Saya Membayangkan Diri sebagai Martir (Wawancara dengan Eko Endarmoko)

1 Juni, 2010 | Edisi: | Kategori: Serba-Serbi

Pengantar Redaksi: Pembaca, artikel ini redaksi kutip dari catatan Sdr. Wandi Yusuf (salah seorang pewawancara) di akun Facebooknya. Artikel ini sebelumnya dimuat-cetak di Radar Bekasi, 27 Mei, 2010. Atas izin Sdr. Eko Endarmoko, redaksi memuatnya di rubrik Serba-Serbi, dengan sedikit penyuntingan aksara dan format tulisan. Selamat membaca.

Eko Endarmoko (foto diambil dari akun Facebook beliau)

Eko Endarmoko (foto diambil dari akun Facebook beliau)

Di tengah pemulihan stroke yang dideritanya sejak 2002, Eko Endarmoko mendapati karyanya ditiru oleh Pusat Bahasa. Pertama kali ia menemukan karyanya ditiru justru ketika ia berniat ingin merevisi kamus Tesaurus Bahasa Indonesia (TBI) yang ia tulis pada 2006. Desember 2009, ketika Tesaurus Alfabetis Bahasa Indonesia (TABI) karya Pusat Bahasa yang diterbitkan Penerbit Mizan dirilis, Eko langsung membeli.

Ia membayangkan karya itu akan memperkaya edisi revisi TBI yang direncanakan terbit pada 2013. Tak dinyana, TABI justru tak lebih kaya dari TBI. Ia geram mendapati banyaknya susunan lema yang ia temukan dijiplak paripurna oleh Pusat Bahasa.

Betapa tidak, 26 tahun ia menyusun TBI. Sejak masih kuliah pada 1980, Eko sudah rajin mengumpulkan sinonim yang awalnya ditugaskan dosennya, Anton Moeliono. Saat berprofesi sebagai wartawan, kebiasaan mengumpulkan sinonim tak bisa dihentikan. Ia selalu menyempatkan diri untuk memungut lema, mencari sinonimnya, lalu meletakkannya di kertas folio yang dibagi empat.

Di tahun 1987, saat Eko bergiat di Komunitas Utan Kayu, keranjingan mengumpulkan sinonim makin tak terbentung. Dan puncaknya pada 2001. Setelah mengikat kontrak dengan Penerbit Gramedia, setengah hidupnya ia dedikasikan untuk mengumpulkan sinonim. Penyakit stroke yang ia derita tak lepas dari kerja kerasnya mengumpulkan sinonim. Jadi, sangat aneh jika Eko memandang remeh dugaan plagiarisme yang dilakukan Pusat Bahasa.

Ditemui Wandi Yusuf dan L. Uneputty di rumahnya di Blok A4/5, Pondok Ungu Permai, Bekasi Utara, Eko yang badannya ringkih itu, menjawab pertanyaan yang diajukan dengan meletup-letup. Berikut hasil wawancaranya.

Kapan pertama kali Anda sadar kalau karya Anda dijiplak?

Saya beli buku itu (kamus Tesaurus Alfabetis Bahasa Indonesia, atau TABI) untuk revisi buku saya (Tesaurus Bahasa Indonesia, atau TBI). Saya beranggapan begitu banyak kamus baru yang lengkap yang bisa dijadikan referensi. Tapi setelah mengecek, saya justru jadi gerah. Banyak susunan lema yang sama dengan yang saya temukan.

Anda yakin mereka menjiplak?

Sumbernya memang sama, bahasa Indonesia. Memang bisa terjadi ada kesamaan. Tapi, kalau kesamaannya persis plek seperti ini, namanya bukan lagi kebetulan. Indikator kuat ada penjiplakan. Plagiarisme.

=Eko kemudian menunjukkan contoh lema dari TABI yang diambil sama persis dari kamus karyanya=

(Lema) yang saya tandai dengan merah muda, semua sama sampai pada tanda bacanya. Mereka mengambil terlalu banyak dari TBI. Mengambil banyak dari satu kamus, bukan mengambil sedikit dari banyak kamus. Apalagi kata dari serapan bahasa asing. Banyak sekali. Ambillah kata ideal. Anda bisa lihat sendiri, keliatan sekali mereka tidak mericek. Semuanya sama seperti yang saya temukan.

Seharusnya, kamus yang terbitnya lebih kemudian dan punya tenaga yang banyak, lebih baik dan lebih lengkap. Tapi kalau cuma kaya(k) begitu aja, mohon maaf.

Ada contoh lain?

Pada pengelompokan makna misalnya. Ada nuansa yang membedakan antara satu kata dengan kata lain. Nah, kalau di TABI semua itu gak ada. Dibongkar. Jadi hancur lagi. (Pengelompokan) itu sebenarnya satu tawaran saya untuk mempertajam perbedaan makna. Mereka malah menghancurkannya.

Ada lagi. Jika di TBI ada lema dengan sinonim sebanyak lima kata, maka di TABI ada empat atau enam kata. Ini saya menduga agar tidak sama karena argumen mereka lemah. Ini ada polanya, lho. Semua yang kurang dan semua yang dilebihkan ada polanya. Dan saya menemukan itu.

Ini perbuatan nista senista-nistanya, rendah serendah-rendahnya. Bagaimana mereka bisa dengan bangga mengatakan bahwa ini disusun oleh ahli.

=Ia kemudian memberikan contoh yang menurutnya sangat menarik (lihat grafis)=

Apakah Pusat Bahasa mencantumkan nama Anda sebagai salah satu penyusun?

Tidak ada. Nama dan karya saya hanya ada di buku acuan. Seharusnya jika mereka mengambil sebanyak itu, mereka memberi tahu saya. Berdasarkan informasi teman, Pusat Bahasa pernah memanggil saya, tapi saya tak pernah merasa dipanggil. Mereka tak pernah mengontak saya. Ada juga teman yang usul agar saya menyurati mereka untuk mengingatkan. Maaf aja, itu namanya ngemis-ngemis. Gak mau saya.

Anda akan menggugat Pusat Bahasa?

Sebelum ke sana, saya minta saran ke HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual). Saya minta pandangan dan saran, apa langkah hukum selanjutnya dan apa konsekuensinya. Yang jelas persoalan ini belum final.

Saran HAKI?

Melayangkan somasi terlebih dahulu. Selanjutnya melayangkan surat kepada Tim Nasional Penanggulangan Pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual. Salah satu yang menjadi anggota tim adalah Departemen Pendidikan Nasional. Ini menjadi lucu, saya kan akan menggugat mereka (Departemen Pendidikan Nasional, dalam hal ini Pusat Bahasa) karena melakukan pelanggaran. Ini menarik. Departemen Pendidikan Nasional menzalimi warganya.

Itu sudah Anda lakukan?

Sedang dalam proses.

Pusat Bahasa membantah menjiplak karya Anda dan siap membeberkan proses pembuatannya…

Mari kita lihat. Tidak ada gunanya berdebat kusir (di media). Gak mau saya. Nanti kita lihat di pengadilan. Di sana akan diketahui dengan jelas karena akan diukur melalui bukti yang dibawa masing-masing. Saya sudah siapkan bukti-buktinya. Kalau mereka mau berdebat ilmiah, saya siap banget.

Anda sudah menyiapkan pengacara?

Sudah, tapi saya belum mau menjawab siapa karena prosesnya belum sampai ke sana. Yang jelas, dia adalah pengacara independen. Pengacara yang punya kelaslah.

Sepengetahuan Anda, sebelum kasus plagiarisme terhadap TBI, adakah kasus yang sama yang dilakukan Pusat Bahasa?

Banyak sekali, tapi gak pernah ditindaklanjuti. Tidak pernah ada orang yang berani mempersoalkan. Mungkin kalau mereka mempersoalkan, mereka takut tidak diikutkan dalam proyek pembuatan buku selanjutnya. Banyak, banyak sekali. Beberapa adalah teman saya dan saya tahu dari mereka.

Berarti Anda yang pertama bereaksi?

Ya, saya membayangkan diri saya sebagai martir.

Apa yang Anda inginkan dari gugatan ini?

Penerbit mencabut kamus itu dari pasar jika terbukti benar (melakukan plagiarisme).

Dengan adanya dugaan plagiarisme, apakah persiapan Anda merevisi TBI terganggu?

Kasus ini jelas sangat mengganggu proses revisi TBI. Tapi target revisi harus tetap terbit tahun 2013. Semoga kasus ini tidak mengganggu proses penyusunan karena banyak temen yang membantu.

Anda berharap kapan kasus ini selesai?

Tahun ini harus selesai agar saya bisa lebih fokus menyelesaikan revisi TBI.

Apa yang akan Anda revisi di kamus TBI?

Saya akan menambahkan antonim. Antonim dianggap perlu karena pembaca perlu kontras untuk mempertegas makna. Selain itu, saya akan menambah sinonim-sinonim yang belum lengkap dan menyempurnakan nuansa makna. Banyak sekali yang ngawur di sini (TBI).

Apa sebenarnya obsesi Anda merevisi Tesaurus?

Saya ingin bahasa Indonesia memiliki tesaurus seperti bahasa lain punya tesaurus. Buat saya ini belum selesai. Saya kira apa yang saya buat ini masih bahan mentah untuk suatu tesaurus yang lebih sempurna dan lebih baik. Bahasa Indonesia itu ternyata kaya. Saya tak mau kekayaan bahasa kita punah karena jarang digunakan.

Adakah penerus Anda?

Belum ada yang mau menyusun tesaurus. Tapi itu harus ada. Dan asalkan jangan meniru yang sebelumnya.

Jika sedang bosan mengerjakan tesaurus, apa yang Anda lakukan?

Biasanya saya menulis karangan bahasa dan dikirimkan ke media. Atau kadang-kadang diminta orang untuk mengisi seminar.

=====

Contoh Dugaan Plagiarisme yang Serampangan:

(Versi TBI) predisposisi n 1 kecenderungan, kecondongan, kegemaran, kesukaan; 2 Dok kerentaan (tubuh)

preferensi n 1 alternatif, opsi, pilihan, seleksi; 2 pengutamaan, prioritas

(Versi TABI) predisposisi: 1 alternatif, opsi, pilihan, seleksi; 2 pengutamaan, prioritas

(Kamus TABI terlihat teledor dalam memasukkan sinonim lema predisposisi. Gugus sinonim yang dimasukkan justru merupakan sinonim dari lema preferensi yang tertera di kamus TBI. Dan penyusunan sinonimnya pun sama.)

///

(Versi TBI) profit n 1 keuntungan, laba, margin, persentase, surplus; 2 faedah, kegunaan, manfaat, nilai

profitabel a 1 komersial, menguntungkan, remunerative; 2 berguna, bermanfaat, bernilai, produktif

(Versi TABI) profit n 1 keuntungan, laba, margin, persentase, surplus; 2 berguna, bermanfaat, bernilai, produktif

(Kesalahan kembali dilakukan penyusun kamus TABI. Mereka secara serampangan memasukkan gugus lema profitabel yang berbentuk kata sifat ke dalam lema profit yang berbentuk kata benda. Di TABI, lema profitabel justru tidak dimasukkan)

=====

Banyak Masalah di Pusat Bahasa

Ternyata bukan hanya Eko Endarmoko yang dikecewakan Pusat Bahasa. Lembaga bahasa yang bernaung di bawah Sekretariat Jenderal Departemen Pendidikan Nasional ini juga pernah membuat kecewa penulis lain. Ajip Rosidi, sebagai contoh. Pesastra asal Majalengka, Jawa Barat, ini pernah marah besar karena Pusat Bahasa mengambil tanpa izin karya yang ia buat.

“Namun, sebatas itu (marah-marah, red.). Pak Ajip tak melanjutkan masalah itu,” kata pegawai di Subbidang Pemasyarakatan Sastra, Bidang Pembinaan Bahasa dan Sastra, Pusat Bahasa, Sastri Sunarti Sweeney.

Walaupun sebagai pegawai Pusat Bahasa, Sastri mengakui lembaganya tidak dewasa menyikapi kekecewaan penulis. Dalam kasus dugaan plagiarisme yang menimpa Eko Endarmoko, Sastri justru mendukung Moko, begitu Eko biasa disapa.

“Jika Pusat Bahasa yakin tak menjiplak, seharusnya dibuktikan dengan memanggil Moko untuk adu data,” kata istri profesor pengkajian Melayu asal Irlandia, Amin Sweeney, ini.

Pusat Bahasa justru alpa. Mereka tak bereaksi. Sastri kecewa kepada Kepala Pusat Bahasa Dendy Sugono yang tak menindaklanjuti kekecewaan Moko. “Banyak masalah di Pusat Bahasa, baik internal maupun eksternal. Masalah dengan Moko hanya salah satunya,” kata dia. (ndi)

(+1 jempol)
Loading ... Loading ...

4 komentar
Berikan komentar »

  1. Negeri kita negeri agraris
    Petani miskin membajak sawah
    Negeri kita negeri kapitalis
    Ilmuan mati dibajak pemerintah

    Mau apa?
    Pilih saja?
    Membajak atau dibajak?
    Dua-duanya sama matinya

    GILA!

  2. Tetap semangat Mas Eko.
    Ditunggu revisi TBI-nya.

  3. mas saya sedang menyusun tesaurus bahasa jawa. Bentuknya mengacu kepada tesaurus Anda. Saya ingin kamus itu nanti bisa terbit di Gramedia. Sekarang sudah tersusun 1.087 halaman format A4.

  4. Mas Ngafenan, silahkan hubungi Eko Endarmoko di akun Facebooknya: http://www.facebook.com/home.php#!/profile.php?id=100000018085442&sk=info

    Atau di alamat surelnya: ekoendarmoko@yahoo.co.id

    Anda juga bisa bergabung dengan Grup Kritik & Saran untuk Tesaurus Bahasa Indonesia: http://www.facebook.com/pages/Tesaurus-Bahasa-Indonesia-Eko-Endarmoko/141852715866559?ref=ts&sk=wall#!/group.php?gid=138853666143007

    Terima kasih.

Berikan Komentar