Tipologi

1 Februari, 2011 | Edisi: | Kategori: Kultukal

Oleh Nikodemus Wuri Kurniawan

Apa yang kalian pelajari selama ini? Subdisiplin lingusitik? Benar, tentu masih ingat dengan fonologi, sintaksis, semantik, morfologi, stilistika, dan sosiolinguistik, kan? Sesungguhnya masih ada banyak subdisiplin linguistik yang belum dijelaskan dalam rubrik ini, misalnya mekanolinguistik (subdisiplin linguistik yang mempelajari bahasa yang digunakan dalam menyusun program-program komputer), medikolinguistik (subdisiplin linguistik yang mempelajari bahasa untuk diterapkan dalam pengobatan, misalnya pengobatan bagi orang yang sedang stres), dan sebagainya. Hmm, tak apa, setidaknya kita sudah mempelajari yang dasar, bukan? Bukan? Nah, untuk kali ini, bersiaplah untuk menerima ilmu baru. Hati-hati saja, siapa tahu tidak kuat. Mari mulai!

  1. Menurut KBBI Pusat Bahasa (2008), tipologi adalah ‘ilmu yang mempelajari kesamaan sintaksis dan morfologi bahasa-bahasa tanpa mempertimbangkan sejarah bahasa’.
  2. Tipologi juga bisa diartikan sebagai pembicaraan dan pembahasan perihal tipe bahasa, yaitu corak khusus suatu bahasa.
  3. Pembicaraan corak khusus suatu bahasa tak bisa dilepaskan dari masalah pengelompokan atau klasifikasi bahasa.
  4. Ada tiga macam tipologi, yaitu (a) tipologi genealogis, (b) tipologi geografis, dan (c) tipologi struktural.
  5. Kriteria tipologi genealogi, sering disebut juga tipologi genetis, adalah garis keturunan (secara teori, bayangkan saja bahwa bahasa berasal dari satu induk yang kemudian menurunkan beberapa rumpun, dan selanjutnya rumpun-rumpun ini menurunkan beberapa bahasa dan dialek-dialek).
  6. Kriteria tipologi geografis, sering disebut juga tipologi areal, adalah lokasi geografis atau area (Comrie, 1981: 197) (dalam hal ini, setiap daerah/lokasi geografis mewarnai corak pemakaian bahasanya, misalnya corak bahasa Melayu di wilayah Jakarta berbeda dengan bahasa Melayu di wilayah Minang, Riau, Banjar, Ambon, Makasar, Papua, Larantuka, Manado, dan sebagainya).
  7. Kriteria tipologi struktural adalah struktur bahasa, yang meliputi struktur morfologis, struktur morfosintaksis, struktur fraseologis, maupun struktur kausal (dalam struktur morfologis, misalnya, kita mendapatkan empat macam tipe bahasa, yakni aglutinatif, fleksi, flekso-aglutinatif, dan isolatif).

Masih ada yang menggantung? Bagaimana kalau kita lanjutkan di edisi depan? Mau, bukan? Bukan? Sambil menunggu waktu itu tiba, buatlah esai tentang tipologi. Nanti kita bahas bersama-sama.

Sumber: Soeparno. 2003. Dasar-dasar Linguistik. Yogyakarta: Mitra Gama Widya.

(Belum ada jempol)
Loading ... Loading ...

Satu komentar
Berikan komentar »

  1. Menarik sekali ada yg menulis tentang Tipologi. Kajian yg satu ini memang sangat menarik, apalagi semenjak Greenberg mencetuskan universalitas bahasa (yang dirangkum ke dalam poin-poin). Dimulai dari adanya kesemestaan bahasa tsb, kemudian para linguis (sebut saja Comrie, Haspelmath) berupaya mengelompokkan bahasa berdasarkan karakteristik-karakteristik yang serupa yang selanjutnya dikenal dengan tipologi bahasa. Pada mulanya tipologi mengelompokkan bahasa secara morfologi, yakni membagi bahasa ke dalam tipe-tipe seperti aglutinatif, fusion, analitik, infleksi, dlsb. Namun dewasa ini pengelompokkan semacam itu sudah mulai ditinggalkan. Linguis dunia lebih senang berkutat dengan tipologi yang mempertimbangkan tataran sintaksis, misal urutan kata, sehingga muncul lah terminologi bahasa dg urutan kata longgar (loose), bahasa dengan urutan kata ketat (fixed), atau SVO, SOV, dlsb. Dengan adanya pembagian semacam itu, selanjutnya dapat diketahui pula karakteristik yg lebih spesifik lagi bagi bahasa SVO, yaitu posisi unsur inti (head) yang biasanya di posisi inisial (depan).
    Wah, saya terlalu bersemangat. & senang ada yg mau menulis kajian ini. Apakah tulisan ini ada kelanjutannya? Akan menarik sekali tentunya. Terima kasih. Salam.

Berikan Komentar