Liek Wilardjo: Fisikawan Munsyi

21 November, 2010 | Edisi: | Kategori: Tokoh Bahasa

Oleh Wahmuji

http://www.usd.ac.id/06/getimage.php?tbl=dosen&id=755

www.usd.ac.id/06/getimage.php?tbl=dosen&id=755

Fisikawan ini mungkin kurang dianggap besar oleh banyak orang Indonesia, meski dianggap begawan oleh sebagian orang yang mengenalnya. Nyatanya, tak ada informasi tentangnya di Wikipedia maupun situs tokohindonesia.com. Pria kelahiran Purworejo, Jawa Tengah, 24 September 1939, ini lulus S1 Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam UGM, Yogyakarta pada tahun 1964. Selanjutnya, butuh waktu satu tahun saja untuk menyelesaikan S2-nya di Michigan State University, East Lansing, Michingan, Amerika Serikat. Lima tahun kemudian, di universitas yang sama, ia mendapatkan gelar Doktor dengan spesialisasi Fisika Molekul. Dalam pendidikan formal, kita mungkin akan kaget melihat betapa panjang gelarnya: Prof Liek Wilardjo, BSc, LCE, MSc, PhD, GCEPA, DSc. Jangan khawatir, bukan Anda saja yang tidak tahu gelar macam apa itu.

Namun, yang membuat tokoh satu ini menjadi cukup tersohor bukanlah gelar pendidikan formalnya Рsudah banyak orang Indonesia bergelar Profesor apalagi cuma Doktor Рmelainkan perhatiannya pada bidang-bidang lain di luar spesialisasinya. Ia masuk ke bidang-bidang sosial dan menuliskan kegelisahan-kegelisahannya lewat mediamassa. Ia berbicara tentang pendidikan Indonesia, tentang moralitas, tentang etika, tentang sosial-politik, tentang PLTN, tentang bahasa Рsingkatnya, tentang Indonesia. Tulisan-tulisannya yang tersebar di berbagai media dan jurnal nasional dan internasional dikumpulkan dalam sebuah buku berjudul Menerawang di Kala Senggang, diterbitkan pada November tahun lalu oleh Fakultas Teknik Elektro dan Program Pascasarjana Studi Pembangunan Universitas Kristen Satya Wacana. Bersamaan dengan itu, buku apresiasi atas pemikiran dan perjalanan 70 tahun Liek Wilardjo berjudul Merenung Pembangunan juga diterbitkan. Buku Punjung Tulis 70 Tahun Liek Wilardjo itu berisi 30 tulisan dari teman, sahabat, murid dan mantan murid Liek Wilardjo. Di antara penulisnya muncul nama-nama seperti Anton M. Muliono (Guru Besar Sastra Indonesia Universitas Indonesia (Em.), Ariel Heryanto (Dosen di Melbourne, Australia), Bambang Hidayat (Guru Besar Astronomi Institut Teknologi (ITB) Bandung (Em), Budi Widiarnako (Rektor Universitas Katolik Soegijapranata Semarang), Emanuel Gerrit Singgih (Guru Besar Teologi Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta), Geert Arend (Gerry) van Klinken (Koordinator majalah Inside Indonesia), Harimurti Kridalaksana (Guru Besar Sastra Universitas Indonesia), R.K. Sembiring (Guru Besar Matematika ITB Bandung), Willi Toisuta (Mantan Rektor UKSW), Sutarno, Pdt.Em (Mantan Rektor UKSW), St. Sularto (Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas) dan Tonny D. Pariela (Guru Besar Sosiologi UNPATI Ambon).

Di antara deretan nama di atas, terdapat Anton M. Muliono dan Harimurti Kridalaksana yang adalah pesohor bahasa Indonesia. Kenapa dua orang ahli bahasa ini membuat tulisan mengenai Liek Wilardjo? Tak lain tak bukan adalah karena kontribusi Liek Wilardjo dalam bahasa Indonesia. Adalah Liek Wilardjo, bersama Dad Murniah, yang menyunting Glosarium Fisika, yang terbit kali pertama tahun 1995. Adalah Liek Wilardjo, bersama H.C. Yohannes, yang menyusun Kamus Fisika: Fisika dan Teknologi Nuklir. Adalah Liek Wilardjo, bersama H. Johannes dan C. Johannes, yang menyusun Daftar Istilah Fisika: Asing Indonesia; Indonesia Asing. Masih ada lagi? Ya! Liek Wilardjo bersama beberapa ilmuwan lain menyusun Kamus Fisika Teori Kenisbian Khusus, Kamus Fisika Kristalografi, dan Kamus Fisika Mekanika. Sudah? Belum! Liek Wilardjo pula yang telah menerjemahkan buku Einstein tentang relativitas yang melegenda itu, Relativity: The Special and General Theory, ke dalam bahasa Indonesia. Kegiatan Liek Wilardjo dengan penyusunan kamus dan penerjemahan itulah yang membuat hidupnya tak terpisahkan dari (ke)bahasa(an).

Namun, bukan sekedar kedekatan itu yang membuatnya begitu istimewa dalam hal kebahasaan. Liek Wilardjo adalah sosok yang tekun dan cermat dalam mencari padanan bahasa asing yang masuk ke Indonesia, entah dalam bidang fisika yang digelutinya, entah dalam bidang-bidang lainnya. Ia banyak memperkenalkan istilah baru yang sampai kini kadang kita pakai tanpa bertanya lagi dari mana mereka datang, misalnya tolok-ukur (measuring rod), kerapatan (density), titinada (pitch), suhu (temperature), cakram (disk), dan nisbah (ratio). Mengenai hal ini, marilah kita simak kutipan pernyataan Liek Wilardjo dalam pengantarnya untuk terjemahan buku Einstein yang telah saya sebut di atas. Setelah menjelaskan bagaimana ia menerjemahkan non-Euclidean menjadi bukan-Euklidesan, ia kemudian menambahkan, sebagai penutup kata pengantarnya:

Perbedaan ini bakal lebih banyak lagi seandainya tidak ada pesan penerbit untuk memakai padanan alih-ejaan (transkripsi), yang disampaikan melalui penyuntingnya, ketika saya akan memulai penerjemahan ini. Misalnya, alih-alih “relativitas”, “relatif”, “relativistik”, dan “energi” saya sebenarnya lebih suka berturut-turut memakai istilah “kenisbian”, “nisbi”, “nisbian”, dan “tenaga”.

Kegemaran Liek Wilardjo mencari dan memakai padanan (yang bukan alih-ejaan) tidak cuma menunjukkan ciri idiosinkrasi (kekhasan) yang ada padanya. Lebih dari itu. Ia adalah simbol cendekiawan yang mau mencari dalam budaya dan bahasa(-bahasa) sendiri konsep-konsep dari kata-kata asing yang membanjiri (bahasa) Indonesia. Dan ia tidak memaksakan kata tertentu untuk menjadi padanan jika memang tidak dekat maknanya. Ia berada di sisi yang berlawanan dengan kaum sarjana malas dan kenes, yang kegemarannya adalah menghiasi kalimat-kalimat dalam tulisan-tulisan mereka dengan kata-kata serapan alih-ejaan, atau bahkan mengutip langsung istilah atau kalimat dari bahasa asing tanpa memberi keterangan yang jelas apa maksud atau artinya dalam bahasa Indonesia, seakan-akan yang seperti itu adalah keren dan cendikia.

Berkat usaha kerasnya dalam peristilahan, pada 1993 ia menerima Penghargaan untuk Pengembangan Peristilahan Fisika di Indonesia, Brunei Darussalam dan Malaysia, dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. Ia pun layak menyebut dirinya fisikawan yang munsyi (munsyi: ahli bahasa yang tidak memiliki gelar akademis kebahasaan) – Liek Wilardjo mencap dirinya sendiri demikian dalam sebuah esai yang ditulisnya di Kompas, 02 April 2005 berjudul Kritis dan Ayak.

(+1 jempol)
Loading ... Loading ...

4 komentar
Berikan komentar »

  1. SAya pertama kali mengenal nama LW melalui buku terjemahannya “Mekanika Zalir” pada tahun 1986. Sebagai orang yang gemar menerjemahkan yang berasal dari daerah, semangat saya untuk menerjemahkan semakin menggebu-gebu mengingat sudah sedemikian banyak istilah yang ada padanannya dalam bahasa kita. Ketika itu saya sedang menerjemahkan buku “Steam Turbine” dan segera menggunakan “kukus” untuk “steam” dan “uap” untuk “vapor.” Karena arahan penerbit, saya terpaksa tidak menggunakan istilah-istilah lain seperti “agihan” untuk “distribusi” dll. Akhirnya, sama seperti judul buku terjemahannya yang pada cetakan berikutnya telah diubah menjadi “Mekanika Fluida,” judul buku saya juga diubah kemudian menjadi “Turbin Uap.”

  2. […] This post was mentioned on Twitter by Wahyu Ginting, lidahibu. lidahibu said: Liek Wilardjo: Fisikawan Munsyi | Lidahibu.com http://t.co/COSduAo […]

  3. […] post oleh Prof. Liek Wilardjo; Fisikawan, Guru Besar Fakultas Teknik Elektronika dan Komputer (FTEK)¬† UKSW […]

  4. Yang pasti aku bangga sebagai mahasiswanya. Sayang sekali, kepintarannya tidak menjalar padaku. mulai dapat nilai D, mengulang dapat C, dan tak pernah lg mengulang krn tak mungkin mendapat B dan A, hingga kumpulan tulisan dlm buku “menerawang di kala senggang” yg aku pegang itu, masih menjadi misteri untuk bagian2 pemikirannya.

    Sungguh rasanya ingin berguru kembali padanya. Sebab kebodohanku belum tuntas jd kepintaran, minimal menyamai satu gelar akademik luar negerinya, hehehehe….

    Horas!!! The big prof!!!

Berikan Komentar