Besarkah Kamus Besar Bahasa Indonesia?

21 November, 2010 | Edisi: | Kategori: Berita Gejala

Oleh Wahyu Adi Putra Ginting

Dua ribu kata baru bahasa Indonesia akan memulai debutnya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi ke-5, kata berita yang saya baca di thejakartaglobe.com (berita ditulis oleh Nurfika Osman, 21/10/10). KBBI edisi ke-5 itu rencananya akan dilepas di tahun 2013; berarti lima tahun sejak KBBI edisi ke-4, yang terbit di tahun 2008 lalu; berarti dua puluh lima tahun sejak KBBI edisi pertama, yang terbit di tahun 1988 lalu. KBBI edisi ke-4 itu sendiri mengaku telah memiliki 90.049 butir masukan (lema dan sublema); berarti 27.949 butir masukan lebih banyak dari KBBI edisi pertama, yang punya 62.100 itu. Dalam dua puluh tahun (1988-2008) 27.949 lema dan sublema telah memperberat bobot kuantitas KBBI. Dalam perkembangan KBBI per edisinya, jumlah tambahan butir masukan tidak pernah berada di bawah angka delapan ribu. Saya kurang tahu apakah jumlah dua ribu butir masukan baru untuk KBBI edisi ke-5 itu adalah sebuah angka pasti, angka henti. Saya harap bukan.

***

Dalam jagad perkamusan bahasa Indonesia awal, kita mengenal karya-karya kamus ekabahasa seperti yang telah dikerjakan oleh W.J.S. Poerwadarminta (Kamus Umum Bahasa Indonesia, terbit pertama sekali tahun 1954), Sutan Mohamad Zain (Kamus Modern Bahasa Indonesia, tanpa tahun), dan E. St. Harahap (Kamus Indonesia, terbit tahun 1951). Ada juga Kamus Bahasa Indonesia, yang disusun oleh Pusat Bahasa (terbit tahun 1983). Belum lagi kalau kita bicara tentang kamus-kamus model lain, seperti kamus bidang ilmu, kamus dwibahasa, atau bahkan kamus multibahasa. Kamus-kamus yang saya sebutkan di kalimat pembuka paragraf ini, seperti diakui oleh Anton M. Moeliono (yang menjabat sebagai Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa saat edisi perdana KBBI diluncurkan), adalah sumber-sumber utama pengumpulan bahan masukan untuk KBBI edisi pertama, disamping sumber lainnya seperti buku pelajaran dan berbagai media massa cetak (bagaimana dengan karya sastra Indonesia?). Bisa kita bertanya, setelah menerbitkan Kamus Bahasa Indonesia, mengapa Pusat Bahasa merasa perlu untuk membuat satu kamus lagi: Kamus Besar Bahasa Indonesia? Apa bedanya? Apa arti sebutan besar yang disisipkan dalam frasa Kamus Bahasa Indonesia?

Konsep Kamus Besar

Maklumat tentang konsep kamus besar yang hendak saya jabarkan berikut ini saya peroleh dari sebuah karya berjudul The Professor and the Madman karangan Simon Winchester (terjemahan, diterbitkan oleh Serambi, 2007).

Konsep ‘kamus besar’ digunakan oleh para penyusun proyek pembuatan Kamus Bahasa Inggris Oxford. Konsep tersebut berpijak pada sebuah cita-cita ‘gila’ ala Inggris zaman Victoria: penyajian bahasa Inggris secara menyeluruh. Ke-menyeluruh-an tersebut mencakup: “setiap kata, setiap nuansa, setiap pergesaran makna, ejaan, dan pengucapan, setiap akar etimologi, setiap kutipan ilustratif yang bisa dipinjam dari setiap pengarang Inggris” (hlm. 153). Untuk menyebut cita-cita ‘gila’ tersebut – ‘gila’ entah karena ‘rakus’ entah karena memang jenius – para penyusun kamus menjulukinya ‘Kamus Besar’.

Sebuah pemikiran yang luar biasa, dan memang sejalan dengan semangat zaman itu. Dan, tak pelak hampir 70 tahun dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek tersebut. 70 tahun! Bukan rentang waktu yang singkat, bukan pula tak sepadan. Besar usaha yang dibutuhkan untuk memenuhi nafsu-nafsi cita-cita tersebut. Lihat saja watak kamusnya: menyajikan kata, nuansa, licinnya pergeseran makna, ejaan, pelafalan, kelindan akar etimologi, dan kutipan yang menerangkan, bukan saja makna kata, tapi juga di mana kata tersebut pertama sekali digunakan. Dalam arti: kamus besar berpijak pada prinsip sejarawi; ia adalah sebuah kamus yang mencatat riwayat kata-kata. Pendeknya, sebuah biografi kata-kata.

Bila kita perhatikan, prinsip sejarawi yang diterapkan dalam konsep kamus besar memang sejalan dengan ambisi untuk menyajikan gambaran pergeseran makna, etimologi, dan kutipan ilustratif atas setiap butir masukan kamus. Bisa kita bayangkan betapa banyak yang perlu diadakan: penyunting, penyusun, sukarelawan, kumpulan literatur sebagai sumber kutipan (bila ditimbang beratnya bisa berton-ton), dan tentunya sumber dana. Lalu, apa hasil dari segala macam jerih-payah itu? Inilah statistik Kamus Bahasa Inggris Oxford, yang terbit pada tahun 1927: diterbitkan dalam 12 jilid raksasa; pendefinisian masukan kamus sejumlah 414.825 butir; kutipan ilustratif sebanyak 1.827.306 kutipan; panjang total huruf cetak sejauh 286,402 km; tak kurang dari 227.779.589 huruf dan angka (tidak termasuk tanda baca dan spasi); dan satu lema tertinggal (bondmaid).

Anda ingin melihat contoh cara penyajiannya? Berikut saya petikkan satu lema: sesquipedalian. Dan silahkan nilai sendiri.

Sesquipedalian (se:skwipĭdēi·liăn), a. and sb. [f. L. sesquiped

abar lis: see SESQUIPEDAL and -IAN.]

A. adj.1. Of words and expressions (after Horace’s sesquipedalia

verba ‘words a foot and a half long’, A. P. 97): Of many syllables.

B. sb.1. A person or thing that is a foot and a half in height or length.

1615 Curry-Combe for Coxe-Combe iii. 113 He thought fit by his

variety, to make you knowne for a viperous Sesquipedalian in

euery coast. 1656 Blount Glossogr

2. A sesquipedalian word.

1830 Fraser’s Mag. I. 350 What an amazing power in writing

down hard names and sesquipedalians does not the following

passage manifest! 1894 Nat. Observer 6 Jan. 194/2 His sesquipedalians

recall the utterances of another Doctor.

Hence Se:squipeda·lianism, style characterized by the use

of long words; lengthiness

Kamus ‘Besar’ Bahasa Indonesia

Sekarang mari kita lihat KBBI. Apa yang membuatnya ‘besar’? Apakah konsep ‘kamus besar’, terutama prinsip sejarawi, yang digunakan oleh para penyusun Kamus Bahasa Inggris Oxford itu ada kiranya diterapkan dalam KBBI?

Dalam KBBI edisi pertama, selain 62.100 kata yang didefinisikan makna leksikalnya, ternyata terdapat beberapa fasilitas informasi lain. Fasilitas informasi ini bisa kita sekat dalam dua bagian: (1) yang berhubungan dengan bahasa, dan (2) yang tidak berhubungan (langsung) dengan bahasa. Yang berhubungan dengan bahasa, misalnya: Pedoman Umum EYD, Pedoman Umum Pembentukan Istilah, Aksara Daerah, Aksara Asing, dan Singkatan dan Akronim. Sementara itu, yang tidak berhubungan (langsung) dengan bahasa, misalnya: Nama Geografi, Mata Uang, Sukatan dan Timbangan, serta Tanda dan Lambang (astrologi, astronomi, bilangan, biologi, dlsb.). Tradisi fasilitas informasi yang tersua dalam Lampiran KBBI ini tetap dipertahankan sampai pada KBBI edisi ke-4. Saya pribadi menganggap fasilitas informasi yang berhubungan dengan bahasa sangat membantu, baik secara informatif maupun praktis. Yang paling mengasyikkan adalah informasi tentang aksara daerah dan asing. Sayang, sampai pada KBBI edisi ke-4, semua aksara daerah dan asing ditampilkan dalam bentuk daftar abjad saja, tidak pernah ada contoh penggunaannya dalam bentuk kata, frasa, atau kalimat.

Di samping itu, KBBI tidak merasa perlu memberikan cara lafal pada seluruh lema yang dicatatnya. Hanya lema-lema tertentu saja yang diberi cara lafal; umumnya lema yang merupakan serapan dari bahasa asing. Barang tentu hal ini disebabkan oleh mazhab ejaan fonemis yang konon dianut dalam EYD. Biarpun begitu, dengan telah diberikannya cara lafal pada lema-lema tersebut, dengan sendirinya mazhab tersebut runtuh; dan memang harus runtuh dan kita cabut dari pikiran kita sebab memang bukan begitu kenyataannya.

Yang pasti adalah ini: tidak seperti Kamus Bahasa Inggris Oxford, KBBI tidak pernah menerapkan prinsip sejarawi; sampai pada edisi ke-4 tidak pernah ada satu pun infomasi etimologis dan tak pernah tertera satu pun kutipan ilustratif.

Anda mungkin bertanya: apa pentingnya kutipan ilustratif? Saya jawab begini: pertama, kutipan ilustratif adalah bagian dari konsep ‘kamus besar’; kedua, kutipan ilustratif juga dapat berperan sebagai penanda kelahiran sebuah kata. Yang saya maksud dengan ‘kelahiran sebuah kata’ di sini bukan berarti ‘kapan kata tersebut pertama sekali diucapkan’, tetapi ‘kapan kata tersebut tersua pertama sekali dalam tulisan’; dan ketiga, kutipan ilustratif adalah bukti tertulis yang menunjukkan bahwa sebuah kata pernah digunakan secara praktis di masyarakat penutur. Tentunya, bukti tertulis adalah bukti yang paling relevan dan masuk akal untuk digunakan dalam sebuah kamus cetak. Bukti lainnya bisa berupa rekaman suara. Tapi, tak mungkin kita bisa mendengarkan rekaman suara dalam sebuah kamus cetak. Kenapa kita butuh bukti penggunaan? Misalnya begini, saya menemukan sebuah lema dalam KBBI edisi ke-4 yang belum pernah saya temukan penggunaannya. Lema tersebut adalah mandi, sebuah kata serapan dari bahasa Jawa, yang punya makna ‘mujarab’ dan ‘manjur’. Saya, sebagai pengguna kamus, berhak bertanya, di mana bukti bahwa lema mandi, dengan artinya yang ‘manjur’ dan ‘mujarab’ itu, pernah digunakan sebagai bahasa Indonesia? Apa ukuran yang dipakai para penyusun KBBI sehingga mereka memutuskan untuk melibatkan lema mandi tersebut dalam kamusnya? Bagaimana bisa saya tahu pasti bahwa lema tersebut memang digunakan sebagai bahasa Indonesia kalau bukti penggunaannya saja tidak diberikan? Tak berjawab dalam KBBI.

Kutipan ilustratif, dalam pandangan saya, adalah penerapan sikap dan cara pandang deskriptif dalam menghadapi fenomena bahasa. Bukti deskriptif adalah harga-wajib dalam meracik resep kebahasaan (ingat bahwa kamus, pada dasarnya, berisi resep-resep bahasa). Dan bukankah kutipan ilustratif dapat mendongkrak kepercayaan pengguna kamus sebab ia menjadi bukti bahwa setiap lema yang tercatat bukanlah lema yang asal usul? Dan bukankah Kamus Bahasa Inggris Oxford itu menjadi sangat otoritatif dan tepercaya sebab 1.827.306 kutipan ilustratif yang maktub di dalamnya?

***

Anda mungkin akan bertanya lagi: pernahkah Indonesia mempunyai kamus yang etimologis? Saya jawab: pernah! Di tahun 1984 (empat tahun sebelum diterbitkannya KBBI), Pusat Bahasa telah menerbitkan sebuah kamus etimologis, yang berjudul Kamus Etimologi Bahasa Indonesia, garapan Ramli Harun, Aliudin Mahyudin, dan Achmad Patoni. Seberapa baikkah mutu kamus ini? Saya tidak tahu. Saya tidak pernah menemukannya di toko buku, loak ataupun baru. Tahu tentang keberadaannya pun cuma dari mesin-pencari Google. Yang jelas, satu informasi statistik tentang kamus ini: tebalnya hanya 100 halaman. Saya pun tak tahu apa kamus ini pernah dicetak ulang atau dikembangkan lebih lanjut oleh Pusat Bahasa; seperti yang dilakukan Pusat Bahasa pada sang ‘anak emas’: KBBI.

Korpus sebagai Sumber Kamus Besar

Wajar bila para penyusun Kamus Bahasa Inggris Oxford membutuhkan waktu hampir 70 tahun untuk menyelesaikan mahakarya mereka. Semua pengerjaan dilakukan secara manual. Inggris zaman Victoria belum mengenal komputer! Bagaimana dengan Indonesia zaman kiwari (padanan: kontemporer) ini? Bukankah kita merupakan salah satu konsumen besar akan produk komputer? Mengapa alat canggih yang satu ini tidak digunakan untuk membangun sebuah korpus yang memadai, yang nantinya akan sangat berguna sebagai sumber untuk menggali kutipan-kutipan ilustratif; dan membangun sebuah kamus besar bahasa Indonesia yang etimologis?

Prof. Soepomo Poedjosoedarmo, seorang linguis berpengaruh di Indonesia, Guru Besar Linguistik di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, pernah saya tanyai perkara korpus ini. Dia bilang, sepanjang pengetahuannya, memang belum pernah ada sebuah usaha untuk membangun korpus bahasa Indonesia. Dengan girang saya jawab begini: seorang sahabat, pecinta bahasa Indonesia, sekarang sedang mengusahakan korpus tersebut. Sahabat itu berkata dia ingin membangun sebuah kamus bahasa Indonesia yang interaktif, lasak (dinamis), dan, yang pasti, etimologis. Dia ingin menamainya Kamus Khalayak Bahasa Indonesia. Komputer menjadi alat kerja; dan internet menjadi ruangnya. Tentu ini kabar baik.

Kamus Besar atau RPUL?

Anda masih ingat dengan RPUL (Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap)? Buku RPUL ini kerap dijuluki sebagai ‘buku pintar’ karena memuat banyak sekali pengetahuan umum. Melihat begitu banyak fasilitas informasi yang tak berhubungan (langsung) dengan bahasa, KBBI kok rasa-rasanya ingin menjadi seperti RPUL, ya? Bukan saya tak menghargai informasi tentang Sukatan dan Timbangan atau rincian tentang jumlah penduduk daerah tingkat I. Tapi, informasi semacam itu toh bisa di dapat di buku pintar. Mengapa KBBI justru menghabiskan tenaga, dan tentunya kertas, untuk memuat hal-hal yang sebenarnya sudah ada medianya sendiri? Mengapa prinsip dasar dari sebuah kamus besar, yaitu prinsip sejarawi, malah tidak pernah disentuh oleh KBBI? KBBI ‘besar’-nya di mana?

(+6 jempol)
Loading ... Loading ...

Satu komentar
Berikan komentar »

  1. […] This post was mentioned on Twitter by Dion WahyuAdiSaputra and Charlie Meliala, Wahyu Ginting. Wahyu Ginting said: http://lidahibu.com/2010/11/21/besarkah-kamus-besar-bahasa-indonesia/ […]

Berikan Komentar