Cinta Saus Tiram

26 Juni, 2011 | Edisi: | Kategori: Khazanah Kata Bahasa Indonesia

Oleh Gideon Widyatmoko

Cinta Saus Tiram

Berpacaran dengan Magdalena memang sempat membuat Mustafa mabuk kepayang. Tak henti-hentinya mereka bertukar pantun dan puisi bahasa hasil karya mereka sendiri. Sampai suatu ketika hubungan mereka mendadak bubar akibat sebuah restoran bergengsi. Bagaimana ceritanya? Mari kita simak bersama-sama.

***

Menerapkan pola hidup hemat membuat pasangan kita ini hampir selalu makan malam di warung penyétan yang terkenal murah di kotanya. Mereka hidup bahagia dengan kebiasaan berhemat mereka sampai suatu ketika Magdalena menonton sinetron di layar televisinya. Magda ingin juga mencicipi makanan di kafe yang romantis dan berkelas seperti yang dilakukan oleh tokoh idolanya dalam sinetron. Sebab ingin menyenangkan hati kekasihnya, Mustafa pun setuju mengajak Magda makan malam di kafe romantis.

Sampai di sebuah kafe yang terlihat fantastis, Magda langsung memilih untuk mengambil meja di pojok taman, yang hanya diterangi oleh cahaya lilin. Mustafa sedikit kuatir dengan meja yang dipilih oleh Magda, karena akan sulit baginya untuk melihat tulisan dalam menu makanan nantinya. Benarlah, saat disodori menu, Mustafa tidak dapat melihat dengan jelas apa yang tertulis di menu, terlebih lagi tulisan di menu dalam bahasa Inggris.

Meski makan di kafe, Mustafa ingin terus berhemat karena dia memang tidak punya uang berlebih. Oleh karena itu, dia langsung memilih menu paket dengan harga paling murah tanpa tahu apa saja yang akan disajikan. Waitress yang melayani sudah mengingatkan Mustafa bahwa menu paket yang dipilihnya bukanlah menu favorit, bahkan belum pernah ada yang memesan. Mustafa tidak ambil peduli, dia tetap bersikeras untuk memesan menu itu. Dia memesan menu paket yang terdiri dari “bean sprout saus tiram” yang ternyata disajikan dengan “whole-wheat bread dan sudah termasuk “saffron sebagai minumannya. Mustafa meminta minumannya disajikan dingin, karena hatinya sudah cukup panas begitu tahu bahwa harga paling murah di kafe itu ternyata cukup untuk membayar makan mereka dua malam di penyétan langganan.

Berbeda dengan Mustafa, Magda malah tampak piawai dalam memesan makanan. Ingin menikmati makan malam romantis mereka yang pertama, Magda memesan menu a la carte. Sebagai appetizer, dia memesan “waffle fries” dan “sandwich yang disajikan dengan “marmalade. Untuk main course, dia memesan “well-done beef steak disajikan di hot plate. Dia memesan daging sapinya dimasak well-done karena biasanya dengan cara itu makanan tidak akan diberi gourmet dan seasoning yang berlebihan. Saking piawainya, Magda bahkan mengingatkan untuk menaburkan currant di pesanan sandwich-nya. Untuk minumnya Magdalena memesan minuman kesukaannya, instant coffee.

Selesai memesan, waitress tadi segera meninggalkan meja makannya dan langsung datang lagi seorang waiter membawakan aperitif. Dengan piawai sang waiter menghidangkan di meja tanpa mempedulikan Mustafa yang sudah tampak pucat. Mustafa merasa sangat kalah sebagai lelaki pada saat Magdalena dengan piawai memilih menu. Tidak mau kalah lagi, Mustafa memesan langsung satu porsi “fried bread fruit kepada waiter. Sama seperti saat Mustafa memesan menu paket pada waitress, Mustafa disarankan untuk memesan menu lain. Mustafa acuh tak acuh pada bujuk-rayu sang waiter dan tetap memesan entah apa pun itu dengan hanya mempertimbangkan harga yang murah dan nama makanan yang keren.

Magdalena memang sudah merasakan kegalauan pada diri Mustafa, ada yang tidak beres dengan Mustafa malam ini. Wajah Mustafa tidak terlihat sejuk dan segar seperti biasa, malam ini dia berwajah pucat-pasi dikombinasikan dengan keheningan yang sangat tidak enak dilihat. Magda memahami kepucatpasian Mustafa sebagai salah satu cara untuk menyesuaikan diri di sebuah tempat yang benar-benar baru. Untuk menghilangkan kepucatpasian kekasihnya, Magda mulai memancing dengan pantun bahasa yang selalu bisa mencairkan suasana. Tetapi sayang sekali, keindahan pantun dara manis itu tidak dapat melunturkan warna pucat di wajah Mustafa. Tidak habis akal, Magda menggenggam jemari pacarnya sembari melantunkan puisi-puisi bahasa yang biasanya mujarab. Sayang sekali hati Mustafa tidak bergeming. Musnah sudah keromantisan yang diharapkan Magda.

30 menit telah berlalu dalam kekecewaan di hati Magda. Untunglah terselamatkan oleh para waiter dan waitress yang segera menyajikan mereka makanan yang telah dipesan. Makanan pesanan mereka disusun dengan sangat rapi dan menarik. Penyajiannya pun sangat memikat hati. Magda berharap suasana kembali cair dan mereka bisa bersantap sembari senda gurau atau mungkin bersahut-sahutan pantun. Tetapi, bagaikan halilintar yang serta-merta menyambar di panas terik siang hari, Mustafa tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya sambil memelototi paket murah pesanannya dan pesanan Magda. Tanpa berkata apa-apa, Mustafa segera pergi meninggalkan kafé romantis itu. Meninggalkan kekasihnya seorang diri.

Berusaha untuk tidak jatuh ke dalam lubang kesedihan, Magdalena mencoba untuk berfikir jernih. Dia ikut berdiri dan melihat ke meja makan mereka. Tampak kontras sajian yang ada di sisi Mustafa, lelaki yang telah pergi, dan yang ada di sisi Magda. Magda melihat menu paket yang dipesan oleh Mustafa dan kemudian berusaha untuk mengindonesiakan menu itu. Seperti ini kira-kira:

Bean sprouts : Tauge/kecambah

Whole wheat bread : Roti purna gandum

Saffron : Kunyit

Fried bread fruit : Sukun goreng

Jadi, yang dipesan oleh Mustafa adalah “tauge saus tiram” yang dimakan dengan “roti purna gandum”, lalu “sukun goreng”, dan minumnya adalah “es kunyit”. Sementara, makanan yang dipesan oleh Magdalena sendiri adalah sebagai berikut:

Waffle fries : Wafel goreng

Sandwich : Roti apit

Marmalade : Selai jeruk

Well-done beef steak : Steik sapi dimasak matang betul

Currant : Kismis tomat

Instant coffee : Kopi semerta

Akhirnya Magdalena paham kalau memang ada kesenjangan di antara makanan mereka, dan sepertinya itu yang tidak dapat diterima oleh Mustafa. Magda sedih sekali dengan sikap Mustafa yang seperti ini. Toh Magda tidak akan menghabiskan pesanannya sendiri, karena demi menjaga bentuk tubuh, dara manis ini tidak boleh makan dalam porsi yang berlebihan.

Kini Magdalena hanya sendiri, dia akhirnya marah kepada Mustafa atas kebodohannya meninggalkan Magdalena seorang diri di sebuah kafé romantis. Magdalena harus pulang sendiri naik ojek dan juga membayar sendiri makanan yang sudah dipesannya di kafé romantis itu. Dua hal itu membuat Magdalena yakin kalau dia tidak akan mau berhubungan lagi dengan Mustafa.

***

Dengan berakhirnya kisah cinta Mustafa dan Magdalena, ada buah kebijakan yang dapat kita petik dari cerita tersebut. Seyogyanya, kita sebagai makhluk sosial tidak saling meninggalkan satu sama lain. Nah, selain buah kebajikan itu, kita juga dapat memetik beberapa padanan yang ada dalam cerita cinta tersebut, seperti:

Waitress : Pramusaji wanita

Waiter : Pramusaji lelaki

A la carte : Menu manasuka

Appetizer : Umpan tekak, gugah-selera

Main Course : Hidangan utama

Hot Plate : Plat bara

Gourmet : Pesedap Makanan/Pelezat Masakan

Seasoning : Perancah/pengganda rasa

Aperitif : Minuman pembuka

Sekian cerita cinta kali ini, semoga buah-buah yang ada dalam cerita ini bermanfaat. Sampai jumpa.

(+4 jempol)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar