Keruntuhan Kebenaran Mutlak

3 Mei, 2010 | Edisi: | Kategori: Pustaka Gokil

Oleh Guruh Dwi Riyanto*

Judul               : Introducing Wittgenstein

Penulis             : John Heaton dan Judy Groves

Penerbit           : Icon Books U.K dan Totem Books U.S.A

Tahun terbit     : 2005

Introducing Wittgenstein

Introducing Wittgenstein

Masih banyak diyakini bahwa sesuatu dianggap benar saat dapat dibuktikan secara empiris. Dengan kata lain, objeklah yang berbicara. Anggapan ini berujung pada lahirnya kepercayaan akan adanya objektivitas. Asumsi kebenaran semacam ini masih menguasai sains hingga saat ini. Namun, dalam penelitian perihal kebenaran ini, para ahli sering melewatkan satu segi penting, yaitu bahasa. Pada latar dominasi objektivitas inilah Ludwig Wiggenstein berdiri. Ide Ludwig Wiggenstein mengenai ‘permainan bahasa’ menghantam teori kebenaran objektif  dan mendirikan subjektivitas yang, selain meruntuhkan bukunya terdahulu, Tractatus Logico-Philosophicus, juga berperan serta dalam kelahiran gerakan-gerakan ‘pasca’ seperti pascamodern, pascastrukturalis dan pascakolonial.

Pusing dengan istilah, konsep, dan abstraksi tersebut? Buku Introducing Wittgenstein lahir untuk memperkenalkan Wittgenstein dan ide-idenya dalam bentuk komik yang lucu dan lebih konkret.

Buku Introducing Wittgenstein terdiri dari potongan-potongan; dan potongan paling panjang terdiri dari tiga halaman. Potongan-potongan tersebut dapat dikategorikan menjadi tiga: riwayat hidup Wittgenstein, pemikiran-pemikiran Witgenstein awal seperti tertera dalam Tractatus Logico-Philosophicus, dan pemikiran Wittgenstein tahap lanjut, terutama dalam Philosophical Investigation.

Riwayat Hidup

Ludwig Wittgenstein, lahir pada 1889 dan dibesarkan di Wina, Austria, di keluarga yang kaya dan memiliki fasilitas pendidikan memadai. Wajar saja kalau pada 1908 ia dapat bersekolah di Trinity College, Inggris, untuk belajar Aeronatika. Di kampus ini Wittgenstein direkomendasikan untuk menimba ilmu pada Bertrand Russel, jagoan filsuf analitis dan matematika-nya Cambridge. Moore, rekan sejawat Russel, mengatakan bahwa Wittgenstein adalah muridnya yang paling berpotensial karena dia satu-satunya mahasiswa yang nampak kebingungan di kelas. Sayang Perang Dunia I meletus dan Wittgenstein mendaftarkan diri untuk menjadi prajurit garda depan.

Setelah perang selesai, Wittgenstein menerbitkan Tractatus Logico-Philosophicus. Begitu ambisiusnya karya ini sampai-sampai Wittgenstein menyebutnya sebagai karya yang telah menyelesaikan semua permasalahan filsafat. Oleh karenanya, Wittgenstein memutuskan untuk pergi ke pedesaan di Wina selatan setelah menolak semua warisan yang diberikan padanya. Karena sering bertindak kasar, penduduk mengusir Wittgenstein. Ia akhirnya mengisi dua tahun waktunya membantu merancang dan membangun rumah Gret. Dia seakan-akan lupa akan dunia intelektual hingga orang-orang dari lingkaran Wina, yang terdiri dari para intelektual positivistik, menemuinya untuk membahas Tractatus-logiscos Philosophicus.

Pertemuan Wittgenstein dengan lingkaran Wina membawanya kembali ke Cambridge. Wittgenstein mengajukan Tractatus Logico-Philosophicus untuk mendapat gelar doktor dari Cambridge. Witgenstein mengatakan pada pengujinya bahwa mereka, Moore dan Russel, tidak perlu khawatir karena dia tahu mereka tidak akan memahami Tractatus Logico-Philosophicus. Setelah mendapat gelar doktor, Wittgenstein mengajar di Universitas Cambridge. Gaya mengajarnya? Sering terdiam di kelas, tidak pernah menggunakan catatan, dan sering marah-marah. Di Cambridge Wittgenstein menulis Philosophical Investigation yang membantah pendapat-pendapatnya di Tractatus Logico-Philosophicus. Wittgenstein pensiun dari Universitas Cambridge tahun 1947 dan meninggal tahun 1951.

Bahasa sebagai Penggambar Dunia

The World is all, that is the case“. Itulah bunyi pertama dalam Tractatus LogicoPhilosophicus yang artinya, “Dunia adalah seluruhnya, itulah pasalnya.” Dunia adalah keseluruhan fakta-fakta, bukan benda-benda, dan terbagi atas fakta-fakta tersendiri yang membagi-bagi dunia. Apa itu fakta menurut Wittgenstein? Fakta adalah gambaran mental yang saling terhubung satu sama lain tentang dunia. Fakta adalah hasil gambaran pikiran kita. Apa yang orang sebut sebagai kenyataan adalah keberadaan atau ketidakberadaan hubungan ketersambungan.

Hubungan ketersambungan itu terdiri dari unsur-unsur lebih kecil seperti atom. Atom-atom kecil itu adalah atom yang berdiri sendiri. Wittgenstein memberi contoh penggunaan nama. Nama adalah bentuk sederhana yang digunakan untuk mewakili suatu benda. Benda-benda ini disusun dan saling berhubungan membentuk hubungan ketersambungan. Maka dari itu, pada beberapa hal, dunia terwakili oleh bahasa.

Dalam penerapannya, filsafat dan ilmu pengetahuan memiliki fungsi yang berbeda. Filsafat berfungsi menjelaskan atau menjernihkan, sedangkan ilmu pengetahuan membuat hubungan ketersambungan di dalam bahasa. Wittgenstein menulis, “hasil dari filsafat bukanlah ‘diktum filsafat’ melainkan penjelasan diktum filsafat yang harusnya mengambil buah pikir yang keruh dan gelap.” (Tractatus 4. 112).

Permainan Bahasa

Jika Tractatus-Logico Philosophicus percaya bahwa bahasa masih memiliki hubungan dengan dunia, Philosophical Investigation memberi kemungkinan musnahnya hubungan itu dalam teori permainan bahasa. Seperti umumnya permainan, permainan bahasa memiliki seperangkat aturan mainya tersendiri. Aturan-aturan main inilah yang berbeda satu sama lain sehingga kita akan menemukan ada banyak permainan bahasa.

Dalam permainan bahasa, dua orang dapat saling mengerti satu sama lain perihal benda yang mereka bersama tidak pernah mereka indera. Wittgenstein memberi perumpamaan tentang kotak dan manusia untuk menjelaskan permainan bahasa. Bayangkanlah jika semua orang memiliki sebuah kotak yang hanya dapat dimiliki oleh pemiliknya. Saat bercakap-cakap dengan orang lain, pemilik kotak itu dapat menceritakan tentang isi kotak dan berbohong. Seumpama yang dia lihat adalah kodok dan dia berujar bahwa binatang itu adalah harimau, dia tetap dapat menjadi komunikatif dengan orang lain yang membicarakan isi kotaknya. Apa yang menjadi objek pembicaraan tidaklah penting.

Dalam tataran praktis, setiap subjek kajian memiliki permainan bahasanya sendiri-sendiri. Sebagi contoh, permainan bahasa dalam kajian filsafat teologis berbeda dengan ilmu matematika yang berbicara tentang bilangan. Suatu proposisi, atau dalil, dapat benar dalam permainan bahasa teologi tapi belum tentu masuk akal dalam permainan bahasa matematika. Begitu juga sebaliknya karena adanya peraturan permainan yang berbeda.

Kemana Saja Pengaruh Wittgenstein?

Introducing Wittgenstein cukup ringkas dan sederhana sebagai sebuah pengantar filsafat bahasa Ludwig Wittgenstein. Sayang sekali dalam buku kurang dibahas pengaruh teori bahasa Wittgenstein. Jika kebenaran adalah perihal permainan bahasa, maka Wittgenstein telah meruntuhkan narasi besar, kebenaran yang dipercaya banyak orang, yaitu perihal objektivitas. Lyotard, filsuf pasca-modernisme Perancis, adalah salah satu pemikir yang terpengaruh teori permainan bahasa. Jika kebenaran tidaklah objektif dan hanya tergantung pada aturan permainan bahasa yang berlainan satu-sama lain, maka tidak dapat dikatakan bahwa satu permainan bahasa lebih benar dari yang lainnya. Dengan demikian, suatu narasi, sudut pandang atas dunia, tidak dapat mendaku dirinya paling benar dan mendominasi narasi yang lain. Lyotard mengkritik pedas narasi modernisme yang telah menjadi besar dan mencoba menghancurkan narasi-narasi lainya dalam  The Postmodernism Condition: A report on knowledge. Dia mengusulkan agar narasi-narasi lain dapat diakui kebenarannya dan tetap hidup.

Gerakan pasca-modernisme ini nantinya berkontribusi besar pada lahirnya teori pasca-kolonial. Teori pasca-kolonial adalah teori yang mencoba mengurangi efek penjajahan (decolonizing) Eropa/Barat terhadap Timur. Pasca-kolonialisme menawarkan wacana yang menguliti permainan bahasa Barat dan dengan itu mencoba menegakkan kepentingan kaum terjajah.

Pengaruh-pengaruh teori Wittgenstein sangatlah politis. Mungkin inilah penyebab pengaruh-pengaruhnya tidak dicantumkan. Wittgenstein adalah tokoh filsuf yang rumit untuk dikaji; maka buku ini, karena gampang dan ringkas, cukup menjembatani.

*Seorang loper Majalah Tempo ‘Harga Mahasiswa’ (tinggal di Yogyakarta)

(+1 jempol)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar