyataan linguistik yang dijabarkannya memang benar, terutama mengenai keutamaan menggali kekayaan bahasa Nusantara alih-alih kegemaran menggunakan kata serapan langsung (kata asing yang diserap-mudah lewat pematian lafal dan ejaan). Namun, kesimpulannya yang mengatakan bahwa masyarakat sebaiknya taat pada “bahasa Indonesia yang benar”, dan judul artikelnya yang tuna-sejarah (kemurnian bahasa Indonesia), menunjukkan bahwa pola pembacaannya mengenai gejala berbahasa di Indonesia masih terpaku pada pemeo “baik dan benar” ala pembakuan yang dilakukan Ophuiysen dan mitos tentang bahasa Melayu murni.

3. Kritik! Kritik! Kritik!

Yang benar saja: hari sudah begini siang, matahari sudah begitu tinggi, masih ada pula orang yang berkoar tentang kemurnian bahasa Indonesia. Bagaimana bisa bahasa Indonesia itu murni. Bagaimana mungkin kita “memurnikan” bahasa Indonesia dari bahasa asing? Bahkan bahasa yang menjadi akar dari bahasa Indonesia itu saja sebenarnya bukanlah bahasa Melayu murni. Yang disebut bahasa Melayu itu telah banyak menerima sumbangan kosakata dari bahasa Arab. Yang disebut bahasa Melayu Halus Umum itu telah banyak menerima sumbangan kosakata dari bahasa Portugis, Belanda, Persia, Jawa, Kawi, dlsb. Kata asing yang dikoar-koarkan itu pun sebenarnya sempit sekali maknanya. Yang dimaksud dengan “pengaruh bahasa asing” di situ adalah “pengaruh bahasa Inggris”. Bila mereka, yang mulutnya komat-kamit sampai berbusa-busa bilang “murni, murni, murni” itu, memang berani menerapkan pemurnian bahasa Indonesia dari bahasa asing (dalam arti luas), mereka akan kelu lidahnya karena paling-paling cuma punya 10.130 kosakata yang dahulu kala dipulung oleh van Ophuiysen di akhir abad 19. Bagaimana? Mau tak adil karena kata itu diserap dari bahasa Arab? Mau tidak pakai baju karena kata itu diserap dari bahasa Persia? Mau tak punya adab karena kata itu diserap dari bahasa Arab? Yang benar saja!

Nalar “(pe)murni(an)” ini adalah nalar mimpi-siang-bolong warisan sarjana bahasa pemerintah kolonial ketika melancarkan usaha membakukan bahasa Melayu. Nalar yang menjadi penyandingnya adalah “benar”. “Benar” di sini artinya sesuai dengan kaidah bahasa: tata bahasa, tata eja, tata kata, dan tata lafal yang dibakukan dan yang, katanya, diterima secara luas[26]. Pemilihan kata diterima dalam definisi ini pun sungguh telah dipoles dengan solekan penghalusan. Kata diterima membayangkan proses yang ambigu: diterima secara apa? Terpaksa karena sudah jadi keputusan negara? Pasrah? Sukarela? Atau…?

Pemeo bahasa Indonesia yang baik dan benar menuai banyak sekali kritik. Pada tataran penyusunan tata bahasa, misalnya, bahasa Indonesia yang baik dan benar menganut paham preskriptivisme (tata bahasa resep), yang naga-naganya berakibat pada dikotomi benar-salah dalam penggunaan tata bahasa[27]. Hal ini dikritik habis, terutama dalam bidang pengajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah. Pengajaran bahasa tentunya tidak bisa menggunakan nalar pahala-dosa alias benar-salah karena pelajaran bahasa bukanlah pelajaran moral[28]. Ini semua karena nalar baik dan benar diarahkan untuk mengacu pada yang baku yang standar sehingga mengabaikan ragam dialek yang nyata-nyata punya hidup dalam jagad kebahasaan di Indonesia.

Permasalahan lain yang timbul dari pembakuan lewat mazhab preskriptivisme adalah bahwa bahasa baku yang terumuskan itu lepas dari kenyataan para penuturnya. “Bagaimana kita harus membina dan mengajarkan bahasa kita, kalau kita tidak mengetahui fakta-fakta tentang bahasa kita?”[29] tutur seorang pendekar bahasa Indonesia. Yang pertama sekali harus dilakukan adalah pendeskripsian fenomena bahasa. Sebuah resep tidak akan manjur kalau tidak dituliskan setelah pemahaman menyeluruh tentang gejala-gejala yang terjadi. Sebuah tata bahasa tidak akan adil kalau tidak dirumuskan atas dasar fakta-fakta kebahasaan yang terjadi di tingkat masyarakat penutur. Deskripsikan dulu, baru beri resepnya. Dan proses ini pun haruslah dilakukan terus-menerus dan tanpa tendensi pencarian “bahasa yang murni”, seperti yang dilakukan oleh pakar bahasa dari Belanda terhadap bahasa Melayu Riau itu.

Nah, sekarang kita ingat lagi pidato kenegaraan presiden ke-2 RI yang dibacakan tahun 1972 itu. Pidato itu adalah legitimasi simbolis atas paradigma bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dan, seperti tertulis di situ, metode yang dilakukan untuk menyelenggarakan pembinaan bahasa Indonesia adalah pembakuan. Menariknya, pembakuan ejaan dijadikan langkah awal. Mengapa? Mengapa bahasa Indonesia, dalam kurun waktu 25 tahun saja harus mengalami perubahan ejaan lagi? Mengapa Ejaan Soewandi harus “disempurnakan”?

Jawaban yang kita peroleh dari pidato kenegaraan tersebut sungguh tidak memuaskan. Selain berlagak linguistik, jawaban itu sangat mengada-ada. Kalaupun ada unsur linguistik di luar sintaksis yang bisa mempengaruhi tata bahasa, unsur itu bukanlah ejaan, melainkan pelafalan. Hal inilah yang terjadi di masa peralihan dari bahasa Inggris Tengah ke bahasa Inggris Modern. Perubahan lafal, yang kemudian dikenal dengan gejala Great Vowel Shift, berpengaruh luar biasa pada tata bahasa Inggris, yang dulunya mengenal sistem penanda-kasus dengan instrumen infleksi (biasanya berupa akhiran). Karena perubahan lafal bunyi vokal ini, bahasa Inggris mengalami apa yang disebut dengan sinkretisme-kasus[30]: karena perampingan bunyi vokal berdampak pada perampingan jumlah akhiran-infleksi.

Jawaban lain yang biasa didengungkan atas pembentukan Ejaan yang Disempurnakan (EYD) adalah untuk menyeragamkan jenis abjad dengan negara Malaysia, dalam rangka mempermudah bisnis percetakan pustaka. Alasan ini terdengar masuk akal, walau mungkin dengan percaya terhadap alasan itu kita akan menangkap udang yang salah.

Sebuah jawaban menarik ditawarkan oleh Benedict Anderson, pemerhati Indonesia yang secara akademik bermukim di Universitas Cornell, AS. Dalam esainya yang berjudul Exit Suharto: obituary for a mediocre tyrant[31], Ben menyatakan bahwa EYD adalah bagian dari sebuah rencana besar pemerintah rezim Orde Baru untuk menyebarkan virus amnesia nasional. Bayangkan berapa banyak pustaka dan suratkabar yang sudah tercetak dalam Ejaan Soewandi (yang merupakan produk dari pemerintahan Soekarno di era Orde Lama). Seluruh catatan ini merupakan aset sejarah yang sangat berguna bagi orang Indonesia dalam rangka mengingat, memahami, dan menghayati sejarah negara-bangsanya. Saat ejaan baru diberlakukan dan diajarkan di sekolah-sekolah, para siswa yang masih culun-culun itu akan terbiasa dengan EYD dan tak banyak tahu tentang ejaan sebelumnya. Buku-buku yang terbit pun dicetak dalam EYD. Pertanyaannya: seberapa besar usaha untuk mencetak kembali pustaka-pustaka lama dalam EYD? Rupa-rupanya, kecil sekali, bahkan hampir-hampir tidak ada – mungkin, karena biaya yang terlalu mahal. Maka, dampak dari gejala ini adalah bahwa pustaka-pustaka lama yang menyimpan informasi berharga tentang sejarah Indonesia ini nonggok berdebu diruyaki rayap-kutu entah di mana. Ini sama saja dengan membiarkan sejarah lenyap dibawa angin. Generasi baru jadi susah membaca buku-buku itu karena mereka tidak mengenal ejaannya. Terlebih, buku-buku dengan ejaan lama dianggap sisa-sisa Sukarnoisme dan Komunisme (wow!). Dengan kata lain: baiknya dilupakan saja.

Perkara tata eja ini sebenarnya sudah menjadi masalah panjang di bahasa Inggris. Usul untuk mengubah ejaan yang lebih mirip bunyi lafal diajukan karena banyak penutur muda yang kesulitan mengeja kata-kata bahasa Inggris. Uniknya, usul ini (baik di Amerika Serikat atau di Inggris) tidak pernah dianggap sebagai sebuah tawaran yang menguntungkan. Alasannya ya sama seperti yang terjadi di Indonesia: anak-cucu akan kesulitan belajar “sejarah”. Bayangkan, sebuah usaha yang ditepis di negara lain, diterapkan pula oleh Orde Baru.

***

Bahasa Indonesia yang baik dan benar juga kerap diacu sebagai bahasa yang, selain baku, juga beku dan kaku. Kekakuan ini terasa sekali ketika kita membaca karya-karya ilmiah (katakanlah, skripsi, tesis, disertasi, atau tulisan-tulisan di jurnal ilmiah). Hal ini juga melambangkan bahwa sesungguhnya bahasa Indonesia baku-formal memang lebih kerap digunakan sebagai bahasa tulis, dan bukan lisan. Kecenderungan-kecenderungan untuk menggunakan kalimat pasif dan mengganti kata saya dengan penulis sering kita temui dalam tulisan-tulisan yang menggunakan bahasa Indonesia baku-formal. Siapa nyana, tabiat ini juga warisan dari Belanda. Para sarjana Belanda kerap menyebut diri mereka dengan kata schrijver (penulis) dan menggunakan banyak kalimat pasif untuk menonjolkan sisi objektif tulisan mereka. Biarkan fakta yang bicara: ini hanya fatamorgana. Sesungguhnya, tabiat ini lebih karena dorongan ingin-lepas-tanggungjawab dan bersembunyi di balik teksnya[32]. Maka unsur-unsur asyik bahasa seperti ironi, kiasan, selera-lawak (singkatnya: unsur emotif bahasa), tidak boleh masuk karena menonjolkan subjektivitas yang haram hukumnya hadir dalam karya ilmiah.

Mengapa sukar sekali berbahasa Indonesia yang baik nan benar dalam tataran lisan? Tentu saja. Bahasa Indonesia baku pada dasarnya tidak deskriptif dan tidak berdiri di atas gejala-nyata yang terjadi pada masyarakat penuturnya. Contohnya saja dari bunyi vokal “baku” bahasa Indonesia. STA dalam bukunya Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia merumuskan enam bunyi vokal: /a, i, u, e, é, o/[33]. Bunyi-bunyi ini bahkan kini hanya “dianggap” menjadi lima saja dalam ejaannya: a, i, u, e, o[34]. Tepatkah ini? Apakah perumusan bunyi baku ini telah melewati proses penggambaran gejala lafal pada lidah orang Indonesia? Hanya STA yang tahu. Seperti apa, misalnya, Anda melafalkan huruf ‘u’ dalam kentut. Apakah /kəntut/ atau /kəntout/?

***

Pembakuan, saudara-saudara sekalian, adalah usaha linguistik yang dilakukan untuk memproduksi resep-resep kebahasaan. Dalam perkara pembinaan bahasa Indonesia, ternyata bukan hanya resep-resep saja yang disajikan. Lebih dari itu, ada sebuah “perencanaan bahasa”, sebuah proyek yang dilakukan sebagai landasan-pacu pembinaan bahasa Indonesia. Tapi, konsep perencanaan, yang secara teoretis lebih baku, akademik, dan sengaja ini, tidak datang dari Indonesia. Ia datang jauh dari gugusan pulau di timur Jepang. Gugusan pulau yang menyapa kita dengan kata aloha!

4. Perencanaan Bahasa: Kelompok “Manusia-Ikan” itu Datang dengan Ombak dari Hawaii

Setelah pergantian rezim pada tahun 1965-1966, melalui program penelitian dan beasiswa, Ford Foundation memberikan sumbangan yang sangat besar pada elite cendikiawan Indonesia yang mengamerika dan dan mendukung prinsip-prinsip Orde Baru.[35] Yayasan swasta Amerika ini jugalah yang membiayai sebuah kelompok sosiolinguis Amerika di Hawaii, yang disebut sebagai “Grup Fishman”. Kelompok ini merancang “Perencanaan Bahasa” di negara-negara dunia ketiga.  Alasannya, berbeda dengan negara-negara Eropa, khususnya Perancis dan Inggris yang memiliki negara dulu baru merancang nasionalismenya, di negara dunia ketiga, rasa kebangsaan sudah terbentuk sebelum ada negara. Di negeri Perancis, melalui Akademi Perancis, dan Inggris, melalui Universitas Oxford, identitas kebangsaan melalui bahasa dirancang. Pemerintah tidak campur tangan secara langsung. Sedangkan di negara dunia ketiga, sebagai bagian dari identitas negara yang baru terbentuk, negara dianggap perlu melaksanakan, atau memfasilitasi lembaga untuk melaksanakan, perencanaan bahasa[36].

Maka datanglah Joan Rubin dan Bjorn Jernudd ke Indonesia dengan biaya Ford Foundation. Ia meneliti kelompok-kelompok utama sasaran implementasi peristilahan, pengarang dan penerbit buku pelajaran, serta guru dan murid kelas menengah. Hasil penelitiannya mengungkapkan bahwa lembaga-lembaga kebahasaan Indonesia terlibat secara mendalam dalam penyusunan dan pembakuan peristilahan teknik untuk keperluan sekolah dan lain-lain. Pun demikian, ia juga mengatakan bahwa lembaga-lembaga bahasa Indonesia lebih banyak bekerja “dengan tujuan penelitian dan pembakuan, daripada untuk mempersiapkan dan menerbitkan bahan-bahan khusus pengajaran”[37]. Seperti telah diungkapkan oleh Jerome Samuel, kesimpulannya mengenai pembakuan bahasa perlu dipertanyakan, tetapi bahwa ia berkonsentrasi pada kata “pembakuan” inilah yang penting untuk dicatat. Dalam meneliti wilayah kebahasaan di Indonesia, sosioliguis “Grup Fishman” biasanya mengajak cendikia bahasa dari negara yang diteliti. Di Indonesia, Anton M. Mulyono adalah salah satu orang yang sempat bekerjasama dengan Joan Rubin.

Joan Rubin dan Bjorn Jernudd mendefinisikan perencanaan bahasa sebagai perubahan bahasa yang disengaja; yaitu, perubahan di dalam sistem kode bahasa atau tuturan atau keduanya, yang dilaksanakan oleh organisasi-organisasi yang dibentuk untuk tujuan itu, atau diberi mandat untuk melaksanakan tujuan-tujuan itu[38]. Dasar-dasar perencanaan dan politik bahasa dari sosiolinguis Hawaii itu, dan satu tambahan yang dari Indonesia, yaitu STA,  adalah landasan berdirinya P3B (Pusat Pengembangan dan Pembinaan Bahasa pada 1975), dan sebelumnya, pidato Djendral Soeharto pada 1972 seperti dikutip di awal.

Mari kita masuk sebentar ke lembaga perencana bahasa ini (sekarang Pusat Bahasa) melalui tulisan mantan kepala Pusat Bahasa, Dendy Sugondo. Menurut Sugondo, ada tujuh penekanan dalam perencanaan bahasa nasional, bahasa Indonesia, yaitu meliputi upaya (1) peningkatan mutu bahasa, (2) pemantapan sistem bahasa, (3) peningkatan mutu penggunaan bahasa, (4) peningkatan kepedulian masyarakat terhadap bahasa, (5) pengadaan sarana kebahasaan, dan (6) peningkatan mutu tenaga kebahasaan, serta (7) kelembagaan[39].

Upaya-upaya perencanaan bahasa itu sangat umum, dan justru di dalam ke-umum-annya itulah tersembunyi motif pengunggulan satu bahasa di atas bahasa lainnya, dan penyeragaman dialek bahasa. Ironisnya, ke-terang-an atas pengunggulan satu bahasa di atas bahasa lain itu justru  terdengar dengan lugas dari mulut Dendy Sugondo sendiri. Dalam sebuah berita di Kompas tertanggal 22 Maret 2010, Dendy Sugondo mengatakan: ”Bahasa yang penuturnya tinggal seorang itu tinggal menanti saat untuk punah. Jika tak diajarkan dalam pendidikan di sekolah, dipastikan bahasa itu akan punah. Karena itu, kita harus berusaha sekuat tenaga untuk tetap menggunakan bahasa Indonesia menjadi pengantar dalam pendidikan. Jika tidak, bahasa Indonesia pun bisa punah.” Kutipan wawancara itu hadir setelah ada penjabaran mengenai ancaman punahnya bahasa-bahasa daerah di Nusantara. Pak Dendy sebenarnya tidak peduli dengan bahasa daerah.

5. Munir dan Rendra Menjelma Bahasa Indonesia

Makalah ini adalah rancangan awal, lebih berupa kisi-kisi, atas usaha menciptakan paradigma baru bahasa Indonesia[40]: kami akan menyebutnya dengan Bahasa Indonesia yang Munir dan Rendra. Kami menyambut gembira usul Eep. Tokoh seperti Munir dan Rendra memang layak mendapat tempat di khazanah kosakata bahasa Indonesia. Lumbung kosakata kita akan semakin kaya dengan dua kata baru yang dahsyat maknanya. Tidak ada kata dalam bahasa Indonesia yang bisa mencakup lahan makna ‘berani berpikir dan bertindak melawan penindasan’ dan ‘lugas dan tajam mengungkapkan kenyataan hidup masyarakat’. Dua konsep makna ini dapat kita temui dalam perjalanan hidup Munir dan Rendra. Untuk itu, nama mereka berdualah yang layak diangkat sebagai kata untuk merangkul makna-makna tersebut.

Lalu, bagaimana penerapan fitur makna itu dalam sebuah paradigma bahasa Indonesia? Mari kita bicarakan fitur makna untuk kata munir. Ada lima unsur makna dalam kata itu: ‘berani’, ‘berpikir’, ‘bertindak’, ‘tanpa henti’, dan ‘melawan penindasan’. Unsur-unsur makna ini dapat kita lesapkan dalam landasan filosofis paradigma baru bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia haruslah menjadi bahasa manusia yang tidak hanya berani berpikir tetapi juga berani bertindak. Pikiran dan tindakan ini adalah sebuah pengolahan peristiwa-peristiwa yang terjadi terus-menerus: tanpa-henti. Apa wujud dari pikiran dan tindakan tanpa henti tersebut? Perlawanan atas penindasan. Bukan rahasia lagi bahwa bahasa Indonesia baku-formal telah berubah wajah dari bahasa pemersatu menjadi bahasa penyeragam (terlebih bila dipadu dengan ikon kebudayaan-nasional yang digembar-gemborkan semasa Orde Baru)[41]. Sebagai bahasa penyeragam, bahasa Indonesia menjelma menjadi bahasa penjajah, bahasa imperialis, bahasa penindasan. Apa yang tertindas? Tentu saja bahasa-bahasa lain di nusantara yang kini turun derajatnya menjadi bahasa vernakular saja. Bahasa-bahasa daerah tidak pernah “dianggap” dalam bahasa Indonesia baku-formal, baik dari segi lafal maupun segi fungsinya dalam situasi tertentu. Maka, para bahasawan yang duduk di kursi kuasa pembakuan bahasa itu menetapkan bahwa pelafalan baku bahasa Indonesia adalah pelafalan yang lepas dari bunyi-bunyi khas (aksen) bahasa daerah. Maka, saat orang Medan meletakkan koordinator tapi di belakang kalimat, seperti dalam ekspresi “Mamak yang suruh aku ke kota, tapi” akan dianggap tidak menggunakan bahasa Indonesia yang baku. Mengapa? Mengapa gejala-gejala lafal dan sintaksis ini tidak ikut dipertimbangkan dalam pembakuan bahasa Indonesia?

Bahasa Indonesia yang munir juga dapat diajukan sebagai wacana-tanding terhadap usaha memurnikan bahasa Indonesia. Ketimbang mimpi-siang-bolong mencari murni, lebih asyik kita sambut munir. Kata sifat munir dalam bahasa Indonesia yang munir dan rendra kami ajukan sebagai tandingan atas nalar-nalar murni, baik, benar, baku, formal yang menjadi landasan filosofis bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Bagaimana dengan si burung merak Rendra? Dalam makna yang kami ajukan untuk kata sifat rendra, terdapat empat unsur penting: ‘lugas’, ‘tajam’, ‘mengungkapkan’, ‘kenyataan hidup masyarakat’. Tiga unsur pertama sangat mantap bila dilesapkan ke dalam landasan filosofis bahasa Indonesia. Rendra dikenal sebagai penyair yang mampu melantamkan suara lirih masyarakat (suara-suara yang hanya berupa grundelan yang tak sanggup diucapkan lantang karena lidah kelu sebab takut). Di sinilah unsur ‘lugas’ berperan. Rendra juga dikenal sangat teliti, tidak ngarang, kritis, dan menyeluruh dalam menyampaikan kritik sosialnya. Di sinilah unsur ‘tajam’ bermain. Bahasa Indonesia harus menjadi bahasa yang dapat digunakan sebagai bahasa kritis, yang tidak baku dan bertampang netral. Bahasa Indonesia mestinya memanfaatkan unsur metaforis bahasa dan tidak bersembunyi di balik dinginnya kata-kata “objektif”. Tentunya, sebagai bahasa, bahasa Indonesia harus mampu menjadi wahana ungkap bagi para penuturnya. Bangunan bahasa Indonesia haruslah bisa mewadahi buah-pikir penutur bahasa Indonesia. Bagaimana caranya? Jawabannya: dengan menjadi bahasa yang tidak lepas dari “kenyataan hidup masyarakat”nya. Kami mendukung Harimurti Kridalaksana yang mengatakan bahwa preskriptivisme bukanlah jawaban bagi penutur bahasa Indonesia. Memang bukan! Preskriptivisme[42], atau pemberhalaan pembakuan bahasa tak membumi, adalah sebuah usaha yang terlepas dari kenyataan linguistik yang terjadi di masyarakat penutur secara luas. Ini harus ditentang. Paradigma baru bahasa Indonesia harus memasukkan unsur “tak lepas dari kenyataan hidup masyarakat” dalam landasan filosofisnya.

6. Mari Kita Munirkan dan Rendrakan Bahasa Indonesia

Pembaca, tibalah kita di akhir pembicaraan kali ini. Kami perlu menyampaikan bahwa memang Pusat Bahasa sekarang seakan sedang merevisi/meralat nalar bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan mengatakan bahwa makna baik dan benar dalam bahasa Indonesia adalah usaha untuk menggunakan bahasa tersebut dalam proporsi dan konteks-situasi yang tepat. Mari ini kita anggap sebagai usaha evaluasi mereka terhadap paradigma lama yang terlanjur telah melekat pada bahasa Indonesia. Tapi kita perlu ingat juga bahwa ralat yang mereka lakukan itu baru berkutat pada wilayah omongan saja. Belum terlihat adanya perancangan baru dan penerapan rancangan baru tersebut dalam ranah praktis. Pendidikan bahasa Indonesia di sekolah, misalnya, masih saja berkubang pada pencekokan tatabahasa baku sebagai bahan-ajar utamanya. Wajar saja jika kita dengan mudah dapat menemukan kekagokan bahasa para siswa ketika menulis atau berbicara.

Di titik ruang-dan-waktu seperti inilah kami lancarkan usul ini. Bahasa Indonesia bukanlah yang murni, yang baik, atau yang benar. Bahasa Indonesia adalah yang munir dan yang rendra.

Makalah ini selesai di sini. Setelahnya, kami akan melakukan pembacaan yang lebih mendalam agar dapat mewujudkan landasan filosofis munir-rendra ini dalam sebuah rancangan yang lebih nyata dan praktis. Kami mohon dukungan Anda. Dirgahayu bahasa Indonesia yang munir dan rendra!

Sumber Acuan

Pustaka

Alisjahbana, Sutan Takdir. Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Rakjat, 1958.

Faruk, Belenggu Pasca-Kolonial: Hegemoni dan Resistensi dalam Sastra Indonesia, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007.

Haryono, Edi (penyusun). Menonton Bengkel Teater Rendra. Yogyakarta: Kepel Press, 2005.

Hawkins, John A. A Comparative Typology of English and German – Unifying the Contrasts. London and Sydney: Croom Helm Ltd., 1986.

Munsyi, Alif Danya. Bahasa Menunjukkan Bangsa. Jakarta: Kepustakaan Gramedia Populer, 2005.

Panggabean, Meicky Shoremanis. Keberanian Bernama Munir: Mengenal sisi-sisi personal Munir. Bandung: Mizan, 2008.

Rendra, W.S. Penyair dan Kritik Sosial. Yogyakarta: Kepel Press, 2001.

Rubin, Joan dan Bjorn H. Jernudd. Can Language be Planned? Honolulu: The University Press of Hawaii, 1971.

Samuel, Jerome. Kasus Ajaib Bahasa Indonesia: Pemodernan Kosakata dan Politik Peristilahan. Jakarta: Kepustakaan Gramedia Populer dan Ecole francaise d’Extreme-Orient, 2008.

Simanungkalit, Salomo (ed.) Inul Itu Diva?: Kumpulan Rubrik Bahasa Kompas. Jakarta: Penerbit Kompas, 2003.

Sneddon, James. The Indonesian Language: Its history and role in modern society. Sydney: UNSW Press, 2003.

Sweeney, Amin (ed.). Karya Lengkap Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi (jilid 1), Jakarta: Kepustakaan Gramedia Populer dan Ecole francaise d’Extreme-Orient, 2005.

Artikel, esai, naskah pidato

Anderson, Benedict. Exit Suharto: obituary for a mediocre tyrant. www.newleftreview.org

“Bahasa yang Tidak Dipakai di Sekolah Akan Punah”. Kompas 29 Maret 2010.

Fatah, Syaifullah Eep. “Rendra, Merendra, Munir, Memunir”. Rubrik bahasa Majalah Tempo edisi 29 September 2009.

“Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia Djendral Soeharto”, 1972, http://kepustakaan-presiden.pnri.go.id

Sahidah, Ahmad. “Memurnikan Bahasa Kebangsaan”. Rubrik bahasa Majalah Tempo edisi 22 Maret 2010.

Sugono, Dendy. “Perencanaan Bahasa di Indonesia dalam Era Globalisasi”. Makalah Persidangan Linguistik Asean Ketiga, Jakarta 28—30 November 2005. Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. www.pusatbahasa.diknas.go.id (13 Mei 2010).


[1] Makalah-tutur ini ditulis untuk acara diskusi ‘Bahasa Indonesia yang Munir dan Rendra’

yang diselenggarakan di gedung Multiculture Campus Realino, Mrican, Yogyakarta, 17  Mei 2010.

[2] Diunduh dari http://kepustakaan-presiden.pnri.go.id

[3] Perkara mengapa Frederick de Houtman dipenjara tidak dapat kami temukan alasannya.

[4] Sementara itu, tahun 1445 tercatat sebagai tahun ketika misionaris Fransiscus Xaverius meminta orang Melayu menerjemahkan Doa Bapa Kami, Kredo, dan Salam Maria ke dalam bahasa Melayu. Dalam arti, usaha Frederick de Houtman bukanlah usaha linguistik pertama untuk mendapatkan data tentang bahasa Melayu. (lihat tulisan Remy Sylado, “Tuhan ‘Isaj Elmeseih”, dalam Inul itu Diva?, 2003:159).

[5] Sneddon, 2003: 83.

[6] Ibid.

[7] Peristiwa penting lain di abad 18 adalah saat Leydekker dan Werndly, atas dukungan V.O.C., menerbitkan Injil berbahasa Melayu Tinggi pada tahun 1731; diikuti oleh terbitnya pustaka tata bahasa Melayu oleh Werndly di tahun 1736 (ibid.: 85).

[8] Padanan untuk lingua franca.

[9] Lihat Sweeney, 2005: xiv.

[10] Ibid.: xv.

[11] Sneddon, 2003: 87.

[12] Sweeney, 2005: xiv.

[13] Sneddon, 2003: 92.

[14] Ibid.

[15] Ibid.: 95.

[16] Ing. General Cultivated Malay, ibid.: 98.

[17] Ibid.: 100-101.

[18] Ibid.: 107-108. Lihat juga dalam Alisjahbana, 1976: 29-30.

[19] Ibid.: 108-109.

[20] Rubrik bahasa Majalah Tempo edisi 29 September 2009.

[21] Panggabean, 2008: 46.

[22] Ibid.: 44.

[23] Max Lane, dalam Kata Pengantar untuk kumpulan artikel Menonton Bengkel Teater Rendra, 2005: xxi-xxii.

[24] Untuk penjelasan lebih lengkap mengenai pemikiran Rendra mengenai hukum alam, hukum masyarakat, hukum akal sehat, dan daya hidup lihat Penyair dan Kritik Sosial (2001) dan wawancara Rendra dalam program acara Impact pada tahun 2004 di youtube.com.

[25] Majalah Tempo edisi 22 Maret 2010.

[26] Garvin, 1967 dalam Purba, 1996 : 52.

[27] Perhatikan betapa hal ini mirip sekali dengan apa yang dilakukan lembaga kolonial Direktorat Pendidikan di tahun 1902 pada sistem pendidikan bumiputera.

[28] Kridalaksana, 1985: 102.

[29] Ibid.: 89.

[30] Hawkins, 1986: 48.

[31] Lihat esai Benedict Anderson di www.newleftreview.org/?view=2714

[32] Sweeney, 2005: xviii.

[33] Alisjahbana, 1958: 12.

[34] Dalam latihan olah-suara di lingkup teater, kelima bunyi ini sering sekali disuarakan dengan lantang. Mereka menyebutnya “latihan vokal”.

[35] Samuel, 2008, hal. 289

[36] Rubin & Jernudd, 1971, …

[37] Samuel, 2008, hal. 287

[38] Rubin & Jernudd, 1971, hal. xvi

[39] Sugondo (makalah persidangan linguistik ASEAN ke -3, Jakarta, 28-30 November 2005. Diunduh dari www.pusatbahasa.diknas.go.id tanggal 13 Mei 2010)

[40] Itu mengapa Anda mungkin akan mendapat makalah ini (lebih) banyak bercerita tentang latar belakangnya dan pembongkaran atas paradigma bahasa Indonesia yang baik dan benar daripada tentang bahasa Indonesia yang munir dan rendra itu sendiri.

[41] Lihat Faruk, 2007: 35-43.

[42] Perlu kita ingat bahwa STA mengajukan pengembangan tatabahasa preskriptif sebagai jawaban bagi laju perkembangan bahasa Indonesia. Lihat Kridalaksana, 1985: 89.

(+1 jempol)
Loading ... Loading ...

2 komentar
Berikan komentar »

  1. note 3: perkara Federich de Houtman dipenjara di Aceh bermula dari “fitnah kudeta” de houtman bersaudara atas Sultan Alaidin Riayatsya Al-Mukammil berdaulat di kerajaaan Aceh Darussalam yang memuncak pada insiden ‘racun makanana” di geladak kapal dagang mereka. Keributan memancing pasukan janda (inong-balee) pimpinan Laksamana Muda Keumalahayati yang membikin Cornelis de Houtman bertemu ajal dalam laga satu-satu. Sementara Federich ditawan dan dibawa ke penjara Sigli. Dalam tahanan itulah ia menulis kamus bahasa Melayu (Pasai) pertama sampai kelak ia dibebaskan pulang ke Amsterdam setelah Sultan menerima surat permohonan maaf dari Prince Mauric de Orange dalam masa perang 80 tahun Belanda-Spanyol. Lihat; Antony Reid; Soematera Tempo Doele (Komunitas Bambu, 2010) dan HM Zainuddin, Tarikh Atjeh (Medan, 1972)

  2. https://id.wiktionary.org/wiki/munir

    https://id.wiktionary.org/wiki/rendra

    mengikuti jejak:

    https://id.wiktionary.org/wiki/munsyi

Berikan Komentar