Benjamin Lee Whorf

23 Mei, 2010 | Edisi: | Kategori: Tokoh Bahasa

Oleh Wahyu Adi Putra Ginting

Benjamin Lee Whorf

Benjamin Lee Whorf

“Langka adanya, sesosok manusia tampil sebagai orang yang penuh memahami hubungan antara kejadian-kejadian yang sampai kini tampak agak terpisah, dan memberi sebuah dimensi pengetahuan baru bagi umat manusia. Einstein, yang mendemonstrasikan kenisbian ruang dan waktu, adalah sosok itu. Dalam bidang lain, dan pada tataran yang tak sekosmik itu, Benjamin Lee Whorf adalah orangnya… Dia penuh memahami hubungan antara bahasa manusia dan pikiran manusia, bagaimana bahasa memang dapat membentuk pikiran-pikiran terdalam kita.”

***

Kutipan barusan adalah kata-kata yang dituliskan Stuart Chase, seorang pakar semantik yang juga seorang ahli ekonomi, yang saya terjemahkan dari Kata Pengantar-nya untuk buku Language, Thought, and Reality: buku kumpulan karya-tulis linguistik karangan Benjamin Lee Whorf yang pertama kali diterbitkan oleh The M.I.T. Press di tahun 1956, 15 tahun setelah sang penulis mangkat. Siapakah sebenarnya Benjamin Lee Whorf ini? Mengapa Stuart Chase sampai berani mensejajarkannya dengan nama besar seperti Albert Einstein? Apakah dia punya hubungan dengan Bruce Lee? Sambutlah Whorf, tokoh bahasa kita kali ini.

(layar naik…)

Masa-masa Awal: Ahli Kebakaran yang Suka Teka-Teki

Benjamin Lee Whorf lahir di sebuah kota kecil-berpantai di Amerika Serikat bernama Winthrop, Massachusetts, pada 24 April 1897, dari pasangan Harry dan Sarah (Lee) Whorf. Ben kecil tumbuh sebagai anak yang punya rasa penasaran yang bukan kepalang. Bayangkan: dia membaca hampir semua topik buku yang dia temui. Ben juga punya ketertarikan khusus pada kode dan teka-teki – sifat yang nanti melicinkan jalannya untuk memecahkan ideografi pada prasasti berbahasa Maya dan Aztec.

Setelah menjalani pendidikan dasar, Benjamin melanjutkan menimba ilmu di Institut Teknologi Massachusetts pada tahun 1918, dan lulus dengan gelar Insiyur untuk bidang keahlian Kimia. Ketrampilannya dalam bidang ini membuatnya diterima bekerja di perusahaan asuransi kebakaran Hartford. Benjamin memulai karirnya sebagai insinyur pencegahan kebakaran, dengan jabatan inspektur, di perusahaan tersebut.

Anda mungkin bertanya-tanya, dari mana jalannya Benjamin menjadi seorang linguis? Begini ceritanya. Benjamin dibesarkan di sebuah keluarga Metodis relijius. Suatu saat, dia sangat tertarik dengan pemikiran seorang penulis mistik asal Perancis, yang juga seorang linguis, bernama Antoine Fabre d’Olivet. Pemikiran d’Olivet meresap dalam benak Benjamin; hal ini yang kemudian membuatnya percaya bahwa teks-teks dalam Injil punya pesan tersembunyi. Dasar Benjamin memang suka sekali dengan hal berbau teka-teki, jadilah dia menghabiskan sebagian besar waktunya di tahun 1920an untuk belajar membaca Injil berbahasa Ibrani. Tahun 1920an adalah masa ketika terjadi ketegangan antara agama dan ilmu pengetahuan. Benjamin melihat bahwa bahasa adalah jembatan yang bisa menyelesaikan ribut-ribut itu. Sembari menjalani karir sebagai inspektur di perusahaan asuransi Hartford, Benjamin menggeluti ilmu antropologi dan linguistik sebagai kegemarannya.

Dari Benjamin ke Whorf: Tong Bensin itu Tidak ‘Kosong’

Setelah menyadari kedahsyatan huruf-huruf Ibrani, Benjamin mulai mencari gejala serupa yang mungkin terjadi di bahasa lain. Segera, hatinya tertambat pada bahasa-bahasa asli Amerika, khususnya Mesoamerika. Inilah yang membawanya pada perjalanan panjang untuk merekonstruksi bahasa-bahasa bangsa Maya dan Aztec.

Karena sangat tertarik dengan bahasa dan linguistik, Benjamin memutuskan untuk belajar di Universitas Yale, dia tercatat sebagai mahasiswa angkatan 1931 di universitas itu. Karena telah banyak bergulat dengan bahasa, Benjamin langsung bisa menggebrak kelasnya dengan pemikiran-pemikiran yang segar. Hal ini membuat salah satu dosennya, Edward Sapir, seorang linguis struktural Amerika kelahiran Prussia (yang juga antropolog), jatuh hati pada gagasan-gagasan Benjamin. Di bawah dukungan Sapir, Benjamin merangkak lasak mengejar pencapaian-pencapaian linguistiknya.

***

Anda percaya bahwa kelahiran sebuah teori linguistik bisa dipicu oleh tong bensin? Pengalaman Benjamin sebagai seorang ahli kebakaran memberi sumbangan besar bagi pembentukan pemikirannya tentang bahasa. Satu peristiwa yang sering dikutip sebagai contoh adalah saat dia mengamati tingkah-polah orang Amerika terhadap tong bensin. Para penutur bahasa Inggris di Amerika menggunakan dua kosakata untuk melihat tong bensin, dalam kaitannya dengan isi cairan bensin yang ada di tong itu: full (‘penuh’) dan empty (‘kosong’). Dua kosakata ini lalu membatasi nalar penutur bahasa Inggris terhadap kondisi tong: kalau tong tidak penuh (berisi bensin), berarti kosong. Maka, orang dengan enaknya dapat merokok atau menyalakan api di sebelah tong yang mereka anggap ‘kosong’ itu. Benjamin melihat bahwa hal ini membuat mereka tidak sadar kalau ternyata tong itu masih ‘dipenuhi’ oleh uap bensin. Kebakaran pun terjadi. Dia meyakini bahwa bahasalah yang menyebabkan orang berperilaku demikian. Bagi Benjamin, ada hubungan antara bahasa, pikiran, dan realita. Pemikiran inilah yang kemudian mengantarkannya menjadi seorang tokoh penting dalam linguistik. Bahasa mempengaruhi perilaku manusia. Nalar manusia dibatasi oleh bahasa yang dimilikinya. Bila Einstein menyadari adanya kenisbian (relativitas) antara ruang dan waktu, maka Benjamin menyadari adanya kenisbian antara bahasa dan pikiran penuturnya. Di titik ini, tepat juga Stuart Chase mensejajarkan Benjamin dengan Einstein.

Benjamin, yang saat itu dipandu terus oleh Edward Sapir, lalu berkolaborasi merumuskan sebuah hipotesis atas hasil pemikiran mereka. Hipotesis tersebut kemudian dinamai dengan nama mereka berdua. Karena budaya barat lebih suka menyebut nama belakang untuk urusan formal, hipotesis ini tidak kita kenal sebagai Hipotesis Edward-Benjamin, tapi Hipotesis Sapir-Whorf. Oleh sebab peran Benjamin tampaknya lebih besar porsinya dibanding Sapir dalam pemikiran itu, orang sekarang mengenalnya dengan nama Hipotesis Whorfian (Wardaugh, 1992:220). Benjamin pun menjadi Whorf.

Perlu diingat, Whorf juga menggunakan hasil penelitiannya terhadap tata bahasa Hopi (bahasa masyarakat Amerika asli yang bermukim di timur laut Arizona) sebagai bahan penguat hipotesisnya itu. Tata bahasa Hopi mengenal peristiwa sebagai sesuatu yang ‘dijamin telah terjadi’, ‘akan terjadi’, atau ‘diharapkan akan terjadi’, tidak seperti bahasa Inggris, dimana waktu dapat disekat-sekat dengan pasti: lampau, kini, nanti. Menurut Whorf, tata bahasa ini membuat penutur bahasa Hopi melihat dan memahami peristiwa/objek sebagai sebuah proses yang berkelanjutan, berbeda dengan penutur bahasa Inggris yang memahaminya sebagai sebuah satuan jadi yang dapat dihitung, dapat diukur – percikan api dan nyala api sama saja seperti pena dan pensil (ibid.:221).

Pencapaian Lain: Sayang Dia Mati Muda

Sepuluh tahun terakhir sebelum kematiannya, Whorf mendedikasikan dirinya pada penelitian-penelitian bahasa. Dia menerbitkan buku tata bahasa Hopi, kajian-kajian logat Nahuatl, tulisan hieroglif Maya, dan usaha awal rekonstruksi bahasa Uto-Aztec. Whorf juga menerbitkan banyak karya-tulis linguistiknya di jurnal-jurnal beken. Tahun 1936, Universitas Yale mendaulatnya sebagai Honorary Research Fellow in Anthropology. Setahun kemudian, Whorf dianugerahi Sterling Fellowship oleh universitas yang sama.

Whorf bekerja sebagai dosen antropologi di Universitas Yale dari tahun 1937 sampai 1938, tahun-tahun awal saat kesehatannya memburuk. Whorf terpaksa berjuang melawan kanker yang menggerogoti tubuhnya. 26 Juli 1941, kanker memenangkan pertempuran itu, nyawa Whorf menjadi hadiahnya. Dia meninggal pada usia 44 tahun. Lima belas tahun kemudian, 1956, John B. Carroll memilih dan menyunting karya-karya linguistik Whorf, kemudian mengabadikannya dalam sebuah bunga rampai bertajuk Language, Thought, and Reality. Walau sekarang banyak ahli bahasa, khususnya pakar sosiolinguistik, yang mengkritik pemikirannya, tak bisa ditampik bahwa Whorf telah memberi kontribusi besar bagi ilmu bahasa.

***

Itulah Benjamin Lee Whorf. Anda baru saja menyaksikan beberapa adegan dalam panggung kehidupannya. Sekarang, bila Anda ingin menguji pemahaman Anda tentang Whorf, silahkan jawab pertanyaan ini: “Apa hubungan Benjamin Lee Whorf dengan Bruce Lee?”

(layar turun…)

(Belum ada jempol)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar