Teori Aliran Linguistik

26 Juni, 2011 | Edisi: | Kategori: Kultukal

Oleh Gideon Widyatmoko

Linguistik

Selamat pagi, ani-ani! Encik dosen yang biasa tidak dapat hadir kali ini, tetapi beliau sempat menitipkan bahan pelajaran baru ke sekretariat. Nah, biar saya rangkumkan supaya ani-ani tetap terus belajar dan tidak akan ketinggalan materi dengan kelas bahasa lain.

1. Teori linguistik adalah teori yang dikemukakan oleh aliran linguistik tertentu dan aliran linguistik yang memiliki corak teori tertentu.

2. Kriteria yang dipakai untuk membedakan dan mengelompokkan teori/aliran linguistik adalah kekhususan cara memahami bahasa dan corak analisisnya.

3. Ada empat teori besar yang dikategorikan berdasarkan kriteria tersebut, yang pertama adalah teori/aliran tradisional yang berdasarkan pada pola pemikiran filosofis dan bermula dari Plato dan Aristoteles.

4. Kategori yang kedua adalah teori/aliran struktural yang berlandaskan faham behaviorisme yang beranggapan bahwa jiwa seseorang dan hakikat sesuatu hanya bisa dideteksi lewat tingkah laku dan perwujudan lahiriahnya yang tampak, sehingga aliran struktural mengamati bahasa dan hakikatnya dalam perwujudan sebagai ujar.

5. Kategori ketiga adalah teori/aliran transformasional yang dipelopori oleh Noam Chomsky dan ini merupakan aksi penolakan atas konsep strukturalisme bahwa bahasa adalah faktor kebiasaan.

6. Kategori yang keempat adalah aliran/teori tagmemik dan berangkat dari konsep tagmem yang merupakan bagian dari konstruksi gramatikal dengan empat macam kelengkapan spesifikasi ciri, yakni: slot, kelas, peran, dan kohesi.

7. Ada satu kategori lagi, yaitu kategori aliran lain-lain yang berisi aliran yang tidak terlalu terkenal seperti teori/aliran Bloomfieldian, Stratifikasi, Kopenhagen, Praha, London, dan lain-lain, namun kebanyakan teori tersebut juga sudah tercangkup dalam teori strukturalisme.

Itulah sebagian materi yang dititipkan oleh encik dosen. Kalau ada pertanyaan, langsung saja diajukan kepada encik dosen, supaya lebih mendetil penjelasannya. Tetapi beliau juga berpesan: ketujuh kalimat ini akan dipelajari lebih dalam lagi pada pertemuan selanjutnya.

Baiklah, sekarang ani-ani boleh pulang. Sampai jumpa.

(+2 jempol)
Loading ... Loading ...

4 komentar
Berikan komentar »

  1. gambarnya salah tuh… teks tidak menempati payung besarnya. objek utama linguistik adalah bahasa tutur (kalau Anda baca buku mana pun pasti bahasa tutur). semoga gambarnya tidak menyesatkan.
    oiya, ada satu lagi, namanya ekletik. ekletik ini berarti tidak ikut mana pun, tapi konsepnya mengambil dari mana2. ada juga aliran yg baru2 ini berkembang, namanya SFL (Systemic Functional Linguistics), aliran yg mengadopsi pemikiran Firth dan aliran Praha. berkembang paling pesat di Asia Pasifik dan India. pusatnya di Australia, pendirinya bernama Halliday

  2. Hai, Bebe. Terima kasih sudah berkomentar.

    Sepertinya cara kita melihat “teks” berbeda. Teks, dalam pemahaman kami, tidak mesti mutlak bersifat tertulis. Landasan dari pemahaman ini adalah definisi teks yang diajukan Fairclough (1995): kata-kata yang berbentuk lisan maupun tulisan dapat disebut teks. Itu mengapa kita dapat berkata bahwa monolog, percakapan, dan pidato lisan adalah teks. Sumber lain, Butt dkk. (2000), juga mendefinisikan “teks” dengan batasan yang lebih luwes: teks adalah sekumpulan makna selaras yang sesuai dengan konteksnya.

    Begitu kira-kira penjelasan mengapa gambar ilustrasi demikian yang Lidahibu pilih untuk artikel ini.

    Tabik! 🙂

  3. *ikutan nyambung

    Nah, Halliday itu punya jejak dimana-mana. Ada tiga model pendekatan teks/wacana (disebut berbeda bergantung tujuan analisis & korpus masalahnya)
    1. Halliday & Hasan (1994) teks dalam konteks semiotika sosial. Analisis kohesi & koherensi salah satunya
    2. Pendekatan pragmatik & sosiolinguistik (teks berbentuk tuturan terikat konteks & fungsi sosial)
    3. Pendekatan analisis wacana yang kemudian melahirkan analisis wacana kritis (Fairclough salah satu sarjana yang berangkat dari linguistik menuju pengungkapan makna tersirat wacana).

    Begitulah yang saya pahami tentang teks/wacana dari esai PA Subagyo dan Eriyanto (2001).

    Salam takzim:)

  4. Terima kasih, Harum, untuk tambahan rinciannya yang harum sekali. 🙂

    Tabik!

Berikan Komentar