Saya Presiden, Saya Hanya Bisa Prihatin Saja

26 Juni, 2011 | Edisi: | Kategori: Redaksi Menyapa

Saya Presiden Saya Hanya Bisa Prihatin Saja

Ada nuansa semantik antara simpati dan empati. Meski hanya ‘beda-tipis’, tapi justru hal itulah yang membuat manusia-penutur bisa membedakan arti kedua kata tersebut. Adalah baik menyatakan simpati. Simpati mengacu pada kondisi saat seseorang juga merasakan sesuatu yang sama dengan yang dialami orang lain. Saat teman kita sedih, misalnya. Kita boleh menyatakan simpati kita atas kesedihannya. Artinya: kita juga merasakan hal yang sama (baca: bisa memahami perasaan tersebut) dengan yang dirasakan teman kita itu. Tapi, lain hal lagi bila simpati diumbar-amburkan terlalu kerap. Di titik itulah, orang yang melihat kita boleh-jadi merasa bahwa kita simpatik tapi tidak empatik.

Empatik memang berbeda. Ia adalah suatu perlambang atas kondisi saat seseorang tidak sekedar mampu memahami dan merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan orang lain. Ia sudah melampaui tataran itu: bergerak lebih jauh sampai pada tataran tindakan. Maka, saat kita empatik terhadap orang lain, itu berarti ada unsur ‘gerak’, ‘tindakan’, atau ‘aksi’ yang kita lakukan sebagai respon kita terhadap keadaan orang lain itu.

Bagi seorang presiden, umbar-ambur simpati hanya akan menghasilkan kerut tak puas di jidat rakyat yang dipimpinnya. Kata prihatin mungkin kini telah sejajar dengan simpati. Di titik itulah, ungkapan “Saya Presiden. Saya hanya bisa prihatin saja,” menjadi relevan untuk disuarakan, salah-satunya, lewat dinding-dinding kota.

Wahyu Adi Putra Ginting

Pemimpin Redaksi

(+3 jempol)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar