Stilistka 4

3 Mei, 2010 | Edisi: | Kategori: Kultukal

Oleh Nikodemus Wuri Kurniawan

“Sudah kehabisan bahan, Cik dosen tamu?”

“Itu pertanyaan?”

Salam!

Sudah berapa edisi LIDAHIBU membahas Stilistika? Tiga! Ganjil. Entah kenapa, badan encik dosen tamu gemetar, tak terkendali ingin menggenapinya sekaligus memungkasi pembahasan tentang stilistika. Ditambah lagi, pembahasan tentang perspektif ideologi ini begitu penting, dan encik dosen tamu pasti menyesal delapan turunan jika tak menyampaikannya. Siap?

1. Stilistika itu untuk menemukan fitur-fitur linguistik untuk memberikan pembenaran tekstual bagi berbagai macam efek sastrawi.

2. Pembenaran sama saja dengan verifikasi (verifikasi tentu tergantung pada ideologi pembaca).

3. Kritik sastra aliran tertentu pasti akan mengaitkan pemahaman atau interpretasi teks pada konteks khusus.

4. Misalnya, kaum Marxis, feminis akan berusaha mengaitkan pemahaman atau interpretasi teks sastrawi kepada konteks politik, sosiokultural, ekonomi di masa kini atau di masa lalu.

5. Dalam hal ini, pergeseran dari pembacaan individual ke pembacaan sosial menyematkan arti penting baru untuk karya sastra.

6. Pembacaan dominan (tak selalu berdasarkan kehendak pengarang) yang dipengaruhi oleh ideologi dominan yang menggejala pada zamannya akan dihadapkan dengan pembacaan tandingan (penolakan) dari para kritikus beraliran tertentu.

7. Interpretasi suatu teks itu tidak hakiki melainkan kompromistis.

Ada yang tak bisa digenapi di sini: kolom ini tetap harus terdiri dari TUJUH kalimat. Artinya, badan encik dosen tamu akan terus gemetar dan tak terkendali. Nasib.

(Belum ada jempol)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar