Plagiat Kian Merebak

6 Mei, 2010 | Edisi: | Kategori: Serba-Serbi

Oleh Ajip Rosidi*

(dikutip dari Harian Pikiran Rakyat, 01/05/10)

Plagiat adalah perbuatan mencuri, dalam hal ini mengaku karangan atau buah pikiran orang lain sebagai  karya kita sendiri. Dalam dunia ilmu dan seni, perbuatan itu dianggap sebagai dosa tak berampun. Guru besar di Universitas Parahyangan karena ketahuan melakukan plagiat dipecat dari kedudukannya. Alumni  ITB dibatalkan ijazah S-3-nya dan dikenakan hukuman pula dengan digeser dari kedudukannya. Universitas Indonesia juga pernah membatalkan pengangkatan seorang guru besar karena ketahuan melakukan plagiat. Hal itu menunjukkan bahwa universitas-universitas itu menganggap perbuatan plagiat oleh seorang  sarjana adalah perbuatan tercela yang harus dibersihkan dari lingkungannya.

Akan tetapi, tidak semua unversitas berbuat tegas seperti UI, Unpar, dan ITB. Ada juga universitas yang tetap mempertahankan guru besar yang jelas telah melakukan plagiat dengan menerbitkan skripsi murid atas namanya sendiri dan juga mengaku karya-karya  orang lain sebagai karyanya sendiri.

Setelah berita tentang plagiat yang dilakukan oleh seorang guru besar Universitas Parahyangan, sebelum pecah berita tentang plagiat yang dilakukan oleh alumni ITB, ada juga berita-berita lain tentang plagiat yang terjadi di universitas luar Jawa dan di berbagai kantor pemerintah. Ada penelitian  yang dilakukan untuk memperoleh kenaikan pangkat ternyata berdasarkan hasil penelitian orang lain.

Paling akhir timbul masalah Tesaurus Bahasa Indonesia yang disusun oleh Pusat Bahasa, yang diduga merupakan plagiat dari Tesaurus Bahasa Indonesia yang disusun oleh Eko Endarmoko yang terbit empat tahun yang lalu (2006). Pusat Bahasa telah membantah tuduhan itu dengan mengatakan bahwa mereka menyusun tesaurus sejak lama.  Akan tetapi,  orang yang membandingkan kedua tesaurus itu mengatakan bahwa terlalu banyak persamaan di antara keduanya (sekitar 80 persen) dan yang sukar dimungkiri ternyata kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh Eko dalam tesaurusnya  terdapat pula dalam tesaurus susunan Pusat Bahasa. Pendeknya persamaan-persamaan yang sebanyak itu, apalagi kalau kesalahan-kesalahannya pun sama, maka sukar untuk dikatakan sebagai kebetulan.

Kalau nanti terbukti bahwa Pusat Bahasa melakukan plagiat atas karya Eko, maka plagiat itu memperlihatkan dimensi yang lain. Sebelumnya yang sering diberitakan adalah plagiat yang dilakukan oleh perseorangan, baik oleh sarjana maupun oleh seniman. Namun, plagiat terhadap Tesaurus Bahasa Indonesia  Eko Endarmoko diduga dilakukan sebuah lembaga. Jadi bukan dilakukan oleh perseorangan. Kalau lembaga melakukan plagiat niscaya berdasarkan kesepakatan di antara para anggota lembaga tersebut. Kalau plagiat yang dilakukan oleh perseorangan disebut pencurian, maka plagiat yang dilakukan beramai-ramai oleh  tim niscaya harus disebut perampokan.

Jika Pusat Bahasa sebagai lembaga yang dibentuk oleh pemerintah untuk membina dan mengembangkan bahasa nasional dan bahasa daerah, dan dipimpin oleh para ahli yang dianggap tidak diragukan lagi kepakarannya, terbukti melakukan perbuatan yang sangat tercela di lingkungan keilmuan, yaitu melakukan plagiat, ini merupakan skandal besar.

Apakah gerangan motif yang mendorong mereka melakukan hal itu? Mungkin untuk memperlihatkan pencapaian prestasi dalam bidang keilmuan. Akan tetapi, prestasi yang dicapai dengan melakukan plagiat tidak akan meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap mereka, malah sebaliknya, akan menjatuhkan prestise mereka. Namun, hal itu mereka lakukan juga, mungkin karena mereka berpendapat bahwa orang tidak akan mengetahuinya. Maklumlah mereka mungkin menganggap orang tidak akan membanding-bandingkan kamus.

Motif lain adalah uang. Mereka menyusun tesaurus itu sebagai pegawai Pusat Bahasa. Artinya, mereka digaji untuk pekerjaannya itu, tetapi tesaurus Pusat Bahasa diterbitkan oleh penerbit swasta (seperti juga KBBI Edisi Keempat yang tidak lagi diterbitkan oleh Balai Pustaka yang adalah penerbit pemerintah). Penerbit swasta yang menerbitkannya niscaya terikat untuk membayar honorarium atas buku yang terjual. Siapa yang menerima honorarium itu?

Apakah Pusat Bahasa sebagai lembaga? Kalau demikian maka uang itu akan masuk sebagai uang negara. Akan tetapi, tidak semua lembaga pemerintah boleh menerima uang masuk. Oleh karena itu, buku-buku hasil projek penelitian yang diterbitkan oleh Pusat Bahasa selama ini tidak  boleh dijual. Kalau betul uang honorarium itu diterima oleh Pusat Bahasa, ke mana perginya? Masuk ke kas negara jelas tidak dimungkinkan oleh peraturan pemerintah sendiri.  Kalau uang yang harusnya masuk ke kas negara tidak dimasukkan apa bukan korupsi namanya?

Lagipula naskah tesaurus itu dikerjakan oleh tim pegawai Pusat Bahasa yang dikerjakan pada waktu berkantor, sama dengan keputusan hakim di pengadilan, menurut Undang-undang Hak Cipta, hak ciptanya tidak dilindungi.  Artinya, penerbit yang mengeluarkannya tidak harus membayar honorarium pengarang. Kalau Pusat Bahasa menuntut pembayaran honorarium juga, maka telah terjadi pemerasan atau entah apa namanya oleh  lembaga pemerintah.

Yang sangat menarik ialah bahwa pada saat ribut-ribut soal plagiat, ada berita tentang ”LKPJ diduga Jiplakan” (”PR”, 24 April 2010). LPKJ adalah ”Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban” tahunan pemerintah kepada DPR(D).  Menurut berita itu, ternyata LKPJ DPRD Kota Bandung tahun 2009, isinya hampir sama dengan LKJP tahun 2008, bahkan dalam beberapa bagian kalimat-kalimatnya pun sama – juga isinya. Karena LKJP tidak dilindungi hak ciptanya, maka tidak ada masalah plagiat. Namun laporan tahunan harusnya kan  berdasarkan kenyataan yang berkembang dari tahun ke tahun. Kalau LKPJ tahun ini sama dengan tahun sebelumnya, artinya pemerintah  yang menyusun LKJP itu tidak bekerja. Mau ambil gampang saja. Artinya, hanya mau makan gaji buta saja. Oleh karena itulah sejak pemerintah Orde Baru, para pejabat pemerintah kita hanya sibuk dengan projek yang besar anggarannya dan tidak lagi memedulikan kewajibannya sendiri sebagai pegawai negeri.

*Penulis, budayawan

(+5 jempol)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar