Bidikan Retorika

26 Juni, 2011 | Edisi: | Kategori: Berita Gejala

Oleh Nikodemus Wuri Kurniawan

Sumber: http://3.bp.blogspot.comSeorang pemuda berusia 22 tahun, Jared Lee Lougher, menembak dari jarak-dekat anggota DPR dari Partai Demokrat daerah pemilihan Arizona, Gabrielle Giffords, dan enam orang lainnya, termasuk bocah enam tahun dan seorang jaksa, ketika temu informal di pelataran Toserba Safeway, Tuscon, Arizona (Sabtu, 8 Januari 2011). Apa yang bisa dicatat atau digarisbawahi dari kejadian itu? Tentu saja perhatian kita langsung terseret pada perdebatan sengit mengenai apakah retorika yang digunakan Sarah Palin selama kampanye memicu Lougher untuk melakukan penembakan. Rasanya, jika tak bermasalah, retorika itu pasti tidak akan disangkutpautkan dengan kejadian penembakan. Namun, begitulah adanya, retorika Palin ini termasuk istimewa sehingga bisa masuk dalam pembahasan kita.

Apa retorika itu? KBBI mengartikannya (1) ‘keterampilan berbahasa secara efektif; (2) ‘studi tentang pemakaian bahasa secara efektif dalam karang-mengarang’; (3) ‘seni berpidato yang muluk-muluk dan bombastis’. Selain itu, menurut Sonnya K. Floss (1989: 4-5), retorika didefinisikan sebagai penggunaan kata atau bahasa untuk memengaruhi pikiran, perasaan, dan tingkah laku khayalak. Intinya, tentu saja, cara menggunakan bahasa untuk mencapai tujuan. Jika dalam kampanye, retorika pasti digunakan agar masyarakat bersedia memilih orang tertentu dan melabelinya sebagai wakil.

Lal, seperti apa retorika Palin yang mendapat banyak kritikan itu? Jika diamati secara saksama, Palin yang memang gemar membual tentang pengalamannya menjadi pemburu itu sangat senang memakai metafora yang berkaitan dengan senapan atau dunia tembak-menembak.

Dalam kampanyenya menentang Reformasi Layanan Kesehatan yang diusung Obama, politikus konservatif Sarah Palin, mantan calon wakil Presiden gandengan John McCain yang dikalahkan pasangan Obama-Biden dalam pemilu presiden 2008, memasang gambar peta AS dengan distrik-distrik yang dikuasai politikus Demokrat pendukung reformasi itu lengkap dengan simbol bidikan senapan, yang ia perkenalkan kepada para pengikutnya di Twitter dengan kalimat “Don’t retreat, insteadRELOAD” (terj. “Jangan mundur, ISI ULANG”). Nama Gabrielle Giffords pun juga dimasukkannya dalam ‘papan tembak’ itu.

Dalam pemilihan 2010, saingan Giffords, Jesse Kelly, juga pernah menggunakan retorika kekerasan. Kampanye Kelly mengadakan acara yang disebut “Get on Target for Victory in November” (terj. “Bidik kemenangan di bulan November”). Deskripsinya, “Help remove Gabrielle Giffords from office. Shoot a fully automatic M-16 with Jesse Kelly” (terj. “Bantu singkirkan Gabrielle Giffords. Tembakkan senapan otomatis M-16 bersama Jesse Kelly).

Setelah terjadi insiden penembakan, papan tembak itu pun menghilang dari laman Palin. Karena telah muncul orang lain yang menggunakan retorika serupa, ada baiknya untuk mendengarkan bantahan dari kubu Palin.  Rebecca Mansour, penasihat Palin, mengatakan bahwa tanda target adalah “something a surveyor would use” (terj. “sesuatu yang akan digunakan pensurvei”). Ia menambahkan dalam acara bincang-bincang di radio bahwa tanda itu seperti tanda umum dalam peta dan mereka yakin bahwa tak seorang pun akan menganggapnya kasar.

Dengan nada yang sama, para pengeblog sayap-kanan juga menunjukkan bahwa banyak anggota Demokrat juga menggunakan ‘tanda target’ dalam kampanye politik yang lalu. Mereka menambahkan bahwa ada banyak anggota Demokrat yang juga menggunakan bahasa yang kasar dan provokatif, termasuk Presiden Obama yang mengatakan, “If they bring a knife to the fight, we bring a gun” (“Jika mereka bawa pisau ke pertempuran, kita bawa senpi”).

Rupanya kontroversi Sarah Palin tidak berhenti begitu saja. Mantan Gubernur Alaska ini dalam video pembelaannya selama tujuh menit menolak hubungan antara bahasa politik dan kekerasan. Intinya, penembakan itu akan ditanggung sendiri oleh penjahat yang memulai dan mengakhirinya, bukan ditimpakan pada semua warga masyarakat, pada orang yang mendengarkan perbincangan di radio, dan sebagainya. Namun, video itu justru tidak mencairkan suasana yang ada, malah menimbulkan kritik keras dari kalangan Yahudi di AS mengenai istilah ‘fitnah darah’ (blood libel) yang ditujukan Palin kepada wartawan dan pandit. Istilah ‘fitnah darah’ berhubungan erat dengan sikap anti-Semit bahwa Yahudi telah menggunakan darah anak-anak Kristen untuk membuat roti ritual bernama matzo. Fitnah darah ini telah menjadi dalih bagi pembunuhan begitu banyak orang Yahudi selama berabad-abad. Sebenarnya pemakaian kata libel (‘fitnah’) dalam konteks pembelaannya sudah cukup untuk menggambarkan bahwa nama baiknya sedang dicemarkan oleh para wartawan dan pandit. Bahkan kata itu sudah menjadi umum dalam kamus, misalnya Merriam-Webster’s 11th Collegiate Dictionary atau Oxford Advanced Learner’s dictionary of Current English. Frasa blood libel sendiri malah tak dijumpai dalam kedua kamus itu. Alasan Palin untuk menggunakannya memang patut dipertanyakan. Apakah Palin juga bermaksud menambah retorika kekerasannya mengingat ada banyak kekerasan dan pertumpahan darah dalam frasa itu? Hanya karena Giffords adalah seorang Yahudi? Atau Palin sebenarnya tidak mengerti arti kata itu? Mungkin Tuhan dan Palin saja yang tahu.

Paling tidak dari Palin kita belajar bahwa citra senjata dan kampanye politik itu tidak saling akrab.

(+1 jempol)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar