9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia Adalah Asing

7 Mei, 2011 | Edisi: | Kategori: Pustaka Gokil

Oleh Wahmuji

9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia Adalah Asing

Penulis             : Alif Danya Munsyi

Edisi                : Pertama

Penerbit           : Pustaka Firdaus

Kota terbit       : Jakarta

Tahun terbit     : 1996

Tebal buku      : 134 halaman

Adalah Pusat Bahasa, atau yang dulu bernama Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (P3B), yang paling gencar menyuarakan paradigma ‘bahasa Indonesia yang baik dan benar”; sebuah paradigma preskriptivisme (berupa resep) yang diajukan dan dipaksakan untuk dipatuhi oleh para penutur Bahasa Indonesia. Ideologi nasionalisme-paksa ini, selain tak pernah berhasil diterapkan, juga menjadi tanda bagi ketuna-sejarahan para ahli bahasa perumusnya akan lalu lintas kata dan istilah dalam bahasa Indonesia. Dari sinilah pula lahir banyak ratapan atas serbuan bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia, dan akhirnya, seruan-seruan untuk ‘memurnikan’ bahasa Indonesia; sebuah seruan yang mengundang tanya, “Adakah bahasa Indonesia murni?” Kumpulan esai berjudul 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing yang dikarang oleh Yapi Tambayong, atau (dengan nama samaran) Alif Danya Munsyi, Dova Zila, Juliana C. Panda, dan Remy Silado ini adalah tanggapan atas seruan-seruan pemurnian semacam itu.

Buku 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing adalah kumpulan esai Alif Danya Munsyi—nama pengarang yang dipakai dalam buku ini—yang pernah dimuat secara berkala di majalah Jakarta-Jakarta. Buku yang diulas di sini adalah cetakan pertama, yang terbit tahun 1996. Buku dengan judul provokatif ini, tanpa diberi pengantar dan penutup dari penulis atau penerbit, memuat 36 esai.

Secara umum, kumpulan esai ini berisi hasil penyelidikan sejarawi tentang asal-muasal banyak kata dan istilah dalam bahasa Indonesia. Alif Danya Munsyi dengan cerdik memperlihatkan pada kita bahwa kata-kata yang sudah kita anggap ‘murni’ atau asli bahasa Indonesia ternyata merupakan hasil persinggungan, serapan, dan akulturasi dari banyak sekali bahasa di dunia. Sebagai contoh, kata hari (berasal dari bahasa Sansekerta yang adalah dewa pengatur surya), meski (Portugis: masque), setelah (Kawi: telas), sembahyang (Sansekerta: sambah hyang), membeli (Campa: blei), buku (Belanda: boek), foto (Yunani: photos), toko (Tionghoa: to-ko), nyata (Jawa), sebab (Arab: sababun),  pasar (Persia: bazar), foya-foya (Manado: foya), hasil (Arab: hatsil), jejaka (Sunda: Jajaka), mengayuh (Minangkabau: kayuh), porselen (Inggris: porcelain), santri (Tamil: santri), judes (Yahudi: Yudas), ragi (Turki: raky), cinta (Spanyol, artinya pita), dan rodi (Perancis: ordre).

Dengan cara bercerita perihal hal-hal kecil, tapi penting dan menarik, yang berkaitan dengan kata atau istilah tertentu yang ingin dibahasnya, esai-esai Alif Danya Munsyi mengalir enak, tidak seperti kajian-kajian bahasa dalam makalah-makalah yang umumnya kaku dan sok objektif. Sayangnya, tidak semua sumber cerita ditampilkan dalam esai. Alif Danya Munsyi, dalam tulisan ini, juga belum terlalu banyak menggunakan istilah-istilah dari bahasa Sansekerta yang di kemudian hari menjadi idiosinkrasinya, yang ia gunakan sebagai cara untuk melawan gejala nginggris di Indonesia. Tulisan-tulisannya dalam buku ini mudah dipahami dan tidak berbelit-belit.

***

Dalam salah satu judul esai, yakni, Dari Dulunya Tidak Ada Pagar, Alif Danya Munsyi menyimpulkan bahwa dari dulu tidak ada pagar yang sanggup membatasi perlintasan bahasa yang berkasad agamawi di Indonesia. Itu dimulai dari pergeseran nenek moyang kita yang dulunya animis, kemudian menjadi Hindu dan Budha, Islam, dan beragama Masehi (Kristiani). Dengan pergeseran-pergeseran itu, dalam bidang bahasa, ada kata-kata yang semula terikat dengan kaidah dan sejarah agama tertentu, kemudian lepas ikatannya dan dipakai bersama-sama menjadi kata yang umum.

Kesimpulan Alif Danya Munsyi ini senada dengan apa yang pernah dinyatakan oleh Jerome Samuel dalam Kasus Ajaib Bahasa Indonesia? bahwa pemodernan kata dan istilah di Indonesia utamanya berasal dari luar. Maka, menurut Samuel, “[j]ika gelombang pemodernan berasal dari luar, masalah utama yang diakibatkan oleh pemodernan sebenarnya adalah masalah pelengkapan kosakata, bagaimanapun prosedurnya. Masalah pemungutan dan purisme tidaklah sepenting  seperti yang disiratkan oleh literatur sosiolinguistik.” Sampai di titik ini, keduanya punya kesimpulan yang sama, yakni pemurnian/purisme bukanlah masalah besar.

Yang membuat saya kemudian bertanya-tanya adalah adanya sikap berbeda dari Alif Danya Munsyi saat menanggapi gelombang bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Di buku ini, yakni tepatnya di judul esai It’s OK. No Problem, Dua Languages, Munsyi berusaha mengkritik fenomena “keranjingan beringgris-ria” dan membandingkan dengan Jepang dan Arab yang memati-lafalkan istilah-istilah bahasa Inggris yang masuk ke bahasa mereka. Bagaimanapun juga, bukankah, jika kita melihat sejarah yang sudah dijabarkan oleh Alif Danya Munsyi sendiri, sah-sah saja orang menggunakan bahasa Inggris dan mencampurnya dengan bahasa Indonesia sebagai tahap pertama sebuah akulturasi bahasa? Rupanya, dari kesan yang saya dapatkan dari tulisan-tulisan Alif Danya Munsyi selanjutnya, khususnya dalam buku Bahasa Menunjukkan Bangsa, ada nilai lain yang coba diangkat oleh Alif Danya Munsyi, yakni nilai nasionalisme dari negara yang sudah merdeka, berdaulat, dan punya khasanah bahasa(-bahasa) dari masa lalunya. Maka, memanfaatkan khasanah ini jadi penting sebagai bentuk kesadaran sejarah.

Dari buku ini pula saya mendapatkan frase yang ‘diplesetkan’ dari Sumpah Pemuda, yakni, Satu Nusa, Satu Bangsa, Dua Languages. Frase ini kali pertama dibuat dalam sebuah karikatur oleh senirupawan dari ITB, T. Sutanto dan diterbitkan di The Jakarta Post (Wednesday, October 28, 1992).  Kemudian, frase ini jadi frase favorit Alif Danya Munsyi. Frase ini, sepintas, memang adalah plesetan dari Sumpah Pemuda. Tetapi, jika ditelisik lagi, frase ini adalah pemelesetan dari kata-kata dalam lirik lagu satu nusa, satu bangsa, satu bahasa yang juga dipakai Soeharto dalam pidato peresmian EYD pada 1972.  Ini karena dalam Sumpah Pemuda, tidak ada pernyataan “satu bahasa”, melainkan “menjunjung bahasa persatuan”. Pemelesetan yang dilakukan oleh T. Sutanto tampak jitu menghadirkan kegagalan P3B dan Soeharto dalam mengontrol bahasa. Namun, pemelesetan dari pemelesetan itu, sadar atau tidak, menjaga paradigma bahwa kita hanya boleh berbahasa satu, yakni bahasa Indonesia. Paradigma inilah yang mendiskriminasi bahasa-bahasa daerah di Indonesia.

***

Bagaimanapun juga, mengingat hingga saat ini belum ada kamus etimologis bahasa Indonesia yang digarap secara serius (kabarnya, Harimurti Kridalaksana sedang mengerjakannya), maka saya rasa data-data dan hasil penelusuran Alif Danya Munsyi adalah sumber yang sangat bermanfaat.

(+1 jempol)
Loading ... Loading ...

Satu komentar
Berikan komentar »

  1. terima kasih .. blognya sgt bermanfaat

Berikan Komentar