Pedoman Umum Pembentukan Istilah

21 November, 2010 | Edisi: | Kategori: Pustaka Gokil

Oleh Nikodemus Wuri Kurniawan

Penulis: Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan Nasional

Edisi: Ketiga

Penerbit:  Pusat Bahasa

Kota terbit:  Jakarta

Tahun terbit:  2007

Tebal buku:  xiv + 47 hlm.

Ada yang tahu berapa usia Pedoman Umum Pembentukan Istilah? Seratus tahun? Ah, tidak setua itu. Di tahun 2010, pedoman umum ini telah berusia tiga puluh lima tahun dan sampai saat ini, pedoman umum ini sudah memasuki edisi ketiga. Pedoman umum edisi pertama diresmikan keberlakuannya dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nomor 0196/U/1975 tanggal 27 Agustus 1975. Konsep pedoman ini disusun oleh Profesor H. Johannes dan Anton M. Moeliono. Naskah tersebut dibahas lebih lanjut di dalam Sanggar Kerja Peristilahan (Jakarta, 29-30 Juni 1973) yang dihadiri oleh empat puluh ahli terkemuka dari berbagai bidang ilmu. Naskah tersebut kemudian direvisi, dan berulang kali diolah oleh Komisi Tata Istilah, Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia dan Majelis Bahasa Indonesia-Malaysia. Setelah digunakan sekitar 14 tahun, pedoman tersebut mengalami penyempurnaan kembali dan diterbitkan sebagai edisi kedua dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 0389/0/1988 tanggal 11 Agustus 1988. Karena pedoman umum edisi kedua dirasa sudah usang dan tidak mampu memenuhi tuntutan zaman, pedoman umum kemudian ditinjau kembali dan disempurnakan. Hasilnya, edisi ketiga pedoman umum ini muncul dan diresmikan keberlakuannya dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 146/U/2004 dan diluncurkan pada acara pembukaan Sidang Ke-44 Mabbim (Majelis Bahasa Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia) di Mataram, Indonesia pada tanggal 7 Maret 2005.

Pedoman umum edisi ketiga bisa dibilang paling lain dari kedua edisi sebelumnya. Dilihat dari sistematika materi, misalnya, edisi ketiga mengajukan empat bab saja, yaitu Bab I Ketentuan Umum, Bab II Proses Pembentukan Istilah, Bab III Aspek Tata Bahasa Peristilahan, dan Bab IV Aspek Semantik Peristilahan. Sementara itu, kedua edisi sebelumnya mengajukan enam bab, yaitu Bab I Beberapa Konsep Dasar, Bab II Sumber Istilah, Bab III Aspek Tata Bahasa Peristilahan, Bab IV Aspek Semantik Peristilahan, Bab V Istilah Singkatan dan Lambang, dan Bab VI Ejaan dalam Peristilahan. Lebih lanjut, jumlah halaman dari ketiga pedoman tersebut-47 untuk edisi pertama, 62 kedua, dan xiv+47 ketiga-juga mengindikasikan pengembangan materi yang tidak bergerak terlalu jauh. Singkatnya, metode yang dipakai untuk menyempurnakan pedoman umum ini tampaknya cukup sederhana, yaitu metode tambah-hapus, pindah bagian, dan pemertahanan materi lama, tampaknya bukan perkara yang sulit karena yang menangani pun ahli-ahli yang mumpuni. Anehnya, proses peninjauan kembali pedoman umum, yang akan diterbitkan sebagai edisi ketiga, memakan waktu yang lama, bahkan harus mampir di beberapa Sidang Mabbim dan Sidang Pakar Mabbim. Sebagai contoh penambahan materi, istilah taksonim dan meronim muncul  pada edisi ketiga dalam “Aspek Semantik Peristilahan”. Dalam bab tersebut juga terdapat pemertahanan istilah hiponim yang muncul dengan bentuk yang sama. Selain itu, bagian dari “Istilah Singkatan dan Lambang” yang membentuk Bab V dalam edisi kedua dipindah menjadi bagian dari Bab III “Aspek Tata Bahasa Peristilahan” dalam edisi ketiga.

Bagian inti pedoman umum edisi ketiga sebenarnya ada di dalam prosedur pembentukan istilah yang berbeda dari dua edisi sebelumnya. Jika dua edisi sebelumnya menampilkan bagan dengan langkah 1-7, edisi ketiga muncul dengan empat langkah besar, yaitu pemantapan, pemadanan, perekaciptaan, dan pembakuan dan kodifikasi istilah. Pemadanan, misalnya, akan diuraikan menjadi penerjemahan, penyerapan, dan gabungan penerjemahan dan penyerapan. Perekaciptaan menjadi langkah penting yang membedakan proses pembentukan istilah dalam edisi ketiga dengan kedua edisi sebelumnya. Dengan langkah ini, ilmuwan, budayawan, dan seniman yang bergerak di baris terdepan ilmu, teknologi, dan seni bisa mencetuskan konsep yang belum ada. Contoh istilah yang dihasilkan dari perekaciptaan ini adalah fondasi cakar ayam, penyangga sosrobahu, plasma inti rakyat, dan tebang pilih.

Sejak awal, Pedoman Umum Pembentukan Istilah edisi ketiga ini sudah mencoba untuk berbeda dengan edisi sebelumnya. Kata pengantarnya pun sudah menyisipkan kalimat Penerbitan Pedoman Umum Pembentukan Istilah ini diharapkan dapat mempercepat laju perkembangan istilah bahasa Indonesia karena masyarakat dapat menciptakan istilah sendiri berdasarkan tata cara pembentukan istilah yang dimuat dalam buku pedoman ini. Jika masyarakat sebagai pengguna bahasa masih terlihat samar dalam pedoman umum sebelumnya, dalam edisi ketiga ini, masyarakat yang mendapatkan porsi yang lebih, yang memang sudah seharusnya.

Dalam pengembangan bahasa di Indonesia, kehadiran pedoman umum edisi ketiga ini sebenarnya merupakan sesuatu yang lazim sekaligus wajar. Mengapa? Karena pengembangan bahasa di Indonesia tidak menganut paham akademisisme atau liberalisme sehingga pengembangan dilakukan melalui perencanaan bahasa, misalnya adanya pedoman bahasa untuk mendewasakan para pengguna bahasa. Apa buktinya? Kalimat penutup dalam kata pengantar edisi ketiga bisa menjelaskannya: Penerbitan Pedoman Umum Pembentukan Istilah ini diharapkan dapat mempercepat laju perkembangan istilah bahasa Indonesia karena masyarakat dapat menciptakan istilah sendiri berdasarkan tata cara pembentukan istilah yang dimuat dalam buku pedoman ini. Pertanyaannya: mengapa baru sekarang?

(-1 jempol)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar