Amran Halim

21 November, 2010 | Edisi: | Kategori: Tokoh Bahasa

Oleh Gideon Widyatmoko

amran-halimAwal bulan Agustus ini, Balai Bahasa Sumatra Selatan mengadakan sarasehan yang cukup asyik bagi LIDAHIBU. Mereka mengadakan sarasehan bahasa guna mengenang tokoh yang banyak berperan bagi dunia bahasa Indonesia. Adapun tajuk yang dibawa oleh sarasehan ini adalah “Mengenang Prof. ¬†Amran Halim”. Nah, siapakah Prof. Amran Halim ini sampai-sampai dikenang oleh Balai Bahasa Sumsel? Dalam rubrik “Tokoh Bahasa” kali ini, LIDAHIBU akan membahas profesor ini. Yang jelas, ¬†LIDAHIBU sempat menyesal karena tidak dapat bertandang ke Sumatra Selatan untuk mengikuti sarasehan itu.

Terlahir dengan nama Amran Halim pada tanggal 25 Agustus 1929 di Pasar Talo, Provinsi Bengkulu. Semenjak kelahirannya itu, Amran Halim terus rajin belajar dan bertekad untuk menjadi orang yang berguna bagi bangsa Indonesia. Karena mempunyai tekad kuat dan selalu giat belajar, maka sekitar 45 tahun kemudian beliau ditunjuk oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Sjarif Thajeb, sebagai ketua Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia. Yah, walaupun harus menunggu lama, paling tidak ketekunan Amran Halim telah membuahkan hasil.

Sebenarnya, bagaimana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bisa mengetahui bakat Amran Halim hingga memberanikan dirinya untuk menunjuk beliau sebagai ketua Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia? Tidak salah lagi, karena saat itu Amran Halim menjabat sebagai Ketua Majelis Bahasa Indonesia Malaysia. Dan beliau kemudian menggagas pembakuan bahasa Malaysia dan, tentunya, bahasa Indonesia juga. Bahkan hasil pembakuan Majelis Bahasa Indonesia Malaysia ini juga digunakan oleh bahasa Brunei Darussalam. Bagaimana bisa hasil pembakuan ini digunakan juga oleh bahasa Brunei Darussalam? Yah, ada banyak hal yang memang terjadi di luar pemahaman kita dan ada banyak hal yang memang bekerja secara misterius. Jadi, terima sajalah.

Lalu, apa, sih, sebenarnya Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia itu? Panitia ini sengaja dibentuk oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan karena pada tahun itu, tahun 1972, pemerintah menetapkan ejaan resmi bahasa Indonesia yang bernama Ejaan yang Disempurnakan atau acap kita singkat menjadi EYD. Penetapan EYD ini sesuai dengan Keputusan Presiden No. 67 Tahun 1972 yang juga menjadi gagasan Amran Halim. Nah, hebat, bukan. Karena EYD adalah sebuah titik transisi dari penggunaan ejaan lama menjadi yang disempurnakan, maka sungguh diperlukan sebuah badan yang bisa membawa bangsa ini terbiasa dan tidak asing dengan EYD, yaitu Badan Pengembangan Bahasa Indonesia. Apa yang dilakukan oleh Badan pengembangan Bahasa indonesia ini? Yang pasti, ya, menyusun buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan diterbitkan pertama kali pada tahun 1978 oleh Penerbit Balai Pustaka. Karena buku pedoman ini seperti buku pedoman wajib bagi warga Indonesia, maka laris manislah buku ini sehingga sempat beberapa kali dicetak ulang.

Lihatlah, si kecil Amran Halim yang penuh ketekunan dan kesabaran telah berhasil menyusun sebuah buku terlaris di Indonesia. Bercermin dari itu, LIDAHIBU menekankan para pembaca LIDAHIBU untuk terus bersabar dan bertekun hati karena pasti akan membuahkan hasil.

Tidak hanya itu saja, sebelum buku yang disusun beliau diterbitkan oleh Balai Pustaka, Amran Halim juga telah ditunjuk untuk menjadi Kepala Pusat Bahasa Jakarta, lebih tepatnya pada tahun 1975. Yah, kemudian setelah habis masa jabatannya, beliau digantikan oleh beberapa pesohor bahasa juga, seperti Prof. Dr. Anton M. Moeliono, Drs. Lukman Ali, Dr. Hasan Alwi, dan, sekarang, Dr. Dendy Sugono. Untuk Prof. Dr. Anton M. Moeliono sudah pernah “dijilat” oleh LIDAHIBU, coba tilik LIDAHIBU edisi #6.

Tidak puas hanya menulis pedoman, semasa memimpin Pusat Bahasa Jakarta, Amran Halim pun akhirnya menyusun Kamus Umum Bahasa Indonesia yang diterbitkan pada tahun 1980. Sangat wajar bagi pemimpin Pusat Bahasa untuk menyusun kamus. Mungkin kita akan menganggap bahwa hal tersebut sepele, walaupun kita pasti tidak dapat dengan mudah menyusun sebuah kamus, dan sepertinya Amran Halim juga menganggap kalau menyusun kamus adalah hal yang sepele, maka beliau dengan bantuan Drs. Yayah B. Lumintaintang membuktikan kemampuan menulisnya dengan menulis buku 30 Tahun Indonesia Merdeka yang diterbitkan satu tahun setelah penerbitan Kamus Umum Bahasa Indonesia. Itu baru luar biasa!

Setelah Pusat Bahasa dan buku-buku yang laris itu, ke mana kemudian Amran Halim? Yah, dengan prestasi yang telah terukir di sejarah bahasa Indonesia, beliau kemudian menjabat sebagai rektor Universitas Sriwijaya. Universitas yang cukup ternama di Sumatra Selatan. Selain itu, beliau juga menyempatkan diri untuk menjabat sebagai kepala bahasa dan ketua Kwarda Sumatra Selatan dan Ketua Dewan Pertimbangan Pendidikan Daerah Sumatra Selatan. Yah, sudah sewajarnya jika pada akhirnya beliau menyandang gelar guru besar bahasa Indonesia, beliau selalu menjadi ketua pada setiap lembaga yang dimasukinya. Itu artinya, ketekunan membawa kita pada tempat yang terbaik.

Setekun apa pun Amran Halim, beliau akhirnya harus menghentikan ketekunannya dan mengalah pada penyakit kanker paru-paru yang dideritanya dan memaksanya untuk menghembuskan nafasnya yang terakhir pada tanggal 13 Juni 2009 di Palembang. Walaupun sangat disayangkan, karena jika mampu bertahan 2 bulan lagi usia beliau genap 80 tahun, namun beliau sudah menorehkan sejarah yang cukup dalam bagi kemajuan bahasa Indonesia.

(Belum ada jempol)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar