“Teruslah Bekerja. Jangan Berharap pada Negara.”

1 Februari, 2011 | Edisi: | Kategori: Redaksi Menyapa

“Teruslah bekerja. Jangan berharap pada negara.” Ungkapan ini mewakili dua sikap sekaligus: penuh-harap dan masa-bodoh. Optimis dan apatis. Karena ‘sekaligus’, maka ungkapan itu tidak bisa dipisah. Masing-masing kalimat terikat satu-sama-lain. Dia satu-tapi-dua dan dua-tapi-satu.

Seni mural memang telah menjadi salah satu corong-ucap di Yogyakarta. Tidak jarang kritik pedas dengan cukup bebas boleh dipampang di dinding-dinding kota. Yang menarik adalah bahwa ia tidak cuma hadir dalam bentuk gambar objek-objek tertentu, seperti seni lukis pada umumnya. Cukup kerap, lukisan mural ditemani kata-kata, mirip sebuah poster besar yang sangat tangkap-mata.

“Teruslah bekerja. Jangan berharap pada negara,” katanya. Pembaca, kita mesti bertanya: masyarakat macam apa yang sanggup memproduksi teks semacam ini? Walau satu lukisan mural tentunya bukanlah sebuah representasi menyeluruh atas ungkapan hati sebuah masyarakat, itu juga bukan berarti ungkapan hati yang satu itu tak punya taji. Bukan berarti ungkapan hati yang satu itu hanya lanturan tanpa dasar. Saya pribadi terkesima dengan lukisan yang diabadikan oleh Mat Kodak ini. Apalagi saat saya alihkan pandangan ke gambar gurita, sosok hewan yang telah menjadi ikon yang mengacu pada tangan-seribu penguasa.

“Teruslah bekerja. Jangan berharap pada negara,” katanya. Kata-kata itu masih saja menghantui saya.

Wahyu Adi Putra Ginting

Pemimpin Redaksi

Foto oleh Aditya Surya Putra (MatKodak LIDAHIBU)

(+3 jempol)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar