Bahasa Bences Indonesia (Bag. 2)

4 Maret, 2012 | Edisi: | Kategori: Berita Gejala

Oleh Wahyu Adi Putra Ginting

Heeey para binan, banci, lekong, pewong dsb, sebentar lagi ada UBN (UJIAN BANCI NASIONAL) siap siap ya, belajar dari sekarang! #UBN

sumber: http://i.okezone.com/content/2010/05/27/340/336901/z9amsUuNOi.jpgDalam bahasa-bahasa ‘normal’, lazim terdapat lembaga otoritas bahasa. Lembaga semacam itu menjadi tempat dirumuskannya kaidah-kaidah dan kebijakan-kebijakan yang kemudian diterapkan secara luas. Produk-produk buah karya lembaga otoritas bahasa, seperti kamus, buku tatabahasa, panduan pembentukan kata, menjadi tempat acuan para penutur dalam mengatasi masalah bahasa; juga, sebagai panduan praktis dalam berbahasa. Entah karena tidak perlu atau bagaimana, bahasa bences Indonesia belum memiliki semua itu. Belum ada suatu kajian linguistik memadai yang merumuskan deskripsi bahasawi menyeluruh atas bahasa bences Indonesia; ‘kaidah-kaidah’ seperti hadir sebagai kesepakatan sama-sama-tahu saja.

Belum adanya otoritas dalam bahasa bences Indonesia membuat bahasa ini memiliki sifat keterbukaan yang luar biasa. Maksud saya, pola-pola pembentukan kata dalam bahasa ini masih terus berubah-bertambah, seperti sedang berada dalam perjalanan pencarian bentuk yang panjang. Deskripsi sederhana yang saya lakukan di artikel sebelumnya, Bahasa Bences Indonesia Bagian I, tentu belumlah deskripsi yang paripurna. Masih banyak sekali ruang analisis yang lebar terbuka.

Perkembangan kosakata bahasa bences Indonesia terbilang sangat pesat. Beberapa minggu tidak mengunjungi akun @kamusBANCI2012 saja telah membuat saya mengalami ketersesatan sejenak saat kembali berhadapan dengan bahasa ini. Banyak sekali varian kata baru yang bermunculan. Kemunculan varian-varian kata tersebut sebetulnya masih berada dalam payung pola leksikal yang lumrah ada dalam bahasa bences. Proses leksikalisasi dengan cara pemenggalan dan penempelan ortografis masih tetap dominan terjadi. Karena sudah pernah punya pengalaman menghadapi proses leksikalisasi semacam itu sebelumnya, perlahan-lahan saya kembali bisa keluar dari ketersesatan morfologis sesaat yang tadinya saya alami.

Lihat saja, misalnya, penambahan akhiran –cha dalam kata perucha di kalimat yaoli inang perucha lapangan bola bengiiii, belgium mekong. Akhiran –cha ini sebelumnya tidak pernah saya ketahui keberadaannya. Namun, setelah memahami konteks kalimatnya dan juga karena telah tahu bahwa kata mekong itu artinya ‘makan’, maka saya dapat menerka bahwa kata perucha bermakna ‘perut’ (perhatikan bahwa ‘makan’ dan ‘perut’ punya relasi makna yang kuat). Terjemahan lengkap dari kalimat tersebut adalah Ya Allah, ini perut lapar banget, belum makan.

Pesatnya perkembangan bahasa bences Indonesia di akun @kamusBANCI2012 tidak terlepas dari tindakan adminnya yang mengundang para pengikut akun itu untuk turut serta dalam penggemukan jumlah kosakata. Salah satu bentuk ajakan itu adalah Ujian Banci Nasional (UBN).

UBN adalah fenomena mengasyikkan. Di ajang itu, para penutur bahasa bences ditantang untuk menciptakan dan mengajukan kosakata bences garapan mereka. Contoh soal UBN itu seperti ini: Sebutkan nama nama hari mulai dari hari senin s/d minggu, jangan lupa diplesetkan menggunakan bahasa banci ya 😀. Salah satu peserta UBN, @yukanaoke, mengajukan nama-nama hari hasil plesetannya: senitasi, selamatmalam, rabun ayam, kamasutra, jumadi, sabetan, minggat. Bayangkan saja bila peserta UBN ada seratus, bahasa bences Indonesia bisa memiliki seratus varian nama-nama hari. Dan nama-nama hari ini tidak perlu dihapal sebetulnya; cukup ketahui saja pola pemenggalan dan pembubuhan ortografisnya dan Anda sudah bisa langsung menebak maknanya.

Ada Waktunya ‘Ngondek’, Ada Waktunya Serius

Admin akun @kamusBANCI2012 ternyata orang yang punya kesadaran linguistik yang proporsional dan kontekstual! Saat gempa dan tsunami melanda Jepang beberapa waktu yang lalu, @kamusBANCI2012 berkicau: “[t]eman teman yuk sama sama kita berdoa untuk jepang, semoga tidak terjadi lg gempa susulan dan tidak bertambahnya korban jiwa #prayforjapan.” Menanggapi kicauan ini, seorang pengikut akun itu dengan nada menyindir bertanya mengapa sang admin tidak berkicau dalam bahasa bences. Dan inilah jawaban sang admin: “Punya otak ga sih? Disaat sdg ada bencana seperti ini msh aja disuruh menggunakan bahasa banci, ada waktunya ngondek, ada waktunya serius!”

Dialog tersebut mewakili ideologi bahasa @kamusBANCI2012: bahasa bences Indonesia, setidaknya sampai saat ini, adalah bahasa jenaka yang digunakan suka-suka untuk keperluan santai saja. Ini semakin menegaskan status dan kapasitas bahasa bences Indonesia sebagai bahasa plesetan atau slang.

Untuk urusan yang lebih ‘serius’, ekspresi simpati terhadap korban bencana alam, misalnya, bahasa Indonesia lebih dipilih. Kiranya alasannya sederhana: lebih banyak orang yang paham bahasa Indonesia daripada bahasa bences Indonesia. Dan rasa simpati terhadap korban bencana di Jepang yang ingin disampaikan @kamusBANCI2012 tidak hanya ditujukan bagi orang-orang yang paham bahasa bences saja.

sumber: http://i40.tinypic.com/auxuus.jpgDarah-daging Bahasa Indonesia

Bahasa bences Indonesia, bagaimanapun juga, adalah satu lagi ragam dalam himpunan bahasa Indonesia. Penggunanya adalah penutur bahasa Indonesia; sintaksisnya adalah sintaksis bahasa Indonesia; bahan penggubahannya adalah khazanah kata bahasa Indonesia; dan ia digunakan di Indonesia. Dalam hal pemaknaan, pun orang tidak akan mungkin paham bahasa bences Indonesia tanpa terlebih dahulu paham bahasa Indonesia. Semua fakta ini membuat bahasa bences Indonesia layak didaku sebagai anggota keluarga bahasa Indonesia.

Pertanyaan mengenai peran fungsional sebuah ragam bahasa terhadap bahasa yang menjadi induknya patut muncul. Kita boleh bertanya: apa guna bahasa bences Indonesia bagi perkembangan bahasa Indonesia itu sendiri? Saya kira bahasa bences Indonesia mampu memainkan peran yang sama dengan ragam bahasa Indonesia lain yang kita punya. Sebuah ragam bahasa adalah sebuah sumur-di-ladang tempat kita bisa menimba kekayaan khazanah kata. Bahasa gaul, misalnya, meskipun belum diakui oleh otoritas bahasa Indonesia, telah menyumbangkan kata lebai, atau lebay, bagi kita. Kata ini kerap mampu memenuhi kebutuhan penutur bahasa Indonesia untuk dengan ringkas dan mangkus mengungkapkan makna yang sebelumnya mungkin hanya diwakili oleh kata-kata bertabur-suku-kata seperti berlebihan atau keterlaluan.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa setiap ragam bahasa Indonesia punya kemampuan untuk mengembangkan bahasa Indonesia paripurna. Bila misalnya kosakata dalam bahasa bences Indonesia sukar diterima untuk menjadi kosakata bahasa Indonesia, setidaknya kita bisa menyerap tabiat bahasa tersebut yang bersedia melibatkan penutur dalam perkembangannya. Tabiat semacam ini adalah salah satu kunci untuk membuat penutur sebuah bahasa jatuh cinta pada bahasanya sendiri dan mengaku bahwa bahasa tersebut mampu mewakili seluruh kebutuhan ungkapan yang mereka miliki.

Saya pribadi menyambut gembira kemeriahan yang ditawarkan bahasa bences Indonesia, sama persis dengan kegembiraan saya terhadap kehadiran gaya-eja Alay. Bahasa bences Indonesia adalah salah satu tamasya untuk melihat daya-cipta, kelincahan, dan keterampilan penutur Indonesia dalam melakukan manuver, modifikasi, atau utak-atik morfologis terhadap bahasanya sendiri. Ini patut dihargai. Begichu, boo’.

(+1 jempol)
Loading ... Loading ...

Satu komentar
Berikan komentar »

  1. Amboi! Aku suka dan setuju dengan pernyataan “… setiap ragam bahasa Indonesia punya kemampuan untuk mengembangkan bahasa Indonesia paripurna.” Lanjutkan!

Berikan Komentar