Merdeka?

21 November, 2010 | Edisi: | Kategori: Redaksi Menyapa

Saat bermotor menyusuri jalan di tepi Selokan Mataram Yogyakarta awal Agustus ini, mata saya tertumbuk pada satu papan-beton sederhana dengan cat-belang merah-putih yang ditulisi dengan huruf-huruf persis tulisan tangan, terbaca: MERDEKA. Saya kirim kabar pada SitiKodak Dita, dan dia pun menjepretnya.

Betapa kerapnya kita membaca, mendengar, terpaksa membaca, dan terpaksa mendengar kata sakti ini di bulan Agustus. Kata yang akarnya tertanam pada kata Sanskerta mahardika ini diumbar dari mulut, dari pidato saat upacara, dari kata sambutan, dari radio, dari iklan. Betapa ia sama seperti sebuah pajangan: digunakan untuk menarik perhatian orang. Dan memanglah ia menarik, apalagi diselipkan dengan warna meriah seperti merah dan putih. Saya tertarik. Anda?

LIDAHIBU tidak secara khusus ikut membahas perihal 17 Agustus-an dalam edisi #17-Agustus, 2010 ini. Hanya satu rubrik, KOMIK, yang mencoba melukiskan satu adegan tabiat kegirangan 17 Agustus-an. “Happy Independence Day,” katanya, ditengah-tengah limpahan kata merdeka. Hm… menarik juga.

Pembaca, hidangan bahasa di bulan Agustus ini tetap berupaya untuk memusatkan perhatiannya pada geliat Bahasa Indonesia dalam perjalanannya menyusuri mas(s)a. Mas(s)a yang menggenggamnya, kadang meremasnya, kadang melemparnya ke dinding, kadang mengantonginya, kadang memajangnya di ruang tamu.

Wahyu Adi Putra Ginting

Pemimpin Redaksi

(Belum ada jempol)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar