Bahasa Kupang: Wangi Makna dalam Runtutan Bunyi yang Dipotong-potong

7 Mei, 2011 | Edisi: | Kategori: Berita Gejala

Oleh Armando Soriano

sumber: http://4.bp.blogspot.com


“Tuhan Allah bekin langit, bumi deng dia pung isi dong

Mula-mula Tuhan Allah bekin langit deng bumi.

Itu waktu, bumi balóm jadi, deng samua masi harba-biruk. Yang ada, aer. Deng galáp gulita tutu ame sang dia. Tuhan pung Roh ada bajalan di atas itu aer” (http://www.e-alkitab.org/).

Salam pembaca LIDAHIBU yang terkasih! Bersama ini awak juga ingin berbagi jabat dan peluk untuk perayaan-perayaan di akhir dan awal tahun yang baru saja kita lewati. Uluran salam itu mungkin bisa ditambah, jika sudi diterima, dengan sebuah ciuman khas saling menyentuhkan hidung. Ya, sebuah cara yang menjadi bagian dalam tata cara silaturahmi yang lazim di sebuah kota kecil di gugusan kepulauan bagian tenggara dari negara kita ini, kota Kupang.

Asal Nama: Cupa atau Kopa?

Kupang merupakan ibu kota dari Propinsi Nusa Tenggara Timur. Kota ini terletak di sisi barat Pulau Timor. Menurut sejarah, kota ini mulai berkembang dari bentuk yang semula, yaitu sebuah desa kecil di tepi pantai, semenjak datangnya Belanda tahun 1653. Asal usul nama kota Kupang dapat dilihat dari beberapa versi. Salah satunya adalah versi yang digunakan oleh situs resmi “Website Pemerintah Provinsi NTT” (http://nttprov.go.id/provntt/) karena, menurut pengasuh situs webnya, versi ini paling mendekati kebenaran.

Menurut cerita itu, dahulu kala ada sebuah kapal bangsa lain yang tiba di daerah itu. Para pelaut asing disambut dengan ramah oleh penguasa di kala itu. Sebuah kendi yang berhiaskan ukiran diberikan oleh para pelaut asing kepada penguasa setempat (seorang raja dari Suku Helong, salah satu suku di NTT). Pemberian itu diiringi dengan kata cupa yang dituturkan oleh orang asing. Penguasa menerima hadiah itu sembari menirukan tuturan yang ia dengar dari pelaut tersebut. Kendi tersebut kemudian dinamai Nai Cupa (bahasa Dawan). Seiring berjalannya waktu, dalam kebiasaan orang bertutur, nama kendi tersebut berubah menjadi kopa, lalu kopan. Penguasa daerah (mungkin juga nama daerah itu) kemudian dikenal dengan nama yang diberikan pada kendi. Seorang raja dari Suku Helong yang menguasai negeri itu kemudian dikenal dengan nama Lai Kopan. Dari sinilah nama Kupang dilahirkan.

Cerita ini dinilai paling mendekati kebenaran karena kata kupa, kopa, atau kopan tidak ada dalam bahasa Suku Helong maupun Suku Dawan yang merupakan penguasa negeri kala itu. Selain itu, tidak ada keterangan lain tentang suku bangsa pelaut asing yang memberi cinderamata kendi tersebut selain kata cupa. Jika dihubungkan dengan penelitian bahasa dan sejarah bangsa-bangsa yang menjelajah lautan kala itu, kata ini diperkirakan berasal dari bahasa Spanyol atau Inggris kuno, yaitu cupa atau cuppe yang berarti ‘kendi’. Demikian cerita dari situs pemerintahan tersebut. Sumber sejarah ini tentu saja masih dapat dipertanyakan dan diperdebatkan.

Bahasa Indonesia dipakai sebagai salah satu bahasa di kota Kupang. Sebagai ibu kota propinsi, Kupang merupakan pusat perdagangan, pemerintahan, dan pendidikan, serta akses jalur transportasi darat, laut, dan udara untuk wilayah-wilayah di atas Pulau Timor dan sekitarnya. Beberapa suku yang berbeda adat-istiadatnya hidup di kota ini. Bahasa suku-suku tersebut memiliki variasi dalam soal perbedaan dan persamaan antara satu dan yang lainnya. Ada yang hampir serupa, mungkin karena adanya hubungan akar rumpun bahasa yang dekat, namun ada juga yang sama sekali berbeda. Dalam perbedaan inilah bahasa Melayu Kupang, selanjutnya dalam tulisan ini disebut bahasa Kupang, mendapatkan bagiannya sebagai bahasa yang dipakai.

Bahasanya Pedagang Rempah

Dalam sebagian besar penulisan tentang bahasa Kupang, sering muncul istilah Melayu Kupang. Studi ilmiah tentang bahasa Melayu Kupang telah dilakukan oleh June Jacob dan Barbara Dix Grimes. Kajian ini terangkum dalam makalah mereka, “Developing a role for Kupang Malay: The contemporary politics of an eastern Indonesian creole” (http://www.sil.org/asia/philippines/ical/papers.html). Penelitian ini cukup membantu dalam melihat bahasa Kupang dari berbagai sisi, misalnya dari linguistik dan sosiologi. Jacob dan Grimes mengangkat keberadaan bahasa Kupang dalam hubungannya dengan cara berpolitik di Indonesia. Pertanyaan-pertanyaan lahir dari makalah ini, seperti apakah bahasa Kupang adalah sebuah bahasa yang sejati atau hanya bahasa Indonesia yang buruk? Dapatkah bahasa Kupang menjadi sebuah bahasa yang sejati tanpa kebudayaan yang dimilikinya?

Kesan bahasa Indonesia yang “rusak” dapat dirasakan jika pembaca menyimak kutipan dari Alkitab berbahasa Kupang yang mengawali tulisan ini, apalagi jika pembaca berada di kota Kupang. Dan sepertinya sudah menjadi hal umum bahwa perbedaan yang dimiliki oleh bentuk-bentuk kebudayaan di daerah di luar pusat kekuasaan dapat dengan sendirinya terperosok atau digelincirkan dalam pemaknaan singkat dan instan, yang hasilnya adalah perendahan atau sekadar menjadi bahan kelakar. Bahasa Kupang memang berbeda. Mengapa ada unsur bahasa Melayu? Tidak lain karena adanya perdagangan. Bahasa Melayu  yang digunakan di kawasan Nusantara, menurut Prentice (1978) dan C. Grimes (1996), dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu vernaculars Malays (yang dipakai di tanah Melayu, seperti Malaysia, Sumatra, dan Singapura), official language Malays (digunakan di dalam pemerintahan, pengadilan, penulisan sastra, untuk daerah bagian barat kepulauan Nusantara), dan yang terakhir lingua franca Malays (trade Malays), bahasa Melayu Pasar (digunakan di daerah jalur perdagangan rempah-rempah, pala dan cengkeh di Maluku, serta cendana di Timor). Dari bahasa pedagang rempah Nusantara ini bahasa Kupang lahir. Dapat dikatakan bahwa dari dasar bahasa Melayu Pasar masyarakat-masyarakat di kawasan Indonesia timur memiliki sebentuk bahasa pemersatu, selain bahasa Indonesia. Maka itu, orang Kupang dapat mengerti cerita-cerita lucu dari Merauke dan orang Ambon tidak akan kesusahan soal bahasa jika datang ke Kupang, meskipun bahasa Melayu pasar tersebut hingga kini sudah berkembang di daerah penuturnya masing-masing dan dipengaruhi oleh bahasa dari latar etnis masing-masing penutur serta oleh bahasa nasional.

Sa Pi Maen Bola di Dekat Lu Punya Ruma

Sepak bola memang sangat digemari di Kupang, bahkan menjadi olahraga yang paling sering dimainkan, di kota sampai pelosok desa. Namun, jika membaca subjudul di atas jangan diartikan bahwa sapi-sapi di Kupang bisa bermain bola. Salah satu ciri dari bahasa Kupang (penelitian Jacob dan Grimes memberikan tujuh hal tentang ciri fonologis bahasa Kupang) adalah pengurangan kata, atau dalam versi Jacob dan Grimes disebut elision atau truncation of words. Contohnya, kata jang berarti ‘jangan’, su atau suda ‘sudah’, lai ‘lagi’, pi atau pigi ‘pergi’, ruma ‘rumah’, dan sa atau bet atau beta ‘saya’ atau ‘saja’. Jadi, sekarang sudah tahu siapa yang pi maen bola?

Bentuk kepemilikan dalam bahasa Kupang tidak memakai konsep akhiran -ku, -mu, dan -nya seperti dalam bahasa Indonesia. Bentuk kepemilikan menggunakan partikel pung yang berarti ‘punya’. Di dalam kalimat, partikel tersebut terletak di antara pemilik dan objek yang dimiliki. Jadi, bahasa Kupang untuk mengatakan rumah saya atau topi saya bulat adalah beta/bet/sa pung rumah dan beta/bet/sa pung topi bulat.

Berikut adalah kata-kata ganti orang dalam bahasa Kupang: beta ‘aku’ atau ‘saya’, katong ‘kita’ (dari kita orang), batong ‘kami’ (dari beta orang), lu ‘kamu’, basong ‘kalian’, dia ‘dia’, dong ‘mereka’ (dari dia orang). Kata beta lebih sering digunakan dalam bahasa Kupang dibandingkan dengan kata sa. Kata sa untuk ‘saya’ lebih sering digunakan di daerah lain di daerah Indonesia timur yang menggunakan bahasa Melayu pasar. Jadi, sudah tahu di mana si pemain bola tadi pi maen bola?

Hadir di Pinggir

Di Kupang sendiri berbicara dengan bahasa Kupang biasanya dilakukan dalam situasi nonformal. Urusan pendidikan, pemerintahan, dan urusan resmi lainnya memakai bahasa Indonesia. Memakai sebuah bahasa yang lain tentu membuat diri serasa masuk ke tempat yang lain, bahkan dunia yang berbeda. Pemaknaan yang lahir berinteraksi dengan referensi-referensi pribadi maupun kolektif yang membawa suatu cara pandang yang berbeda. Begitulah fungsi bahasa, membawa kita mengarungi samudra makna.

Bahasa Kupang memang memiliki gambaran lain, yaitu kesan sebagai bahasa pasar atau bahasa jalanan. Mungkin ini karena masalah penggolongan atas penggunaan dan juga posisinya terhadap bahasa nasional. Beberapa pegiat bahasa mencoba mengapresiasi keberadaan bahasa ini. Yohanes Manhitu di dalam artikelnya mengatakan bahwa bahasa apa pun memiliki sejarah dan ceritanya sendiri, dan perlu untuk dihargai secara sama rata. Kemampuan untuk memakai bahasa sama halnya dengan kemampuan untuk memakai pakaian, selama kita tahu kapan harus memakai jas dan kapan harus memakai bikini, semua akan baik-baik saja (http://ymanhitu.blogspot.com/). Manhitu pun sudah membuat beberapa tulisan dalam bahasa Kupang, seperti puisi dan ulasan-ulasan atas bahasa tersebut.

Salah satu bentuk keberadaan bahasa Kupang yang dapat dilihat setiap hari bisa ditemukan pada kolom Tapaleuk (artinya ‘keluyuran tanpa juntrungan’) dalam koran Pos Kupang, salah satu surat kabar harian di Kupang. Kolom ini ditulis secara bergiliran oleh wartawan surat kabar tersebut. Tulisannya menggunakan bahasa Kupang dan sebagian besar bentuknya adalah tanggapan atas isu-isu yang sedang hangat dalam masyarakat. Tulisan dalam kolom ini lebih sering dinarasikan lewat tokoh-tokoh fiktif  (pedagang di pasar, PNS, orang-orang tua/pensiunan, ibu rumah tangga, dan anak sekolah) yang merupakan gambaran dari orang-orang di Kupang, masyarakat multietnis yang tidak homogen.

Terletak di pinggir salah satu halaman koran, Tapaleuk hadir dan membawa orang untuk masuk dan merasakan bagaimana segala sesuatu “berbunyi” atau “bernyanyi” dalam bahasa Kupang dengan kata-kata yang, menurut bahasa Indonesia, dipotong-potong. Selama masih ada yang peduli, bahasa ini akan tetap terjaga dan tidak akan habis dimakan agenda-agenda dari meja politik dan kekuasaan. Bagi mereka yang mau peduli, semoga bahasa ini bisa memberikan tidak hanya bunyi merdu, tetapi juga wangi bak rempah, dan berbagai gemilang rasa yang bisa dibawa sebuah bahasa kepada manusia. Semoga.

Sumber:

June, Jacob and Barbara Dix Grimes.2006. “Developing a role for Kupang Malay: The contemporary politics of an eastern Indonesian creole. Paper presented at Tenth International Conference on Austronesian Linguistics. 17-20 January 2006. Puerto Princesa City, Palawan, Philippines.

(+1 jempol)
Loading ... Loading ...

2 komentar
Berikan komentar »

  1. Suatu waktu saya terbang dr Waingapu ke Denpasar, duduk disebelah seseorang pedagang dr Jawa yg naik dr Kupang. Dia bilang: “Wah, di Kupang itu susah, masak bahasa saja di korupsi. Cuma mau bilang “saya sudah mau pergi” mrk bilang “be su mo pi”. Respons saya, “wah mas, itu kan penghematan ….”

  2. Hahaha… Pedagang itu tidak sadar, Pak Makonda, bahwa gejala semacam itu pun terjadi di bahasa Jawa. Lazim ditemukan di bahasa Jawa kalimat hasil penyingkatan suku-kata seperti “Ra nde det” yang versi panjangnya adalah “Ora nduwe duit”.

    Kata “korupsi” yang digunakan pedagang itu mungkin bentuk dari rasa frustrasinya saja. Ah, dia hanya butuh waktu dan usaha sedikit lebih keras untuk bisa merasakan wanginya bahasa versi masyarakat penutur. 🙂

Berikan Komentar