Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia #2

21 November, 2010 | Edisi: | Kategori: Liputan Khusus

Oleh Anna Elfira Prabandari

mahasiswi Jurusan Sastra Inggris Universitas Sanata Dharma

Halo, pembaca yang budiman! Dalam LIDAHIBU edisi #9, Minggu keempat November 2009, saya pernah menulis tentang Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI). Tulisan tersebut berisi pengalaman pribadi saya saat pertama kali mengikuti UKBI. Pada tulisan kali ini, saya ingin membagikan informasi yang lebih lengkap tentang UKBI. Informasi tersebut saya dapatkan dari beberapa teman yang mengikuti Seminar dan Lokakarya (Semiloka) Nasional Pengujian Bahasa yang bertajuk “Sertifikasi Pendidikan dan Pekerjaan dengan Ujian Bahasa Sendiri”. Semiloka ini diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 20-22 Juli 2010. Semoga bermanfaat!

UKBI adalah salah satu jenis uji kemahiran berbahasa. Apa itu uji kemahiran berbahasa? Demi memudahkan penjelasan, saya terpaksa mengingatkan Anda pada TOEFL. Yap, uji kemahiran berbahasa merupakan semacam tes yang digunakan untuk menguji sejauh mana seseorang mahir menggunakan suatu bahasa. Dan jika judulnya UKBI, maka bahasa yang dimaksud tentulah bahasa Indonesia. Pada tulisan yang terdahulu saya telah menceritakan pengalaman saya ketika mengikuti UKBI yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Yogyakarta yang bekerja sama dengan Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma. Sekarang, setelah mengetahui lebih banyak tentang UKBI, saya menjadi tahu bahwa UKBI yang dulu saya ikuti hanyalah UKBI Tara atau UKBI Prediksi yang diikuti oleh sejumlah orang sebagai persiapan UKBI yang “sebenarnya”, yaitu UKBI Standar.

Menurut makalah dalam Semiloka Pengujian Bahasa yang ditulis oleh Udiati Widiastuti dari Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), pengembangan UKBI ini telah dirintis oleh C. Ruddyanto dan Sugiyono pada tahun 1996 dengan “Rancangan Induk Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia”-nya, meskipun Tim UKBI sendiri baru dibentuk pada tahun 2000. Dalam perkembangan selama 13 tahun, UKBI mengalami banyak sekali penyesuaian, mulai dari dua jenis soal (uji baca dan uji simak) hingga menjadi lima jenis soal (mendengarkan, merespons kaidah, membaca, menulis, dan berbicara), dari tes dengan kertas dan pensil (luring/luar jaringan) hingga tes dengan jaringan internet (daring/dalam jaringan).

Hingga saat ini, ada empat jenis UKBI, yaitu UKBI Standar, UKBI Tara, UKBI Berbasis Jaringan, dan UKBIPA. UKBI Standar adalah UKBI yang terdiri atas lima kemahiran, yaitu mendengarkan, merespons kaidah, membaca, menulis, dan berbicara. UKBI Standar merupakan UKBI yang “sebenarnya”, maksudnya nilai UKBI Standar inilah yang nantinya akan dimasukkan dalam skema uji kelayakan tenaga kerja profesi. UKBI Tara merupakan UKBI yang bertujuan untuk memprediksi kemahiran peserta uji sebelum mengikuti UKBI Standar. UKBI Tara seperti yang saya ikuti hanya terdiri atas tiga kemahiran, yaitu mendengarkan, merespons kaidah, dan membaca. Kemudian, UKBI Berbasis Jaringan memungkinkan peserta uji untuk melakukan UKBI melalui internet. Sedangkan UKBIPA adalah UKBI yang ditujukan bagi penutur asing karena UKBI Standar dirasa terlalu sulit bagi para penutur asing, kecuali jika mereka sudah belajar bahasa Indonesia selama 200-400 jam.

Cepat-cepat ke UKBIPenutur asing bahasa Indonesia adalah mereka yang mempelajari bahasa Indonesia sebagai bahasa asingnya. Mengapa mereka membutuhkan UKBIPA? Hal ini juga menjadi salah satu pokok permasalahan yang dibicarakan dalam Semiloka Nasional Pengujian Bahasa ini. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 tahun 2009 tentang bendera, bahasa, dan lambang negara, serta lagu kebangsaan telah disahkan oleh pemerintah Indonesia. Pasal yang ada sangkut pautnya adalah pasal 33 yang isinya (1) Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam komunikasi resmi di lingkungan kerja pemerintah dan swasta. (2) Pegawai dalam lingkungan kerja milik pemerintah dan swasta sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang belum mampu berbahasa Indonesia wajib mengikuti atau diikutsertakan dalam pembelajaran untuk meraih kemampuan berbahasa Indonesia. Yang dimaksud dengan lingkungan kerja swasta” adalah mencakup perusahaan yang berbadan hukum Indonesia dan perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia. UU RI Nomor 24 ini menuntut semua orang, termasuk orang asing yang tidak berbahasa Indonesia, untuk mampu berbahasa Indonesia, baik di perusahaan pemerintah maupun perusahaan nonpemerintah. Maka itu, sekarang kita tidak perlu bertanya-tanya lagi mengapa orang asing yang bekerja di Indonesia tidak diharuskan mampu berbahasa Indonesia, tetapi justru orang Indonesia-lah yang dituntut untuk berbahasa asing agar mampu bekerja sama dengan pekerja asing tersebut.

Selain membahas uji kemahiran berbahasa Indonesia bagi penutur asing, Semiloka Nasional Pengujian Bahasa juga menghasilkan beberapa rumusan yang nantinya akan diusulkan ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu Kemdiknas. Rumusan hasil Semiloka Nasional itu antara lain menyangkut penggunaan bahasa Indonesia dalam dunia pendidikan dan dunia kerja, pengembangan dan pemanfaatan UKBI, serta prospek bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional. Rumusan hasil pertama merupakan perwujudan langsung UU Nomor 24 tahun 2009, yaitu menerapkan penggunaan bahasa Indonesia di lingkungan sekolah dan kantor. Rumusan hasil kedua meliputi pengembangan dan pemanfaatan UKBI. Pengembangan UKBI dalam rumusan hasil tersebut menunjuk Pusat Bahasa, pemegang hak cipta instrumen UKBI (ditetapkan pada tahun 2004), sebagai instansi pengelola pengembangan UKBI. Dan dalam pemanfaatan UKBI, disarankan agar UKBI dimasukkan dalam salah satu syarat uji kelayakan bagi tenaga kerja profesi (disesuaikan dengan karakteristik profesinya, misalnya skor standar UKBI untuk dosen, jurnalis, atau guru tidak sama). Rumusan hasil yang terakhir menyangkut pengusulan “paspor bahasa” di kawasan ASEAN kepada KTT ASEAN tahun 2011, pendirian pusat studi bahasa Indonesia dan tempat uji kemahiran berbahasa Indonesia di luar negeri, serta penyebarluasan hasil pembakuan kebahasaan seperti kamus dan tesaurus.

Wow! Jadi, Semiloka Nasional tersebut mengusulkan pada pemerintah, dalam hal ini Kementrian Pendidikan Nasional, agar Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia ini dipandang dan ditempatkan sebagai suatu uji yang cukup berpengaruh dalam dunia pendidikan dan pekerjaan. Maka, bagaimana pendapat Anda, para pembaca yang budiman? Apakah bisa dikatakan ini merupakan salah satu usaha dari pegiat bahasa Indonesia yang lain untuk melestarikan bahasa Indonesia? Mari kita nantikan apa yang akan terjadi selanjutnya! Sampai jumpa!

Referensi

Wawancara dengan Henny Herawati, S. Pd., M. Hum pada 24 Juli 2010.

Siagian, Ezra Nelvi. “UU RI No. 24 Tahun 2009 Pasal 33: Siapkah Kita?”. Dalam Seminar dan Lokakarya Nasional Pengujian Bahasa. Jakarta: Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional. 2010.

Widiastuti, Udiati. “Upaya Pengembangan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia”. Dalam Seminar dan Lokakarya Nasional Pengujian Bahasa. Jakarta: Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional. 2010.

(Belum ada jempol)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar