Petambang

7 Mei, 2011 | Edisi: | Kategori: Tulisan Musiman

Petambang Batu

Oleh Yanwardi Natadipura*

Seiring dengan berita penyelamatan pekerja tambang di Cile, beberapa waktu lalu kata petambang sering digunakan oleh mediamassa. Harian Kompas, contohnya, menggunakan kata petambang sebagai sinonim pekerja tambang. Demikian pula beberapa media massa lainnya, antara lain Metro TV dan TV One, sering menggunakan kata itu untuk mengacu pada pekerja tambang. Namun, ada pula kalangan yang kurang sreg dengan kata petambang. Saya melihat, selain karena pendekatan yang berbeda, ketidakseragaman pendapat itu disebabkan oleh perbedaan pemahaman atas awalan pe(N)– dengan awalan per-.

Awalan pe(N)- dan per-

Tampaknya banyak di antara kita yang menafsirkan bahwa awalan pe(N)- dan per- sama saja. Ada juga pendapat: pertalian keduanya ialah hubungan morfem dan alomorf. Fenomena ini akan menyulitkan pembedaan pasangan kata benda penjabatpejabat, misalnya. Untuk perkara ini, berikut saya uraikan perbedaannya.

Dalam senarai kata benda yang berisi, umpamanya, pembunuh, penusuk, pencuri, dan peninju, awalan yang hadir adalah awalan pe(N)- (atau  pe-, menurut istilah Harimurti Kridalaksana). Kata benda di sini umumnya diturunkan dari kata kerja berawalan me(N)-: pembunuh-membunuh; penusuk-menusuk; pencuri-mencuri; peninju-meninju. Tampak ada nasalisasi (penyengauan–red) yang sejalan di antara kata benda dan kata kerja yang menurunkannya.

Dalam senarai kata benda lainnya, yang berisi, antara lain, peternak, petinju, petani, dan pekebun, awalan yang hadir adalah awalan per-. Fonem /r/ mengalami pelesapan, menjadi pe. Tidak ada nasalisasi di sini. Kata benda dalam senarai kedua ini biasanya diturunkan dari kata kerja berawalan ber-: peternak-beternak; petinju-bertinju; petani-bertani; dan pekebun-berkebun.

Formal dan Fungsional

Penjelasan kata-kata berawalan per- dan pe(N)-, dalam bahasa kita, umumnya menggunakan pendekatan formal (struktural), terutama model proses, sebagaimana dilakukan Anton Muliono dan Harimurti Kridalaksana. Model proses memang lebih dapat menjelaskan gejala kebahasaan yang tidak dapat dijelaskan oleh model penataan. Misalnya, contoh klasik perbedaan petinju-peninju mampu dijawab oleh model proses, yakni petinju berasal dari penurunan verba bertinju dan peninju berasal dari verba meninju. Demikian pula bentuk pasangan: pesuruh-penyuruh, penatar-petatar, dan pejabat-penjabat.

Tulisan Anton Muliono yang berjudul “Perubahan dan Pengubahan” (Rubrik Bahasa Kompas, 08-10-2010) juga tampak menggunakan pendekatan formal, yakni model proses (item and process model, yang dicetuskan Charles A Hockett pada tahun 1950-an). Verba di sini dianggap menurunkan nominanya; lebih spesifik dalam bahasa Indonesia, per-D diturunkan dari ber-D dan pe(N)-D dari me(N)-D-/-kan/-i (awalan per-: petinju-bertinju; petani-beternak; petambak-bertambak; pekebun-berkebun; petualang-bertualang | awalan pe(N)-: pembunuh-membunuh; pembeli-membeli; peninju-meninju; peninjau-meninjau, dll). Pendekatan formal sangat memperlihatkan ketertiban dan kecermatan.

Akan tetapi, kadang-kadang kita kurang mampu menjelaskan kenyataan pemakaian bahasa dengan menggunakan pendekatan tersebut. Benarkah bentuk petambang diturunkan dari bertambang, alih-alih menambang? Sebagai catatan, kata bertambang, sekalipun sudah ditemukan dalam data korpus internet, belum diterima secara penuh oleh penutur bahasa Indonesia. KBBI juga belum mencatatnya. Andai bertambang diterima oleh leksikon kita, baik pendekatan formal dan fungsional akan mencapai kata sepakat atas kata petambang.

Yang lebih rumit: pendekatan formal sulit menjelaskan bentukan nomina dari ranah cabang-cabang olahraga. Umpamanya, apakah peterjun dan petembak diturunkan dari, secara berurutan, verba beterjun dan bertembak? Tentu tidak. Sebaliknya, bentuk penari dan penulis jelas berkaitan dengan menari dan menulis, bukan bernari dan bertulis.

***

Pendekatan fungsional (lingustik pragmatik dan kognitif), yang mulai muncul secara ‘nyata’ tahun 1989, untuk kasus ini, hemat saya, lebih bisa menjelaskan kenyataan pemakaian bahasa dengan lebih komprehensif. Bentuk, seperti petembak, peterjun, petambang, pebisnis, pesinetron, pebalap, dll, menurut saya merupakan hasil dari pendekatan fungsional, yakni analogi, lepas dari bentukan nomina itu ada bentuk verbanya atau tidak. Pendekatan ini lebih mengutamakan penataan makna yang ada dalam kognisi (pikiran) para penutur bahasa. Karena dalam benaknya seorang penutur tahu ada bentuk petinju yang bermakna ‘A’, misalnya, dia menerapkan pola yang sama pada bentuk sejenisnya. Perkara diterima atau tidaknya bentuk yang dihasilkan melalui model ini akan ditentukan oleh penutur lainnya. Jika diterima, bentuk petambang, akan terus hidup.

Kadang-kadang, apa yang diterima oleh masyarakat penutur belum tentu sesuai dengan kaidah baku. Dalam konteks inilah, para ahli bahasa dan instansi terkait bisa mengambil sikap, misalnya: membuat buku pedoman, ejaan, kamus, dan lain-lain. Akan tetapi, perlu juga kita ingat bahwa sudah selayaknya pembakuan digarap lewat pengamatan komprehensif terhadap gejala kebahasaan dinamis dan praktis yang terjadi masyarakat penutur.

Kata petambang akan bersaing dengan kata penambang karena, dari sisi kebahasaan, masing-masing memiliki dasar argumentasi. Bisa pula akan terpisah konteks pemakaiannya, sebagaimana kata petinju dengan peninju. Kita tunggu.

*Anggota Tim Revisi Tesaurus Bahasa Indonesia

Alumnus FIB UI

(+1 jempol)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar