Senjata Tajam?

18 Maret, 2011 | Edisi: | Kategori: Serba-Serbi

Oleh Wahyu Adi Putra Ginting

Sebuah aneka-alat yang dilengkapi dengan senter23 November 2010, Arief Johar Cahyadi Permana, mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, ditahan oleh pihak Kepolisian Resor Sleman atas tuduhan memiliki senjata tajam tanpa izin. Arief, yang juga relawan SAR DIY itu, terjaring razia senjata tajam yang dilakukan Polres Sleman di daerah Jembatan Timbang, Maguwoharjo, pada malam 23 November 2010. Saat itu, Arief hendak pulang ke pondokannya di daerah Seturan, Yogyakarta, dari lokasi letusan Gunung Merapi di Balerante, Klaten, Jawa Tengah. Ia menjalankan tugasnya sebagai relawan di sana: membantu membersihkan dan membakar bangkai ternak. Sebagai seorang relawan yang bekerja di lapangan, Arief memperlengkapi diri dengan sebuah alat praktis aneka-guna (perpaduan beberapa perkakas seperti tang, obeng, pisau, korek-api, dan senter). Alat-kerja inilah yang dipasalkan oleh polisi. Polisi menolak memaknai alat-kerja Arief sebagai ‘alat-kerja’. Alih-alih, alat tersebut dipahami sebagai ‘senjata tajam’.

Makna Senjata Tajam

Senjata tajam. Istilah inilah yang menjadi pasal! Bagi saya, kasus ini adalah permasalahan mutu penalaran semantik – permasalahan perbedaan sudut-pandang dalam memahami makna. Saya akan mencoba menggambarkan makna dari istilah ini. Dan dari situ, kita bisa nilai apakah alat aneka-guna yang dibawa Arief saat terjaring razia 23 November 2010 lalu sungguh sebuah senjata tajam atau tidak.

Kitab Loan Words in Indonesian and Malay (2008: 282) mencatat bahwa kata senjata berakar dari kata bahasa Sanskerta samyatta. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memaknai kata senjata sebagai ‘alat yang dipakai untuk berkelahi atau berperang (terutama keris, tombak, dan senapan)’. Istilah senjata tajam sendiri dimaknai KBBI sebagai ‘senjata yang tajam, seperti pisau, pedang, golok’.

Bila kita perhatikan makna kata senjata dalam KBBI, maka kita tahu bahwa ada syarat yang harus terpenuhi agar sebuah alat atau benda dapat disebut sebuah senjata. Syarat tersebut ialah bahwa alat atau benda itu digunakan ‘untuk berkelahi atau berperang’. Syarat ini yang membuat polisi tidak bisa menangkap seorang petani yang sedang menyiangi rumput di ladangnya dengan arit, atau seorang juru masak yang sedang mencincang bawang di dapur dengan pisau; setajam apa pun arit atau pisau tersebut. Arit dan pisau akan berubah statusnya dari sekedar ‘alat-kerja’ menjadi ‘senjata tajam’ saat keduanya digunakan untuk berkelahi atau menyerang orang lain. Jika tidak, kedua benda itu tetaplah alat-kerja saja, bukan senjata.

Sekarang, mari kita perhatikan benda yang dibawa Arief saat ia terjaring razia. Saya menyebut benda tersebut sebagai alat aneka-guna. Sebenarnya, benda ini lebih dikenal dengan istilah bahasa Inggrisnya: multi-tool atau survival kit. Saya pikir istilah multi-tool atau survival kit belum memiliki padanan resmi dalam bahasa Indonesia. Walau begitu, istilah tersebut dengan mudah dapat diindonesiakan menjadi alat serba-guna atau perangkat bertahan hidup. Di beberapa kalangan masyarakat, alat serba-guna ini populer dengan istilah pisau MacGyver (MacGyver: tokoh fiksi dalam serial aksi-petualangan ciptaan Lee David Zlotoff; survival kit adalah alat andalan tokoh ini). Pisau, yang tajam, memang merupakan salah satu bagian dari perangkat ini. Tapi, tidak hanya itu. Biasanya terdapat juga alat lain seperti tang, obeng, gunting, gergaji kecil, korek-api, dan senter. Perpaduan alat macam inilah yang disebut “senjata tajam” oleh polisi dalam kasus Arief.

Konteks Ruang dan Waktu

Pernyataan Kapolresta Yogyakarta, Atang Heradi, dalam wawancaranya dengan salah satu mediamassa daring (online) pada 07 Februari 2011 lalu menarik untuk diperhatikan. Saya kutip kata-katanya, “Warga tidak dilarang membawa atau memiliki sabit, pisau atau senjata tajam apapun, asalkan sesuai dengan kontek (sic!) dimana dia sedang berada,” (lihat di http://jogja.tribunnews.com). Ia melanjutkan bahwa seorang pencari rumput, misalnya, tidak boleh ditangkap karena membawa dan memiliki sabit saat dia berada di, atau menuju ke, atau pulang dari ladang. Namun, bila sabit itu dibawa ke tempat lain, sebuah pusat perbelanjaan misalnya, maka perlu diamankan.

Seperti itu rupanya prosedur yang diterapkan kepolisian dalam kasus kepemilikan senjata tajam. Saya menilai prosedur tersebut sebagai prosedur yang mantap, karena memiliki logika yang jernih.

Khusus untuk kasus Arief, Atang Heradi menambahkan bahwa pisau lipat standar SAR mestinya dibawa saat yang bersangkutan berada di lokasi kerjanya sebagai relawan, yaitu di wilayah letusan Merapi. Penjelasan itu ia tutup dengan kalimat, “Kalau pun dia pulang dari lokasi bencana, tentu ada rentetan logika yang akan ditanya hakim.”

Pernyataan itu kontradiktif dengan pernyataan sebelumnya. Bila kita menghubungkan perumpamaan “pencari rumput yang membawa sabit saat menuju ke, berada di, atau pulang dari ladang” dengan kasus Arief, sudah jelas bahwa Arief tidak layak ditangkap karena, saat razia dilakukan, Arief sedang dalam perjalanan pulang dari Balerante, Klaten, menuju Seturan, Yogyakarta, seusai mengerjakan tugasnya sebagai relawan. Bukankah Arief sama saja seperti “pencari rumput yang membawa sabit saat pulang dari ladang”? Dan lagi, menanggapi penjelasan Atang Heradi dalam kalimat Kalau pun dia pulang dari lokasi bencana, tentu ada rentetan logika yang akan ditanya hakim, dalam benak saya justru timbul pertanyaan: mengapa yang menanyakan rentetan logika itu harus hakim? Mengapa bukan polisi yang bertugas saat razia? Bukankah prosedur tersebut adalah prosedur bagi polisi, dan bukan bagi hakim?

***

Sejak malam 23 November 2010 Arief sudah mendekam dalam tahanan. Sekarang sudah pula bulan Maret 2011! Persidangannya masih berlangsung. Banyak dukungan dan simpati yang diberikan padanya, baik dari rekan-rekannya sesama relawan, atau dari masyarakat lain yang merasa rasa keadilan mereka telah diusik oleh kasus yang satu ini.

Teman saya pernah melontarkan lelucon yang lucunya menyayat hati. Ia bilang: sehebat apapun MacGyver, dia pasti kesulitan jika beraksi di Indonesia. Soalnya, dia bakal kena razia senjata tajam.

(Belum ada jempol)
Loading ... Loading ...

Satu komentar
Berikan komentar »

  1. […] yang ditangkap dan disidangkan dengan tuduhan kepemilikan senjata tajam tanpa izin (baca artikel “Senjata Tajam?” yang saya tulis di majalah LIDAHIBU edisi #25 – […]

Berikan Komentar