(Masih) Tipologi Bahasa

7 Mei, 2011 | Edisi: | Kategori: Kultukal

Oleh Nikodemus Wuri Kurniawan

Kolom Kultukal bulan November (edisi ke-20) telah menyampaikan pembahasan singkat tentang tipologi bahasa. Tentu kalian masih ingat dengan tipologi genealogis, tipologi areal, dan tipologi struktural, bukan? Nah, sesuai janji, encik dosen tamu akan membahas lebih lanjut ketiga hal tersebut. Mari, semuanya bersedia melanjutkan kuliah yang mengasyikkan ini!

  1. Walaupun, menurut teori, semua bahasa pasti akan masuk dalam pengelompokan secara genetis, pada kenyataannya masih ada saja bahasa yang tidak terkelompokkan.
  2. Alasannya, sewaktu dilakukan rekonstruksi, bahasa-bahasa tersebut mungkin belum terdaftar dalam perbendaharaan peneliti dan bahasa-bahasa tersebut tidak sesuai dengan teori yang mereka ajukan (akibatnya, muncul kelompok independen).
  3. Contoh pengelompokan bahasa secara genealogis adalah Nortris mencakup Indo-Jerman, Semit-Hamit, dan Ural-Altai (Indo-Jerman mencakup Jermania [antara lain, Jerman, Belanda, Inggris], Roman [antara lain, Portugis, Spanyol, Italia, Prancis], Indo-Irania, dan Slavia).
  4. Berlanjut ke tipologi geografis (areal), S.J. Esser mengelompokkan bahasa-bahasa Nusantara menjadi tujuh belas kelompok, antara lain kelompok Sumatra, Jawa, Dayak-Kalimantan, Bali-Sasak, Sulawesi Utara, Gorontalo, Tomini, Toraja, Loinang-Banggai, Bungku-Laki, Sulawesi Selatan, Muna-Buntung, Bima-Sumba, Ambon-Timor, Sula-Bacan, Halmahera Selatan dan Papua, dan Melanesia.
  5. Dalam tipologi struktural, berdasarkan perbedaan struktur morfologis, kita mendapatkan empat tipe bahasa, yaitu tipe aglutinatif (struktur katanya terbentuk oleh penggabungan unsur pokok dan unsur tambahan, unsur pokok dan unsur pokok, atau pengulangan unsur pokok), fleksi (struktur katanya terbentuk oleh perubahan bentuk kata—deklinasi dan konjugasi), flekso-aglutinatif (ringkasan dari tipe fleksi dan aglutinatif), dan isolasi (tidak ada pembentukan kata); dan berdasarkan struktur morfosintaksis, kita mendapatkan tiga tipe bahasa, yaitu tipe bahasa analitik (setiap kata memiliki satu konsep, tidak terdiri atas gabungan konsep), tipe bahasa sintetik (satu bentuk bahasa telah mengandung konsep makna sintaksis, sekaligus sudah merupakan hubungan sintaksis), dan tipe bahasa polisintetik (hampir sama dengan tipe sintetik, hanya ini lebih kompleks—suatu bentuk kata bisa berupa suatu kalimat).
  6. Berdasarkan perbedaan struktur frasanya, kita mengenal dua tipe bahasa, yaitu bahasa yang bertipe senter-atribut dan bahasa yang bertipe atribut-senter, atau secara tradisional bisa disebut bahasa yang bertipe diterangkan-menerangkan (DM) dan bahasa yang bertipe menerangkan-diterangkan (MD).
  7. Dan berdasarkan struktur kausalnya, kita mengenal dua tipe bahasa, yaitu bahasa yang bertipe V-O (verbobject) dan bahasa yang bertipe O-V (objectverb).

Ah, inilah rupanya akhir Kultukal edisi ini. Sudah malam rupanya.

Sumber: Soeparno. 2003. Dasar-dasar Linguistik. Yogyakarta: Mitra Gama Widya.

(+1 jempol)
Loading ... Loading ...

3 komentar
Berikan komentar »

  1. Wah, ternyata saya tidak teliti. Di sini rupanya lanjutan tulisan “Tipologi” yang baru saja saya baca. Lumayan bermanfaat.
    Saya tertarik dengan bahasa yang Anda sebut independen. Kelompok bahasa tersebut susah dicari kekerabatannya. Linguis menamainya isolate language, misalnya saja bahasa Basque di Spanyol dan bahasa Kusunda di Nepal. Bahasa Basque diketahui tidak mempunyai relasi kekerabatan dengan bahasa-bahasa yang dituturkan di Spanyol & sekitarnya. Demikian halnya bahasa Kusunda di Nepal. Namun, mengingat bahasa bermigrasi bersama manusia yang menuturkannya, hal tsb bukan lah fenomena yang mengherankan. Kendati bagaimana bahasa tsb tidak banyak (tapi bukan berarti tidak sama sekali) terpengaruh bahasa-bahasa di tempatnya bermigrasi sehingga tidak menjadi bahasa “baru” yang lebih mirip dengan bahasa sekitarnya tentu masih menjadi PR yg menarik.
    Konsep genealogis itu sendiri berlandaskan pada adanya pemahaman bahwa bahasa tidak pernah benar-benar terlahir sebagai bahasa baru, melainkan diturunkan/dilahirkan dari bahasa-bahasa yg sudah terlebih dahulu ada. Oleh sebab itu, bahasa dipandang sebagaimana makhluk hidup yang mempunyai keluarga. Ada yg namanya bahasa Ibu (mother), bahasa anak (daughter), ataupun bahasa saudara (sister) dari suatu bahasa.
    Terima kasih.. 🙂

  2. Hai, Ikmi.

    Wah, senang sekali rasanya mendapat taburan informasi baru lewat komentarmu. 🙂

    Bagi Lidahibu sendiri, Tipologi Geografis-lah yang paling menarik perhatian. Ini karena Lidahibu punya cita-cita membuat Komik Logat Nusantara, sebuah karya komik yang merekam dan menarasikan warna-warni logat bahasa Indonesia yang ada di Nusantara ini. Kalimat nomor 4 dari artikel Kultukal di atas sudah cukup membantu. Namun, sepertinya harus dipermantap lagi dengan analisis dialektologi. Sebab, semakin rinci pemetaan bahasawinya, semakin baik kita dapat merekamnya — supaya lengkap dan tidak tumpang-tindih.

    Senang bercakap-cakap denganmu. Terus berkomentar, ya. Dan, kalau ingin mengirimkan tulisan untuk dimuat di situs-web ini, jangan segan. Kirimkan saja ke surel lidahibu[at]yahoo.com. 🙂

    Salam Jilat!

  3. Mas/mbak, tambah referensi dong, masa’ cuma dr satu buku Prof Suparno saja?
    Setahu sy, beliau pun tidak terlalu mendalami tipologi bahasa (kalau beliau pernah meneliti tipologi bhs, sy berarti salah).
    Oiya, kalau bisa, artikel selanjutnya tidak cuma pengantar, alias berupa penelitian betulan atau bisa sekadar merepresentasikan hasil penelitian tipologi bhs yg menarik. Setahu sy, permasalahn tipologi bhs2 di Nusantara msh byk yg belum diungkap. Nah, mgkn Lidah Ibu sbg media yg sudah pny byk massa bisa berbuat lebih drpd sekadar pengantar atau kesimpulan dr satu bab buku.
    Oiya (lagi) kalau tidak salah, Lidah Ibu markasnya di Sadhar ya? Sy ngiler2 ingin masuk perpus Verhaar lagi (buat orang luar Sadhar mahal), di sana byk koleksi artikel/buku yg beliau kumpulkan sepanjang hidupnya ttg tipologi bahasa (dan ribuan buku lainnya), baik yg berbahasa Indonesia, Belanda, maupun Inggris.
    Jadi, bgmn jika Mas/Mbak admin Lidah Ibu menulis ttg J.W.M. Verhaar dan kisah2nya, juga ttg isi2 dlm koleksi2nya?

Berikan Komentar