Bahasa Bences Indonesia (Bag. 1)

26 Juni, 2011 | Edisi: | Kategori: Berita Gejala

Oleh Wahyu Adi Putra Ginting

“Hinelino, tweecongers. Apipon kabaret? Sutra lamongan yes akikuk tinta iksiis. Pastinja yey kangenband, yes?”

Saya pun begitu, pembaca! Kerut di dahi dan picingan mata Anda, yang keduanya melambangkan situasi sedang bingung, juga terjadi pada saya saat pertama sekali membaca ungkapan di atas. Seperti asing tapi akrab dan sebaliknya. Mungkin itu istilah yang pas untuk menyebut pengalaman membaca taburan kata-kata macam yang saya kutip barusan. Saya, mungkin juga Anda, merasa akrab dengan kata-kata seperti kabaret, sutra, lamongan, tinta, yes, atau kangenband. Kita paham makna harfiah atau referen dari kata-kata itu. Tapi, saya bahkan tak berani bermimpi bahwa makna harfiah atau referen tersebut mampu membuat saya mengerti arti atau maksud dari ungkapan tersebut. Kata-kata itu tiba-tiba menjadi sangat asing saat menjadi gerbong-gerbong dalam kereta kalimat di atas. Bagaimana caranya kabaret (‘jenis tari’), sutra (‘jenis kain’), lamongan (‘nama daerah di Jawa Timur’), tinta (‘cairan berwarna yang umumnya digunakan untuk menulis’), dan kangenband (‘nama salah satu grup musik pop di Indonesia’) bisa bahu-membahu menjalin makna di kalimat yang seperti datang dari planet lain itu? Semua itu mungkin dalam Bahasa Bences!

Sebelum saya melanjutkan tulisan ini, mana tahu Anda penasaran, saya berikan tafsiran makna yang mampu saya buat untuk kutipan itu: “Hai, bencong-bencong pengikut Twitter. Apa kabar? Sudah lama, ya, aku tak eksis. Pastinya  kamu-kamu kangen, kan?”

Bahasa Bences, Bahasa Bencong, Bahasa Banci

Di situs-jejaring Twitter.com, ada satu akun dengan nama @kamusBANCI2012. Lewat akun @lidahibu, saya mengikuti cerewet kicauan dengan bahasa yang tadinya saya kira berasal dari planet lain ini. Admin dan para pengikut akun itu (jumlahnya lebih dari 21.000 orang! Dan terus bertambah!) menyebut bahasa yang mereka pakai sebagai bahasa bences, atau bahasa bencong, atau bahasa banci.

Selama beberapa minggu sejak kali pertama mengikuti akun @kamusBANCI2012, saya mencoba menyamakan frekuensi semantik saya dengan kata-kata yang meliak-liuk lewat ribuan kicauan komunitas bahasa bences ini. Saya mencoba menelisik pola perekaan khazanah kata dan dialog mereka, menerka-nerka apa maksudnya. Meski dengan susah-payah, saya berhasil untuk sehelai-demi-sehelai mengurai makna yang, bagi saya, tampak diselimuti oleh sandi-sandi.

Pada saat telah berhasil mulai paham bahasa bences itulah saya berhenti sejenak dan berpikir: mengapa saya bisa paham? Bagaimana mungkin saya bisa tahu bahwa kata lamongan di situ artinya ‘lama’ dan bukan ‘nama daerah di Jawa Timur’? Apa saja faktor yang memfasilitasi saya dalam usaha saya memahami bahasa bences? Pertanyaan-pertanyaan yang bersifat renungan pribadi ini kemudian memuncak pada renungan tingkat selanjutnya: sebagai bahasawan, saya punya kewajiban untuk mewartakan gejala bahasa ini; dan, saya pun wajib untuk membuat sebuah deskripsi analitis atas bahasa ini. Atas dasar itulah artikel ini saya buat. Selain berbagi pengalaman tentang proses kognitif yang saya alami saat menjelajahi belantara makna bahasa bences, saya pun akan mencoba membuat satu deskripsi linguistik tentang bahasa ini. Tentunya belum lengkap. Tapi, saya harap deskripsi yang saya kerjakan ini setidaknya boleh memberi pemahaman dasar manakala suatu saat nanti Anda (tertarik untuk) berhadapan dengan bahasa yang tidak bisa tidak diakui hidup dalam jagad kebahasaan nusantara ini.

Oma Debby!

“Saya cucunya 😀 RT @risqhi: oom @kamusBANCI2012 bahasa banci sm bahasa gaulnya oma debby sehertian kok mirip2 ya? duluan sapa sih oom?”

Saya juga merasakan hal yang sama dengan @risqhi. Saya tidak bisa tidak teringat dengan bahasa gaul yang sudah dikamuskan oleh Debby Sehertian saat berinteraksi dengan bahasa bences. Kata-kata seperti akikuk atau mawara, mengingatkan saya pada akika (‘aku’) dan mawar (‘mau’) yang merupakan lema dalam Kamus Bahasa Gaul garapan Debby. Memang, dalam bahasa bences, variasi dari lema dasar bahasa gaul akika, misalnya, jadi lebih banyak: akikuk, akikes, akikeus, akikong, akika, atau akiki. Variasi-variasi macam ini yang membuat bahasa bences menjadi jauh lebih ‘liar’ dibanding bahasa gaul-nya Debby. Nanti saya akan kembali membahas pokok ini lebih jauh.

Bagaimanapun juga, bahasa gaul boleh dianggap sebagai purwabasa (bahasa awal/dasar) dari bahasa bences sebab pola perekaan kata-kata di bahasa bences punya banyak kemiripan dengan bahasa gaul. Tidak sekedar itu, bahasa bences bahkan menggunakan kosakata ‘asli’ bahasa gaul sebagai bagian dari khazanah vokabulernya. Contohnya seperti: panasonik (‘panas’), begindang (‘begini’), jali-jali (‘jalan-jalan’), akika, tinta (‘tidak’), dsb.

Pola lain yang mirip adalah penggunaan nama (baik nama orang atau nama tempat) untuk membentuk kata. Jika dalam bahasa gaul kita menemukan nama Imelda Marcos (‘e-mail’), Xanana Gusmao (‘ke sana’), Makassar (‘makan’), atau Chrisye (‘kiri’), dalam bahasa bences kita bisa menemukan nama Esmeralda (‘es’), Emanuela (’emang’), Obama (‘obat’), Libanon (‘libur’), atau bahkan nama-marga Panjaitan (‘panjang’).

Lanjut lagi, bila dalam bahasa gaul terdapat kecenderungan untuk ‘genit’ dengan membubuhkan akhiran –se, seperti dalam kata nyanse (‘nyanyi’) dan gense (‘genit’), bahasa bences ternyata punya kecenderungan untuk membalik fonem /sə/ menjadi /əs/, tapi dengan bumbu fonem /u/ yang dilafalkan dengan samar-halus-meliuk di tengah-tengahnya; sehingga menjadi /əus/, seperti dalam kata legeus (‘lagi’), kemendeus (‘ke mana’), atau lekeus-lekeus (‘laki-laki’). Fonem /əu/ ini mengingatkan kita pada bunyi yang kental terdengar dalam bahasa Sunda.

Selain itu, jika dalam bahasa gaul kita sangat akrab dengan akhiran –dang atau –ndang, seperti dalam kata endang (‘enak’), dalam bahasa bences, akhiran –ong yang menjadi trennya. Contoh: ketengkong (‘ketangkap’ atau ‘tertangkap’), dendong (‘dandan’), benterong (‘bentar’), atau jegong (‘jangan’). Saya menduga akhiran –ong ini diambil dari kata bencong. Bahkan, –cong dengan sangat menarik dan intertekstual digunakan untuk menyatakan ungkapan ‘selamat’ di Hari Raya Imlek barusan, seperti dalam CONG XI FAT CAI.

Itu sedikit gambaran tentang pengaruh Oma Debby terhadap ‘cucunya’.

Kupenggal Kata, Kata Kupaham

Saya tadi sempat bilang bahwa pertanyaan yang muncul dalam benak saya saat mulai mampu memahami bahasa bences adalah justru mengapa saya bisa paham. Saya juga sempat berujar bahwa makna setiap ungkapan dalam bahasa bences terasa seperti diselubungi oleh sandi-sandi. Ternyata memang begitu adanya. Menguak makna dalam bahasa bences ini seperti membongkar sandi. Maka, yang diperlukan adalah kunci untuk membuka kotak-sandi tersebut. Dan kunci membongkar sandi ini sebetulnya ada dalam pola leksikalisasi ungkapan-ungkapan bahasa bences. Anda hanya perlu beberapa pengalaman agar terbiasa dengan polanya. Setelah itu, Anda dapat mereka terjemahan kata-kata bahasa bences.

Mengapa saya katakan ‘mereka’? Sebab variasi yang ada dicipta oleh para ‘insinyur’ bahasa bences ini boleh jadi tidak terbatas. Selalu saja ada variasi baru untuk sebuah ungkapan. Lihat saja misalnya kata di mana, yang dalam bahasa bences menjadi di mandang, di mandose, di mandeus, atau bahkan di mandosdos.

Bagi saya pribadi, sebab saya berkenalan dengan bahasa bences dalam ragam tulis, maka ortografi menjadi ruang-bengkel saya dalam membongkar sandi bahasa bences. Tentu saja saya akan menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia, sebab bahasa Indonesia adalah lumbung mayoritas tempat bahasa bences, dan bahkan bahasa gaul, memperoleh bahan untuk  modifikasi-linguistik mereka. Nah, dari cara kita mengenali kecenderungan-kecenderungan ortografis dalam bahasa bences-lah kunci untuk membongkar semantik bahasa bences dapat diperoleh.

Kata-kata dalam bahasa bences adalah, pada umumnya, produk dari proses pemenggalan dan penempelan abjad-abjad. Dan pemenggalan selalu dilakukan dengan mengorbankan bagian tengah sampai akhir suatu kata. Sebuah kata dalam bahasa Indonesia, habis misalnya, dipenggal terlebih dahulu, menjadi hab, untuk kemudian ditempeli abjad lain –iba, dan menjadi habiba. Awalnya saya mengira bahwa modifikasi ini selalu bersifat morfologis, dalam arti: pemenggalan selalu dilakukan dengan ajeg berdasar suku-kata sebuah morfem; dan yang tersisa dari pemenggalan itu selalu suku-kata inisialnya (suku-kata depan). Jadi, bila kata yang hendak di-bences-kan adalah habis, maka pemenggalan silabiknya akan menyisakan ha dan bukan hab; karena habis terdiri dari dua suku-kata: ha-bis.

Ternyata tidak seperti itu. Modifikasi leksikal yang terjadi justru bersifat ortografis. Kata jeruk, yang terdiri dari lima abjad [j-e-r-u-k], dipenggal dua abjad terakhirnya [u dan k] sehingga tersisa tiga abjad awal [j-e-r]. Pemeggalan ini jelas tidak bersifat silabik (bersifat suku-kata) karena jeruk terdiri dari dua suku kata: je-ruk. Nah, sebagai riasan agar tampak bences, digandengkanlah empat huruf [m-a-n-i] ke penggalan [j-e-r], sehingga membentuk kata jermani, yang terdengar sangat menggemaskan.

Jadi, secara umum, bisa saya simpulkan bahwa pola modifikasi leksikal dalam bahasa bences itu melibatkan pembubuhan dekorasi abjad-tambahan setelah pemenggalan ortografis dilakukan pada suatu kata. Inilah (salah-satu) kunci untuk membongkar sandi yang mengabuti makna dalam bahasa bences. Kunci dasarnya: berpikir secara abjad (ortografis).

Pemenggalan abjad kadang-kadang malah tidak terjadi! Dalam kasus ini, teknik modifikasi yang digunakan adalah pembubuhan abjad-abjad dekorasi tambahan; seperti pada kata lebatusakdiah, yang merupakan modifikasi dari kata lebat.

Ada juga modifikasi yang dilakukan dengan teknik sisip-pelintir-abjad. Dalam menerjemahkan kata bahasa bences yang dibentuk dengan teknik sisip-abjad ini, kita harus pintar-pintar menyaring abjad-abjad dekorasinya. Contohnya pada kata jiguja, yang dimodifikasi dari kata juga. Coba perhatikan tahapan modifikasinya: [j-u-g-a + i-j = j-i-g-u-j-a]. Setelah penyisipan huruf [i] di antara [j] dan [u]; dan huruf [j] di antara [g] dan [a], maka terbentuklah modifikasi pertama: [j-i-u-g-j-a]. Lalu, saya kira untuk pertimbangan eufoni (supaya enak didengar ketika dilafalkan), dipelintirlah posisi huruf [u] dan [g], sehingga susunannya menjadi [j-i-g-u-j-a].

Waduh, repot, ya? Itu belum semuanya, lho.

Proses pemahaman makna lewat jalur ortografis tersebut terjadi secara visual dan virtual dalam benak saya; lewat bantuan indera-netra (mata) tentunya. Sebab interaksi yang terjadi adalah antara saya dan bahasa bences ragam tulis, maka otak saya memperlakukan rangkaian abjad yang membentuk kata di bahasa bences sebagai citra-citra. Proses penginderaan inilah yang mempengaruhi kerja kognitif saya dalam mencari makna. Contoh praktisnya begini:

Misalnya saya mencoba memahami kalimat berikut:

Kemerong akikeus habiba ketengkong rejongan mak samsara satpol pp, jadinda akikes tintus bisikan iksis legeus, sekarsari akika udinan free!

Secara sendirinya saya langsung mencoba membuang abjad-abjad dekorasi tempelan yang ada di kata-kata tersebut. Maka, setelah pembuangan abjad saya lakukan, yang tersisa dari kalimat itu adalah:

Kemer ak habi keteng rej mak sam satpol pp, jadin ak ti bis iksis leg, sekar ak ud free!

Setelahnya, indera-mantik saya menemukan satu frasa yang dapat dijadikan patokan untuk mengkonstruksi ulang kalimat tersebut, yaitu: satpol pp. Nah, dari titik ini masuklah saya ke dalam proses semantik kontekstual. Frasa satpol pp kemudian saya sandingkan dengan konteks ruang tempat kalimat itu berada, sebut saja nama konteksnya ‘ruang banci’. Satpol pp dan banci. Dari situ, otak saya lalu memproduksi imaji tentang para banci yang dikejar-kejar satpol pp. Dari mana datangnya imaji ini? Tentu dari pengetahuan dan referensi yang saya dapatkan dari banyak tempat: bisa dari tayangan berita di televisi, bisa dari cerita orang, bisa dari mana saja. Yang penting, semua ingatan dan pengetahuan itu membentuk persepsi saya tentang interaksi antara satpol pp dan banci. Maka, dengan pasti saya bisa menebak bahwa rejongan, yang telah saya penggal menjadi rej, adalah modifikasi dari kata razia.

Selanjutnya lebih mudah. Dan inilah terjemahannya: Kemarin aku habis ketangkap razia, mak, sama Satpol PP. Jadi aku tidak bisa eksis lagi. Sekarang aku sudah free (bebas)!

(+5 jempol)
Loading ... Loading ...

11 komentar
Berikan komentar »

  1. Haha. Analisis yang keren, Bang Ginting! Kami tunggu bagian selanjutnya 🙂

  2. Salut untuk ketekunannya membongkar “bahasa unik” ini. Boleh juga artikel dikirim ke media cetak supaya lebih beragam pembaca yg tercerahkan.
    Ditunggu bagian ke-2 nya.. 🙂

  3. Salut untuk ketekunannya membongkar “bahasa unik” ini. Boleh juga artikel dikirim ke media cetak supaya lebih beragam pembaca yg tercerahkan.
    Ditunggu bagian ke-2 nya..

  4. 1. lekeus itu bukan lekas seperti yang banyak diduga jutaan makhluk straight LoL. Ga sadar yah bahwamakhluk straight bernama lelaki itu lah yang disandikan. Gapapa deh, bonus satu kata.. Satu kata lagi;
    2. jiguja, ini diambil dari nama minuman, karna anggota hurufnya terkandung dalam kata ini, maka dipinjamlah kata ‘jiguja’ untuk menyandi kata ‘juga’.. tapi sebenarnya jarang dipakai.. Lebih sering ‘jugria’ tapi itu juga udah jadul.. Mungkin oma Debby masih pakai. Hihihi…
    Sekian aja deh yah… cusssita. @outNspoken

  5. Buat Mas Ivan: Hehehe… Sip, makasih, Mas. Bagian keduanya sudah jadi. Tinggal pasang saja. Tapi, masih nunggu antrian isian lain yang harus masuk ke situs lidahibu.com ini. Biar tertib. 🙂

    Buat Ary Yuanto: Trims untuk salutnya, Bung. Tulisan ini sudah dimuat di media cetak kok. Nama media cetaknya Majalah Bahasa LIDAHIBU (versi cetak dari situs jejaring ini). Hehe… Silahkan disebarluaskan, Bung.

    Buat Gandeus: Hohoho… Trims ya buat ralatnya. Segera saya perbaiki. Oh, ya. ‘Jiguja’ itu ternyata memang merek minuman detox. Saya baru ngeh setelah kamu beritahu. Hahaha… Hm… Info baru ini bakal membuat saya membongkar lagi analisis untuk artikel Bahasa Bences Indonesia (Bag. 1). Makasih. Gandeus. Tulisan ini bakal jadi lebih sempurna karenamu. 😉

    Tabik buat semua!
    Wahyunique Ginse :))

  6. Wah, seru, ya!

    Saya baru-baru ini bertemu seseorang yang mempunyai banyak teman waria. Dia sendiri bukan seorang waria. Dia hanya tidak merasa tidak nyaman untuk duduk bersama para waria, tidak seperti kebanyakan pria. Kepribadiannya yang tidak mau menganggap para waria berbeda lah yang membuat teman saya itu tidak malu atau bahkan takut.

    Setelah membaca artikel menarik ini, saya menjadi ingin sesekali berbincang dengan seorang atau beberapa waria untuk, setidaknya, membuktikan kebenaran dari beberapa ungkapan yang ditulis di dalam artikel ini dan yang dipakai oleh mereka. Hehe. Tapi, saya tidak bermaksud untuk meragukan apa yang Mas Wahyu sudah tulis. Saya hanya bercanda sedikit.

    Dan, sepertinya saya akan menunjukkan artikel ini kepada teman saya itu. Hehe.

    Rad

  7. Bung Rad,

    Hehehe… Saya sangat berterima kasih jika Bung Rad mau menunjukkan artikel ini pada orang lain, siapapun itu, baik yang waria maupun yang bukan. Terima kasih telah membaca dan berkomentar.

    Tabik!
    WahyuGinting

  8. kalo ga ada kata2 satpol pp yg oleh penuturnya ga dibahasakan bencos, trs masuk ke analisa pake apa bang?

  9. Agus,

    Seandainya tidak ada frasa “satpol pp”, maka kata “free” dapat jadi petunjuk, disandingkan dengan “ketekong”. Dan “rejongan” pun jadi mudah ditebak artinya. Analisis konteks tetap dapat dilakukan untuk menggambarkan proses kognitif yang terjadi dalam kepala pembaca saat mencoba memahami kalimat itu.

    Salam,
    Wahyu Ginting

  10. […] pencarian bentuk yang panjang. Deskripsi sederhana yang saya lakukan di artikel sebelumnya, Bahasa Bences Indonesia Bagian I, tentu belumlah deskripsi yang paripurna. Masih banyak sekali ruang analisis yang lebar […]

  11. […] terlepas dari kejengahan beberapa penutur atas berbagai ragam bahasa seperti alay, celoteh bayi, bahasa bences, atau bahasa gaul, kita sebetulnya dapat pintar-pintar menggunakan ciri-ciri dari ragam bahasa itu […]

Berikan Komentar