Geliat Bahasa Selaras Zaman

21 November, 2010 | Edisi: | Kategori: Pustaka Gokil

Oleh Wahmuji

geliat-bahasa-selaras-zamanPenyunting : Mikihiro Moriyama dan Manneke Budiman

Penerbit      : Kepustakaan Populer Gramedia

Kota terbit  : Jakarta

Tahun terbit : 2010

Tebal buku : xx + 424 halaman

Pada 9-11 Juni 2008, sebuah lokakarya bertajuk “Perubahan Konfigurasi Kebahasaan di Indonesia Pasca-Orde Baru” dilaksanakan di kampus Universitas Indonesia, Depok, Jakarta. Lokakarya yang berlangsung selama tiga hari itu menghadirkan empat belas makalah yang sebagian besar disajikan dalam bahasa Indonesia – beberapa makalah ditulis dan dipresentasikan dalam bahasa Inggris. Butuh waktu 3 tahun bagi Mikihiro Moriyama untuk merealisasikan ide lokakarya mengenai perkembangan bahasa pasca-Orde Baru itu. Hambatan utama yang ia hadapi adalah tiadanya dana. Untungnya, para pembicara bersedia untuk hadir dan mempresentasikan makalahnya dengan biaya sendiri. Lokakarya itu, menurut penuturan Mikihiro Moriyama dalam Ucapan Terimakasih-nya, berjalan dengan padat dan sengit. “Kami bersungguh-sungguh dalam diskusi tapi dalam suasana akrab,” tulis Moriyama.

Makalah-makalah dalam lokakarya itulah yang kemudian menjelma menjadi buku ini. Namun, tidak semua makalah diikut-sertakan menjadi isian. Alasan pemilihan naskah tidak dijabarkan oleh Mikihiro Moriyama. Ada pula makalah, yang tidak dipresentasikan dalam lokakarya tersebut, tetapi dimasukkan ke dalam antologi makalah ini. Alasannya, “[s]upaya memperkaya wawasan dan kerangka sehingga lebih berimbang isinya dan mencerminkan apa yang terjadi di Indonesia pada era Pasca-Orde Baru ini.” Agar para pembaca memiliki gambaran awal mengenai isi antologi makalah itu, berikut saya hadirkan semua judul makalah dan penulisnya:

  • Bongkar Bahasa: Meninjau Kembali Konsep yang Beraneka Makna dan Beragam Fungsi (Jan van der Putten)
  • Perencanaan Bahasa di Indonesia dan Rancangan Undang-undang Kebahasaan: Tuntutan Komunikasi dan Implikasinya (Ganjar Hwia)
  • “Illfil Gue Sama Elu!” Sebuah Tinjauan atas Ungkapan Serapah dalam Bahasa Gaul Mutakhir (Untung Yuwono)
  • Bahasa Asing dan Kosmopolitanisme dalam Fiksi Kontemporer Indonesia sebagai Strategi Redefinisi Keindonesiaan Pasca-Orde Baru (Manneke Budiman)
  • Fungsi dan Status Kata Pinjaman Barat (Tim Massal)
  • Pemakaian Bahasa Nasional/Daerah di Kalangan Remaja: Sebuah Studi Kasus dari Bali (Haruya Kagami)
  • Penutur Bahasa Minoritas di Indonesia Timur: Mempertanyakan Keuniversalan Konsep Multibahasa (Asako Shiohara)
  • Kesempatan dalam Kesempitan? Bahasa dan Sastra Jawa Sepuluh Tahun Pasca-Ambruknya Orde baru (George Quinn)
  • Terwujudnya Bahasa Using di Banyuwangi dan Peranan Media Elektronik di Dalamnya (Selayang Pandang, 1970-2009) (Bernard Arps)
  • Bahasa Daerah dan Desentralisasi pada Masa Pasca-Orde Baru (Mikihiro Moriyama)
  • Orang Cina dalam Bahasa Politik Orde Baru (Thung Ju Lan)
  • Etnis Tionghoa yang Belajar Bahasa Mandarin: Pencarian ‘Kecinaan’-nya? (Koji Tsuda)
  • Perjalanan Bahasa Mandarin dalam Dunia Pendidikan Indonesia (Fransisca Handoko)
  • Pemakaian dan Perubahan Bahasa Cina dalam Linguistic Landscape di Jakarta (Yumi Kitamura)

Makalah-makalah di atas dibuka dengan sebuah pengantar oleh Mikihiro Moriyama dan ditutup dengan sebuah epilog oleh Melani Budianta. Secara umum, isi keduanya tidak jauh berbeda: mencoba merangkum dan menyimpulkan gejala bahasa pasca-Orde Baru dari semua makalah yang dibukukan.

***

Judul buku yang cukup tebal ini, Geliat Bahasa Selaras Zaman: Perubahan Bahasa-bahasa di Indonesia Pasca-Orde Baru, bagi saya cukup menarik. Harapan awal saya, tentu saja, adalah penjabaran menyeluruh mengenai bahasa-bahasa di Nusantara. Sayang sekali, isi buku tidak selengkap bayangan saya. Sebagian besar bahasa yang dibahas di antologi makalah ini adalah bahasa yang digunakan di Jawa. Hanya ada satu makalah yang merupakan penelitian khusus mengenai bahasa-bahasa di luar Jawa, yaitu, makalah Asako Shiohara yang berjudul Penutur Bahasa Minoritas di Indonesia Timur: Mempertanyakan Konsep Multibahasa. Fokus penelitian pada makalah ini pun hanya berkisar pada penutur bahasa Sumbawa di Pulau Sumbawa dan penutur bahasa Kui di Pulau Alor. Bagaimana dengan, misalnya, bahasa Batak di Sumatera Utara dan bahasa Melayu di Kalimantan, atau bahasa Palembang, atau bahasa Papua? Seperti apa sih perkembangan bahasa-bahasa itu? Pembaca tidak akan mendapatkan pembahasannya dalam buku ini. Jadi, dalam tataran judul, buku ini telah menjebak saya, sebagai pembaca. Pun, penelitian yang banyak dilakukan di Jawa ini tentu saja, pada tingkat tertentu, semakin mengukuhkan Jawa sebagai pusat kajian dan bahkan pusat kedinamisan bahasa. Padahal, seperti yang diungkapkan di Kata Pengantar dan disebutkan di berbagai makalah dalam buku itu, latar belakang penyelenggaraan lokakarya adalah perubahan kebijakan politik Orde Baru, khususnya Otonomi Daerah dan pencabutan pelarangan tulisan-tulisan Cina di publik. Ketidaklengkapan isi makalah tidak disinggung secara serius oleh Mikihiro Moriyama. Namun, saya menduga, sebabnya adalah para pemakalah yang hadir dalam lokakarya itu adalah mereka yang ahli bahasa-bahasa di Jawa (selain, tentu saja, seperti yang sudah disebutkan, Asako Shiohara), dan para ahli dalam bahasa-bahasa Nusantara yang lain tidak bisa hadir atau tidak diundang atau tidak tahu.

Kajian yang juga tidak akan pembaca temukan secara memadai dalam buku ini adalah gejala bahasa di Internet. Ini sebenarnya topik yang sangat penting untuk dibahas karena, meskipun tidak terkait langsung dengan kebijakan politik bahasa, gejala ini juga berkembang pasca-Orde Baru dan banyak berpengaruh pada perkembangan bahasa Indonesia secara umum. Mikihiro Moriyama sebenarnya sudah mengetengahkan masalah ini di pengantarnya, tetapi dalam makalah tidak ada yang secara khusus membahasnya. Bahasan yang terkait dengan ini hanya dua, dan fokusnya pun tidak mencakup banyak gejala bahasa di Internet: tinjauan Untung Yuwono hanya pada ungkapan serapah dalam bahasa gaul; kajian van der Putten lebih fokus pada hubungan bahasa nasional dan bahasa asing.

Ada satu ganjalan lagi yang saya temui, dan ini adalah masalah klasik, saat saya membaca buku ini. Karena berawal dari makalah, dan format makalah sepertinya tidak banyak diubah, beberapa tulisan saya rasa sangat kaku. Hasilnya tentu saja adalah tulisan yang kering tanpa emosi dan cenderung membuat pembaca cepat merasa bosan. Unsur emosi dalam tulisan sepertinya kurang dianggap penting oleh para pemakalah. Terlebih, sebagian besar pemakalah masih terjebak dengan paradigma ‘objektivitas’ dengan cara mengganti kata ganti orang pertama ‘saya/aku’ menjadi ‘penulis’. Untungnya banyak juga pemakalah yang tidak bergaya bahasa demikian.

Bukan Kumpulan Artikel tapi Antologi Makalah

Terlepas dari ketidaklengkapan dan gaya bahasanya, setelah membaca buku ini, saya merasa cukup terpuaskan dalam hal elaborasi masalah. Basisnya yang berasal dari makalah (yang berarti juga ada teori yang secara tersurat maupun tersirat dipakai) membuat klaim-klaim di akhir tulisan terasa lebih nyata dan meyakinkan, meskipun beberapa kesimpulan perlu diperdebatkan. Politik bahasa pada era Orde Baru juga banyak dibahas sehingga pembaca punya gambaran yang cukup untuk memahami perubahan-perubahan yang diakibatkan oleh bergantinya kebijakan politik. Di sini pun, sebagai satu catatan lagi, politik bahasa dalam ejaan (EYD) tidak disebut. Ini mungkin karena ejaan dianggap tidak berhubungan lagi dengan masalah terkini dalam bahasa-bahasa di Indonesia.

Perihal keluasan penjabaran saya kira menjadi satu unsur penting karena artikel-artikel singkat yang tidak elaboratif, bagi saya, merupakan tulisan yang berbahaya — realitas bahasa jadi sempit, terkotak, dan tidak punya latar yang lapang untuk dijelajahi. Karena adanya penjabaran itulah antologi makalah ini terasa lebih ‘bergizi’ daripada antologi artikel rubrik bahasa mediamassa, tulisan-tulisan yang biasanya dibatasi jumlah karakternya.

Beberapa temuan dalam buku ini juga menyegarkan pikiran saya. Sebagai contohnya adalah hasil penelitian Tim Massal mengenai Fungsi dan Status Kata Pinjaman Barat. Dalam penelitiannya, ia membuktikan bahwa peminjaman kata-kata Barat dalam banyak tulisan di Indonesia tidak hanya dimotivasi oleh gengsi, meski gengsi memang merupakan motif yang dominan. Alasan lainnya adalah (1) sinomim Barat membentuk ruang semantiknya sendiri; (2) orang Indonesia mereproduksi perbedaan semantik yang mereka dapatkan dari bahasa Inggris, dan; (3) kata pinjaman Barat menciptakan variasi gaya bahasa. Contoh temuan lain yang penting adalah penjernihan Jan van der Putten bahwa paradigma pembakuan bahasa yang menganut pameo “Bahasa Menunjukkan Bangsa” tidak cocok karena pameo itu menunjukkan jiwa bangsa yang pasif. Ia bahkan memelesetkan pameo itu menjadi “Bahasa Membuat/Membentuk Bangsa”. Dalam plesetan pameo itu, ‘bahasa’ digunakan sebagai rujukan terhadap praktik sosial.

Dengan kelebihan dan kekurangannya, buku ini menjadi asupan penting untuk wacana kebahasaan di Indonesia. Data-data dan referensinya juga membuka cakrawala dunia kebahasaan di Indonesia. Selamat membaca!

(Belum ada jempol)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar