Teori Linguistik Tradisional

26 Juni, 2011 | Edisi: | Kategori: Kultukal

Oleh Nikodemus Wuri Kurniawan

Encik dosen tamu sudah kembali!

Pada tatap muka pertama, setelah harus tidak masuk karena sakit, encik dosen tamu ingin sedikit mengistimewakan ani-ani. Encik dosen tamu mulai dengan pertanyaan, “Kalian ingin encik menjelaskan apa?” Reaksinya ternyata tidak berlebihan, hanya hening. Encik kira mereka akan berebutan menawarkan topik yang tidak mereka mengerti. Baiklah, mungkin pertanyaannya diganti saja, “Apa yang kalian pelajari sebelumnya?” Masih tidak ada tanggapan. “Baiklah, mungkin kali ini kita akan membahas teori tradisional yang masih ada sangkut-pautnya dengan bahasan bulan lalu.”

“Nah, itulah yang kami maksudkan, Cik!” kata mereka kompak.

1. Tata bahasa tradisional didasarkan terutama pada analisis makna atau pengertian dan pencirian kalimat pada logika.

2. Misalnya saja, (a) pendirian jenis kata dinyatakan sesuai dengan definisi pengertian, seperti nomina ialah nama orang, benda, dan yang dibendakan; verba ialah kegiatan; ajektiva ialah sifat, keadaan; (b) jenis kalimat disebut menurut maknanya sehingga kita mengenal kalimat erita, kalimat perintah, kalimat tanya, kalimat ingkar,  dan sebagainya; dan (c) fungsi bagian kalimat dibagi, misalnya, menjadi subjek, predikat, objek, dan keterangan, yang tampaknya mengingatkan kita pada istilah filsafat.

3. Wajar jika teori ini tidak pernah membicarakan bunyi bahasa, termasuk lagu kalimat atau intonasi, karena teori ini menganggap bahwa bahasa (yang paling baik) adalah bahasa tertulis—jika dalam suatu tata bahasa tradicional terdapat unsur-unsur bunyi dan/atau intonasi, hal itu merupakan suatu “pencemaran” model tradisional.

4. Salah satu contoh yang menegaskan bahwa teori ini lebih menekankan bahasa  tulis  adalah kutipan berikut: “Antara vokal-vokal itu huruf a adalah yang membentuk lubang mulut yang besar, i yang kecil, e biasanya terbentuk di dalam mulut sebelah muka, dan o di belakang sebelah dalam” (Mess, 1950: 35)—perhatikan bahwa sebenarnya huruf secara logika tidak ada kaitannya dengan bentuk mulut, namun lebih sesuai jika berhubungan dengan kertas, pena, atau pensil.

5. Teori tradisional menganggap semua bahasa itu mesti mempunyai ciri seperti bahasa Latin atau Yunani kuno.

6. Muncul keberatan atas teori tradisional, yaitu (a) struktur bahasa tidak semuanya sama sehingga teori tata bahasa Yunani dan Latin tidak bisa diterapkan begitu saja pada bahasa lain, dan (b) teori tradisional banyak didasarkan pada logika, pada pemikiran filsafat.

7. Beberapa tokoh aliran bahasa tradisional adalah Sandvoort, C.A. Mess, van Ophuijsen, R.O. Winstedt, St. M. Zain, St. Takdir Alisjahbana, Madong Lubis, Poedjawijatna, Tardjan Hadijaja, dan sebagainya.

“Cik, bukannya Plato itu filsuf Yunani kuno, berarti ia juga terlibat dalam teori tradisional ini?”

“Tepat! Nah, sekarang sebaiknya kamu tanyakan padanya mengapa ia bisa membagi jenis kata Yunani kuno menjadi dua golongan: onoma (kata benda) dan rhema (kata kerja atau kata sifat). Jika sudah, jangan lupa beri tahu encik, ya.”

(+2 jempol)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar