Aq 4L4Y — QM Maw Ap4h?!

30 Juli, 2010 | Edisi: | Kategori: Berita Gejala
http://hphotos-snc3.fbcdn.net

http://hphotos-snc3.fbcdn.net

Oleh Wahyu Adi Putra Ginting

Istilah alay mungkin tidak lagi asing di telinga Anda. Tapi, sedikit orang yang berani mendefinisikan alay lewat sebuah perumusan makna yang bernas dan cerdas. Pernah ada dua definisi yang mencoba meletakkan arti dari istilah ini; kedua definisi tersebut kerap sekali dikutip oleh orang-orang, khususnya di media maya. Konon, dua definisi ini berasal dari dua pakar ilmu sosial di Indonesia; namun karena kesahihan asal-usul definisi tersebut sangat meragukan, saya tidak mengikut-sertakan nama kedua pakar tersebut. Berikut saya kutipkan:

Alay adalah gejala yang dialami pemuda-pemudi Indonesia, yang ingin diakui statusnya di antara teman-temannya. Gejala ini akan mengubah gaya tulisan, dan gaya berpakaian, sekaligus meningkatkan kenarsisan, yang cukup mengganggu masyarakat dunia maya. Diharapkan sifat ini segera hilang, jika tidak akan mengganggu masyarakat sekitar.

Alay adalah perilaku remaja Indonesia, yang membuat dirinya merasa keren, cantik, hebat di antara yang lain. Hal ini bertentangan dengan sifat Rakyat Indonesia yang sopan, santun, dan ramah. Faktor yang menyebabkan bisa melalui media TV (sinetron), dan musisi dengan dandanan seperti itu.

Saya menangguhkan diri untuk menyebut kedua definisi ini sebagai perumusan makna alay yang bernas dan cerdas. Pertama-tama, kedua definisi tersebut tidak menelusuri terlebih dahulu asal-muasal istilah alay. Kedua definisi di atas langsung bertolak dari klaim, yang mungkin sebenarnya tidak berasal dari perumus definisi itu; klaim tersebut lebih merujuk pada perasaan para pembenci orang-orang alay. Definisi tersebut memang menunjukkan ciri-ciri alay, seperti: “mengubah gaya tulisan, dan gaya berpakaian, sekaligus meningkatkan kenarsisan” dan “membuat dirinya merasa keren, cantik, hebat di antara yang lain”. Tapi, dalam pencirian itu tidak jelas perubahan apa yang terjadi pada diri seorang alay. Juga, tidak terang bukti bahwa seorang alay akan merasa keren, cantik, dan hebat di antara orang lain. Kedua definisi tersebut juga terjebak pada pandangan yang sangat tergesa-gesa dalam menilai alay. Keduanya mengikutsertakan penghakiman yang sebenarnya tak dapat mereka buktikan; perhatikan klaim-klaim seperti “diharapkan sifat ini segera hilang”, “mengganggu masyarakat sekitar”, dan “bertentangan dengan sifat Rakyat Indonesia”.

Saya bertanya-tanya: mengapa definisi pertama tidak tertarik untuk mengkaji mengapa “masyarakat sekitar” merasa “terganggu” dengan “gejala (alay) yang dialami pemuda-pemudi Indonesia” itu? “Masyarakat sekitar” macam apa yang merasa terganggu itu? Juga, untuk definisi yang kedua, mengapa tidak menjelaskan mengapa perilaku alay “bertentangan dengan sifat Rakyat Indonesia”? “Rakyat Indonesia” yang mana yang sedang diacu ini? Mengapa pula “merasa keren, cantik, hebat di antara yang lain” bertentangan dengan “sopan, santun, dan ramah”? Kekurangtelitian macam inilah yang membuat saya merasa bahwa dua definisi atas alay ini tidak bernas dan cerdas; cenderung culas dan malas, malah.

84ha5a 4L4Y

Satu hal yang sangat khas dari pelaku alay adalah gaya bahasanya. Istilah “gaya bahasa” sebenarnya terlalu luas untuk ini. Mungkin, lebih tepat kalau saya katakan “gaya tulis” atau “gaya eja”. Ya, gaya eja kaum alay memang unik, dibanding dengan gaya eja formal yang kita anut dalam Bahasa Indonesia baku. Saya rasa cara saya menulis judul dan subjudul artikel ini sudah menjelaskan contoh keunikan tersebut: penggunaan huruf besar dan kecil sekaligus dalam satu kata, pemanfaatan tanda bilangan yang secara grafis menyerupai rupa huruf, dan penggunaan huruf alternatif yang berbunyi mirip dengan bunyi huruf yang dimaksudkan. Pertanyaan yang seharusnya kita pikirkan: mengapa kaum alay menyatakan keunikan mereka tidak hanya lewat cara berpakaian dan berdandan, tapi juga lewat bahasa? Tentu saja! Bahasa adalah juga alat ekspresi identitas. Penyair mengekspresikan identitasnya lewat bahasa puitis; seorang pelaku politik mengekspresikan identitasnya lewat bahasa khas dunia politik; seorang pelawak mengekspresikan identitasnya dengan bahasa humor – begitu seterusnya.

Banyak sekali narasi yang saya temukan, khususnya di dunia maya, yang menyatakan bahwa bahasa (gaya eja) alay itu sangat mengganggu, rusak-rusakan, egosentris, tidak mempedulikan kenyamanan komunikasi, atau bahkan membunuh tata bahasa Indonesia. Sepintas, gaya eja alay memang terlihat tidak beraturan. Untuk menuliskan kamu saja, ada begitu banyak tawaran ejaan yang terdapat dalam gaya alay, contohnya: kamuh, kammo, kamoh, kamuwh, kamyu, qamu, dsb. Atau, untuk mengeja kangen,deh, tampilannya bisa seperti ini: K4Ng3nZ dWEcChh. Tapi, bila kita mau lebih jeli lagi memperhatikan perwujudan gaya eja alay, sebenarnya sudah ada pola yang mulai terbentuk dari ‘ketakberaturan’ itu. Misalnya saja: kerap kita paham bahwa ‘3’ dimengerti sebagai ‘e’, ‘q’ sebagai ‘ku’ atau ‘k’, ‘x’ sebagai ‘nya’, ‘6’ sebagai ‘g’, ‘4’ sebagai ‘a’, ‘5’ sebagai ‘s’, dan ‘8’ sebagai ‘b’.

Sampai di titik ciri ini, pembaca LIDAHIBU mungkin akan teringat dengan artikel Berita Gejala di edisi #14 lalu, yang berjudul “Lupus = Lucu (tapi) Pusing”. Artikel tersebut membahas gaya bahasa khas ‘belakang truk’. Memang banyak kemiripan yang bisa diperiksa antara kedua (gaya) bahasa ini. Keduanya sama-sama gemar menggunakan tanda bilangan dan huruf alternatif yang berbunyi mirip dengan huruf yang dimaksud. Begitu pun, jika gaya eja belakang truk cenderung mengacu pada unsur hiburan, gaya eja alay lebih mengacu pada identitas seseorang sebagai alay.

Anasir kekreatifan juga kerap menjadi perdebatan dalam diskusi tentang gaya eja alay. Dalam sebuah seminar bertajuk Language in the Online and Offline World, seorang pakar linguistik dari Universitas Kristen Petra Surabaya, Prof. Dr. Esther Kuntjara, melontarkan kalimat ini saat membicarakan ‘kekreatifan’ penutur bahasa di dunia maya: “Penutur bahasa dalam dunia maya memang kreatif, tapi kalau rusak-rusakan namanya bukan kreatif,” (Radar Lampung, 05/06/10). Di artikel yang menjadi sumber kutipan saya itu, sebelumnya dituliskan juga pendapat sang pakar tentang bahasa alay: “Yang jelas, bahasa alay itu mencampur aduk antara tulisan, lisan, dan gambar. Sehingga semuanya menjadi kacau.” Jelaslah bahwa yang diacu oleh Kuntjara sebagai “rusak-rusakan” adalah bahasa alay, yang juga dianggapnya sebagai (bahasa yang) “kacau” karena “mencampur aduk antara tulisan, lisan, dan gambar”. Lebih lagi, saat berpendapat tentang cara-tutur pengguna internet, Kuntjara mengatakan, “Misalnya kalau menyatakan tertawa keras ditulis dengan LOL. Padahal mungkin saja, penulis itu justru sedang marah, bukan tertawa, sehingga semuanya menjadi kacau atau rumit.”

Jujur, saya merasa kasihan dengan pakar linguistik ini. Mengapa pula ia menilai sesuatu yang ‘rumit’ sebagai yang ‘rusak’? Saya tidak tahu Kuntjara sudah pernah membaca karangan David Crystal, Language and the Internet, atau belum (sebagai seorang pakar linguistik, seharusnya sudah). Di buku itu, Crystal malah menganggap ‘kerumitan’, atau yang disebut Kuntjara sebagai ‘rusak-rusakan’, dalam bahasa di internet sebagai suatu gejala linguistik yang begitu menarik karena dibentuk oleh ciri lisan sekaligus tulisan (2006: 31). Perhatikan, contohnya, pernyataan Kuntjara tentang ‘tertawa keras’ (LOL: Laugh out Loud). Kuntjara menganggap hal ini sebagai peletakan emosi seenaknya dan tidak tepat karena “mungkin saja, penulis itu justru sedang marah, bukan tertawa, sehingga semuanya menjadi kacau dan rumit.” Bah!? Bukankah ‘kekacauan’ dan ‘kerumitan’ macam itu memang hadir dalam komunikasi manusia? Anda pastinya pernah melakukannya: saat Anda berbicara pada orang yang sangat Anda benci, Anda memaksakan diri tersenyum manis (entah dengan alasan apa) walau mendongkol dalam hati. Lalu, mengapa pula Kuntjara menganggap orang yang menulis LOL padahal sedang marah atau kecewa sebagai sebuah keanehan? Pengejawantahan emosi dalam dunia bahasa di internet, yang diwujudkan dalam bentuk singkatan semacam LOL, sebenarnya adalah apa yang dimaksud Crystal sebagai ciri lisan sekaligus tulisan. Apa yang salah, atau ‘rumit’, ‘rusak’, dan ‘kacau’, tentang hal itu?

Tuduhan lain yang sering sekali ditimpakan pada bahasa (gaya eja) alay adalah bahwa ia merusak, atau bahkan membunuh, tata bahasa Indonesia. Saya bingung dengan orang-orang yang berkata demikian. Apa buktinya tata bahasa Indonesia dibunuh oleh bahasa (gaya eja) alay? Tuduhan tuna-bukti ini, menurut saya, terlalu berlebihan dan justru menunjukkan ketidakpahaman penuduh itu tentang tata bahasa Indonesia. Lebih lagi, tuduhan ini adalah sebuah tuduhan pengecut karena hanya berani menyerang orang-orang semacam kaum alay yang tidak punya kuasa atau otoritas bahasa dan politik di Indonesia ini. Coba pikir, kalau memang perubahan ejaan radikal yang dilakukan kaum alay itu patut dimaki, mengapa para penuduh itu tidak sekalian memaki Ejaan yang Disempurnakan (EYD)? Bukankah EYD, yang secara simbolis diresmikan Suharto lewat Pidato Kenegaraan di depan Sidang Dewan Perwakilan Rakyat pada 16 Agustus 1972 lalu, sudah jelas-jelas mengubah dasar ejaan Bahasa Indonesia? Bukankah hal itu membuat ‘kekacauan’ karena seluruh rakyat Indonesia harus turut belajar ejaan baru dan seluruh perusahaan percetakan mungkin harus memperbaharui buku-buku yang sedianya dicetak dengan ejaan lama? Bukankah EYD juga turut mempromosikan, meminjam istilah Ben Anderson, amnesia nasional karena generasi muda Indonesia lupa pada sejarah-bukan-versi-orde-baru yang tercetak dalam buku-buku dengan ejaan lama karena mereka mungkin jadi malas membacanya sebab ‘rumit’ dan ‘kacau’? Mengapa perubahan radikal ini tidak disebut ‘kacau’ juga oleh para penuduh itu? Kalau yang menuduh gaya eja alay sebagai perusak tata bahasa Indonesia itu adalah orang awam, bolehlah saya pikir bahwa mereka mungkin tidak tahu atau kekurangan informasi tentang hal ini. Tapi, kalau yang menuduh itu adalah seseorang yang mengaku ‘pakar linguistik’, bergelar Prof. Dr. pula, saya akan nilai ia sebagai pengecut karena garang melawan yang alay tapi memble melawan kekuasaan!

Orang-orang yang menulis atau menggubah cara eja alay berpikir mereka kreatif karena mereka memang kreatif. Dan gaya eja itu, menurut saya, menunjukkan kompetensi penuh atas ortografi Bahasa Indonesia. Gaya eja alay bekerja pada tataran linguistik bahasa. Perhatikan saja: bukankah gaya eja itu menggunakan anasir-anasir serupa homofon, atau bahkan semiotika? Gaya eja alay memperlakukan abjad, tanda baca, dan bilangan sebagai simbol yang memanifestasikan bunyi atau huruf tertentu. Saya sendiri menikmati kekreatifan linguistik semacam ini. Gaya eja alay justru menyemangati saya untuk memecahkan sandi yang digunakan dalam penulisan. Ya, saya menganggap tulisan alay sebagai sandi, dan hanya butuh sedikit kesabaran dan waktu untuk terbiasa dengannya dan untuk mampu memecahkannya.

Pengguna gaya eja alay pun telah mempraktikkan gaya ejanya di tempat yang semestinya. Mereka berbahasa alay bukan dalam laporan ilmiah atau pidato resmi. Mereka berbahasa alay dalam ruang-ruang bahasa yang sifatnya lebih santai seperti di situs jejaring sosial, obrolan pribadi, dan pesan singkat.

***

Sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekedar sarkasme tak bertanggung jawab dapat dilakukan dalam mengkaji fenomena ini. Coba Anda bayangkan, sebegitu bencinya orang-orang anti-alay sampai mereka mengekspresikannya dalam kata-kata emosional semacam ‘cuma cari sensasi’, ‘merusak’, ‘harus dimusnahkan’, dlsb. Di situs jejaring sosial semacam Facebook sendiri telah lama terbentuk Grup Anti Alay. Dan tindakan-tindakan ‘anti’ semacam ini telah berujung pada tindakan aniaya-karakter terhadap seorang siswa SMU di Banyuwangi sana, bernama-maya Ophi A. Bubu, yang dirujuk sebagai Ratu Alay. Bukankah jauh lebih berharga bila kita mencurahkan energi kita untuk berbuat sesuatu terhadap gejala tindakan fasis seperti ini, dan bukan cuma dengan gagap dan latah mengatakan bahwa bahasa alay merusak bahasa nasional kita?

(+21 jempol)
Loading ... Loading ...

22 komentar
Berikan komentar »

  1. […] This post was mentioned on Twitter by Vindy Kartika D P, mediasastra. mediasastra said: Aq 4L4Y — QM Maw Ap4h?! | Lidahibu.com http://t.co/duKri8N […]

  2. […] para calon pemilih pemula sebagai pasar potensial, Mbak Mega harus nyobain kirim sms-nya pake bahasa alay! Bayangkan betapa gembiranya para alay-alay itu menerima sms dari calon pemimpin bangsanya dalam […]

  3. Saya tidak memandang 84ha5a 4L4Y sebagai perusak bahasa. Kreativitas dalam mencipta simbol ini pada dasarnya adalah kodrat manusia sebagai animal symbolicum (makhluk yang menciptakan simbol) dan homo ludens (makhluk yang (gemar) bermain). Jadi, biarkan saja mereka berkreasi dan bermain.

  4. Mayang,

    Makhluk Pencipta Simbol dan Makhluk yang Gemar Bermain, ah sungguh istilah yang mantap menjelaskan gejala munculnya bahasa Alay. Terima kasih atas komentarnya.

    Tabik!

  5. Waktu membaca ini, jujur, saya tersenyum dengan perasaan campur aduk. Saya sendiri ngga suka bahasa terlalu formal sih…

    Untuk yang me-like artikel ini, yah, hahaha… untuk yang membenci artikel ini, juga hahaha…

    Kalau saya boleh ambil kasarnya, semua opini dari pihak ‘alay’ dan ‘anti alay’ didasari oleh bukti dan basis yang bagus kalau tidak bisa dibilang solid, tetapi lho ya… mari kita renungi sedikit…

    Poin pertama : Komunikasi itu dibuat untuk menyampaikan suatu maksud secara akurat ke pihak lain (dan tergantung kondisi, secara cepat), karena itu ada sebuah standar keteraturan yang dimaksudkan agar semua yang mengikuti standar tersebut dapat menerima dan mengerti maksud yang dikomunikasikan dengan baik (dan kadang, dengan cepat). Saya rasa saya ngga perlu menjelaskan apa yang terjadi kalau seseorang yang tidak tahu atau beda generasi, beda kepribadian, beda kebiasaan, dll. (walaupun mungkin sama-sama anak muda misalnya, keluarga yang disiplin tentu mendidik kebudayaan yang berbeda dengan keluarga yang… ngga terlalu ketat misalnya, atau lebih parah lagi… dari kebudayaan manakah anda? Anda sendiri yang tahu jawabnya) menerima sms alay dari orang lain… yang mana dia tidak butuh atau tidak mau atau tidak sempat repot-repot menterjemahkan tulisan alay tersebut ke bahasa yang dia kenali… pernah membayangkan perasaan orang macam ini?

    Poin kedua : Orang yang dididik dengan kebudayaan yang saya sebutkan diatas (dari keluarga disiplin, ketat, konservatif, whatever you call it lah…) terbiasa dengan keteraturan, yang mana tentu saja terganggu melihat bahasa alay yang tidak teratur… ya, tidak teratur, karena ada begitu banyak variasi dan penempatan huruf dan kapital dan angka yang muncul, dan lagi penambahan (contoh sederhana, aku menjadi akyu), apa ini bisa disebut teratur? Asal tahu saja, kita bisa memahami bahasa alay BUKAN KARENA ADA RUMUSNYA, TAPI KARENA OTAK KITA DIKARUNIAI TUHAN DENGAN KEMAMPUAN MEMAHAMI PETUNJUK DITENGAH KETIDAKTERATURAN. Mau contoh? Saya kasih bahasa acak yang lebih acak dari alay

    “Dsaar bijagnan aaly boodh!!”

    Anda mengerti maksud saya? Nah!

    Poin ketiga : Yah, pada dasarnya sih semua di dunia ini harus teratur, mau dari buku sains sampai kitab suci agama manapun setuju dengan itu. Nah, bahasa alay gimana?

  6. Hai, Adam. Makasih ya udah mau berkomentar cukup panjang untuk artikel saya ini.

    Saya tanggapi, ya. 🙂

    3 poin yang Anda paparkan saya anggap hanya membahas satu saja dari beragam sisi yang coba saya hadirkan dalam artikel saya, yaitu bahasa Alay dalam komunikasi penutur.

    Anda menitik-beratkan pembahasan pada segi “Keteraturan” dalam komunikasi. Semua penjelasan Anda mengarah pada satu hal: tidak teraturnya bahasa Alay. Dan Anda membuat satu pernyataan yang sangat saya sukai: “[k]ita bisa memahami bahasa alay BUKAN KARENA ADA RUMUSNYA, TAPI KARENA OTAK KITA DIKARUNIAI TUHAN DENGAN KEMAMPUAN MEMAHAMI PETUNJUK DITENGAH KETIDAKTERATURAN.”

    Pernyataan itu bagi saya menunjukkan bahwa Anda menerima fakta bahwa banyak hal di dunia ini yang tidak teratur, namun tetap bisa dipahami. Saya menemukan banyak ketidakteraturan dalam penyajian bahasa di komentar Anda. Tapi saya sungguh paham maknanya. Dan tidak repot-repot protes atau meminta Anda untuk menyunting sajian bahasa dalam komentar Anda itu. Atau malah menghabiskan tenaga untuk memaki-maki Anda, menyebut Anda tidak beradab dan merusak bahasa Indonesia.

    Mengapa saya bisa memahami gaya tutur Anda yang, menurut saya, masih belum teratur bila harus kita acu pada standar kebakuan bahasa Indonesia? Itu karena saya terbiasa, dan otak saya, yang Anda katakan dikaruniai Tuhan dengan kemampuan membaca petunjuk di tengah ketidakteraturan itu, dengan fasih bisa menyusun makna-makna. Bisa terjadi dengan cepat karena memang terbiasa.

    Perkara yang terjadi di bahasa Alay menunjukkan bahwa banyak orang yang tidak terbiasa dengan bahasa ini, melihatnya sebagai bahasa alien yang seolah datang dari planet lain. Perasaan yang sama muncul saat saya pertama sekali belajar bahasa Inggris. Saya melihat begitu banyak ketidakteraturan dalam bahasa ini saat itu. Perasaan yang sama juga bakal muncul di benak orang asing yang belajar bahasa Indonesia. Rambut mereka rontok saat belajar imbuhan dalam bahasa kita. Nah, mengapa orang asing itu pusing dan kita tidak? Jawabannya lagi-lagi, karena mereka belum terbiasa sedangkan kita sudah.

    Bung Adam, standar komunikasi seperti yang Anda sebut di awal komentar itu bisa dibuat, gampang sekali malah. Prosesnya bisa melalui kesepakatan antar-pribadi penutur (untuk wilayah komunikasi yang sempit); atau dengan pembentukan suatu otoritas bahasa yang memang bertugas untuk membuat standar itu (untuk wilayah komunikasi yang jauh lebih luas).

    Kalau kita bicara tentang standar komunikasi secara umum, dan mencakup bahasa manapun, setahu saya hanya ada empat rambu yang (se)harus(nya) ditaati: rambu mutu (jangan sampaikan apa yang Anda tahu itu salah/palsu/bohong), rambu jumlah (jangan sampaikan lebih banyak atau kurang dari yang dibutuhkan), rambu relevansi (jangan sampaikan hal yang tidak nyambung dengan topik percakapan), dan rambu sikap (sampaikanlah wicara dengan jernih dan tidak taksa).

    Itu standar, bung. Tapi dunia ini bukan sekedar tentang standar. Bahkan, penutur banyak yang “mempermainkan rambu-rambu” itu dalam percakapan mereka, dan tetap saja mereka paham artinya. Saya kasih contoh.

    A: “Pa, tolong bukakan pintu. Sepertinya ada yang menekan bel.”
    B: “Aduh, lagi mandi.”

    Percakapan itu jelas-jelas melanggar rambu relevansi. Tapi, bahkan Anda sekalipun pasti paham apa maksud B dengan pernyataannya itu.

    Contoh lain.

    A: “Wooy, api!!”
    (teriakan orang yang memperingatkan adanya kebakaran)

    Ungkapan ini melanggar rambu jumlah, karena hal yang disampaikan bisa dibilang jauh dari cukup, kalau kita mengacu pada standar. Tapi, toh orang-orang yang mendengarnya paham dengan hal itu.

    Nah, Anda telah melihat bahwa bahasa yang sudah ada standarnya sekalipun sebetulnya memiliki banyak sekali varian/ragam dalam hal gaya ungkapnya. Dan saya sangat menyayangkan cara Anda membedakan bahasa Alay dengan bahasa Indonesia. Anda sama saja ternyata dengan orang yang menganggap bahasa Alay itu datang dari planet lain. Bung Adam, bahasa Alay itu ya bahasa Indonesia. Ia hanya ragam gaya saja. Itu mengapa saya sebetulnya tidak bersedia menggunakan sebutan “bahasa Alay”; lebih tepat bila kita menyebutnya “bahasa Indonesia gaya/ragam Alay”. Untuk yang ini, saya tidak mau berpikiran “whatever you call it, lah…”. Soalnya, cara kita menyebut sebuah fenomena menyiratkan pemahaman kita tentang fenomena itu.

    Standar untuk bahasa Indonesia gaya Alay itu bisa saja dibuat, Bung Adam. Tapi, saya tanya: apa perlunya? Biarkan saja orang terbiasa menggunakannya sehingga otak mereka menjadi lebih terbiasa dan fasih untuk membaca petunjuk dari “ketidakteraturan” yang ada dalam bahasa Indonesia gaya Alay.

    Pernyataan Anda yang sangat saya sukai itu menjadi kosong maknanya saat saya membaca poin ketiga Anda. Bila Anda tahu bahwa otak kita dikaruniai Tuhan kemampuan untuk memahami petunjuk di tengah ketidakteraturan, mengapa Anda katakan “pada dasarnya semua (saya catat kata “semua” ini) di dunia ini harus teratur”? Apa sebenarnya motivasi keteraturan, bila otak kita mampu menemukan petunjuk maknawi dari ketidakteraturan?

  7. ini penggunaan referensi Koentjara Ningrat dan Selo Soemardjan sungguh-sungguh atau bohong belaka?

  8. Pengutipan seperti itu bertebaran di Internet, Bung. Tidak bisa dipastikan kebenarannya apakah benar-benar Koentjara dan Selo yang mengajukan definisi itu (walau tidak pernah pula ada sanggahan dari orang yang disebut namanaya itu).

    Hm… Lebih baik saya hilangkan saja nama mereka. Dan hanya berpegang pada definisi tanpa menyebut nama.

    Trims untuk “peringatannya”.

    Salam,

    Wahyu Ginting

  9. Saya setuju dg Anda, kreativitas manusia kok dibatasi. Linguis tsb berpandangan perskriptif, sementara kita berpandangan deskriptif. Prof. Dr. Esther Kuntjara gelar S1, S2, dan S3nya mgkn dr fakultas pendidikan, jd y wajar sj berpendapat spt itu.
    Lagipula, bahasa 4L4y tidak pernah “merusak” (kalau dianggap demikian) bahasa tutur sbg objek primer linguistik.

  10. Sejauh yang saya tahu, “alay” merupakan akronim dari “anak layangan”. Istilah ini merujuk pada sekelompok orang (biasanya pemuda) yang mengecat rambutnya dengan warna kemerah-merahan, tetapi tidak sesuai dengan selera/mode muda-mudi Jakarta pada umumnya (konteks Jakarta ini saya gunakan karena saya lahir dan besar di Jakarta; mengenai kota-kota lain, jujur saja saya tidak tahu). Warna kemerahan pada ambut ini mengingatkan mereka (muda-mudi yang memberi istilah “alay”) pada anak-anak yang rambutnya kemerah-merahan akibat terik matahari karena terlalu sering bermain layang-layang. Dari sinilah lalu “alay” mengalami perluasan makna: bukan saja dalam hal mode saja, tapi juga dalam hal gaya hidup lain–termasuk ejaan–yang “tidak sesuai dengan selera masyarakat arus utama”. Maka dari itu, saya setuju dengan pendapat Mas Wahyu Ginting untuk tidak cepat-cepat memandang rendah orang-orang yang disebut alay. Sesuai dengan asal maknanya, mereka itu hanya berbeda selera; dikotomi benar-salah lalu menjadi tidak relevan.

    Yang menarik untuk diperhatikan adalah bahwa mode dan ejaan yang disebut alay itu sudah muncul sebelum istilah “alay” itu sendiri muncul. Sebagai ilustrasi, ejaan alay itu muncul pada akhir-akhir masa SD saya, tetapi istilah “alay” baru muncul ketika saya SMA.

    Yaa, sekali lagi, semua yang saya utarakan di sini murni hanya berdasarkan pengalaman dan pengamatan saja. Terima kasih.

  11. Terima kasih juga untuk komentarnya, Damar. 🙂

  12. Bahasa apapun bentuknya boleh digunakan, sah-sah saja. Tak ada yang salah. Kenapa? Alasannya, setiap orang boleh menggunakan bahasa apapun selama mereka merasa “nyambung” dan nyaman. Nyatanya, berbagai bentuk/ jenis bahasa (4l4y-pun)pun bisa terus hidup karena ada penuturnya. (Saya kira mereka juga paham, kapan saatnya menggunakan bahasa 4l4y itu) Selama penuturnya masih ada, bahasa 4l4y akan tetap hidup. Kita tunggu saja hingga penuturnya hilang atau berkurang. Sebuah bahasa akan punah jika tidak ada penuturnya. Salam Bahasa!!

  13. Jathee, terima kasih untuk pandangan Anda.

    Salam bahasa! 🙂

  14. Adalah perasaan tidak nyaman ketika sedang menerima SMS dari nomor yang tidak dikenal dan pemiliknya menggunakan bahasa Indonesia gaya alay. Tentu saja perasaan itu muncul saat saya membalasnya dengan tata bahasa formal, namun pemilik nomor yang tidak dikenal itu tetap menggunakan bahasa Indonesia gaya alay. Tapi, kok ya dipikir-pikir, kenapa harus merasa tidak nyaman ya? Lha wong dari awal saya tidak memintanya menggunakan bahasa formal (yang mungkin tidak lebih pas digunakan di SMS (Short Message Service ketimbang bahasa Indonesia gaya alay). Nah, sepengalaman pribadi saya menghadapi orang yang menggunakan bahasa Indonesia gaya alay itu, ya paling banter memang lewat SMS. Kalau saya sampai berbicara langsung dengan orang yang menggunakan bahasa Indonesia ragam baru ini, saya akan memintanya berbicara dalam bahasa Indonesia gaya biasa atau yang masih/sudah umum. Tapi, sopankah saya jika saya melakukannya?

  15. Hario,

    Mungkin rasa tidak nyaman muncul karena butuh lebih banyak energi untuk membaca tulisan dengan gaya eja Alay dibanding tulisan bergaya eja normal.

    Meminta lawan bicara untuk melakukan sesuatu agar kita, sebagai pewicara-tandingan dalam percakapan itu, mampu lebih jernih menangkap maksud tuturannya itu rasanya biasa dilakukan dan boleh-boleh saja. Sopan atau tidak, itu tergantung pada cara/lagak kita dalam menyampaikan permintaan itu: volume suara, desingan nada, airmuka, pilihan kata, dsb.

    Terima kasih untuk komentar Anda.

    Salam! 🙂

  16. […] atas. Menurut saya, terlepas dari kejengahan beberapa penutur atas berbagai ragam bahasa seperti alay, celoteh bayi, bahasa bences, atau bahasa gaul, kita sebetulnya dapat pintar-pintar menggunakan […]

  17. Wah wah wah… sebegininya ya? Saya ngga mau lah berkomentar panjang lebar. Saya sendiri secara pribadi juga sering menggunakan bahasa nonformal dan campuran formal-nonformal dimanapun, tapi kok yang saya takutkan itu kalau anak anak mengucapkan bahasa-bahasa yang menurut saya morat-marit itu… apa tidak apa apa? Nyatanya kita lihat sendiri seperti apa nilai pelajaran bahasa Indonesia anak anak jaman sekarang… apa sudah tidak merasa orang Indonesia? Apa tidak menyedihkan? Apa ini sama sekali tidak ada hubungannya? Saya ingat di theposkamling.com ada artikel membahas tentang bahasa gaul yang walaupun bukan bahasa alay, tapi asal muasalnya sama, yaitu dari pergaulan, dan dipelajari karena ingin dianggap ‘gaul’… jadi mereka punya sumber awal yang sama…

    Gaul? Emangnya kalau ngga gaul itu kenapa ya? Apa ada hubungannya gaul dengan mencari penghidupan? Ah, anak-anak krisis identitas jaman sekarang… gampangnya diombang-ambingkan trend…

    Ah celaka… celaka… sungguh celaka kalau kita bisa melihat berbagai kemungkinan di masa depan… jauh lebih banyak cerita sedihnya daripada berita bagusnya… Dan lebih sedihnya lagi banyak orang yang tidak sadar telah membawakan cerita sedih itu dengan hal-hal kecil yang menurut mereka ‘tidak apa-apa’ atau ‘bukan hal yang perlu dibesar besarkan’…

    Celaka, celaka… sungguh celaka…

  18. Seru nian pendapat-pendapat di atas. Bahasa, arbitrer, mana suka penuturnya. Aturan (tata bahasa), egaliter, mana suka pembuatnya. Komunikasi, tercapainya maksud, lama-sebentar bukan masalah. Paham bahasa Indonesia, relatif, tergantung pendidik dan pergaulan. Otak, pikiran manusia berbataskan pengalaman, tak bisa disalah-benarkan secara mutlak, paling-paling boleh dikritisi berdasar standar insani. Hidup, sementara saja untuk mencerna dan mencerap berbagai fenomena dunia, namun jangan terlalu terlena sehingga lupa mengindahkan keabadiannya, urusan akhirat, ukhrawi nan sakral. Bahasa alay, biarkan saja, toh ini hanya ragam, gaya sekelompok remaja yang terlalu kreatif menuturkan kata, meski tak ada yang sepakat kalau mereka ahli bahasa.

  19. Suka sekali dengan pernyataan-pernyataan Abu Usamah ini. Oh, iya. Bahasa Indonesia yang Anda gunakan juga indah sekali.

    Tabik! 🙂

  20. 84ha5a 4L4Y (Bahasa Alay) adalah jiplakan dari cara penulisan “Bahasa” Leet (atau “1337”) yang mula-mula muncul di internet dari sekitar tahun 1980-an di antara pemakai-pemakai internet berbahasa Inggris (ref: http://en.wikipedia.org/wiki/Leet), sedangkan pengejaan kata-kata yang berbeda dari pengejaan kata-kata dalam Bahasa Indonesia yang baku hanyalah variasi-variasi pengejaan dari pengejaan yang baku saja. “Bahasa” Leet ini kemudian menyebar ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia.

  21. […] masih valid sebagai cermin perkembangan bahasa akhir-akhir ini (misal opini tentang bahasa Alay: Aq 4L4Y — QM Maw Ap4h?! dan artikel Ciyus? Cungguh? Miapah?). Untuk memudahkan pencarian makna kata-kata, situs asuhan […]

  22. […] masih valid sebagai cermin perkembangan bahasa akhir-akhir ini (misal opini tentang bahasa Alay: Aq 4L4Y — QM Maw Ap4h?! dan artikel Ciyus? Cungguh? Miapah?). Untuk memudahkan pencarian makna kata-kata, situs asuhan […]

Berikan Komentar