Gambar

25 Agustus, 2011 | Edisi: | Kategori: Redaksi Menyapa

LIDAHIBU edisi #24 adalah ‘Edisi Khusus Gambar’. Gagasan untuk menggarap edisi khusus gambar ini sudah hinggap dalam benak Redaksi LIDAHIBU sejak Januari tempo hari. Seperti direncanakan, pelaksanaannya mewujud baru kini. Ilustrator (Norie Paramitha), penggambar komik (Armando Soriano), penata-letak (Gideon Widyatmoko), Mat Kodak (Aditya Surya Putra), adalah pengkarya utama dalam edisi ini. Mereka bekerja untuk menggarap citra-citra, dengan konsep dan tekniknya masing-masing, untuk dipajang dalam ‘Ruang Rupa’, ruang spesial yang diciptakan Redaksi demi edisi khusus gambar kali ini.

Redaksi dan para pengkarya utama edisi khusus gambar ini sepakat untuk mengangkat tema “Bahasa Indonesia Baku” sebagai nalar yang menjadi kerangka karya-karya yang akan ditampilkan. Dalam hal penafsiran tema, Redaksi sama sekali tidak membatasi imajinasi para pengkarya; mereka dibebaskan untuk menerjemahkan tema tersebut dalam rupa-rupa sesuai dengan pemahaman dan pengalaman mereka terhadap tema tersebut.

Mirip sebuah pameran karya seni-rupa, Ruang Rupa edisi khusus gambar ini ‘dibaca’ dan diantarkan pada para pembaca oleh kurator. Kali ini, selain menugaskan ‘orang-dalam’ sebagai kurator, Redaksi LIDAHIBU juga mengundang seorang kawan lain, Natan Arya Leksana Gayuh, yang ikut mengapresiasi beberapa karya dalam Ruang Rupa.

Redaksi berharap edisi khusus gambar ini dapat menghadirkan sebuah kesegaran, sebuah kejutan yang menyenangkan bagi para pembaca setia LIDAHIBU. Bagaimanapun, citra, atau gambar, atau rupa, adalah juga pembangkit dan penyalur makna. Ia melambangkan suatu gagasan, suatu olahan pikiran. Maka, ia adalah juga ‘bahasa’.

Pembaca edisi khusus gambar ini kami buatkan untuk Anda. Selamat datang di Ruang Rupa LIDAHIBU.

(+1 jempol)
Loading ... Loading ...

2 komentar
Berikan komentar »

  1. wah, Ruang Rupa?
    kok namanya sama dengan RuRu ya? Ruang Rupa yang ini:
    http://ruangrupa.org/
    silakan dicek 🙂
    kalau nanti diprotes gimana ya? hehehe. mereka sudah ada sejak tahun 2000 lho :-p
    hehehehe

    oya, apakah ‘ruang rupa’ versi Lidahibu ini akan ada pada setiap edisi?
    dan apakah tema’nya ‘harus’ bahasa?
    lihat saja embel-embel ‘tema bahasa’ (dengan judul-judul yang sangat ‘Lidahibu’ semacam “Berbahasa Baku dengan Baik dan Benar”, “Bahasa Baku Apakah untuk Penyeragaman?”, dan “Bahasa Bukan untuk Pemikir Saja”) pada karya si ilustrator Lidahibu.

    🙂 maturnuwun

  2. Invani,

    Wah, ternyata ada juga yang bernama Ruang Rupa. Ya, tak apalah. Toh, tetap saja berbeda. RuangRupa.org itu kan nama domain, Jeng. Sementara, Ruang Rupa di Lidahibu.com adalah nama rubrik. Lagipula, nama rubrik Ruang Rupa ini Lidahibu buat tidak atas niat meniru apa yang ada di RuangRupa.org. Fakta bahwa RuangRupa.org itu ada saja kami baru tahu setelah Jeng beritahu. 🙂

    Protes? Ah, masak gitu-gitu amat sih. Hahaha… Lagipula, dalam dunia nama domain di Internet, satu nama itu bisa dianggap berbeda selama ekstensinya berbeda pula. Jadi RuangRupa.org itu beda dengan RuangRupa.com, beda dengan RuangRupa.net, beda dengan RuangRupa.co.id, dst. Lidahibu.com menggunakan frasa Ruang Rupa sebagai nama rubrik, jadi ya sudah beda sekali itu. Hehehe…

    Nah, Ruang Rupa versi Lidahibu ini adalah wujud dari keinginan kawan-kawan Redaksi yang selalu berkutat dengan gambar untuk membuat suatu edisi khusus gambar. Jadi, dibuatlah edisi itu. Di edisi cetak (edisi #24) sebetulnya nama yang dipakai adalah “Ruang Galeri”. Tapi, saat akan mengunggah isian edisi khusus gambar ke Lidahibu.com, Redaksi memutuskan untuk mengganti istilah tersebut, soalnya takut nanti gambar-gambarnya ditawar kolektor (*bercanda*). Frasa “Ruang Rupa” kami rasa lebih yahud karena alasan fitur indahswara (eufonik) dari aliterasi “ru-ru”. Begitu, kira-kira penjelasannya.

    Ruang Rupa adalah bagian dari edisi khusus gambar. Namanya juga edisi khusus, jadi ya tidak terbit tiap edisi. Mungkin nanti suatu saat akan kami buat lagi.

    Ruang Rupa di Lidahibu memang dibuat untuk membahas perkara bahasa, Jeng. (Lidahibu, gitu loh. Hehehe…). Jadi ya temanya memang bahasa. Dari tema bahasa inilah orang-orang Lidahibu berusaha melihat kesaling-pautan antara bahasa dengan hal-hal lain, diluar hal-hal intrinsik kebahasaan. 🙂

    Itu penjelasannya. Semoga memadai.

    Tabik!

Berikan Komentar