Kamus Bahasa Gaul

1 Februari, 2011 | Edisi: | Kategori: Pustaka Gokil

Oleh Gideon Widyatmoko

Judul Buku      : Kamus Bahasa Gaul

Penulis             : Debby Sahertian, B.Sc.

Edisi                : Ketigabelas

Penerbit           : Pustaka Sinar Harapan

Kota terbit       : Jakarta

Tahun terbit     : 2002

Tebal buku      : xxxvi + 167

Panasonik begindang, paling endang babamacaca LIDAHIBU sambil makarena, wuihhh…ember bolong endang.

Nah, anaknongkrong LIDAHIBU ada yang masih bingung dengan kalimat di atas? Kalau memang masih ada yang bingung mengartikannya, buku yang LIDAHIBU ulas kali ini sangat pas untuk anaknongkrong baca: Kamus Bahasa Gaul.

Kamus yang satu ini memang sangat menarik; dari sampulnya saja sudah tampak kalau kamus ini menyenangkan. Sampulnya bergambar sang penulis, Debby Sahertian, dengan dominasi warna kuning yang menambah manis senyumnya. Matra (dimensi) buku yang tidak besar dan tebal memudahkan kita untuk membawanya ke mana-mana; bisa ditaruh di dalam tas, bisa pula dimasukkan ke dalam saku celana. Praktis, efisien, berguna.

Tapi sebenarnya apa sih bahasa gaul itu? Nah, buat anaknongkrong yang belum paham apa itu bahasa gaul, di kamus ini juga dibahas asal-muasal si bahasa gaul ini. Jadi, bahasa gaul ini bisa juga kita sebut sebagai slang, atau ucapan populer. Tidak berhenti pada slang saja, karena kemudian dipertegas lagi menjadi bentuk cant, yaitu slang yang bersifat rahasia. Artinya, tentu saja bahasa ini hanya dapat dipahami oleh sekelompok orang tertentu; dalam konteks ini, kelompok yang dimaksud adalah kelompok usia muda dan usia tua yang merasa muda. Tentu saja dari tahun ke tahun bahasa ini tidak statis, tetapi juga mengalami perkembangan yang cukup penting.

Awalnya adalah era tahun 1940-an. Saat itu bahasa gaul sedang menjamur, dengan ciri mengganti sukukata terakhir sebuah kata dengan -se. Dalam kamus ini, contoh yang diberikan adalah kata genit, yang menjadi gense. Berarti, kalau kata nyanyi, maka akan menjadi nyanse. Kira-kira seperti itu, lah. Walau begitu, LIDAHIBU tetap tak bisa membayangkan apa jadinya jika para pemuda prajurit kita dulu memanggil jendralnya dengan jense atau komandannya dengan komanse.

Nah, penggantian sukukata terakhir menjadi -se ini bertahan cukup lama sampai akhirnya berubah tren di era 1980-an. Di tahun 1980-an tentu saja dirajai oleh bahasa prokem, bahasa yang dipakai oleh para preman di Jakarta. Seperti apa bahasa prokem itu? Nih, trennya bahasa prokem adalah dengan menyisipkan -ok di sebuah kata. Contohnya, ya, prokem itu sendiri. Prokem berasal dari kata preman, yang kemudian disisipi -ok menjadi pr(ok)eman dan kemudian agar singkat dan mudah dibaca, dihilangkanlah sukukata terakhir, yaitu man, sehingga menjadi prokem. Kenapa harus dihilangkan? Karena pada masa itu bahasa gaul hanya menggunakan dua sukukata.

Kemudian era penting dan juga yang terakhir dalam perkembangan bahasa gaul adalah era homoseksual. Para gay dan lesbian ini sangat kreatif dalam menciptakan bahasa untuk saling berkomunikasi dengan sesamanya; bahkan, saking kreatifnya, sampai-sampai sebelum bahasa ini sempat dianalisis oleh Debby Sahertian, sudah berubah lagi menjadi lebih modern, yang kemudian menjadi bahasa gaul yang acap kita temui. Contohnya, ya, seperti kata capcus yang dipakai untuk mengartikan bergegas. Bahasa gaul modern ini kemudian tidak hanya berkutat di kaum homoseksual saja, tetapi banyak juga digunakan oleh kaum mahasiswa/i, pedagang, pengusaha, pesohor, sampai pemain sinetron – dan LIDAHIBU percaya jika bahasa ini sudah sampai ke mulut pemain sinetron atau pesohor, maka pasti akan cepat meyebar ke mana-mana.

Kembali lagi ke kamasutra bahasa gaul ini, isinya tidak seperti yang kita temui di kamus pada umumnya, yang hanya berisi lema serta artinya saja. Kamasutra ini juga memiliki anekdot yang memudahkan kita, para pembaca, untuk memahami pemakaiannya. Misalnya, anekdot ketika Debby dan temannya sedang berada di sebuah warung gaul; muncullah kata-kata seperti lapangan bola (‘lapar sekali’), mawar makasar (‘mau makan’), mursid (‘murah’), dan maharani (‘mahal’). Atau, ada juga anekdot Debby yang sedang jalan-jalan di mall, maka muncullah kata-kata seperti jail-jali (‘jalan-jalan’), belalang spartakus (‘beli sepatu’), sutra rusia (‘sudah rusak’), atau soraya kayangan (‘sok kaya’). Dan masih banyak lagi! Sepertinya Debby Sahertian ingin agar para pembaca kamus ini tahu kata mana yang harus digunakan pada setiap situasi agar tidak salah gaya nantinya. Anekdotnya pun tidak hanya dalam bahasa Indonesia saja, tetapi ada juga yang hanya menggunakan bahasa gaul saja – sangat efektif membuat kita berlatih dan berpikir keras untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Selain anekdot, di kamus ini kita juga akan menemukan ilustrasi lengkap dengan balon percakapannya, jadi ya mirip dengan komik, lah. Cukup menyenangkan untuk dibaca. Walaupun ilustrasinya tidak sebagus yang dimiliki oleh LIDAHIBU, tetapi menghibur juga, kok.

Di bagian akhir tentu saja dihadirkan daftar kata gaul dan terjemahannya. Ada lebih dari 600 kata yang dimuat oleh Debby Sahertian ini secara alfabetikal. Memang ada banyak kata, tetapi ada juga beberapa kata gaul yang memiliki satu arti, seperti batako dan batara yang berarti ‘batuk’. Lalu besman dan besolfon yang berarti ‘besok’. Atau Sparta dan spartakus yang berarti ‘sepatu’. Kebalikannya pun juga ada: satu kata gaul yang memiliki dua arti, seperti balik bakul yang artinya bisa ‘pulang ke rumah’ bisa juga ‘balik sama pacar lama’. Atau, kamasutra yang bisa berarti ‘kamus’ dan ‘kemarin sore’. Agak sulit memang apabila memiliki arti ganda seperti itu. Maka dari itu, sangat diperlukan pemilihan kata yang tepat dalam beberapa situasi. Ini membuat anekdot menjadi penting, agar kita paham betul apa yang dikatakan sohib gaul kita.

Melihat daftar kata gaul saja sudah membuat LIDAHIBU merasa bahagia bercampur haru, apalagi ketika LIDAHIBU menemukan kata yang berasal dari nama orang seperti Xanana Gusmao yang artinya ‘ke sana’, Titiek Sandhora yang berarti ‘hati-hati kesandung orang’, Putu Wijaya yang artinya ‘putus’, Chrisye untuk ‘kiri’, dan Imelda Marcos untuk ‘e-mail’. Tetapi, di antara semua kata gaul itu, yang paling menarik menurut LIDAHIBU adalah kata Dharmawanita yang artinya ‘patungan’. LIDAHIBU pada awalnya berusaha menebak pola bahasa gaul ini, tetapi begitu bertemu dengan kata dharmawanita pupuslah harapan LIDAHIBU. Bagaimana Dharmawanita bisa berarti ‘patungan’? Yah, bila para ibu kita tidak mengikuti Dharmawanita, mungkin kita akan sulit menerka artinya, tetapi LIDAHIBU menerka kalau dalam organisasi Dharamawanita memang sering terjadi sistem patungan dalam mereka berkarya.

Kamus Bahasa Gaul ini sudah LIDAHIBU jilat. Dengan bentuknya yang mini dan mudah dibawa ke mana-mana, sepertinya kamus ini bisa jadi teman yang asyik untuk kita bergaul bersama. Hanya saja sayangnya Kamus Bahasa Gaul ini tidak diperbaharui lagi agar konteks waktunya pas. Pastilah sudah banyak perubahan sejak Kamus ini diterbitkan 8 tahun silam. Jadi, ya, kalaupun kita membawa kamus ini dan nongkrong di kafe gaul di tengah kota Jakarta, tidak akan berguna banyak. Tetapi, pasti akan mengasyikkan jika membawa kamus ini untuk nongkrong bersama tante dan om kita yang hidup di era Debby Sahertian.

(+2 jempol)
Loading ... Loading ...

6 komentar
Berikan komentar »

  1. [...] SUMBER [...]

  2. [...] beberapa penutur atas berbagai ragam bahasa seperti alay, celoteh bayi, bahasa bences, atau bahasa gaul, kita sebetulnya dapat pintar-pintar menggunakan ciri-ciri dari ragam bahasa itu sebagai bagian [...]

  3. rusak….rusak… aku salah satu yan tidak sepakat dengan model bahasa ginian. rusak ni buda dan ini salah satu yang punya peran besar dalam merusak mental.

  4. Hahahaha… Apanya yang rusak? Mental siapa yang rusak? Coba, mana buktinya?

  5. Kira-kira buku ini masih ada yang jual nggak ya? Saya perlu buat skripsi. Sudah cari di toko buku tapi nggak ketemu.

  6. Wah, sayang sekali. Sepertinya memang sudah langka. Mungkin kalau cari di kios buku loak masih ada. Untuk keperluan tinjauan buku ini saja kami terpaksa harus pinjam dari seorang teman.

Berikan Komentar