Bahasa Jiwa Bangsa

26 Juni, 2011 | Edisi: | Kategori: Serba-Serbi

Oleh Ahmad Sahidah*

UNGKAPAN di atas menunjukkan bahwa bahasa suatu bangsa mencerminkan jiwa pemakainya. Boleh dikatakan, sepanjang sejarah, pembentukan bahasa Indonesia telah melalui tiga fase penting, yaitu pengaruh India, Arab, dan terakhir Inggris. Kalau kita mencermati bahasa Melayu lama, serapan kosakata Sanskerta begitu kuat, bahkan kata sarung yang berasal dari Negeri Gangga itu telah identik dengan agama tertentu. Selanjutnya, setelah Islam masuk ke Nusantara, kosakata Arab turut memperkaya perbendaharaan dan bahkan pada waktu yang sama bahasa yang berasal dari Sanskrit telah dipahami secara semantik sebagai ungkapan dari praktik agama Islam, seperti puasa dan sembahyang.

Di masa lalu, menguatnya penggunaan bahasa bernuansa keagamaan, seperti puasa dan sembahyang, tak mendapat gugatan. Namun kini sebagian pihak menganggap dua kata tersebut sebaiknya tidak digunakan, mengingat keduanya dipandang mengusung nilai-nilai agama Hindu. Memang pada masa awal tradisi persuratan Islam di Indonesia sedang marak, begitu banyak kata Arab yang diserap dalam daya ungkap puitis syair untuk menyesuaikan dengan bunyi rima. Tak hanya itu, bahasa kesarjanaan pada waktu itu turut menyerap perbendaharaan bahasa dari rumpun Semitik itu sebagai bahasa ilmiah, seperti bahasa Inggris hari ini.

Sekarang kita menyaksikan penggunaan bahasa Inggris yang berleluasa, bahkan dalam bahasa aslinya, tanpa perubahan sedikit pun, dengan hanya menuliskan kata-kata Inggris dengan huruf miring, misalnya: concern dan taken for granted. Padahal kita memiliki padanan kata itu dalam bahasa Indonesia. Ternyata, secara diam-diam, penggunaan bahasa Inggris telah begitu merasuk dalam pengucapan orang ramai, sehingga secara tak sadar mereka lebih cenderung menggunakan kosakata Inggris asal atau serapan dalam banyak kesempatan. Anehnya, penggunaan bahasa Inggris tidak digunakan secara semestinya. Misalnya, begitu banyak artis dan wartawan hiburan mengucapkan public figure dengan “pablik figur”, bukan pblik figy r. Demikian pula seorang artis dengan enteng menyebut pintu exit, dengan pengucapan kata yang terakhir secara fonologis dalam bahasa Indonesia.

Di sisi lain, pemilihan serapan dan penggunaan kata asing mengandaikan pencarian jati diri dan pengetahuan rakyat. Penyerapan kata asing dari India tentu terkait dengan gagasan relasi pengetahuan dan kekuasaan dalam tradisi Foucauldian, yang menggagas bahwa bahasa sebagai alat pengetahuan tunduk pada kuasa yang berdiri kukuh pada masa dan tempat tertentu. Tentu kekuasaan tersebut bukan dalam pengertian kepemilikan fisik, tapi juga kesadaran bahwa pada waktu itu penguasaan terhadap kosakata “asing” mengandaikan keahlian si pemakai dalam bidang keilmuan. Demikian pula ketika kesultanan Islam berkuasa di seantero Nusantara, pemanfaatan kosakata Arab menjadi penanda bagi kedudukan kesarjanaan khusus pemakainya.

Lalu sekarang penggunaan bahasa Inggris begitu meruyak di berbagai kalangan. Dalam sebuah dialog di televisi swasta, seorang anggota DPR mengatakan reason, touch, dan standing position ketika membahas masalah subsidi bahan bakar. Kata-kata itu sebetulnya bisa diganti dengan alasan, sentuhan, dan pendirian.

Apa daya, perbincangan di depan umum telah mengandalkan penggunaan bahasa Inggris asal dan serapan di banyak tempat.

Bahasa adalah alat untuk menyampaikan pendapat bernas mengenai suatu masalah. Lebih celaka lagi jika penutur dituntut memberikan keterangan kepada khalayak yang berlatar belakang majemuk dan yang tidak memahami bahasa Inggris. Tentu, pembawaan mantan presiden Abdurrahman Wahid perlu diperhatikan ketika ia menggunakan bahasa Indonesia yang baik, meskipun beliau mampu berbicara Inggris dengan fasih.

Mungkin benar bahwa bahasa itu mengandaikan keadaan kejiwaan masyarakat.

Masalahnya, kita telah beranggapan bahwa keilmiahan menuntut berbahasa Inggris. Akibatnya, perbincangan ilmiah dan wacana politik senantiasa menghamburkan serapan bahasa asing.

Sebenarnya, jika bahasa Indonesia merupakan campuran dari tiga peradaban besar dunia, India, Arab, dan Eropa, penggunaan bahasa tersebut lebih mencerminkan semangat dari kebesaran tiga tamadun tersebut. Menjadi warga Indonesia yang beragama dengan baik tidak dengan sendirinya harus selalu mengutamakan serapan bahasa Arab dalam percakapan dan penulisan dengan cara sembarangan. Demikian juga, meski kita ingin maju, seperti disarankan Sutan Takdir Alisjahbana yang selalu melihat ke Barat, tak berarti menggunakan kosakata serapan Inggris serampangan. Demikian pula jati diri sejati tidak harus menggagahkan diri dengan serapan bahasa Sanskrit sebagai sumber utama bahasa Melayu. Sejauh mungkin bahasa Melayu sebagai sumber bahasa Indonesia menyediakan perbendaharaan kata yang cukup, ditambah dengan bahasa daerah yang lain. Untuk itu, seseorang tak perlu mengatakan pintu exit kepada orang yang ingin keluar dari sebuah gedung atau bangunan.

*Pengajar Program Pascasarjana IAINJ Paiton, Jawa Timur

Tulisan ini dimuat di rubrik bahasa Majalah Tempo 28 Maret 2011 dan LIDAHIBU ambil dari rubrikbahasa.wordpress.com.

(+1 jempol)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar