Retorika

26 Juni, 2011 | Edisi: | Kategori: Redaksi Menyapa

Pembaca yang adiwira,

Saat manusia-penutur menemukan bahwa kata-kata yang ia rangkai sedemikan rupa ternyata mampu mencipta pengaruh, dan kemudian ia dengan sadar menjadikan rangkaian itu sebuah pola bahasawi bercorak khusus dan memberdayakannya secara instrumental, saat itu pulalah ia beretorika. Retorika adalah seni menyusun argumen. Ia adalah sebuah strategi sambung-wicara yang digubah untuk mencapai tujuan-tujuan komunikatif: baik itu untuk secara persuasif meresapkan makna ke dalam benak pendengar maupun untuk mempengaruhi lawan bicara, memenangkan persetujuannya – bahkan ‘menggerakkannya’. Mungkin hal terakhir ini yang terjadi saat Sarah Palin banyak menggunakan ekspresi yang berhubungan dengan tembak-menembak seperti reload, target, shoot dalam retorika kampanye politiknya. Pihak yang berseberangan menyebut retorika besutan Palin ini sebagai retorika kebencian. Namun ada juga pihak yang beranggapan bahwa retorika semacam itu wajar dalam silat-lidah politik. Yang jelas, retorika Palin itu telah diseret masuk dalam perdebatan seputar kasus terbunuhnya Gabrielle Giffords, salah satu kader Partai Demokrat, yang juga seorang anggota DPR wilayah Arizona, Amerika Serikat.

Betulkah dengan terus-menerus terpajan oleh metafor tembak-menembak orang dapat tergerak, lalu membenci lalu membunuh. Bisa ya, bisa tidak. Kata-kata memang punya daya hipnotis. Bahkan ketika situasi dan subyeknya pas jitu, daya hipnotis kata-kata dapat langsung mewujud. Dalam propaganda politik, biasanya teknik yang lebih dikedepankan adalah kekerapan dan pengulangan. Sebuah gagasan diulang-ulang, terus-menerus, dengan kosakata seragam, disuapkan ke dalam mulut makna khalayak. Dan, dampaknya tidak hanya individual, tapi sosial. Itu yang dapat kita saksikan lewat propaganda Nazi di Perang Dunia II, propaganda anti minyak kelapa sawit di Amerika Serikat, atau bahkan dalam propaganda perang terhadap ‘teroris’ ala AS yang sampai kini masih menggejala.

Sabda dadhi, orang Jawa menyebutnya. Hati-hati dengan mulutmu, nasehat leluhur kita. Hm… Berhati-hatilah dengan kata-kata Anda. Kadang hati-hati memang dapat mempengaruhi kefasihan kita dalam beretorika. Terlalu lama menimbang-nimbang kalimat, para pendengar pun cepat bosan. Tapi, jika (meminjam kata-kata Pramoedya Ananta Toer) sejak dalam pikiran kita sudah fasih bersikap adil, kelancaran retorika yang adil pun adalah hal yang niscaya. Karena dari pikiran kata bermula.

Salam,

Wahyu Adi Putra Ginting

(Pemimpin Redaksi)

(+1 jempol)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar