Tidak Satu Bahasa Kita

21 November, 2010 | Edisi: | Kategori: Redaksi Menyapa

Oktober tiba. Tiba pula lah hari itu. 28 Oktober: hari yang diagungkan sebagai hari Sumpah Pemuda. Tak pelak, melayang pula ingatan saya pada tiga isi sumpah tersebut. Tiga yang paling kerap terlafal dari mulut lewat nyanyian gubahan L. Manik: Satu Nusa Satu Bangsa. Entah mengapa lirik lagu ini dianggap oleh banyak sekali orang Indonesia sebagai ‘isi’ dari Sumpah Pemuda 1928. Saya sendiri paling berkeberatan pada bagian ‘satu bahasa kita’.

Oleh bekas presiden Suharto, pada pidatonya di tahun 1972, yang sekaligus menjadi peresmian simbolik atas Ejaan yang Disempurnakan, narasi ‘satu-satu-satu’ ini kembali ditegaskan sebagai isi Sumpah Pemuda: satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa. Sungguh suatu usaha pembelokan yang bukan kepalang. ‘Satu bahasa’ bukan lah isi dari Sumpah Pemuda.

‘Menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia’, itu yang sebetulnya. Teks Sumpah Pemuda itu sendiri adalah sebuah redaksi yang penuh pertimbangan linguistik betul. Frasa menjunjung bahasa persatuan dipilih alih-alih berbahasa satu. Ini adalah bentuk kesadaran dan pengakuan terhadap ke-anekabahasa-an yang berlaku di bumi Indonesia. Dan itu dahsyat!

Oktober tiba. Tiba pula lah hari itu. 28 Oktober: hari yang diagungkan sebagai hari Sumpah Pemuda. Mari, saya ajak Anda untuk tidak percaya pada cerita usang tentang ‘SATU BAHASA KITA’.
-Wahyu Adi Putra Ginting-

Pemimpin Redaksi

(+1 jempol)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar